Posted in Bahasa

magic seeds (2004)

Hwaaaahh, saya ga tahan lagi.
Sepertinya sekarang saya tahu kenapa Pak Vidiadhar Surajprasad Naipaul diganjar Nobel: yang utama adalah tema yang dia angkat dalam karya2nya. Gaya bertuturnya sih keras banget. Cadas. Hilang sudah gambaran tentang makanan berempah khas India, tari-tarian, dll., yang dimaksud “Magic Seeds” ini ternyata benih-benih revolusi. Kata-kata semacam revolutionary, terjajah, dijajah, penjajah, dsb., bertaburan sepanjang saya membaca novel ini. Untuk membeli rights-nya, hmmm, gimana ya? Saya rasa terlalu beresiko. Novel ini terlalu “mendidik”, kurang “menghibur” (hwahahaha, ho…ho…nada ironi dalam kalimat-kalimat saya….). Kecuali, kalau kita ingin selangkah lebih maju yaitu menginjeksi (pinjam istilahnya Mas Rizal) pembaca dengan karya sastra poskolonial, mungkin dibikin satu imprint tersendiri kayak sastra klasik? (yahhh… walaupun istilah “poskolonial” sendiri masih problematik, sih). Kita butuh lebih banyak sudut pandang seperti ini, daripada … lagi-lagi pohon willow dan poplar, dan ikon2 western melulu.

Gimana ya? Hati saya terbelah saat harus mengambil keputusan tentang novel ini. Pertanyaan mula-mula yang saya pikir akan muncul dari teman-teman adalah, emangnya siapa sih yang benar-benar baca -atau, minimal berminat lah terhadap- novel-novel sejarah perjuangan orang-orang yang terjajah? (Saya tidak memakai istilah bangsa, ya karena itu anakronis lah!). Siapa sih yang tertarik dengan s e j a r a h ?

Mungkin, untuk lebih memperjelas, pertanyaannya seperti ini: Siapa orang-orang yang benar-benar membaca dan menikmati karya-karya Pram? Atau, Burung-Burung Manyar-nya Romo Mangun? Kita bicara karya-karya yang popularitasnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Nah, apa kaitannya dengan novel Pak Naipaul ini?

Sejarah itu sebenarnya menarik. Di satu sisi, saya yakin novel-novel tentang sejarah, tentang penjajahan, tentang perbedaan kelas dalam masyarakat lengkap dengan segenap konsekuensi perilaku dan nilai yang ditimbulkannya, sangat diperlukan oleh kita yang punya sejarah penjajahan itu. Yang lebih mengena adalah bila kisah itu diceritakan dari kacamata orang yang terjajah itu sendiri. Di sini saya memberikan penghargaan tinggi terhadap Pram. Saya jatuh cinta dengan Gadis Pantai, tetapi karya yang bagi saya monumental karena berhasil membuat saya untuk pertama kalinya benar-benar merasa sebagai orang Indonesia adalah tetralogi Pulau Buru. Saya bolak-balik ke kamar mandi saat membacanya, karena tak kuasa menahan air mata yang bercucuran. Walaupun ini tetralogi tentang sejarah, berbasis riset pula, ia juga sangat nendang (baca: berhasil/sukses berat) menggenggam dan mengobrak-abrik jantung saya (sebagai pembaca).

Faktor inilah yang kurang dimiliki oleh novel “Magic Seeds“-nya Naipaul. Pada adegan awal, di Berlin, kita akan dicereweti oleh Sarojini, saudara perempuan Willie-sang tokoh utama. Kata-kata/agitasinya bisa membuat saya ikut “gundah” sebagai bagian dari bangsa yang pernah mengalami penjajahan. Misalnya, pada bagian ini:

All the history you and your people like you know about yourselves comes from a British textbook written by a nineteenth-century English inspector of schools called Roper Lethbridge. Did you know that? [10]

Pada intinya dia bercerita soal bagaimana mekanisme penjajahan bekerja. Tapi, sayang, dari sini saja saya sudah tidak bersimpati, masalahnya, cara Pak Naipaul menyampaikan itu lho, menggurui banget sih, terlalu vulgar untuk sebuah karya sastra. Emangnya ini artikel atau apa sih? Atau malah pamflet?

Willie, sang tokoh utama, digambarkan sangat tragis: seorang inosen yang mencoba melakukan sesuatu yang baik, seseorang yang “belum menemukan apa yang dia cari”, seseorang yang ingin mencapai cita-cita mulia demi dan atas nama orang-orang lain yang dianggap “membutuhkan”, tapi … dia sangat polos dan terlalu manutan. Bagi saya, ini kesan dramatik yang ingin dicapai Naipaul, tapi, sayang … logikanya kok nggak masuk. Dia terlibat dalam gerakan revolusi bawah tanah setelah Sarojini menyindir2nya di Berlin. Padahal, kemudian kita ketahui bahwa sang adik sendiri melunturkan penghargaannya terhadap gerakan tersebut. Hey, sang adik bahkan tidak pernah terlibat! Hanya bertemu pemimpinnya satu kali, lalu menjadi “pengamat” yang hanya tahu dari berita media massa. Pernahkah dia memikirkan dia tu melibatkan kakaknya ke dalam apa? Sementara dia memuja suaminya yang bule sebagai penyelamatnya, orang yang dia perlukan untuk mengajarinya, dan dia memandang rendah pada keluarganya sendiri.  Apakah Pak Naipaul sedang menyindir inferioritas poskolonial itu? Pada akhir cerita, seperti inilah tanggapan Willie,

I have no business to rebuke her, however indirectly, for going off to the guerillas. The decision was mine ….”[270]

Pada akhirnya ayah mereka yang sakit-sakitan meninggal. Sarojini mengelola ashram milik ayahnya-sesuatu yang sebelumnya ia kecam habis-habisan. Klimaks dan pesan novel ini terdapat pada adegan berikut, lagi-lagi dengan nada-nada ketragisan: dari penjara, Willie membalas surat Sarojini,

Dear Sarojini, You run from one extreme to the other. The idea of the ashram is an idea of death in life, and it goes against everything you have believed. What we discussed in Berlin remains true. I am grateful to you for making me face myself and what I come from. I consider that a gift of life. I am surrounded here by a kind of distress I don’t know how to deal with, but the ashram is not the way. Nor was that foolish war which I went fight. That war was not yours or mine and it had nothing to do with the village people we said we were fighting for. We talked about their oppression, but we were exploiting them all the time. Our ideas and words were more important than their lives and their ambition for themselves. That was terrible to me, and it continues even here, where the talkers have favoured treatment and the poor are treated as the poor always are. They are mostly village people and they are undersized and thin. The most important thing about them is their small size. It is hard to associate them with the bigger crimes and the crimes for passion for which some of them are being punished. Abduction, kidnapping. I suppose if you were a villager you would see them as criminal and dangerous, but if you see them from a distance, as I still see them, although I am close to them night and day, you would be moved by the workings of the human soul, so complete within those frail bodies. Those wild and hungry eyes haunt me. They seem to me to carry a distillation of the country’s unhappiness. I don’t think there is any one single simple action which can help. You can’t take a gun and kill that unhappiness. All you can do is to kill people.

Intuisi (alaahhh, bilang aja kecurigaan…) saya mengatakan bahwa Pak Naipaul ini tidak merasakan sendiri penjajahan itu. Ini adalah karya sastra orang sekolahan. Dia ada dalam golongan kelas atas di masyarakatnya. Oleh karena itu dia bisa menganggap bahwa revolusi itu adalah sesuatu yang hanya dibicarakan (dan dibicarakan sebagai omong kosong). Revolusi diterjemahkan secara sempit, revolusi=membunuh, entah membunuh tuan tanah, polisi, atau orang kaya, bahkan membunuh “dua generasi dan menggantikannya dengan generasi penerus yang sudah kita ‘tanami'”. Orang-orang yang terlibat dalam gerakan itu digambarkannya sebagai orang-orang yang gagal dan punya rasa malu terhadap diri sendiri, orang yang sebenarnya berasal dari kelas atas namun tersingkirkan, atau orang yang memanfaatkan kesempatan … bukan orang yang benar-benar “berjuang”, tapi hanya orang-orang yang sudah terlibat terlalu jauh dan tak punya pilihan lain. Sebagian besar adalah orang-orang yang berusaha/berkesempatan untuk mengalami mobilisasi kelas, sebuah peningkatan dalam status (misalnya, anak petani yang kuliah), tapi kemudian tetap saja mereka tak berhasil menjadi bagian dari kelas atas tersebut. Sementara untuk kembali ke tempatnya semula, mereka sudah tidak nyambung. Oleh karena itu, kebencian timbul dan menjadi bahan bakar yang kuat bagi mereka untuk memberantas semua hal yang membuat masyarakat ini terkotak-kotak dalam kelas-kelas.

Yang paling lucu adalah penggambaran bahwa para revolusioner itu tidak pernah mengalami yang namanya “bekerja”. Ketika Willie dan Bhoj Narayan dikirim dalam suatu misi khusus, setelah dua minggu uang bekal habis. Mereka belum menerima kiriman lagi dari unit pusat. Terpaksalah mereka berdua bekerja di pabrik gula, mengangkut ampas-ampas setiap hari dan berjalan kaki berkilo-kilo meter, untuk mendapatkan uang agar bisa makan. Hari-hari terasa membosankan dan kosong dan melelahkan, mereka tak sempat lagi berpikir soal revolusi. Ternyata, bekerja itu jauh lebih buruk, menyebalkan, dan menyiksa daripada bergerilya dari satu hutan ke hutan yang lain untuk mempengaruhi warga. Bahkan, dipenjara ternyata masih lebih nyaman daripada bekerja. Yah, karena paling tidak kehidupan mereka dijamin. Kaum mereka ditempatkan dalam penjara khusus, penjara tempat tahanan-tahanan berpendidikan yang suka menghabiskan waktu dengan mendiskusikan tokoh-tokoh perjuangan, terpisah dari para “kriminal”. Hmmm, bahkan di penjara sekalipun ternyata tingkatan-tingkatan itu tetap eksis.

Oya, satu hal lagi yang ditekankan oleh Pak Naipaul: para revolusioner itu parno dan tidak pernah bercanda. Paling tidak, saya bisa menikmati sambil tersenyum-senyum sendiri saat manusia-manusia revolusioner itu, sambil jalan atau kadang-kadang sambil rapat, curhat panjang lebar soal kisah-kisah pribadi dalam kehidupannya. Omongan mereka tuh panjang-panjaaaang banget. Semakin memperkabur latar belakang mereka, dan ga cocok dengan karakteristik “parno” yang dibangun di awal: bahwa para revolusioner itu, walaupun saling percaya, tetep ga sepercaya itu dengan kameradnya, tetep menjaga diri, karena setiap saat ada yang bisa menjadi pengkhianat dan nyawa mereka terancam.

Satu catatan lagi nih. Solusi-solusi yang ditawarkan gerakan revolusioner itu, seperti redistribusi lahan pertanian, dimentahkan begitu saja oleh Pak Naipaul, karena warga desa mengatakan “itu bukan tanah saya”. Bahkan ada perasaan dalam diri para revolusioner bahwa sebenarnya warga desa hanya memandang mereka sebagai sebuah “lelucon”, orang-orang yang “aneh”. Pak Naipaul ingin berlindung di balik argumen tradisi dan “budaya” yang terasa sangat konservatif, dan sudut pandang seperti ini hanya bisa dimiliki oleh mereka yang ada di luar kaum petani itu. Gampangnya, Pak Naipaul itu bukan petani, tidak pernah merasakan jadi anak petani, ga pernah terlibat dalam penghayatan sebagai keluarga petani. Melalui novel ini dia hendak berkata, “sudahlah, revolusi itu tidak ada artinya.”, tak lebih dari sebuah mockery. Ia mempertegas pesan ini melalui kalimat penutup pada novel ini:

It is wrong to have an ideal view of the world. That’s where the mischief starts. That’s where everything starts unravelling. But I can’t write to Sarojini about that.” [280]

Bagi saya, ini adalah cara kita untuk tetap mempertahankan pikiran kritis, walau sedang ingin mencapai sebuah cita-cita besar sekalipun. Tetap sadar, eling lan waspada. Karena, seperti diceritakan dalam novel ini, pikiran para revolusioner lama-kelamaan “mati”, mereka hanya mengikuti, menirukan dan mengulang-ulang apa kata pemimpinnya. Tidak mau melihat dunia dari sudut pandang lain.

Yah, jadi ya … wajarlah Pak Naipaul dapat nobel. Dia itu masih “aman”.
Dan, wajarlah Pram ga dapat.
Dan, bolehlah Anton Chekov alias Boris Pasternak (Dokter Zhivago-nya di satu sisi juga bisa dibaca sebagai antidote terhadap revolusi proleteriat di Rusia) menolak Nobel yang dianugerahkan padanya.

Nobel itu kan pengennya ‘perdamaian‘ ;-),” kata nadya.

Perdamaian-nya siapa dulu ;-)” kata nadya lagi

Mudah-mudahan saya tidak sedang ber-romantik ria, meromantisir revolusi, perjuangan, penjajahan dan sebagainya. Tapi, saya ingin mencatat pasase berikut, para revolusioner sedang rapat sembunyi-sembunyi dan salah satunya bicara begini:

I never hide where I come from. There is no beauty in peasant …. this movement is not a movement of love. No revolution can be a movement of love ….” [103-104]

Lha, kalo bagi saya sih jelas: kekuatan paling revolusioner adalah cinta. hehehehehhehehe ….


Jadi … novel ini emang menarik, seru kok ngegambarin perjuangan gerakan bawah tanah dan interaksinya dengan masyarakat, tapi … belum semenarik itu. Bisa dipertimbangkan kalo kita mau nerbitin semua novelnya Pak Naipaul sekalian, biar jadi buku-buku koleksi. Tapi, kalo cuma satu, mending bukan yang “Magic Seeds” ini. Lewat aja deh. Peace …!

Read and post comments |
Send to a friend