Posted in Bahasa

bolos!

kemarin aku ga masuk kantor.

pagi-pagi aku bangun, langsung masuk kamar mandi, berlama-lama di
sana. entah ngapain. perutku sakit dan aku mandi pelan-pelan. terdengar
getar ponsel yang beradu dengan meja. itu bener-bener suara yang ga
mengenakkan sama sekali.

apa yang kuperbuat? hey, aku tetap bertahan di kamar mandi.
berlama-lama. biarin. kepalaku sedang tidak di tempatnya. jiwaku sedang
tidak ada di mana-mana.

keluar kamar mandi sambil berlari-lari kecil, aku bisa merasakan
tetes-tetes air terjun-terjun dari punggungku. dan, aku tidak
menyekanya. biar saja. biarkan saja.

bahkan berpakaian pun aku malas. aku memilih menengok ponsel keparat itu. tiga missed call.
siapa yang meneleponku pagi-pagi? ah, tentu saja … siapa lagi kalo
bukan kantor. bagaimana rasanya menjalani kehidupan tanpa pernah
ditelepon kecuali oleh tempat kamu bekerja? hmph, rupanya tak ada yang
peduli padaku selain para pengejar omzet itu. aku merasa tidak punya
makna bagi siapa pun, kecuali bagi kinerja perusahaan. ouch …
menyakitkannyaaaaa! sungguh, pagi itu aku sedang tidak waras!

setelah mengirim sms secukupnya ke mbak diah sekretaris kantor (”mba
ku ga masup zagid”), aku memakai kaos kesayanganku dan celana selutut
yang kujahit sendiri. nyamannyaaaa … sama sekali tak harus matching
ataupun formal. tanpa sadar aku tersenyum kecil. lalu, memejamkan mata.
ah, betapa banyak hal sederhana yang berubah jadi sebuah kemewahan bagi
seorang “tenaga” kerja. sambil leyeh-leyeh dan bermalas-malasan, aku
melamun … melamun … melamun ….

… melamun bebas, ga mikirin kerjaan.

terlalu sering ku memikirkan kerjaan. bahkan, pada hari libur
sekalipun, masih harus mengerjakan tugas-tugas yang tak ada habisnya,
masih terbayang-bayang beberapa kerjaan di kantor yang menanti digarap.
ah, kerjaan … ga ada selesainya.

hmmmm, selama ini apa saja yang telah kulewatkan? kira-kira siapa
saja yang ditelepon pagi-pagi? siapa yang menelepon mereka? bagaimana
nada suaranya? apa yang dibicarakan? senangkah mereka?

gimana dengan ibuku? adakah yang meneleponnya pagi-pagi?

eitsss, tiba-tiba si rebo mengeong dan mendekat. hei … rebo! aku ga
punya makanan nih. lagian kamu kok ga kapok-kapok kemari, padahal aku
tak perhatian ma kamu. kalo mau, kubuatkan susu. bentar ya? …. eh ini
kena apa?

ada garis-garis luka dalem yang udah mengering di bahu rebo. hu hu
hu, ternyata banyak hal penting yang kulewatkan. sampe-sampe, rebo
terluka dan babak belur aja aku ga tahu. aku merasa sangat biadab.
hhhhhhhhhhhhhhhhhhh……………

segera saja kutelepon ibuku. aku tak mau bertambah kebiadabanku
gara-gara jadi anak yang tak pernah menelepon ibunya. walau ibuku pun
tak pernah lagi meneleponku, tapi itu kan karena aku yang melarangnya.
aih aih banyak deh alasanku untuk menolak teleponnya. wahai … hidupku
yang terlalu banyak alasan ini!

“halo?”

suara ibuku sok resmi, he he he. begitu tahu anaknya yang menelepon,
nada keceriaan langsung menguar dari celotehnya. kubilang “cuma pengen
nelepon aja” dan tidak terlalu konsentrasi mendengar ceritanya (he he
he, peace!). aku membayangkan kilatan-kilatan cahaya penuh
energi berhamburan dari sosoknya yang senang karena kutelepon. ibuku
sedang bingung, mau beli pelembut atau pengharum cucian? atau semprotan
3 in 1 setrika? deterjen saja tak cukup, katanya. wah rumit juga ya?
aku belum pernah memikirkan pilihan-pilihan itu he he he. “gimana kabar
adik bungsuku?”, tanyaku. aku suka tidur sama dia dan mencium-cium
jidatnya yang agak lunak. “rumangsaku cah sekolah saiki kok angel tenan yo?” (perasaan, anak sekolah sekarang bebannya berat banget ya?), jawab ibuku. kataku, “sing ra angel ki opo jal? he he he …” (apa sih yang ga berat? he he he …). kami berdua tertawa.

“makanya, hidup ga usah ngoyo. ntar cepet tuaaa ha ha ha ….

“ha ha ha … iya. hari ni ku ga berangkat kerja. sakit perut.” aku ga boong-boong amat kan?

“naaa itu, kurang vitamin …. kamu sih … pas masih kecil ga dikasih telo gambyong. ha ha ha …”

“ha ha ha …” batinku: apa pula tu telo gambyong? hehehehe.

akhirnya pembicaraan itu berakhir. lumayan. lega juga, serasa
amunisiku diisi ulang penuh-penuh … semangat lagi! bertenaga lagi! siap
untuk menghabiskan seharian sesukaku.

sebelumnya, aku bikin jus tomat dulu. ternyata manjur, memperlancar
pencernaan. kemudian aku ke luar. ya, ke luar! ke dunia luas! sambut
aku, hay matahari! udah lama kita tak berkencan! dulu, aku selalu
menunggumu di tempat jemuran! oh, betapa aku merindukan pemandangan
sensasional cahayamu yang membelah-belah pagi, seperti sungai debu!
betapa aku masih penasaran kenapa seumur-umur belum pernah kulihat
senja berwarna hijau!

aku pun hura-hura sampe malam. mau tau ngapain aja? ada dehhhhhhh …. asik-asik aja. asik banget malah.

what a day ^_^ aku menghadiahkan pada diriku sebuah memori yang indah hari ini. hmmmmm, ayok tidur …

… dan merencanakan bolos berikutnya.

Read and post comments |
Send to a friend

Posted in Bahasa

25 November 2007: Gramedia Matraman

hari yang ditunggu-tunggu datang juga. semalam aku mengepak barang2 dalam ransel volunteer-ku dan melangkahkan kaki menuju stasiun. tiket kereta api kuselipkan di buku kitchen-nya banana yoshimoto. selain itu, pedagang buku dari kabul-nya asne seierstad dan chocolat-nya joanne harris tak lupa kubawa serta, walau kutahu kemungkinan besar takkan ada waktu untuk membaca habis semuanya. kereta masih begitu2 saja. di luar gelap, tak terlihat apa2. membaca sebentar dan kepalaku terasa goyang. baiklah, sepertinya aku memang harus tidur. mataku terpejam, walau sekali-kali masih lirik2 mencuri2 lihat keadaan sekitar.

pagi-pagi, sesampai di jakarta, kami langsung ke gramedia matraman. gramedia terbesar di jakarta itu belum buka, tapi di dalam para pegawainya sudah datang dan bersiap2 membuka toko. jendela2 dibersihkan, lantai dipel, pegawai berderet di depan pintu masuk dengan posisi ngapurancang, dan … begitu pintu dibuka, pengunjung disambut dengan jingle "gra meeee dya gra meeee dya", dst, serta senyum ramah dan sapaan selamat datang dari pegawai toko dalam barisan. segera kutitipkan ransel dan kresek putih berisi kotak paket di tempat penitipan tas. kukeluarkan peralatan mandiku, lalu naik ke lantai 2. aku memonopoli toilet, mandi (dengan air yang sangat terbatas), ganti baju sambil bersenandung. keluar dari kamar mandi rasanya segar. sisa2 nuansa kereta api sudah hilang tak berbekas.

singkat cerita, acara berjalan tak terlalu lancar menurutku, karena pengunjung membludak. dan, entah dari arah mana saja ada yang terkadang berteriak2. mana siang2 lagi, ruangan yang sesak oleh pengunjung membuat pendingin ruangan tak terasa sama sekali. tapi biarlah, mereka semua ingin bertemu dengan penulis pujaannya. rombongan berkaos laskar pelangi terlihat beberapa, untuk menyemarakkan suasana. bahkan ada maskot, semacam yang ada di acara kick andy (krebo, tubuh dan wajah dicat merah putih), tubuhnya digantungi papan bertuliskan laskar pelangi. bagaimana rasanya menjadi orang itu ya?

ternyata yang paling menyenangkan justru bertemu sahabat, makan donat dan minum green tea (thanks Bonita! juga Dyra, Dian Bebek via telepon), sambil ngobrol2 tentang apa saja. waduh, senengnyaaaaa melihat kalian semua senang…. habis tu maen ke tempat temen yang sudah punya 2 anak. (halo ariq n kansa! bundanya galak ya? hehehehehe, peace yuni! ^_^). seru, main2 sama anak2 kecil sampe gak terasa sudah waktunya kembali ke stasiun, kembali ke jogja. gak sempet mandi sore, tapi lumayanlah perut kenyang abis makan sate bikinan temenku itu…

dear friends, thanks for all the love you bring!

p.s.: kapan ketemuan lagi?

Read and post comments |
Send to a friend