Posted in Bahasa

Dusun Palemsari, Merapi: Relokasi Mandiri, Sapi dan Jeep Pariwisata

Berat ya Pak, tinggal di shelter waktu itu?

Kepala Dusun Palemsari, Bapak Ramijo, menyambut kami di hunian tetap baru yang berjarak 9 km dari puncak Merapi. Ketika letusan terjadi dua tahun lalu, mereka tinggal di lokasi yang berjarak 4,5 km dari puncak. Kejadian tersebut merenggut banyak korban jiwa dari Dusun Palemsari. Lebih dari 200 sapi milik warga ikut pula menjadi korban. Warga yang selamat sempat tinggal di shelter atau “huntara” selama 1,5 tahun. Sejak Juni tahun ini, mereka pindah ke huntap (hunian tetap) yang belum sepenuhnya selesai dibangun.

“Kami di shelter selama 1,5 tahun. Atap shelter itu sepenuhnya dari seng. Ketika hujan turun, suaranya bikin takut anak-anak. Anak saya langsung tidur dan menutupi badannya dengan kasur. Pernah hujan lebat disertai angin kencang. Seng-seng itu terbuka separuh, nyaris terbang. Begitu terus, atap seng itu berulang kali membuka dan menutup, sampai akhirnya ada yang copot satu. Air deras masuk ke shelter, disertai angin. Saya beserta sembilan orang lain sembunyi di toilet.”

Pada awalnya, sama seperti penduduk dusun kawasan zona merah lain, warga dusun Palemsari menolak relokasi. Mereka takut lahan pertanian mereka diambil pemerintah. Setelah berembug, pemerintah menjelaskan bahwa lahan tersebut tidak akan diambil. Lahan tersebut untuk digarap, ditanami untuk membantu perekonomian warga, juga untuk cadangan ekosistem. Hanya saja tidak boleh dihuni. Warga jangan tidur di sana.

Akhirnya mereka bersedia relokasi asalkan bukan ke lokasi yang ditentukan pemerintah. Mereka hanya mau jika semua warga dusun bersedia relokasi bersama ke satu tempat yang sama. Kalau tidak, lebih baik tidak relokasi sama sekali. Jangan sampai ada yang tertinggal atau terpisah.

Masing-masing kepala keluarga membayar iuran sebesar Rp 4.500.000,- untuk secara mandiri membeli lahan seluas 1,2 hektar. Di lahan inilah hunian tetap mereka bertempat.

“Karena kami sudah beli lahan sendiri, kami menagih ke Bupati Sleman untuk menyediakan bantuan pembangunan hunian tetap dan fasilitas. Kami kan sudah meringankan beban pemerintah dengan beli lahan sendiri.”

Dana cair dari Rekompak JRF untuk pembangunan hunian tetap. Warga mengelola sendiri dana tersebut dan membangun rumah mereka dengan tenaga sendiri, secara bergotong royong. Warga juga berbangga bahwa mereka merancang sendiri hunian tetap masing-masing.

Dengan menyetujui relokasi, warga bisa menerima bantuan pemerintah, misalnya untuk pembangunan hunian tetap, sembako, dan fasilitas umum seperti jalan, jembatan, selokan. Selain itu, warga menerima banyak pelatihan, terutama untuk pemulihan sosial ekonomi. Contohnya, pelatihan dagang, beternak lele, pertanian, memasak, membuat kerajinan bambu, dan lain-lain.

Pak Ramijo juga mengatakan bahwa dusunnya yang dulu hancur terkena lahar sekarang sudah hijau kembali. Selain rumput yang baik untuk ternak, buah-buahan juga tumbuh. Meski lokasi rumah kini berjarak 3,5-4 km dari lahan garapan mereka, warga tidak terlalu berkeberatan. Penyebabnya, warga Palemsari kini banyak yang beralih profesi. Adanya Merapi lava tour membuat hampir seluruh warga menggantungkan penghidupannya dari sektor pariwisata. Mulai dari jadi guide, buka warung, buat suvenir, sampai menyewakan motor trail dan jeep seharga Rp 250.000,- untuk satu kali sewa.

“Warga sendiri yang punya jeep dan motor trail itu. Mungkin dulu mereka jual sapi, jadi sekarang bisa buat persewaan jeep.”

Bagaimana dengan warga ekonomi lemah?

“Ya tetap ada. Itu tergantung keuletan pribadi. Yang paling sedih itu warga yang semua keluarganya mati, misalnya yang jadi janda. Sebenarnya mereka ini awalnya warga yang cukup berpunya, tapi karena tulang punggung keluarga meninggal, mereka jadi warga ekonomi lemah.”

Selain dari sektor pariwisata, warga juga berharap untuk mendapat sumber penghasilan lain dari ternak sapi perah.

“Pagi-pagi bisa cari rumput, kasih makan sapi. Lalu siangnya ke lava tur. Dua-duanya bisa jalan. Ini pemerintah mau bikin dua unit kandang sapi dan tempat menampung susunya, juga saluran biogasnya. Setelah jadi, pemerintah juga mau memberi bantuan satu sapi per KK. Ini jauh lebih sesuai dengan aspirasi warga, daripada program di shelter dulu, pemerintah menyuruh ternak lele dan lele ini bikin warga bangkrut dua kali.”

Meski sibuk dengan pariwisata, Pak Ramijo mengatakan bahwa warga jangan sampai lengah. Ia bertanya mengapa belum diadakan simulasi kebencanaan untuk seluruh warga Dusun Palemsari. Yang bisa mereka lakukan hanyalah membaca tanda-tanda gunung berapi, seperti awan dan suara, juga mencermati perubahan status Merapi. Yang penting, jangan terlalu takut, jangan pula terlalu menyepelekan.

Posted in Bahasa

Tiga tingkatan nasi kotak

Orang Jawa bilang “saru” kalo kita mengkritik atau meributkan makanan. Menurutku itu kondisi ideal. Pada situasi tertentu, mengkritik makanan itu perlu, misalnya ketika makanan itu bikin sakit perut atau sakit lainnya. Sering juga mengkritik makanan itu ngga perlu tapi tetep dilakukan. Urusan makanan bisa dianggap sepele, bisa juga dibesar-besarkan. Yang jelas, aku dapet pelajaran baru. Siapa sangka, dari mengamati urusan yang dianggap sepele seperti makanan dan perilaku orang-orang terhadapnya, wawasan bisa nambah dikit dan ada latihan berpikir serta kesimpulan yang ngga diduga.

Di sini, aku mau cerita tentang nasi kotak. Jujur, aku pengen banget mengerti dan belajar sungguh-sungguh secara terus-menerus tentang Indonesia dan masyarakatnya. Ternyata, nasi kotak bisa bicara banyak tentang itu.

Continue reading “Tiga tingkatan nasi kotak”

Posted in Bahasa

Terobsesi dengan kayu

Beliau senang dan menganggap saya seperti anak sendiri. Senyum itu berbicara melebihi semua cerita.

Pak Yoto adalah seorang tukang kayu yang menjadi korban bencana Merapi. Dari beliau, saya belajar tentang pentingnya memiliki keahlian. Dengan keahlian sebagai tukang kayu, meski kehilangan rumah dan lahan, Pak Yoto tetap bisa menjalankan usaha dan tidak trauma. Pesanan untuk Pak Yoto tidak pernah sepi, karena barang-barang kayu buatan Pak Yoto dikenal sebagai jaminan mutu. Kini, beliau mendidik tetangga sekitar untuk menjadi tukang kayu.

Sebelum menjadi seperti sekarang, Pak Yoto mengalami kisah yang sama dengan sebagian besar anak petani lain di zaman itu. Setelah lulus SD, ia putus sekolah. “Lakukan sesuatu yang sudah jelas menghasilkan,” Ia pun membantu ayahnya mencari rumput untuk ternak.

Semasa belia, Pak Yoto harus kehilangan ayah. Ia pun membantu ibu berjualan gorengan. Satu per satu, sapi yang mereka miliki habis terjual. Kakaknya bertransmigrasi ke Sumatra, ingin mencari penghidupan yang lebih baik di perkebunan sawit. Namun nasib berkata lain. Kakaknya meninggal di Sumatra. Pak Yoto kehilangan satu-satunya saudara kandung. Setelah mampu menerima kabar duka kedua tersebut, Pak Yoto yang sebelumnya menganggur, justru ditawari ibunya untuk menikah.

Dengan tawaran tersebut, Pak Yoto mencari-cari pekerjaan seadanya yaitu membantu menderes kelapa. Siapa sangka, menambah keluarga justru membuka pintu rezeki. Setelah menikah, suatu hari Pak Yoto membantu kakak iparnya membuat kusen-kusen. Pak Yoto ingin belajar dan ingin bisa. Dalam hati, Pak Yoto bicara berulang-ulang, “Aku ingin jadi tukang kayu, aku ingin jadi tukang kayu, aku ingin jadi tukang kayu.” Sebagai pemula, Pak Yoto hanya membantu memasah, menggergaji, dan menatah kayu. Kemudian, Pak Yoto diajari cara merumuskan ukuran-ukuran kayu untuk membuat kusen. Kakak ipar Pak Yoto melihat Pak Yoto sudah menguasai cara-cara menentukan ukuran kayu.

Ketika Pak Yoto meminta kakak iparnya untuk membuat pintu, kakak ipar justru menyuruhnya membuat sendiri. Dia yakin Pak Yoto sudah mampu. Dia tidak mau meninggalkan rumah untuk semacam “memaksa” Pak Yoto mencoba membuat pintu sendiri. Saat itulah Pak Yoto meninggalkan rumah kakak iparnya dan pulang, mencoba membuat pintu sendiri.

Melalui proses uji coba selama lima hari, akhirnya Pak Yoto berhasil membuat pintu meski belum sempurna. Hal ini membekali Pak Yoto dengan rasa percaya diri untuk mencoba membuat produk lain yang belum ia punya seperti dipan dan meja. Pak Yoto belajar secara otodidak agar berhasil. Meski dipan hasil rakitan itu belum stabil, beliau puas karena setidaknya bisa menghasilkan “bentuk” dipan.

Sejak keberhasilan-keberhasilan itu, Pak Yoto terobsesi dengan kayu. Begitu bangun tidur, yang disayang-sayang bukan istrinya tetapi kayu. Demikian pula, dalam keseharian, Pak Yoto lebih banyak berkutat dengan kayu daripada dengan istri. Pak Yoto sangat senang karena memiliki istri yang mendukung obsesi tersebut, istri yang memiliki rasa pengertian luar biasa meski Pak Yoto sering membuat rumah berantakan karena uji coba bertukang kayu. Dengan demikian, Pak Yoto tidak pernah berhenti belajar.

Setelah berhasil membuat pintu, Pak Yoto ditawari pekerjaan oleh juragan kayu. Pak Yoto menjadi karyawan sampai juragan tersebut meninggal. Setelah empat puluh hari, Pak Yoto memberanikan diri untuk minta izin pada janda juragannya, “Bu, bagaimana kalau kayu-kayu yang masih tersisa dari usaha ini saya ubah jadi duit untuk uang jajan anak-anak?” Beliau mendapat izin, “Kalau kamu bisa mengubahnya menjadi duit, itu bagus, daripada telantar dimakan rayap.” Sejak saat itulah Pak Yoto menjadi tukang kayu mandiri sampai sekarang.

Dari cerita Pak Yoto, saya membayangkan satu elemen kehidupan di desa khususnya Jawa. Mungkin Pak Yoto sebagai orang desa yang harus menjaga harmoni dengan tetangga punya cara hidup yang “tahu diri”. Misalnya, “tahu diri” untuk tidak bersaing secara terang-terangan. Kakak ipar Pak Yoto juga “tahu diri” dengan cara memaksa Pak Yoto bisa bertukang kayu, agar Pak Yoto punya penghasilan. Selain itu, Pak Yoto juga “tahu diri” untuk tidak mengganggu gugat juragan kayunya. Pak Yoto baru bisa terlepas dari status sebagai karyawan setelah juragannya meninggal dunia, bukan atas inisiatif sendiri.

Rasa “tahu diri” itu juga membuat Pak Yoto tidak bermimpi muluk-muluk. Beliau tidak bercita-cita menjadi juragan kayu. Selama bisa memenuhi kebutuhan keluarga, itu sudah cukup. Yang terpenting, beliau punya obsesi dengan kayu dan itu membuatnya terus berlatih serta menjaga kualitas. Beliau percaya, rezeki sudah ada yang mengatur. Jika nantinya beliau menjadi juragan kayu, itu sudah pasti seizin yang maha memberi rezeki. Namun, jika beliau tidak digariskan untuk menjadi juragan kayu, apapun upaya yang beliau lakukan untuk itu tidak akan berhasil. Pikiran seperti ini membuatnya tetap tersenyum menjalani hidup.