Posted in Bahasa

Cerita-cerita Asia Masa Kini

Cerita-cerita Asia Masa Kini, Bunga Rampai untuk Pembaca Remaja Jilid I (1979, Jakarta: Pustaka Jaya)

Malam ini aku membaca buku Cerita-cerita Asia Masa Kini (1979), Bunga Rampai untuk Pembaca Remaja Jilid I. Anehnya, aku tidak merasa ini buku untuk remaja, melainkan untuk anak. Oleh penerbit, buku ini dimasukkan ke dalam seri pustaka anak.

Binatang peliharaan, melodrama, dan religi menjadi tema generik untuk mendongengi anak-anak Asia. Cerpen yang ajaib, nyeleneh dan surealis datang dari Afganistan, “Elang dan Pohon” (Ahazam Rahnaward Zaryab). Bercerita tentang tukang sepatu dan dua orang pengangguran yang memelihara elang, rasanya terlalu dewasa dari genrenya. Elang itu kabur, dan si “aku” gembira karena elang akan menikmati kebebasannya. Padahal dengan kebebasannya, si elang justru akan mati karena tali yang tergantung di kakinya akan terkait dengan pohon. Si elang tak bisa lepas, tak bisa mencari makan. Ending-nya sungguh absurd, bahkan filosofis. Mungkin ini adalah satu-satunya cerpen “remaja” dalam kumpulan ini.

Berbicara tentang anak, dunia hewan terutama teramat menarik bagi mereka. Banyak hal dalam dunia anak bisa diceritakan lewat medium binatang peliharaan. Cerpen dari Malaysia, Singapura, dan Korea, contohnya. “Antara Tetangga” (Ismail Ahmad) menunjukkan dengan jelas adanya perbedaan norma antarras di Malaysia. Hal ini disimbolkan oleh anjing kesayangan Mei Ling yang menimbulkan masalah dalam pergaulannya dengan Zalela. Bagi Zalela dan keluarganya, anjing itu kotor, Mei Ling tak mengerti karena ia selalu membersihkan anjingnya. Sementara dari Singapura, “Kucing Tersayang” (Violet Wilkins) menimbulkan masalah pada tetangga lebih karena hal fisik/material, yaitu karena mereka tinggal di rumah susun sehingga si anak harus berjuang untuk merawat kucing itu di tempat yang jauh. Pada cerpen “Yuni dan Lembu Jantan” (O. Yong-su), analogi sudah dimainkan secara tersirat. Bermula dari rasa penasaran Yuni melihat lembu, bola yang dimainkan Yuni tersangkut ke lembu tersebut, padahal itu bola milik anak majikan orangtuanya. Dengan cemas ia berusaha mengambil kembali bola itu, tanpa hasil. Yuni takut, lalu meminta tolong pada ayahnya. Lembu sudah menjalankan tugas seperti biasa, membajak sawah dengan kuk di leher dan pemilik yang berjalan di belakangnya dengan pecut di tangan. Aku menyimpulkan si anak lalu bisa melihat, ternyata lembu itu juga takut dengan majikannya. 😛

Selain binatang peliharaan, tema yang banyak muncul adalah melodrama. “Seruling Ajaib” (Madhav Ghimire) dari Nepal menceritakan tentang ratapan anak yatim piatu. “Buah Kenari” (Jusran Safano) dari Indonesia menceritakan tentang kakek yang sakit, sehingga Bakri harus bangun lebih pagi untuk mencari kenari. Bakri digambarkan murni protagonis, dan teman-temannya sempat iri dengan kenari perolehannya. Cerpen ini sangat normatif dan mengajarkan tentang berbagi dalam harmoni, selfless banget deh. Dari Srilangka ada cerpen “Lentera Sebesar Rumah” (Sybil Wettasinghe) tentang membuat lentera untuk perayaan Waisak, tapi tak punya uang untuk membeli kertasnya. Untungnya ada nenek yang akan panen kentang. Mereka bisa membuat Lentera Terbesar, dan … tanpa sengaja nenek terkurung di dalamnya lalu bersemedi. Di sana sini tema melodrama, kesedihan, kemiskinan muncul dalam cerpen-cerpen Asia, dengan bumbu religi. Cerpen, dalam hal ini, berupa penyaruan dari khotbah yang disampaikan sejak dini kepada anak-anak, atau pengenalan awal terhadap tradisi.

Jepang dan Iran memiliki tradisi bercerita yang kuat. Hal ini tercermin pula dalam cerpennya yang kaya simbolisme, “Anak dan Rubah” (Nankichi Niimi) dan “Penyair dan Matahari” (Cyrus Tahbaz) yang puitis. Yang paling aku sukai adalah kedua cerpen ini bercerita dengan tentang dunia anak-anak dengan alam pikiran/logika anak-anak pula. Tidak ada kesan menakut-nakuti supaya anak kapok, dsb. Yang ada hanya menunjukkan kasih sayang dan imajinasi.

Selebihnya, aku paling tertarik dengan cerpen dari India dan Filipina, “Nyonya Penumpang Bis” (Vallikkannan) dan “Anak yang Paling Bahagia” (N. V. M. Gonzalez). Meski berbeda setting, keduanya berkisah tentang perjalanan. Valliammai, anak perempuan berusia 8 tahun di India, diceritakan dalam latar urban. Setiap hari kerjanya melihat bus lewat, karena ibu dan neneknya asik sendiri dan dia tidak punya teman seusia. Cerita ini tentang petualangannya naik bis pulang balik untuk pertama kalinya. Sementara, dari Filipina, cerita berjalan sangat lambat. Latarnya di desa, si ayah mengirim anaknya belajar di kota. Karena itu si anak menjadi Anak yang Paling Bahagia. Perjalanan yang tak hanya secara fisik, tapi juga pengembaraan pikiran.

Satu yang kurang, bagiku adalah humor. Dan kebandelan. Entah kenapa hanya “Tunu dan Keledai” (Anwar Enayetullah) dari Pakistan dan “Bangau yang Amat Cantik” (Gayetni) dari Birma menyisipkan kebandelan kanak-kanak ini. Bukan kebandelan yang disengaja, melainkan kekacauan-di-luar-rencana. Cerpen Tunu berakhir dengan hukuman di pantat. Sedangkan dalam cerpen Bangau, si anak berusaha menutupi kebohongannya, dan nyaris berhasil kalau ia tak diingatkan dengan legenda “Ngatetpya” (semacam Robin Hood di Birma). Jadilah ini ada kerangka cerita di dalam cerita.

Tapi tetap saja, aku ingin cerita yang lebih liar dan penuh humor. Seperti apa ya cerpen anak Asia sekarang? Semoga anak Asia tidak jadi anak yang hanya ditakut-takuti, trus gedenya jadi pegawai yang patuh dan rela menderita.

😛

Jadi, apa cerpenmu?

Sumber gambar: krisblues