on melancholy? it’s about destroying boundaries

after all we’re just human. hearts full of desire, envy and hate are never out of date. my dear friend is talking about mourn, agony, and despair. of course sadness is painful, but you know what, sometimes it makes you concentrate better. and writings or creations comes out of you just as naturally as a fruit from its tree, or a blooming flower from its petals. i remember mbak desi told me about “energi kreatif”, hehehee …. if you wanted to use it for that purpose, just enjoy your precious sadness whenever it may come, treasure it, worship it. but if you just want to feel better, share.

we, your friends, are always happy to be all ears. please don’t mention that sentence of yours “i don’t want to disturb you” or “bother” or else, come on …. who do you think we are to you? i’m not apologizing for not giving any solutions either, right? come here, come close, share.

sometimes if our friends are down, i think our presence is more than enough, physically or not. it shows that she’s not alone.

Read and post comments

|

Send to a friend

Advertisements

never superstitious enough

my close friend told me, whenever i’m in the mode of questioning, have loads to ask, being so curious, longing for answers, i should open divan, hafiz poetry book. it’s a persian tradition, people look inside this book to meet their answers. well i don’t have that book, and she kindly inform that i can reach it from the net. honestly in the beginning i thought it’s kinda superstitious, but … for the sake of poetry, i think there’s nothing to lose. there’s nothing to regret on reading a fine poetry, right? so, i opened this. i’m not seriously asking my questions to this site, well, come on… i  just let my questions slightly come pass my heart, and there’s not just one but few questions…about my scripshit, about “who am i?”, my wild dreams, my (smiling/malu oiy) love life 😛 well, turns out that good friends’ advice is always a special something. now after clicking the button to get the answer, i just wanna say how much i was surprised reading the answer. oh my god, is such thing as ‘oracle’ do exist?

here is the answer for me, and if you know me that well, you’ll be surprised too about me getting this poetry as an answer. i mean, it feels like this poetry is dedicated for me, for me. finally i could say things that are really me. maybe i’m too hysterical, a little creepy i guess to believe in such things. maybe it’s just random anyway. well, try it for yourself because for this moment i really think this poetry shows me part of who i am. thanks girl, i miss u 😛

beautiful and shocking poetry (what a combination, ahahah)

Ghazal 233

Till you grant my wish, I won’t give up my demand
I will reach the Soul of Souls, or be buried in this land.
When I am dead and buried, open my grave and see
Smoke rising from my corps, by my inner fire fanned.
Show Thy face to the people, awe-struck and radiant
Man and woman will cry out, at Thy smallest command.
I am tired of this life, jealousy eats away my heart
Without a kiss from your lips, I end my worldly errand.
In search of those sweet lips, I have spent my whole life
Desires of the deprived, those lips will reprimand.
In the circles of the Lovers, his goodness they understand,
With reverence, Hafiz’s name, they pass from hand to hand.

::little notes for myself, finally …. hwahhh

  • yes (admit it, nad), i am that persistent girl, sometimes a stubborn stone headed creature that won’t easily give up…giving up is hard for me, ’til i get what i want …. scary, don’t you think?
  • and yeaahhh … i’d (come on be honest nad, eventhough it’s hard) rather be black or white, meaning: yes or no, something for sure or nothing at all…. i’m not really good at handling that half on-half off-gray area, sorry
  • about that grave, i don’t know what it means hahahaaa (“open my grave and see” ?) because i don’t know what is “fanned”. now after looking up to dictionary online “To stir (something) up by or as if by fanning: fanned the flames in the fireplace; a troublemaker who fanned resentment among the staff.” or “(of a breeze, current of air, etc.) to blow upon, as if driven by a fan: A cool breeze fanned the shore” or “to spread out like a fan: The dealer fanned the cards. this details bored you, right? but i need this explanation :-P. maybe that means i would still “be” after i die 😛
  • for the next lines, maybe it’s about “I” having a constant search upon, and a constant feeling of missing “Thy”. (what is “merindukan ” in english?)
  • jealousy? oh no, that’s soooo me 😛 nothing happened wrong at all, it’s just part of me automatically ,,,  my reflect response huahahahhahahaahahahahaaaa (evil grin).
  • kiss and lips and the next lines, hmm, no need any further conversation, kiss and lips is just the embodiment of “me” huahahahahhaaa
  • on a fuller context, i feel this poetry is trying to tell me about great passion,,, if it could be summarized into one word, that word would be passionate (imho). passion drives so “I” won’t give up, pursuing for a “the it” (Soul of Souls) or nothing at all, keeping “I” even after death, making “I” full of jealousy, and about that lips and kiss (in it’s literarry meaning or not) …, hmmm, too much (maksude, mungkin orang2 nganggap itu terkesan berlebihan buanget) but bittersweetly true. only a passionate person can accept (i mean, receive) this poetry… i realized that this “passionate-me” is the character i’ve always tried to avoid.

in the end, the most relieving thought that comes to me after getting this poetry is “it’s okay to be myself.” eventhough the whole world would have an opinion that i’m absolutely not that average-ideal-girl at all, but those me-character that has just  honestly appeared can come up as a nice poetry anyway 😀 so, i need not to be afraid, especially of myself ^_^

afterwords: i know i need to read it more and more (repeatedly) to get the meaning, maybe another time. maybe another meaning/new understanding will come to my mind 😛 thanks hafiz poetry book 🙂

Read and post comments |
Send to a friend

bolos!

kemarin aku ga masuk kantor.

pagi-pagi aku bangun, langsung masuk kamar mandi, berlama-lama di
sana. entah ngapain. perutku sakit dan aku mandi pelan-pelan. terdengar
getar ponsel yang beradu dengan meja. itu bener-bener suara yang ga
mengenakkan sama sekali.

apa yang kuperbuat? hey, aku tetap bertahan di kamar mandi.
berlama-lama. biarin. kepalaku sedang tidak di tempatnya. jiwaku sedang
tidak ada di mana-mana.

keluar kamar mandi sambil berlari-lari kecil, aku bisa merasakan
tetes-tetes air terjun-terjun dari punggungku. dan, aku tidak
menyekanya. biar saja. biarkan saja.

bahkan berpakaian pun aku malas. aku memilih menengok ponsel keparat itu. tiga missed call.
siapa yang meneleponku pagi-pagi? ah, tentu saja … siapa lagi kalo
bukan kantor. bagaimana rasanya menjalani kehidupan tanpa pernah
ditelepon kecuali oleh tempat kamu bekerja? hmph, rupanya tak ada yang
peduli padaku selain para pengejar omzet itu. aku merasa tidak punya
makna bagi siapa pun, kecuali bagi kinerja perusahaan. ouch …
menyakitkannyaaaaa! sungguh, pagi itu aku sedang tidak waras!

setelah mengirim sms secukupnya ke mbak diah sekretaris kantor (”mba
ku ga masup zagid”), aku memakai kaos kesayanganku dan celana selutut
yang kujahit sendiri. nyamannyaaaa … sama sekali tak harus matching
ataupun formal. tanpa sadar aku tersenyum kecil. lalu, memejamkan mata.
ah, betapa banyak hal sederhana yang berubah jadi sebuah kemewahan bagi
seorang “tenaga” kerja. sambil leyeh-leyeh dan bermalas-malasan, aku
melamun … melamun … melamun ….

… melamun bebas, ga mikirin kerjaan.

terlalu sering ku memikirkan kerjaan. bahkan, pada hari libur
sekalipun, masih harus mengerjakan tugas-tugas yang tak ada habisnya,
masih terbayang-bayang beberapa kerjaan di kantor yang menanti digarap.
ah, kerjaan … ga ada selesainya.

hmmmm, selama ini apa saja yang telah kulewatkan? kira-kira siapa
saja yang ditelepon pagi-pagi? siapa yang menelepon mereka? bagaimana
nada suaranya? apa yang dibicarakan? senangkah mereka?

gimana dengan ibuku? adakah yang meneleponnya pagi-pagi?

eitsss, tiba-tiba si rebo mengeong dan mendekat. hei … rebo! aku ga
punya makanan nih. lagian kamu kok ga kapok-kapok kemari, padahal aku
tak perhatian ma kamu. kalo mau, kubuatkan susu. bentar ya? …. eh ini
kena apa?

ada garis-garis luka dalem yang udah mengering di bahu rebo. hu hu
hu, ternyata banyak hal penting yang kulewatkan. sampe-sampe, rebo
terluka dan babak belur aja aku ga tahu. aku merasa sangat biadab.
hhhhhhhhhhhhhhhhhhh……………

segera saja kutelepon ibuku. aku tak mau bertambah kebiadabanku
gara-gara jadi anak yang tak pernah menelepon ibunya. walau ibuku pun
tak pernah lagi meneleponku, tapi itu kan karena aku yang melarangnya.
aih aih banyak deh alasanku untuk menolak teleponnya. wahai … hidupku
yang terlalu banyak alasan ini!

“halo?”

suara ibuku sok resmi, he he he. begitu tahu anaknya yang menelepon,
nada keceriaan langsung menguar dari celotehnya. kubilang “cuma pengen
nelepon aja” dan tidak terlalu konsentrasi mendengar ceritanya (he he
he, peace!). aku membayangkan kilatan-kilatan cahaya penuh
energi berhamburan dari sosoknya yang senang karena kutelepon. ibuku
sedang bingung, mau beli pelembut atau pengharum cucian? atau semprotan
3 in 1 setrika? deterjen saja tak cukup, katanya. wah rumit juga ya?
aku belum pernah memikirkan pilihan-pilihan itu he he he. “gimana kabar
adik bungsuku?”, tanyaku. aku suka tidur sama dia dan mencium-cium
jidatnya yang agak lunak. “rumangsaku cah sekolah saiki kok angel tenan yo?” (perasaan, anak sekolah sekarang bebannya berat banget ya?), jawab ibuku. kataku, “sing ra angel ki opo jal? he he he …” (apa sih yang ga berat? he he he …). kami berdua tertawa.

“makanya, hidup ga usah ngoyo. ntar cepet tuaaa ha ha ha ….

“ha ha ha … iya. hari ni ku ga berangkat kerja. sakit perut.” aku ga boong-boong amat kan?

“naaa itu, kurang vitamin …. kamu sih … pas masih kecil ga dikasih telo gambyong. ha ha ha …”

“ha ha ha …” batinku: apa pula tu telo gambyong? hehehehe.

akhirnya pembicaraan itu berakhir. lumayan. lega juga, serasa
amunisiku diisi ulang penuh-penuh … semangat lagi! bertenaga lagi! siap
untuk menghabiskan seharian sesukaku.

sebelumnya, aku bikin jus tomat dulu. ternyata manjur, memperlancar
pencernaan. kemudian aku ke luar. ya, ke luar! ke dunia luas! sambut
aku, hay matahari! udah lama kita tak berkencan! dulu, aku selalu
menunggumu di tempat jemuran! oh, betapa aku merindukan pemandangan
sensasional cahayamu yang membelah-belah pagi, seperti sungai debu!
betapa aku masih penasaran kenapa seumur-umur belum pernah kulihat
senja berwarna hijau!

aku pun hura-hura sampe malam. mau tau ngapain aja? ada dehhhhhhh …. asik-asik aja. asik banget malah.

what a day ^_^ aku menghadiahkan pada diriku sebuah memori yang indah hari ini. hmmmmm, ayok tidur …

… dan merencanakan bolos berikutnya.

Read and post comments |
Send to a friend

magic seeds (2004)

Hwaaaahh, saya ga tahan lagi.
Sepertinya sekarang saya tahu kenapa Pak Vidiadhar Surajprasad Naipaul diganjar Nobel: yang utama adalah tema yang dia angkat dalam karya2nya. Gaya bertuturnya sih keras banget. Cadas. Hilang sudah gambaran tentang makanan berempah khas India, tari-tarian, dll., yang dimaksud “Magic Seeds” ini ternyata benih-benih revolusi. Kata-kata semacam revolutionary, terjajah, dijajah, penjajah, dsb., bertaburan sepanjang saya membaca novel ini. Untuk membeli rights-nya, hmmm, gimana ya? Saya rasa terlalu beresiko. Novel ini terlalu “mendidik”, kurang “menghibur” (hwahahaha, ho…ho…nada ironi dalam kalimat-kalimat saya….). Kecuali, kalau kita ingin selangkah lebih maju yaitu menginjeksi (pinjam istilahnya Mas Rizal) pembaca dengan karya sastra poskolonial, mungkin dibikin satu imprint tersendiri kayak sastra klasik? (yahhh… walaupun istilah “poskolonial” sendiri masih problematik, sih). Kita butuh lebih banyak sudut pandang seperti ini, daripada … lagi-lagi pohon willow dan poplar, dan ikon2 western melulu.

Gimana ya? Hati saya terbelah saat harus mengambil keputusan tentang novel ini. Pertanyaan mula-mula yang saya pikir akan muncul dari teman-teman adalah, emangnya siapa sih yang benar-benar baca -atau, minimal berminat lah terhadap- novel-novel sejarah perjuangan orang-orang yang terjajah? (Saya tidak memakai istilah bangsa, ya karena itu anakronis lah!). Siapa sih yang tertarik dengan s e j a r a h ?

Mungkin, untuk lebih memperjelas, pertanyaannya seperti ini: Siapa orang-orang yang benar-benar membaca dan menikmati karya-karya Pram? Atau, Burung-Burung Manyar-nya Romo Mangun? Kita bicara karya-karya yang popularitasnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Nah, apa kaitannya dengan novel Pak Naipaul ini?

Sejarah itu sebenarnya menarik. Di satu sisi, saya yakin novel-novel tentang sejarah, tentang penjajahan, tentang perbedaan kelas dalam masyarakat lengkap dengan segenap konsekuensi perilaku dan nilai yang ditimbulkannya, sangat diperlukan oleh kita yang punya sejarah penjajahan itu. Yang lebih mengena adalah bila kisah itu diceritakan dari kacamata orang yang terjajah itu sendiri. Di sini saya memberikan penghargaan tinggi terhadap Pram. Saya jatuh cinta dengan Gadis Pantai, tetapi karya yang bagi saya monumental karena berhasil membuat saya untuk pertama kalinya benar-benar merasa sebagai orang Indonesia adalah tetralogi Pulau Buru. Saya bolak-balik ke kamar mandi saat membacanya, karena tak kuasa menahan air mata yang bercucuran. Walaupun ini tetralogi tentang sejarah, berbasis riset pula, ia juga sangat nendang (baca: berhasil/sukses berat) menggenggam dan mengobrak-abrik jantung saya (sebagai pembaca).

Faktor inilah yang kurang dimiliki oleh novel “Magic Seeds“-nya Naipaul. Pada adegan awal, di Berlin, kita akan dicereweti oleh Sarojini, saudara perempuan Willie-sang tokoh utama. Kata-kata/agitasinya bisa membuat saya ikut “gundah” sebagai bagian dari bangsa yang pernah mengalami penjajahan. Misalnya, pada bagian ini:

All the history you and your people like you know about yourselves comes from a British textbook written by a nineteenth-century English inspector of schools called Roper Lethbridge. Did you know that? [10]

Pada intinya dia bercerita soal bagaimana mekanisme penjajahan bekerja. Tapi, sayang, dari sini saja saya sudah tidak bersimpati, masalahnya, cara Pak Naipaul menyampaikan itu lho, menggurui banget sih, terlalu vulgar untuk sebuah karya sastra. Emangnya ini artikel atau apa sih? Atau malah pamflet?

Willie, sang tokoh utama, digambarkan sangat tragis: seorang inosen yang mencoba melakukan sesuatu yang baik, seseorang yang “belum menemukan apa yang dia cari”, seseorang yang ingin mencapai cita-cita mulia demi dan atas nama orang-orang lain yang dianggap “membutuhkan”, tapi … dia sangat polos dan terlalu manutan. Bagi saya, ini kesan dramatik yang ingin dicapai Naipaul, tapi, sayang … logikanya kok nggak masuk. Dia terlibat dalam gerakan revolusi bawah tanah setelah Sarojini menyindir2nya di Berlin. Padahal, kemudian kita ketahui bahwa sang adik sendiri melunturkan penghargaannya terhadap gerakan tersebut. Hey, sang adik bahkan tidak pernah terlibat! Hanya bertemu pemimpinnya satu kali, lalu menjadi “pengamat” yang hanya tahu dari berita media massa. Pernahkah dia memikirkan dia tu melibatkan kakaknya ke dalam apa? Sementara dia memuja suaminya yang bule sebagai penyelamatnya, orang yang dia perlukan untuk mengajarinya, dan dia memandang rendah pada keluarganya sendiri.  Apakah Pak Naipaul sedang menyindir inferioritas poskolonial itu? Pada akhir cerita, seperti inilah tanggapan Willie,

I have no business to rebuke her, however indirectly, for going off to the guerillas. The decision was mine ….”[270]

Pada akhirnya ayah mereka yang sakit-sakitan meninggal. Sarojini mengelola ashram milik ayahnya-sesuatu yang sebelumnya ia kecam habis-habisan. Klimaks dan pesan novel ini terdapat pada adegan berikut, lagi-lagi dengan nada-nada ketragisan: dari penjara, Willie membalas surat Sarojini,

Dear Sarojini, You run from one extreme to the other. The idea of the ashram is an idea of death in life, and it goes against everything you have believed. What we discussed in Berlin remains true. I am grateful to you for making me face myself and what I come from. I consider that a gift of life. I am surrounded here by a kind of distress I don’t know how to deal with, but the ashram is not the way. Nor was that foolish war which I went fight. That war was not yours or mine and it had nothing to do with the village people we said we were fighting for. We talked about their oppression, but we were exploiting them all the time. Our ideas and words were more important than their lives and their ambition for themselves. That was terrible to me, and it continues even here, where the talkers have favoured treatment and the poor are treated as the poor always are. They are mostly village people and they are undersized and thin. The most important thing about them is their small size. It is hard to associate them with the bigger crimes and the crimes for passion for which some of them are being punished. Abduction, kidnapping. I suppose if you were a villager you would see them as criminal and dangerous, but if you see them from a distance, as I still see them, although I am close to them night and day, you would be moved by the workings of the human soul, so complete within those frail bodies. Those wild and hungry eyes haunt me. They seem to me to carry a distillation of the country’s unhappiness. I don’t think there is any one single simple action which can help. You can’t take a gun and kill that unhappiness. All you can do is to kill people.

Intuisi (alaahhh, bilang aja kecurigaan…) saya mengatakan bahwa Pak Naipaul ini tidak merasakan sendiri penjajahan itu. Ini adalah karya sastra orang sekolahan. Dia ada dalam golongan kelas atas di masyarakatnya. Oleh karena itu dia bisa menganggap bahwa revolusi itu adalah sesuatu yang hanya dibicarakan (dan dibicarakan sebagai omong kosong). Revolusi diterjemahkan secara sempit, revolusi=membunuh, entah membunuh tuan tanah, polisi, atau orang kaya, bahkan membunuh “dua generasi dan menggantikannya dengan generasi penerus yang sudah kita ‘tanami'”. Orang-orang yang terlibat dalam gerakan itu digambarkannya sebagai orang-orang yang gagal dan punya rasa malu terhadap diri sendiri, orang yang sebenarnya berasal dari kelas atas namun tersingkirkan, atau orang yang memanfaatkan kesempatan … bukan orang yang benar-benar “berjuang”, tapi hanya orang-orang yang sudah terlibat terlalu jauh dan tak punya pilihan lain. Sebagian besar adalah orang-orang yang berusaha/berkesempatan untuk mengalami mobilisasi kelas, sebuah peningkatan dalam status (misalnya, anak petani yang kuliah), tapi kemudian tetap saja mereka tak berhasil menjadi bagian dari kelas atas tersebut. Sementara untuk kembali ke tempatnya semula, mereka sudah tidak nyambung. Oleh karena itu, kebencian timbul dan menjadi bahan bakar yang kuat bagi mereka untuk memberantas semua hal yang membuat masyarakat ini terkotak-kotak dalam kelas-kelas.

Yang paling lucu adalah penggambaran bahwa para revolusioner itu tidak pernah mengalami yang namanya “bekerja”. Ketika Willie dan Bhoj Narayan dikirim dalam suatu misi khusus, setelah dua minggu uang bekal habis. Mereka belum menerima kiriman lagi dari unit pusat. Terpaksalah mereka berdua bekerja di pabrik gula, mengangkut ampas-ampas setiap hari dan berjalan kaki berkilo-kilo meter, untuk mendapatkan uang agar bisa makan. Hari-hari terasa membosankan dan kosong dan melelahkan, mereka tak sempat lagi berpikir soal revolusi. Ternyata, bekerja itu jauh lebih buruk, menyebalkan, dan menyiksa daripada bergerilya dari satu hutan ke hutan yang lain untuk mempengaruhi warga. Bahkan, dipenjara ternyata masih lebih nyaman daripada bekerja. Yah, karena paling tidak kehidupan mereka dijamin. Kaum mereka ditempatkan dalam penjara khusus, penjara tempat tahanan-tahanan berpendidikan yang suka menghabiskan waktu dengan mendiskusikan tokoh-tokoh perjuangan, terpisah dari para “kriminal”. Hmmm, bahkan di penjara sekalipun ternyata tingkatan-tingkatan itu tetap eksis.

Oya, satu hal lagi yang ditekankan oleh Pak Naipaul: para revolusioner itu parno dan tidak pernah bercanda. Paling tidak, saya bisa menikmati sambil tersenyum-senyum sendiri saat manusia-manusia revolusioner itu, sambil jalan atau kadang-kadang sambil rapat, curhat panjang lebar soal kisah-kisah pribadi dalam kehidupannya. Omongan mereka tuh panjang-panjaaaang banget. Semakin memperkabur latar belakang mereka, dan ga cocok dengan karakteristik “parno” yang dibangun di awal: bahwa para revolusioner itu, walaupun saling percaya, tetep ga sepercaya itu dengan kameradnya, tetep menjaga diri, karena setiap saat ada yang bisa menjadi pengkhianat dan nyawa mereka terancam.

Satu catatan lagi nih. Solusi-solusi yang ditawarkan gerakan revolusioner itu, seperti redistribusi lahan pertanian, dimentahkan begitu saja oleh Pak Naipaul, karena warga desa mengatakan “itu bukan tanah saya”. Bahkan ada perasaan dalam diri para revolusioner bahwa sebenarnya warga desa hanya memandang mereka sebagai sebuah “lelucon”, orang-orang yang “aneh”. Pak Naipaul ingin berlindung di balik argumen tradisi dan “budaya” yang terasa sangat konservatif, dan sudut pandang seperti ini hanya bisa dimiliki oleh mereka yang ada di luar kaum petani itu. Gampangnya, Pak Naipaul itu bukan petani, tidak pernah merasakan jadi anak petani, ga pernah terlibat dalam penghayatan sebagai keluarga petani. Melalui novel ini dia hendak berkata, “sudahlah, revolusi itu tidak ada artinya.”, tak lebih dari sebuah mockery. Ia mempertegas pesan ini melalui kalimat penutup pada novel ini:

It is wrong to have an ideal view of the world. That’s where the mischief starts. That’s where everything starts unravelling. But I can’t write to Sarojini about that.” [280]

Bagi saya, ini adalah cara kita untuk tetap mempertahankan pikiran kritis, walau sedang ingin mencapai sebuah cita-cita besar sekalipun. Tetap sadar, eling lan waspada. Karena, seperti diceritakan dalam novel ini, pikiran para revolusioner lama-kelamaan “mati”, mereka hanya mengikuti, menirukan dan mengulang-ulang apa kata pemimpinnya. Tidak mau melihat dunia dari sudut pandang lain.

Yah, jadi ya … wajarlah Pak Naipaul dapat nobel. Dia itu masih “aman”.
Dan, wajarlah Pram ga dapat.
Dan, bolehlah Anton Chekov alias Boris Pasternak (Dokter Zhivago-nya di satu sisi juga bisa dibaca sebagai antidote terhadap revolusi proleteriat di Rusia) menolak Nobel yang dianugerahkan padanya.

Nobel itu kan pengennya ‘perdamaian‘ ;-),” kata nadya.

Perdamaian-nya siapa dulu ;-)” kata nadya lagi

Mudah-mudahan saya tidak sedang ber-romantik ria, meromantisir revolusi, perjuangan, penjajahan dan sebagainya. Tapi, saya ingin mencatat pasase berikut, para revolusioner sedang rapat sembunyi-sembunyi dan salah satunya bicara begini:

I never hide where I come from. There is no beauty in peasant …. this movement is not a movement of love. No revolution can be a movement of love ….” [103-104]

Lha, kalo bagi saya sih jelas: kekuatan paling revolusioner adalah cinta. hehehehehhehehe ….


Jadi … novel ini emang menarik, seru kok ngegambarin perjuangan gerakan bawah tanah dan interaksinya dengan masyarakat, tapi … belum semenarik itu. Bisa dipertimbangkan kalo kita mau nerbitin semua novelnya Pak Naipaul sekalian, biar jadi buku-buku koleksi. Tapi, kalo cuma satu, mending bukan yang “Magic Seeds” ini. Lewat aja deh. Peace …!

Read and post comments |
Send to a friend

tahun baru! ( ´ ▽ ` )ノ

hari yang menyenangkan. di rumah, ibuku sedang masak nasi briyani. aneh ya? imlek kok makanannya india ^^; yah, soalnya aku pengen makan itu dan belum kesampaian. padahal pengen banget lho gara2 nonton acara di tv … (hehehehehe payah!).

baru beberapa hari yang lalu aku bilang ibuku soal nasi briyani ini. cuma satu kalimat singkat kok, yang kuucapkan sambil lalu, “pengen makan nasi briyani tapi ga kesampean.” gitu doank. eh ternyata, ibuku nanggapi serius.

lho? kamu suka nasi briyani to?” tanya ibuku (biasa kupanggil Mambo).

pengen nyoba … gara2 liat di tv. tapi, katanya cuma ada di malaysia? pas aku ma izzah makan di rumah makan asia, ada menu itu, tapi haaaabis,” aku jadi curhat colongan gitu.

walahhh, kalo cuma nasi briyani sih aku bisa,” Mambo bilang begitu seperti peri gigi yang datang dengan tongkat ajaibnya untuk mengabulkan permintaan cinderella yang telanjur pupus harapan.

aku masih melongo liat ibuku yang sedang tersenyum-senyum simpul. sepertinya ada rahasia yang belum kutahu *curiga mode: on.*

kamu tu belum tahu to kalo aku ini keturunan india?”, tanya ibuku.

haah! yang bener? bukannya selama ini tu itu cuma ejek2an buat Mambo? emangnya beneran????”

emang sih, keluargaku suka bilang ma ibuku “india, india” tapi kukira itu cuma karena hidungnya yang seperti hidung orang india. kukira mereka semua tu cuma ngejek bentuk hidung itu aja. tapi, betapa keterlaluannya aku, asal-usul ibuku aja ga tahu! sok modern n kosmopolit banget seeeh!!! (emang kosmopolit tu artinya apa ya? ga ngerti nih, ^^;).

nenek buyutku tu pedagang india. dulu di bojonegoro,” ibuku santai memberikan penjelasan.

aku jadi ingat kejadian waktu main ke rumah izzah di ngawi. waktu ngobrol ma ortunya, kubilang ibuku juga dari jawa timur, walau lahir di magelang dan besar di yogya. mereka nanya, jawa timurnya mana? dan aku cuma memutar-mutar bola mataku dengan pasrah sambil sedikit menggumam, “… mana ya?” ouuuccchhh! malu…

masaaak sih? jadi ….?!”

lho, kamu ga liat po mukaku? wis cetho iki irung india. yo wis, suk takmasake nek kowe gelem mangan.” (terjemah: jelas-jelas ini hidung india. ya udah, besok kubikinin asal kamu mau makan.)

sedikit pertanyaan masih melayang2 di benakku. benarkah … atau ibuku cuma bercanda? rasanya aku melanglang ke india. yang kubayangin cuma indah2nya doank sih, misalnya aroma rempah2, teh susu, muka orang2nya, cewek2 dan pakaian sari yang berwarna-warni (ngejreng!), tari2an diiringi suara gemerincing gelang, tabla, sitar … eh, mak plop tahu2 bayanganku sampe ke ular kobra lengkap dengan pawangnya, juga mbah2 kerempeng di atas kasur paku. aku bertanya-tanya, leluhur ibuku tu kayak apa?

tidak banyak yang aku tahu tentang india. dan, sepertinya, semua yang kubayangkan cuma stereotip2 dangkal. duluuu banget, pas masih kecil, kukira india tu tempat tinggalnya wayang. kukira tokoh2 wayang tu ada n bener2 masih hidup. kalo denger india sepertinya kuidentikkan dengan hindu. kukira smua orang india tu harus hindu, dengan segala pernak-perniknya, ritual peribadatan dan spiritnya. juga, lengkap dengan kasta2 dan reinkarnasi. ternyata, enggak gitu ya. bahkan hindu di india dengan hindu di bali, atau hindu kaharingan di kalimantan, beda2 semua. tapi yang aku tahu, orang bisa jadi hindu tu hanya lewat keturunan. jadi, kamu terlahir hindu atau tidak (lengkap dengan hindu kasta apa). cuma itu.
kalo info ini salah, tolong benerin ya? siapa tauuu kan?

tapi … bener ga sih … nenek buyut itu …?

hm, keraguan persis semacam ini pernah kualami. kenanganku kembali pada masa2 aku mulai ga percaya bapakku cina. ga ada orang yang percaya aku cina, karena mataku ga bisa dibilang sipit. walau, ga bisa dibilang ga sipit juga sih. bingung ga? dari dulu aku selalu bertanya2 soal “identitas”-ku ini. bener ga sih? kalo bapakku yang ngomong, aku percaya. karena, dia tu kalo ngomong serius, ga bercanda. dan, aku liat kakek buyutku (kakeknya bapakku) emang fisiknya mencerminkan ciri-ciri orang cina gitu deh. kecil, putih banget, sipit, rambut lurus. tapi, apakah dengan begitu aku juga bisa dibilang cina? paling yang nurun ke aku cuma rambul lurusnya thok. hmmm, ga cuma lurus, tapi lurus dan tipis. tipis dan halus, hehehehehehhehehe.

oh ya, satu lagi: nama, yang kalo diterjemahin artinya “damai di pagi hari”, (dengan nama keluarga yang dirahasiakan). yah, cuma itu.

ga taulah, aku sering sedih kalo inget bahwa nasib seseorang, yang dibawa sejak lahir … dan … ga bisa diubah (cmiimw), bisa menjadi alasan bagi orang2 lain untuk memperlakukannya secara berbeda. diskriminasi, istilah kerennya. apalagi, orang “cina” di indonesia, wah, panjang deh ceritanya. banyak banget faktor2 yang bikin ribet. serba ga jelas. beberapa tahun belakangan aku bisa mulai curhat2 ga penting, hal2 yang selama ini aku cuekin aja sampe bikin diriku mati rasa, misalnya soal ini. maksudku bukan cuma ngebelain kaum tertentu, tapi ngingetin ke diriku sendiri  maupun orang lain bahwa dari prasangka2 (bahkan untuk soal2 remeh), bisa timbul tindakan-tindakan yang “nggak banget”. tau kan maksudku? kuharap aku ga perlu menuliskan semua yang pernah terjadi di sini. ada yang bilang bahwa “peristiwa2 nggak banget” semacam itu wajar, di seluruh dunia juga terjadi. so, biasa ajalah, ga usah dibesar2kan. menurutku, tetep aja, nggak banget. enak banget ya dia bilang “wajar”, “biasa aja”. mau terjadi di seluruh jagat raya kek, tetep aja, peristiwa2 itu ga perlu terjadi dan ga seharusnya terjadi. kalo bisa  ga terjadi, lalu kenapa harus terjadi? kalo udah bicara nyawa, harta segunung pun ga ada artinya.

sebenarnya muara dari semua ini adalah pertanyaanku yang masih tersimpan: siapa aku ini? akar muakar dan asal muasal? apa leluhur itu? apa kampung halaman itu?

...

ada sebuah kerinduan, karena aku ga mengalami hal2 itu secara gamblang. beruntung sekali lho orang yang tahu secara pasti, jelas, tentang leluhur dan kampung halaman mereka. tentang asal. kalian boleh bilang bahwa di titik ini aku sangat konservatif. udah jaman serba “glombal” kok masih memikirkan asal dll. akulturasi donk. berpikiran terbuka donk. yah, tapi itu tadi. ada sebuah kerinduan, dan pertanyaan. bagi orang yang tidak jelas “darah dan tanah” -nya seperti aku, mengetahui itu semua adalah sebuah kemewahan. memang kita semua makhluk sang pencipta. darinya kita berasal dan berpulang. kalo begitu, kita semua hanya sama2 manusia. tidak perlu ada “darah dan tanah” yang membeda2kan. tapi, yang aku bicarakan adalah hal-hal yang membentuk ikatan2 kolektif di antara manusia (pergaulan, kesamaan budaya, dll), yang, mau kita hindari kayak apapun, hal itu tetap jadi faktor yang menentukan, terutama di negara kayak indonesia ini.

yah, tapi sembari menyimpan kerinduanku dalam hati, aku akan menikmati cerita2, kisah2 yang menyapaku seperti semburat matahari pagi. kebetulan, kemarin aku membawa pulang buku magic seeds-nya v.s. naipaul untuk dievaluasi. hmmm, sepertinya, nanti, saat aku membacanya, rasa nasi briyani masih melekat di lidah, dengan berbagai sentimentalitas yang baru kudapat, sehingga cerita berbau india tersebut bakal terasa lezaaaatttt banget. dan, kesimpulan akhirnya: terima! beli rights-nya n terbitin! semoga deh.

sepertinya pembicaraan kali ini udah terlalu “tua” banget. zaman sekarang, lebih enak mengidentifikasi diri dengan asrama2 di hogwarts, kayak “aku ravenclaw lho” atau “aku slytherin” … sepertinya lebih enak didenger deh. atau, lebih baik kita terbang2 aja, jadi anaknya langit dan bumi.

ya udah ya, mo pulang nih. ada jeruk, banyak rejeki… hehehe.
akhir kata, met tahun baru! 2559! smoga kejayaan dan kemakmuran slalu melimpah, di tahun ini dan seterusnya!

Read and post comments |
Send to a friend

hidup rasa karamel

memang
lebih menyenangkan hidup seperti ini. dalam keramaian karnaval, aroma panekuk
hangat dan kue wafel (dengan taburan gula halus) menguar di udara. sementara
itu, kertas hias kelap-kelip beterbangan dari trompet, jatuh di jalan raya, di
rambut, di sungai. aku melompat-lompat dengan sepatu kets pemberian sahabatku,
ingin menghirup momen ini sebanyak-banyaknya, merekamnya menjadi
kenangan klasik untuk selamanya.

hmmmm,
nikmat!

begitu
nikmatnya hingga terasa menyakitkan, karena tak ingin semua ini berakhir sampai
kapanpun.

Read and post comments |
Send to a friend

25 November 2007: Gramedia Matraman

hari yang ditunggu-tunggu datang juga. semalam aku mengepak barang2 dalam ransel volunteer-ku dan melangkahkan kaki menuju stasiun. tiket kereta api kuselipkan di buku kitchen-nya banana yoshimoto. selain itu, pedagang buku dari kabul-nya asne seierstad dan chocolat-nya joanne harris tak lupa kubawa serta, walau kutahu kemungkinan besar takkan ada waktu untuk membaca habis semuanya. kereta masih begitu2 saja. di luar gelap, tak terlihat apa2. membaca sebentar dan kepalaku terasa goyang. baiklah, sepertinya aku memang harus tidur. mataku terpejam, walau sekali-kali masih lirik2 mencuri2 lihat keadaan sekitar.

pagi-pagi, sesampai di jakarta, kami langsung ke gramedia matraman. gramedia terbesar di jakarta itu belum buka, tapi di dalam para pegawainya sudah datang dan bersiap2 membuka toko. jendela2 dibersihkan, lantai dipel, pegawai berderet di depan pintu masuk dengan posisi ngapurancang, dan … begitu pintu dibuka, pengunjung disambut dengan jingle "gra meeee dya gra meeee dya", dst, serta senyum ramah dan sapaan selamat datang dari pegawai toko dalam barisan. segera kutitipkan ransel dan kresek putih berisi kotak paket di tempat penitipan tas. kukeluarkan peralatan mandiku, lalu naik ke lantai 2. aku memonopoli toilet, mandi (dengan air yang sangat terbatas), ganti baju sambil bersenandung. keluar dari kamar mandi rasanya segar. sisa2 nuansa kereta api sudah hilang tak berbekas.

singkat cerita, acara berjalan tak terlalu lancar menurutku, karena pengunjung membludak. dan, entah dari arah mana saja ada yang terkadang berteriak2. mana siang2 lagi, ruangan yang sesak oleh pengunjung membuat pendingin ruangan tak terasa sama sekali. tapi biarlah, mereka semua ingin bertemu dengan penulis pujaannya. rombongan berkaos laskar pelangi terlihat beberapa, untuk menyemarakkan suasana. bahkan ada maskot, semacam yang ada di acara kick andy (krebo, tubuh dan wajah dicat merah putih), tubuhnya digantungi papan bertuliskan laskar pelangi. bagaimana rasanya menjadi orang itu ya?

ternyata yang paling menyenangkan justru bertemu sahabat, makan donat dan minum green tea (thanks Bonita! juga Dyra, Dian Bebek via telepon), sambil ngobrol2 tentang apa saja. waduh, senengnyaaaaa melihat kalian semua senang…. habis tu maen ke tempat temen yang sudah punya 2 anak. (halo ariq n kansa! bundanya galak ya? hehehehehe, peace yuni! ^_^). seru, main2 sama anak2 kecil sampe gak terasa sudah waktunya kembali ke stasiun, kembali ke jogja. gak sempet mandi sore, tapi lumayanlah perut kenyang abis makan sate bikinan temenku itu…

dear friends, thanks for all the love you bring!

p.s.: kapan ketemuan lagi?

Read and post comments |
Send to a friend

Puasa Sehari Penuh

Ramadhan #2 (+kemarinnya ^^;)

Ayat of the Day

Sungguh, mereka yang beriman
Dan mereka penganut agama Yahudi,
Orang Nasrani dan orang Shabiin,
Siapa saja yang beriman kepada
Allah dan hari kemudian,
Serta melakukan kebaikan,
Bagi mereka ada pahala pada
Tuhannya
Tiada mereka perlu dikuatirkan
dan tiada mereka berdukacita
(Al Baqarah [2]: 62)

~~~

Pertama-tama, selamat ‘tuk adik bungsuku, Fadel, yang berhasil berpuasa sehari penuh kemarin. Siiiipp! Kata dia, “Ini pertama kali lho aku puasa sampe maghrib…” Iya, tahun lalu memang dia baru sanggup puasa setengah hari. Eit, tapi di balik rasa senangnya, dia juga bilang, “Wah sebulan ntar aku tinggal tulang thok.” hehehehehe

Selain itu, kemarin Izzah main ke rumah. Kami ngobrol-ngobrol seperti biasa, diawali dengan perdebatan sengit yang tak bisa didamaikan tentang kepercayaan terhadap kalimat “Genius is 1% inspiration and 99% perspiration” (Thomas Alfa Edison). Aku sih percaya dengan kalimat itu, Izzah tidak percaya. Ia bilang, “Aku gak percaya kalo persentasenya segitu. Bakat itu juga perlu. Mosok bakat cuma satu persen. dst.” Jadi yang dipermasalahkan adalah persentasenya.

Ternyata, kalo aku pikir-pikir sekarang, tanggapanku kemarin tu nggak pas. Aku menanggapi hal yang tidak pas. (mungkin karena kemarin tu aku sambil ngetik kali ya? ga konsen ^^;). Baru sekarang aku nyadar bahwa, dalam kalimat itu, yang 1% bukan  ‘bakat’. Jadi, bukan tentang bakat 1% dan kerja keras 99%, tapi INSPIRASI 1%, kerja keras 99% (perspiration: keringat). Kesalahanku adalah terlalu terpaku/tergiring pada perdebatan tentang persen-persenan, tentang “1%” bakat (yang, tentu saja, itu kan abstrak, ga bisa dihitung beneran!), padahal (hoi!) dalam kalimat tersebut yang 1% itu bukan bakat! Pemahaman dasarnya aja udah salah. Wah, fatal ^^;> Konseptualisasi/definisi operasional aja ga beres, kok udah bertengkar soal penghitungan. Apa yang diukur aja salah, kok ribut soal angka/hasilnya. Haaah……

Menurutku sih, kita dapat inspirasi, ilham, ide, kalo ga kita proses dengan mengeringatkan diri, (maksudnya ngupaya, gak harus mengeluarkan cairan keringat dalam arti sebenarnya kan? ntar yang di negeri bersalju protes lagih, hmmm) ya silakan ngalamun saja. Mau? Nah, walaupun inspirasi itu dianggap sedahsyat apapun (besar), tapi kerja kerasnya tetap jauh lebih besar lagi dan sangat ngoyo (berat). Oleh karena itu, kuanggap tetap aja dalam komposisinya jauh lebih besar kerja kerasnya. 99% bolehlah. Lagian, namanya juga kalimat penyemangat (-_-)zz… e?

Walau bagaimanapun, soal kepercayaan itu ga bisa dipaksakan, dan ga bisa diganggu gugat. Makanya, Izzah ga percaya ya silakan saja. Namanya juga kepercayaan dia. Tapi, kalo ada yang percaya trus dipermasalahkan, hmmm, menurutku itu ga tepat deh. Kepercayaan kan boleh berbeda. Ini yang bikin aku menanggapi. Harapannya sih saling menghargai. Ketika pembahasan melulu mengerucut pada persentase (menurutku hal ini semakin melenceng dari harapanku berdialog itu), aku bermaksud menyudahi. “Makanya, namanya kepercayaan. Kalo udah soal kepercayaan ga bisa diganggu gugat,” ujarku. Eh, malah dipermasalahkan lagi. Kali ini soal kata yang aku pakai. “Bisa,” kata Izzah, “kalo kepercayaan itu masih bisa diganggu gugat. Kalo keyakinan, nah itu baru nggak bisa diganggu gugat.” Hoaahhhh, Cape deeeehhh (itu kataku dalam hati). Tentu saja aku tidak setuju, tapi masak harus menanggapi lagi? Kapan selesainya? (*´ο`*)=3 (“sigh”). Biar kusimpan saja sendiri… Santai \(^∀^)メ(^∀^)ノ (companies/mates/friends-nakama).

Setelah itu, kami banyak bicara hal lain kok. Seru-seru juga. Izzah sudah mencanangkan musuh baru, dll. Soal ini, tanyakan sendiri ke dia ya? Perjalanan hidup kami belum berakhir…. p(^^)q Oya, Izzah juga bawa oleh-oleh lampu meja dari kerang yang baguuuuuuusssssssssss banget. Makasih ya!
m(._.)m Thanks!

Saat ini, aku menunggu cerita Hano tentang pendadaran ( ^ _ ^)∠☆. Gimana ya rasanya? Penasaran.

Selain itu, ingin rasanya berbagi di sini sekeping bacaan. Maklum, lagi ga menyempatkan diri untuk menulis sendiri tentang ini nih (sebetulnya kan kita kembangin gitu lho, bukannya dicatat ulang di sini) biarin deh. Berbagi, berbagi.

[dari buku “Dalam Cahaya Al-Qur’an Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik”, Syu’bah Asa, Gramedia 2000]
Pengantar, oleh Kuntowijoyo:

“…Dakwah Islam amat marak di era Orde Baru. Di sekolah, di kantor, di pasar, dan di hotel shalat dan pengajian diselenggarakan. Pengajian juga populer di kalangan artis, pengusaha, intelektual, dan para pejabat. Tentu saja itu patut disyukuri. Tetapi, dalam “Islam yang Total” tafsir ini mengatakan bahwa di kalangan “atas” itu pengajian yang populer ialah yang bertopik pribadi, bukan yang disertai tinjauan sosial atau kritik sosial. Di sini agama menjadi semacam psychotherapy saja, jauh dari esensi agama.
…bahwa gaya keagamaan bangsa Indonesia itu serba simbolik, dan bukan substantif. Itu reduksi fungsi agama. Mungkin gaya beragama semacam itu bisa dibenarkan dalam suasana masyarakat yang serba ada, serba melimpah-ruah.
Akan tetapi, untuk Indonesia masa kini -juga sebelum dan sesudah krisis nanti- gaya beragama secara pribadi (yang disebut sebagai privatisasi agama dalam kepustakaan antropologi) sungguh keluar dari konteks. Konteks kita masa kini adalah kesenjangan, ketidakadilan, KKN, dan penyakit-penyakit sosial lainnya. Kita memerlukan agama yang menjangkau masalah-masalah publik; karenanya agama simbolis semacam itu tidak memadai. Umat Islam harus pandai menggabungkan yang pribadi dan yang publik, yang simbolis dan yang substantif.

Hari ini, sekian dulu ya. Selamat berpuasa! Sampai jumpa di kesempatan lain (^
_ ^)/~~ bye!

Read and post comments

|

Send to a friend

Sekelumit tentang Ayat of the Day

Question of the Day kan udah ada tuh. Nah, seru juga kali ya kalo diadain Ayat of the Day? Ngomong-ngomong bahasa Inggrisnya ayat apa sih hehehe?

~~~

Ramadhan hari #1
Pagi ini seusai sahur, kami menonton acara televisi. Entah apa judulnya, entah apa pula stasiunnya. Yang jelas ini acara lomba bercerita anak-anak. Kami hanya menonton satu peserta, namanya Ilham. Sebagai pencerita cilik, ia benar-benar memukau. Aku akui itu. Kedua juri pun terkesima menyaksikan penampilannya. Selesai ia menutup cerita, pembawa acara bertanya bagaimana perasaannya saat itu. Dengan singkat ia menjawab, “Alhamdulillaah, bisa bercerita dengan lancar dan lantang.”

Sebenarnya kisah yang ia bawakan tak bisa dibilang baru. Mungkin kita yang sudah tua ini kerap mendengarnya, yakni tentang burung dan cacing.

Ibu burung hidup bersama anaknya. Setiap hari ia terbang mencari makanan. Kadang-kadang berkelimpahan, kenyang perutnya dan ananda mungil pun mendapat bagian. Kadang-kadang tidak ada sama sekali, penat tubuhnya namun tak sekali pun melupa: sabar dan syukur jadi bingkisan tanda mata. Pada sang anak ia bertutur, “Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu.” Syahdan, burung-burung pun tegar. Tak pernah ada cerita kaum burung hendak bunuh diri, dengan cara sengaja membentur-benturkan kepalanya ke tembok, misalnya. Sungguh, kita yang dinamakan manusia ini perlu belajar dari mereka.

Tentang cacing pun tak jauh berbeda. Dalam segala keterbatasan tubuhnya, cacing tak pernah berputus asa. Hmmm….

Sebagai mantan pencerita cilik (selain itu terkadang juga diutus untuk pidato atau “da’i cilik” huahhahaha! asal jangan deklamasi aja. halah halah, nad…nad… masa lalu… masa lalu… wakakakkak O(≧∇≦)O), bolehlah kubilang bahwa penilaianku tidak mengada-ada. Bahkan, kesan yang tertancap sehabis mendengarkannya sama seperti yang kurasakan setelah pertama kali aku mendengarkan pidato Bung Karno dalam hidupku, tentang Negeri Utara Kuru.
Alhamdulillaah.

Setiap kali berkesempatan menyaksikan “tunas-tunas muda” nan bermekaran, sungguh bahagia, sungguh mengharukan. *^^* Konsisten ya Ilham! d(-_^)good!!

Sekadar saran nih, coba ciptakan cerita sendiri yuk! Sedikit ‘original’ mau kan? Lagian ga ada salahnya juga. Mungkin awalnya terkesan sulit, kurang kerjaan, dll. Tapi, kalau ditekuni, ternyata rasanya mengasyikkan juga lho. Dan, hasil jangka panjangnya: kita belajar jadi anak yang kreatif! Pendengar pun jadi tidak cepat bosan karena ‘stok’ cerita tidak itu-itu saja. Ada kejutan yang tak bisa diduga-duga. Semangat ya!
p(^^)q !!!

~~~

Oke, sekarang Ayat of the Day. Selain Al Qur’an (terjemahan HB Jassin. oohhh, lama sekali aku tak membacanya! wahhhh piye ^_^;> hiks), hari ini aku juga memulai baca “30 Sajian Ruhani” karya Nurcholish Madjid, terbitan Mizan 1998. Iseng aja ngambil buku ini. Kan formatnya renungan harian. Jadi, salah satu ayat (yang paling random) diambil dari buku ini.

Oke, tanpa terlalu banyak cingcong lagi, ini dia Ayat of the Day

Orang-orang Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah Islam.’ Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun amalmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

(Al Hujuraat [49]: 14)

Bagaimana kamu mengingkari Allah,
Sedangkan kamu (tadinya) mati,
Lalu Ia hidupkan,
Kemudian Ia matikan,
Kemudian Ia hidupkan (kembali),
Kemudian kepada-Nya kamu
dikembalikan?
(Al Baqarah [2]: 28)

Read and post comments

|

Send to a friend

jj slauerhoff

untuk sementara
berbagi saja, kusimpan saja
satu nukilan dari pengantar buku kumpulan puisi "Kubur Terhormat bagi Pelaut" (Pustaka Jaya, 1977) halaman 9-10.
Pengantar oleh Hartojo Andangdjaja, puisi oleh JJ Slauerhoff.

"
…Lebih menarik lagi, masih sehubungan dengan tema sosial ini, ialah sajaknya yang berjudul "Para pekerja paksa" ("De Dwangarbeiders"), termuat dalam bagian VII dari "Al Dwalend", V.G.II. Dalam sajak itu, kita diperkenalkan dengan kuli-kuli yang bekerja berat di pelabuhan, mengangkut barang-barang dari kapal ke darat. Di saat yang sama, tak jauh dari tempat itu, agak ke atas, terlihat para penyair yang sedang duduk dengan enaknya di sebuah rumah minum yang sejuk. Kita akan menduga, bahwa Slauerhoff dengan ini hendak mempertentangkan dua lingkungan kehidupan, yang seolah kaum marxis dikenal dengan istilah kelas pekerja bagi kuli-kuli itu – dan kelas borjuis bagi para penyair. Tetapi tidak. Dugaan kita dibikin kecelik oleh bait-bait selanjutnya, di mana dikatakan, bahwa baik kuli-kuli yang bekerja berat itu, maupun para penyair,  yang duduk-duduk dengan enaknya, adalah sama: keduanya pekerja paksa. Yang satu mengangkut beban dari kapal ke darat, yang lain mengangkut puisi dari sunyi ke bahasa. Demikianlah kita baca dalam bait ke IV:

Dan dilihat benar, dari jauh, dari semesta jagat,
Keduanya melakukan kerja yang sama:
Kuli-kuli menyeret beban dari kapal ke darat
Para penyair menyeret beban dari sunyi ke bunyi bahasa.

Bahwa kerja penyair malahan lebih berat lagi daripada kuli itu, dapat kita baca dalam bait-bait terakhir:

Dalam irama mereka berusaha meringankan
Beban yang begitu berat, tak tergerakkan:
Akan jatuh kuli, yang diam menyambut beban,
Akan gila penyair, yang diam memendam perkataan.

Kuli-kuli membanting dan melempar,
Diam dan makan terbebas sebentar:
Siksa penyair tak pernah berhenti
Dan tanpa istirah disandangnya kutukan ini.

Dari saat terkutuk yang menimpanya,
Ia pun kena rasuk, lupa segala,
Sunyi melingkung dirinya, kata demi kata terjaga,
Minta irama, dan terus ia bawa, ia bawa, hingga matinya

"

Read and post comments

|

Send to a friend

kaum kucing

aku mo cerita soal kucing aja…

jadi gini, kucing pertama kami namanya rebo. buyutku yang ngasih nama itu, ga tau kenapa. biru muda warna  bola matanya. putih polos bulu yang menyelimuti tubuhnya, cuma mukanya (melingkari mata n mulutnya) warnanya item. begitu juga kuping, ujung ekor ujung kakinya. dia jadi seperti pake sepatu.

waktu pindah ke jalan damai ini, dia diajak. tapi, tau2 dia pulang sendiri ke rumah kami yang dulu (di km 13,8). sekarang kami ga tau nasibnya gimana. mungkin dia punya pacar di sana.

trus kucing kedua diambil dari magelang, tempatnya tanteku yang ngajar di smu taruna nusantara. waktu itu dia masih kecil n bandel. warna bulunya putih belang2 jingga. dia jadi besar trus dihamili ma kucing tetangga.

setelah melahirkan terus selama beberapa ronde, sekarang dia udah jadi nenek. trus dibuang soalnya lama2 nyebelin. nyebelinnya gara2 dia punya kebiasaan baru, suka buang air sembarangan.

waktu dia melahirkan pertama kali, ada 4 anak. dua dibuang, dua lagi dipelihara. yang dipelihara itu satu cowok satu cewek.

kalo ga salah adik bungsuku manggil si kucing magelang itu 'bambang irawan', nama tokoh wayang. tapi tentu aja nama itu ga pas karena ternyata dia hamil –> berarti dia cewek donk hehehehe. ketika dia melahirkan kedua kali, anaknya 3. 2 dibuang lagi, trus satu dipelihara, cewek. kucing yang terakhir ini dihamili sama kakaknya sendiri (yang cowok tadi itu lho). tapi anaknya mati semua. mungkin karena waktu hamil n melahirkan itu dia n suaminya masih terlalu muda.

trus kucing cowok satu2nya tadi jadi ayah lagi. setelah menghamili adiknya dia menghamili saudara kembarnya. yang ini, anak2nya selamat sampai sekarang. ada 2 kucing kecil, jadi total kucing si rumah ada 5: si kembar, adiknya, n 2 anak si kembar.

anehnya setelah punya anak, si kucing cowok tadi jarang pulang ke rumah. seharian keluyuran ga tau ke mana. dini hari baru dia manjat rumah dari belakang, trus mengeong-ngeong minta dibukain pintu depan. habis dibukain pintu, dia pergi lagi. jadi, dia mampir rumah tu cuma sekedar lewat aja. ga sampe 5 menit tiap harinya.

si adik yang anaknya mati, yang berbulu abu2 belang2 kehitaman, sepertinya rindu ma anak2nya (ga tau dink, alam kejiwaan kucing kok aku sok tau). habisnya dia selalu minta main ma kucing2 kecil. sayangnya ga diijinin ma
induk kucing2 kecil itu. mereka sering berantem. mungkin si induk pingin ngelindungin anak2nya. sesekali doang dia ngasih kesempatan sama si adik (ngga setiap saat ngajak berantem). kesepakatannya, si adik cuma boleh ngeliatin dari kejauhan. walau begitu, si adik masih sering curi2 kesempatan juga sih buat main2 ma kucing2 kecil itu. tapi kelihatannya si induk ga rela dan mengawasi secara ketat. kalo terlalu dekat, dia bakal ngajak berantem.

ya gitu deh tentang kucing2 di rumah. seandainya kami punya kamera mungkin bisa kutunjukkan gambar mereka di sini…
bagi2 cerita kalian juga ya….

Read and post comments |
Send to a friend

i wish i could go back to those simple days

semakin rumit isu2 yang orang2 bicarakan padaku, bikin aku semakin pusing, ga spesifik, dan sebagainya.
pertanyaan pusingku adalah, apakah aku dituntut untuk mengerti? memang aku tertarik untuk mengerti, tapi tolong pelan-pelan dulu…

betapa bahagianya masa-masa ketika aku lebih senang dengan studi kasus per kasus. entahlah. sekarang, saking umum dan banyaknya hal yang harus digugat, rasanya jadi serba salah. tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa melangkah ke mana-mana. serba salah.

dan aku pun semakin sulit untuk menuliskan segala sesuatu karena harus berpikir seribu kali, mempertimbangkan seribu perspektif yang bertaburan dari orang2 (baca: teman2 mahasiswa). yah, mau ga mau info yang masuk memang jadi bahan pertimbangan juga kan?

mungkin memang mahasiswa itu harus kuat berargumen: rajin terhadap segala ‘fakta’ juga paham terhadap aliran2 dan corak pikir ‘abstrak’-nya. jadi motivasi nih buatku juga.

hhhhh….nemu coretan zaman dulu. betapa simpelnya, tapi udah bisa menyampaikan sesuatu. betapa kangennya aku dengan yang beginian. tapi kalo mau ga “grambyang”, ya harus riset dulu. nah, pasti di situ malesnyah. yok pada rajin riset donk temen2 mahasiswa (termasuk aku juga hehehe….). pasti ada bedanya deh, men-temen. percaya ma aku.

Racun Timbal Mengancam PKL
Balkon 29 Oktober 2003

Hitam, pekat, dan menyesakkan. Tanpa ampun, asap berhamburan dari kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan raya. Seketika itu pula, Pedagang Kaki Lima (PKL) mengusap peluh seraya terbatuk-batuk. Udara macam apa yang mereka hirup?

Kualitas udara di lingkungan perkotaan menurun akibat bahan pencemar udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Gas buang kendaraan bermotor merupakan sumber senyawa timbal yang berbahaya bagi kesehatan. Timbal di udara bermula dari pembakaran bensin. Timbal ditambahkan pada bahan bakar bensin sebagai anti letup (anti knock agents) untuk meningkatkan angka oktan sehingga penggunaan bahan bakar menjadi lebih efisien. Senyawa ini bersifat racun dan menetap. Ia menghambat produksi enzim untuk hemoglobin sehingga darah hanya membawa sedikit oksigen. Lama-kelamaan, sel dan organ tubuh rusak, terutama ginjal, sistem saraf, dan otak.

Lalu, bagaimana nasib PKL yang setiap hari terkepung udara yang mengandung racun? Apa saja faktor yang mempengaruhi kandungan timbal di udara? Wiwik Widiati, mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan Hidup Jurusan Antarbidang, mengadakan penelitian mengenai hal ini. Tesis untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat S2 tersebut berjudul “Pengaruh Gas Buang Kendaraan Bermotor terhadap Kadar Timbal Darah PKL (Kasus di Kotamadya Yogyakarta)”.

Penelitian dilakukan di tiga ruas jalan di Kota Yogyakarta, yaitu Jl. Suroto, Jl. Panembahan Senopati, dan Jl. Cornelis Simandjuntak, untuk mengukur tiga variabel. Pertama, kualitas udara diukur dari dua parameter, yaitu parameter fisik dan parameter kimia. Parameter fisik antara lain suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin. Parameter kimia, seperti kadar debu dan timbal udara. Kedua, jumlah kendaraan bermotor diukur pada pukul 07.00-08.00, 12.00-13.00, dan 18.00-19.00 untuk mengetahui kepadatan lalu lintas saat jam-jam sibuk. Ketiga, kadar timbal darah PKL yang berjualan di wilayah itu minimal dua tahun.

Hasil penelitian menunjukkan kadar timbal darah PKL sudah melebihi ambang normal, yaitu di atas 10-20 mikrogram
permilimeter. Ada pula kejutan dalam penelitian ini. Hipotesis yang menyatakan bahwa jumlah kendaraan bermotor yang besar meningkatkan parameter kimia udara, ternyata tak sepenuhnya benar. Jumlah kendaraan di Jl. Cornelis Simandjuntak tak sebanyak jumlah kendaraan di kedua jalan lainnya, namun kandungan timbalnya lebih besar. Hal ini disebabkan tingginya tingkat kemacetan akibat lebar jalan yang tak seimbang dengan kendaraan yang melaluinya. Kemacetan menyebabkan tak efisiennya pemakaian bahan bakar, sehingga gas buang meningkat. Selain itu, kondisi jalan yang dikelilingi bangunan fisik yang rapat dan rendah menyebabkan terhambatnya pertukaran udara tercemar dengan udara yang lebih bersih di atasnya.

Faktor-faktor tak terduga yang mempengaruhi hasil penelitian ini mengilhami peneliti memberi saran agar diadakan penelitian lanjutan. Penelitian-penelitian lanjutan itu antara lain mengenai pengaruh kemacetan, kondisi fisik bangunan sekeliling, dan kerindangan pepohonan terhadap kandungan timbal di udara. Ia juga mengharap diadakannya penelitian yang sama untuk melengkapi analisis statistik.

Penelitian ini tak luput dari kendala. Kesulitan yang dihadapinya adalah pengambilan sampel darah PKL. Sebagian besar PKL takut menghadapi jarum suntik. Hal ini dapat diatasi dengan cara memberikan pengertian kepada PKL, menjelaskan tujuan penelitian, dan memberikan imbalan atas kesediaan PKL.

Sebagai penutup, peneliti memberi saran agar diselenggarakan pemantauan lalu-lintas secara rutin, pengaturan arus lalu lintas, dan juga penambahan jaringan jalan untuk menghindari kemacetan. Selain itu, disarankan ada penghijauan guna mengurangi pengaruh buruk kadar timbal di udara bagi kesehatan.

Read and post comments

|

Send to a friend

sociology, the science of future

Since the first time I learned sociology, I've been in love with it. It is a study about society and I found it very interesting, because I could learn new things with wider perspective from daily life. I'm highly motivated because as a part of society, having a better understanding about it could make our life more fun and meaningful.

Why do I consider sociology as the science of future? Sounds bombastic, but it is based on a reflection about my country, Indonesia. When I think about my country, the picture in my mind is no more about the beauty of the land nor the hospitality of the people. We've been suffering from economic crisis since 1997. Many things happened and I realized that there's something wrong with my country.

How come, in my country, many people starving, underpayed, jobless, homeless, uneducated, wounded, etc but in other hand, many people are extremely wealthy? Ernest Renan said that a country is people with the same history, feelings and goal and try the effort together to achieve it. But, is it still a country if there's a tremendous gap of life quality? A question poped up in my head, do we still care of each other afterall?

Maybe you ask, why must we care of each other if we can reach success and happiness individually? I will surely answer that individual success and happiness is also determined by the social situation. Nobody can live alone and I think no ones success and happiness is complete without doing something to others. I mean, something to make a better world.

There must be something we can do. Even though reality proved that we can't depend on our government, doesn't mean we are hopeless. I see the solution in society. Society should be proactive to solve the problem. That's where sociology take part: empower society.

That's why sociology is significant to our future, also our present.

Singapore Embassy, 2003

Read and post comments

|

Send to a friend

adik bungsuku

wah, baru kali ini aku ngerasa deg2an dikejar2 deadline yang dibuat ma adik bungsuku sendiri… anak kelas 3 sd….hffff. harus segera diselesaiin nih, sebelum dia pulang sekolah jam 2 ntar.

jadi begini ceritanya…

kemaren, seperti biasa dia memintaku menggambarkan tokoh2 wayang. tapi, yang ga biasa, tokohnya banyak banget! yang harus aku gambar ditandai pake ‘was’ (lilin) oranye, ditempel2in di badan tokoh2 itu. aku bolak-balik bukunya, kok tanda oranye-nya ga abis2? gila banyak banget! padahal, gambar wayang kan banyak motif2 detil yang kayak ukir2an-nya itoeh…… ada juga tokoh komik wayang-nya r.a. kosasih. mendingan sih, tapi tetep aja, sampai patah tanganku pun belum tentu gambar pesanannya selesai

–tiba2 aku jadi salut banget sama yang namanya komikus. ya iyalah mereka kan ngegambar sebanyak itu. mana bukan cuma nggambar lagi, mereka tu berkarya! seorang aku sih bisanya cuman nyontek (hiksss) T_T–

dia kan mintanya kemaren, n aku menyanggupi tanpa ngeliat dulu apa yang harus digambar (payah! kakaknya ngasih janji2 palsu hehe). mana dia pake wanti2 segala, “ayo gambar sekarang. hayo, nanti kalo aku pergi pasti ga digambarin kan?” eh, aku bilang,”tenang aja, ga kamu awasin pun tetep kugambarin kok. mana pernah sih aku ingkar janji?” duh, waktu itu  kata2ku sok yakin banget sih? sekarang nih, gara2 ke-sok yakin-an yang tanpa dasar itu sepertinya rekor ‘ga pernah melanggar janji ma adikku’ bakalan ga akan pernah bisa aku ucapin lagi. ya, adikku kan ingetannya tajem banget. duh, susah rasanya kalo tidak dipercaya lagi sama adik tersayang. tapi tenang aja, mungkin aku selesaikan dikit trus ngejelasin apa adanya, bahwa cuma segitu yang bisa kuselesaiin. toh, kepercayaan itu kan memang untuk yang bisa dipercaya, ya ga?

yang bikin aku terngiang2 sampe sekarang tu karena kemaren malam, di tengah2 tidurnya dia sampe bangun n nanya, “gambarnya udah jadi belom?” gobloknya, aku jawab udah biar dia cepet tidur n ga usah terlalu banyak beban pikiran. hehehehe…

jadi pingin mengenang hal2 lucu antara kami:

  1. waktu itu adikku sakit perut. sakiiiit banget. pelajaran sains di sekolah ditinggal trus dia dijemput pulang. tau2 dia minta karet trus ngiket2 jari kakinya (kelingking), sambil tetep tidur2an telungkup nahan sakit n air mata. pas ditanya, ini kok diikat? katanya, dia ikut2an kayak aku pas aku sakit perut… ^^; ya ampun, jadi ga tahu harus ngomong apa… waktu ngiket2 jari itu kan aku anyang2an (sakit perut karena kayak pingin pipis tapi susah keluarnya). kok dia inget n meniru ya
  2. waktu itu adikku main2, masuk2in jarinya ke mulutku. katanya biar muntah. aneh… eh ga taunya aku muntah beneran. trus malah adikku yang nangis, “aku ga pernah kok huhuhu… masukin jari huhuuhuhhhuu… ke mulutnya huhuhuhhhuhuhu… ga tau muntah kenapa huhuhuhuuhhu” th bohongnya anak kecil malah gampang ketahuan ya? orang ga ada yang nanya dia kok malah membeberkan sendiri hehehhehee

adikku, lucu sekali

Read and post comments

|

Send to a friend

baca dan tulis

Sumpah, hari ini Jogja panas banget!

Aku sengaja ngadem di warnet, yang ada ac-nya (air conditioner, bukan ‘angin cendela’ hueeehe). Biarin deh lama2in, habisnya kalo keluar bisa2 kulit, daging, setulang2ku menguap saking udah kering kerontangnya ^^; Eh, di sini aku baru nyadar, ternyata vox-ku udah lamaaaa banget ga diisi. Masa’ bulan mei udah mau berganti, tulisannya baru ada sebiji doang?

Sebenernya, (mungkin) ini karena aku mengalami krisis percaya diri. Utamanya yang berkaitan dengan tulisanku. Manusia kan berubah ya…masa’ ga boleh, kan ga mungkin (wo-ow).

Jadi… ceritanya, di usia aku sekarang, aku masih mengizinkan diriku untuk menjalani proses pencarian jati diri (cieeh). Termasuk dalam hal tulis-menulis. Nah, mumpung aku ga tahu mau nulis apa, kesempatan ini mau aku pake untuk nyeritain hubungan cinta-benci-ku dengan tulis menulis sejak balita (bawah lima puluh tahun, hehheehe)

Saat kecil, kedua orang tuaku bekerja. Aku dimasukkan sekolah sejak berusia 2,5 tahun (itu kata mereka, soalnya terus terang aku lupa atau malah belum tahu berapa usiaku, atau malah belum mengenal konsep “usia” ^_^ ). Pengalaman semasa kecilku ini lebih banyak yang tidak terekam di otakku. Entah kenapa. Aku cuma mereka-reka seperti apa kehidupan nadya kecil melalui cerita orang-orang.

Katanya, aku suka minta dibacain cerita. Cerita anak-anak bergambar tentunya. Parahnya, aku hapal cerita2 itu sampai ke titik komanya. Jadi, aku suka protes sama yang bacain cerita kalo mereka ga bacain secara persis. Gitu deh, mentang2 aku belum bisa baca, kan orang2 yang bacain suka capek n pingin cepet2 aja nyelesaiin cerita itu, biar mereka bisa istirahat. Tapi, aku selalu ga terima. Maunya dibacain lagi secara sempurna. Baik kata2nya, maupun di mana harus pake nada berhenti, nada tanya, nada seru, dll.

Gila ya? Untungnya, gara2 itu orangtuaku ga segan2 untuk membanjiriku dengan buku2 cerita anak2. Kata mereka, sebenernya itu strategi supaya aku agak dipersulit dalam menghapal isi2 buku cerita itu. Yah, logikanya kan semakin banyak buku cerita yang disodorin ke aku, makin kesulitanlah aku menghapalnya. Eh, tapi strategi itu ga berhasil. Justru mereka yang kewalahan, karena aku jadi suka minta bacain buku cerita secara maraton! Kalo lagu, istilahnya medley kali ya? Dan, tetep, harus bener2 bener! Ga boleh ada yang kelewat baik satu kata pun atau satu tanda baca pun!

Kok bisa ya? Awalnya aku juga percaya, tapi setelah orangtuaku, bahkan sampe ke om-tanteku, nenekku, kakekku, bahkan satu-satunya buyutku yang masih hidup mengatakan hal yang sama, mau ga mau aku percaya. Sayangnya, sekarang ini aku cuma dikit dari cerita2 itu yang bener2 aku ingat. Aku lebih suka cerita yang tokohnya hewan2. Misalnya, Kucing dalam Sepatu Bot, Dongeng Kancil (kalo ini sih didongengin ma buyutku), Lomba Lari Kelinci dan Kura2, Kisah Elang dan Ular, Beruang Kecil (aku jadi suka makan bubur hangat), Ulat Kecil yang Berubah Menjadi Kupu2, Urashima Taro (aku jadi pingin liat istana bawah laut!) , Beruang Kutub (kayaknya seru tuh berdingin2 di utub utara), Alice di Negeri Ajaib (kan banyak hewan2nya), Peter Pan (mereka tuh makhluk2 ajaibbb yaa ^_^, bukan manusia wee), dll

Satu pengecualian, aku ga suka Anak Itik Buruk Rupa-nya HC Andersen, soalnya anak itiknya dianiaya. Dongeng anak2 yang ada kekerasannya aku ga suka deh. Pernah aku dibacain dongeng putri2an macam Cinderela, malamnya aku langsung mimpi buruk. Seremmm banget. Ada yang aku digantung di kayu,

telanjang trus ditusuk2 (beneran ini.. aku inget soalnya horor banget waktu itu). Trus habis tu aku dijadiin alas jalannya sodara2 tirinya Cinderela waktu mereka harus ngelewatin selokan. Aku tu direntangin memperantarai selokan jadi kayak jembatannya mereka gitu . Sampe di kepala, sengaja mereka tendang2i sampe mo pecah rasanya, hiiiiiiiiiiii.

Contoh lain tu misalnya Putri Duyung. Walaupun aku suka banget berenang, pingin nyelem n hidup di dasar laut, tapi cerita ini malah bikin aku sedih. Masak suara indah Putri Duyung harus ditukerin sama kaki biar bisa hidup di darat sama Pangeran. Kan Putri Duyungnya malah jadi bisu n ga bisa ngomongin perasaannya. Selain itu ada dongeng Putri Salju, gila deh kita kan anak2 kecil, dikenalin sama yang namanya ‘racun’ yang bisa dimasukin ke makanan sehari2. Yang paling ekstrim tu Si Sepatu Merah. Masak kaki manusia dipotong pake kapak! Gara2nya ga bisa berhenti nari. Keji niannnnn!!!! (Makanya aku paling anti deh sama cerita2 sinetron Indonesia yang sering menempatkan tokoh cewek sebagai yang dianiaya tapi cewek itu malah nangis, ga bisa ngapa2in, atau apa lah kayak minta dikasihani, seolah-olah menderita itu heroik. Tokoh2 jahatnya juga keterlaluan. Yang terlibat dalam pembuatan sinetron2 itu ga mikirin dimensi pendidikan dari tayangan mereka pa?Apa mereka ga mikirin sisi kemanusiaan penontonnya, ga cuma anak2, tapi juga remaja n orang dewasa? Blekhhhh, wuekk.) Eh, tapi kalo Thumbelina, Putri Tidur, n Gadis Penjual Korek Api, aku masih suka kok… kan ga disiksa2. Keterangan tambahan klik aja dua gambar di atas (thumbelina n the ugly duckling) ku komentarin macam2 cerita n kalian juga bisa komen (kalo mauuuu). Asyik lho ngobrolin dongeng anak2!

Nah, sekarang cukup deh ngomongin dongeng anak2nya. Udah puas kan? Lanjut ya…

Saat hampir berusia 6 tahun aku harus pindah ke Djokdja. Terus terang aku ga merasa sedih sama sekali, malah cenderung merasa senang dan tertarik. Seperti apa ya Yogyakarta itu? Aku lupa pertama kali di sini aku tinggal di mana. Yang jelas, awal2 itu kami sering sekali berpindah-pindah rumah. Tentu saja aku sudah bisa membaca sendiri. Buku-buku ceritaku dibawa serta, pokoknya selalu setia menemani deh (cieee). Sampai akhirnya kami tinggal di rumah kami sendiri, yang belum selesai dibangun, di daerah Yogya utara nan sejuk (Kaliurang atas). Anak2 tetangga datang berkunjung dan memperkenalkan diri.  Aku diajak bermain pasar2an, boi2nan, petak umpet, gobak sodor, cendhak dodok,. tamu2an, dokter2an, masak2an, sampe main bola. Baru kusadari aku ga punya boneka buat main rumah2an, hehehehe…

Kata sahabat2 masa kecilku, permainan yang aku perkenalkan pada mereka adalah: guru2an! Aku selalu jadi gurunya, teman2ku jadi murid2 yang kuajari entah apa. Konon aku adalah Bu Guru yang galak soalnya murid2nya suka gantian ke kamar mandi terus2an, trus di kelas malah sembunyi hehehheee…

Saat itu aku belum memikirkan sekolah, padahal seharusnya aku sudah duduk di kelas 2 SD. Sayangnya, karena keluargaku pindah bukan saat pergantian tahun ajaran, aku belum lulus dari kelas I SD-ku dulu, dan tidak ada ujian susulan sehingga aku harus mengulang kelas I, sama ajalah dengan mendaftar jadi siswa baru. Ternyata di Yogya ini ada peraturan aneh. Daftar SD minimal usia 7 tahun. Aku ga mau menunda sekolah setahun lagi. Maklum, udah kebiasaan dari kecil kali ya? Aku bener2 ga mau kalo ga sekolah. Juga ga mau kalo harus TK lagi.

Akhirnya, ada SD yang bersedia menerimaku. Namanya SDN Pakem IV. Sekolahnya di tengah2 ladang tebu yang luas banget. Bentuk bangunannya cuman memanjang dan tiap kelas gurunya satu, rata2 muridnya ga sampe 10. Yang sempat bikin heboh, guru2 itu tidak ada yang mengajar dengan Bahasa Indonesia. Mereka ngajarnya pake bahasa Jawa, padahal aku kan sama sekali ga tahu Bahasa Jawa satu patah kata pun. Waktu aku bertanya (dalam bahasa Indonesia tentunya), malah guruku bilang, “kamu ngetes ya?”. Satu2nya pelajaran yang membuatku merasa aku ini sebenarnya tidak idiot adalah matematika. Yang lainnya, sumpah mampus aku ga ngerti sama sekali mereka itu ngomong apa. Aku rasa, wajarlah kalo sampe sekarang aku cenderung memilih untuk belajar sendiri lewat bacaan daripada di kelas.

Pulang sekolah, aku ingin bicara dengan orangtuaku. Ibuku bilang, “Sana ngomong sama bapakmu.” Bapakku sedang membaca koran di lantai. Berkali2 aku bilang, “Pak, aku mau ngomong”. Hasilnya nihil. Aku dicuekin. Sampai  kutepuk2 pipinya, dia tetap tak berpaling.  Akhirnya aku jongkok di koran yang dibentangkannya di lantai, sedang dibaca. Tubuhku yang berjongkok hanya selebar sepertiga koran itu. Sekali lagi aku bilang “Pak, aku mau ngomong, penting”. Aha, yesss, paling tidak dia bereaksi tuh. Mau tahu reaksinya apa? Dia menggeser tubuhku agar korannya tidak kutindih, mengangkat koran itu ke arah yang lain, membentangkannya lagi, dan kembali asyik membaca. Mau tahu kata2 yang diucapkannya? Dia bilang, “Selesaikan, aku ga mau dengar.” Sebagai tambahan informasi nih, dari tadi dia sama sekali tidak mau melihat wajahku.

Sejak itu, 6 tahun usiaku, aku bertekad untuk tidak bercerita apapun, pada siapa pun. Prinsipku cuma satu kata: selesaikan.

Kemudian, di tahun yang sama aku mulai mengenal buku harian. Mulanya, waktu liburan kami berwisata bersama keluarga di Jakarta. Aku berlama-lama melihat buku tulis kecil bersampul tebal di Gramedia. Baru pertama kali aku melihat buku seimut itu. Aku senaaaang sekali setelah dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku minta itu dan ibuku mau membelikannya.  Itulah buku harian pertamaku. Sampulnya bergambar Hello Kitty dengan latar belakang kebun tulip, dan halaman pertama kutulisi beberapa kalimat tentang ceritaku berlibur di istana boneka Dufan.

Sampai sekarang aku masih menulis buku harian. Biasanya dikasih buku2 yan tidak terpakai dari orang tuaku. Aku lebih suka buku yang tebal supaya tidak cepat habis. Seperti orang gila, aku bisa menulis berlembar2, atau hanya satu kata. Kadang2 menggambar (tidak sering karena aku tidak terlalu suka menggambar di kertas bergaris). Kadang2 menempel2 kolase, atau guntingan gambar yang menarik. Seingatku, aku paling sering menempelkan foto2 hewan dari koran, atau gambar tempat2 yang rimbun.

Waktu SD, aku bercerita kepada buku harianku seperlunya. Paling hanya satu halaman buku harian kecil. Ceritanya
pun khas anak sekolahan, misalnya tentang olahraga kasti, gangguin orang yan lagi beol di ladang tebu, jaga koperasi, main2 ke rumah sakit jiwa (tapi cuma sampai di luarnya), temanku yang cuma suka makan timun, acara taman gizi alias ada acara makan bubur kacang hijau dan minum susu gratis di sekolah, ibu2 guru yang jarang ngajar karena mau ke pasar, pelajaran kosong yang selalu diisi dengan pelajaran olahraga, main kartu waktu ulangan, acara2 pramuka, lagi ngetrennya lagu “ooooooh, sungguh teganya teganya teganya (sampe 100 kali!)”, dan lain2. Tapi tetap, tulisan yang paling berkesan buatku adalah tulisan pertama kali (tentang wisata ke istana boneka dufan tadi itu lhooo) yang aku akhiri dengan kalimat: “Orang itu, pasti lebih mikirin dirinya sendiri sendiri”. Aku menulis begini karena waktu mau naik kapal kecil di istana boneka itu aja, semuanya rebut2an. Ga ada yang mau ngalah. Aku malah cenderung mengamati ‘keanehan’ itu, jadinya dapat tempat duduk paling belakang, hehehehehehe. Eh iya, waktu kelas 4 cerita pahitku di SD malah dimuat lho di KorCil (Koran Kecil), rubrik di Republika tiap hari Minggu. Dikasih wesel 15 ribu rupiah plus kaos Korcil bergambar bunga matahari. Seneng banget, apalagi setelah itu banyak sahabat pena yang mengajak berkenalan. Tulis menulisku pun meluas ke dalam format surat menyurat (atau kalau sekarang istilahnya diversifikasi kali ya? hehehe).

Waktu SMP, selain surat2an dengan teman2 SDku, aku mulai terpengaruh dengan cerita2 detektif. Mulai dari komik Detektif Conan sampai Agatha Christie. Komik kutemukan di taman bacaan alias tempat persewaan komik di dekat sekolah. Buku karya Agatha Christie diperkenalkan oleh temanku, Nyoman namanya. Buku2 di perpustakaan SMP Negeri 8 Yogyakarta saat itu terasa cukup lengkap buatku, dan sangat kucinta! Eh, tapi aku bukan penggemar Agatha Christie lho ya. Cuma 2 bukunya yang kubaca: yang pertama adalah Pembunuhan Roger Ackroyd (yang ternyata pembunuhnya adalah tokoh “aku”!), yang kedua kalo ga salah judulnya Buku Harian Josephine (anak kecil yang bunuh diri…tidaaakkk). Gara2 cerita2 detektif itu, gaya ku dalam menulis buku harian berubah. Aku menuturkan peristiwa2 secara detil. Yah, ga sampe mencatat jam kejadian sih, tapi kupikir seandainya ada detektif yang datang menyelidiki kasus, aku bisa menyediakan informasi yang apa adanya (haaah, mana ada? terlalu kebawa imajinasi ^^;)

Sudah SMA, ternyata detektif yang kuharap2 tidak pernah datang. Agak kecewa sih (hehhehe), n ternyata berpengaruh juga sama gaya penulisan buku harianku. Celotehku semasa SMP yang cenderung liar dan bertabur humor, berubah jadi tulisan2 “renungan” (cieileehh). Waktu SMP aku enak2 aja ngebandel, sejak SMA ngebandelnya sih tetep tapi cenderung sok filosofis (huekkkk, apaan sih). Maksudku pembangkangan2ku ga cuma buat seneng2/ hura2 tapi ada nilai2 yang kupertanyakan. Malu banget kalo kuingat2 sekarang, waktu SMA tuh tulisanku kebanyakan curhat, kayaknya hidupku nelongsooo (penuh penderitaan) banget.

Tapi di sisi lain, di SMA inilah aku berkenalan dengan dunia tulis menulis lain, selain menulis buku harian dan surat. Guru Bahasa Indonesiaku mempercayaiku untuk mengikuti lomba penulisan esai. Waktu itu aku bergairah menuntaskan tulisanku. Temanya “Memperingati Seabad Bung Hatta”. Rasanya menyenangkan sekali membaca Seri DiMata, buku tentang kesan2 orang2 terdekat Bung Hatta terhadap beliau. Kisah2nya humanis dan simpel. Kayaknya tulisanku cukup berhasil lho dan dapat pengakuan juga (cieeh). Menurutku karena poin2nya jelas dan baru, runtut dan kutulis dengan simpel dan humanis. Yang juga ga kalah penting: jelas (karena waktu itu trennya krismon, kontestan2 lain kebanyakan ga jelas arah masukin soal krisis moneter). Kata juri menanggapi yang seperti itu, “kalau ga relevan jangan dipaksakan”. Anehnya, tulisanku ini malah dibenci sama sahabatku masa kuliah, si Izzah. Aku menangkap dia suka tulisanku yang humoris tentang peristiwa2 sehari2. Tentang esaiku dia malah bilang, “Kamu tu nulis apa to Naaaaad, kok terpaksa”. Padahal teman2 pesantrennya waktu itu suka lho dengan tulisan2ku, termasuk yang satu itu. Dan, aku sebagai penulisnya terus terang bingung kalo dibilang terpaksa, karena waktu menuliskannya sangat lancar dan ga terpaksa, bahkan aku suka dan menikmatinya. Lah, masa’ nulis esai kok harus sama seperti menulis buku harian? Justru menurutku itu yang namanya maksa. Udah jelas temanya beda, jenis tulisannya juga beda, masa’ disamakan? Ya nggak pada tempatnya lah. Waktu itu aku berusaha menerima n menganut pendapatnya, tapi sekarang baru kukeluarin bahwa ternyata sebenernya waktu itu pun aku ga cocok dengan pendapat tersebut, sekarang juga.

Di bangku kuliah, dosen kami lumayan sering ngasih tugas nulis. Ada yang kutulis sepenuh hati, ada yang setengah2. Pengakuan dari dosen (satu2nya yang membaca karya2 itu selain aku) yang menilai tugas2 itu seharusnya cukup membuatku berlega hati. Sayang sekali aku justru merasa minder dengan teman2 kampusku, terutama yang bergelut di pers mahasiswa fakultas maupun universitas, yang gaya penulisannya jauuuuuuuuhhhhh lebih rumit daripada aku. Hampir semuanya seperti itu dan sebenarnya aku sangat benci dengan gaya penulisan yang dirumit2kan supaya terlihat pintar. Seorang teman yang bernama Indie kujadikan penulis favoritku justru karena gaya menulisnya yang simpel, bahkan jerniiiih sekali. Poin2 apa yang ia bicarakan jelas dan tidak ngelantur. Yang terpenting, tulisannya terasa dewasa, karena sudah bisa mengendalikan emosi.

Sayangnya hanya satu orang yang seperti itu. Yang lainnya kalo menulis uamit-amit rumitnya atau berbelit2nya. Aku berusaha mengerti sih, cuman satu sisi self-esteem ku koyak berderai karena aku merasa tertuntut untuk menulis seperti itu. Aku tidak pede dengan tulisanku, gaya penulisanku maupun isinya. Apalagi sahabat2 terdekatku mengatakan aku menulis tidak pake perasaan. Monyettt, emangnya itu tuh tulisan apaan? Emangnya nulis sesi curhat?! Artikel ilmiah kok ga dinilai dari apa yang disampaikan (isinya), INFORMATIFNYA, cara penyampaian yang sistematis dan argumentatif. Malah merengek2 minta tulisan yang berperasaan! Yeeee, seenak jidat kalian! Yang bener aja!!!

Sayangnya aku bukan orang yang bisa menunjukkan secara langsung tulisan2ku pada banyak orang, dan…. komentar sahabat2 terdekatku (sedikit orang yang baca tulisan2ku) malah seperti itu. Hanya satu orang yang bisa menanggapi tulisan2 itu sesuai dengan jenisnya. Yang lainnya, hatiku mo bilang gini sama mereka: “sebenarnya kalian peduli dengan cita2ku atau sekedar ingin aku berbagi perasaan dengan kalian sih? Harus dibedakan dong. Bidangnya lain. Porsinya sendiri2. Emang sih, kalian bilang aku pasti pengertian, jadi kalian bisa ngomong apa aja dengan enak. Aku berusaha menerima sih, tapi kalau kupikir2, apakah masukan kalian itu tepat, maksudku, pada tempatnya? Bagaimana mungkin aku jadi tidak leluasa menuliskan pikiran2 bila tidak dengan embel2 gaya ‘penulisan yang berperasaan’?”

Sekarang aku sedang dalam titik yang, yaaahh, cukup penting buatku. Karena selama ini aku selalu berusaha memenuhi keinginan orang2 terhadapku, termasuk soal tulisan2ku. Ketika menulis di vox ini pun, yang aku maksudkan sebagai

renungan, malah dipertanyakan kenapa aku tidak bercerita apa2? Lho emangnya siapa yang mau menuliskan cerita? Orang (lha wong) aku menuliskan butir2 renungan dari lubuk hatiku yang terdalam kok. Terus, harusnya aku bisa lebih menghargai diriku sendiri (Izzah sendiri yang bilang begini, namanya juga sahabat ^_^ thx banget… i love u!), bahwa bahasa

yang lugas bukan berarti lebih buruk daripada bahasa yang berselubung, penuh metafora2 karena ingin sok nyastra. Buktinya sastrawan2 sendiri misalnya Pram juga realis n lugas nulisnya,
deskriptif n jelas, begitu pula Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Umar Kayam (kumpulan cerpen ‘Seribu

Kunang2 di Manhattan’ aku suka banget, tapi Para Priyayi aku ga terlalu suka, kayaknya waktu bikin ini dia lagi ga konsen n terburu-buru), Hamka, pengarang2 Rusia yang aku suka banget: Dostoyevsky, Chekov, Gogol, (jago bener pengarang2 ini, bahkan segetir2nya cerita, mereka masih bisa ber-humor ria nyelip2 satire. Eh tapi aku ga terlalu suka Tolstoy, n juga ga suka

Solzhenitsyn soalnya lambat banget alurnya, keburu bosan, kalo
Maxim Gorky masih boleh lah), Camilo Jose Cela dengan ‘Keluarga Pascual Duarte’-nya (thx Windu!), cerpen2 Jhumpa Lahiri

,

Voltaire juga nulisnya simpel walau itu semacam sindiran2, kisah2 kaum pecundangnya John Steinbeck (thx Bosman!), Santiagonya Hemingway, belum lagi gaya2 Alexander McCall Smith atau petualangannya Karl May. Budi Darma pun sebenernya mengalir kan, emang kadang terasa surealis sih. Paling yang agak mikir berat itu Iwan Simatupang atau Camus karena absurditasnya, tapi tetap penyampaian mereka kan lugas, bukan model “ini ngomong apaaaaan sih?”. Ada sih yang ngelantur rada ajaib misal Marquez (hehhehehe). Ya tapi emang beda sih kalo misalnya baca James Joyce atau Umberto Eco. Kapan2 deh tentang hal ini kupinjam lidahnya Dony GA yang mengantarkan Joyce. Eh…tapi tahu ga, selain itu semua aku juga mo bilang bahwa, “penulis2 nonfiksi sekalipun bukan berarti harus belibet.” Tanda seru. Titik.
—(Keterangan dikit nih, sebenernya pingin nampilin gambar2 buku2 sastra Indonesia semacam Gadis Pantai, Ziarah, Ronggeng Dukuh Paruk, atau Seribu Kunang2… tapi di Amazon ga ada gambar sampulnya… ga keluar, yaaah…cuma ada Gadis Pantai edisi Inggris tapi sampulnya aku ga suka… Gimana sih Amazon n Vox? Tampilin juga donk karya2 non-bhsInggris/Prancis/Jepang dengan gambar sampulnya!)

Akhirnya biarlah aku menikmati proses ini, perjalananku dengan tulis menulis. Sudah setahun lebih aku tidak menulis sama sekali (artikel). Kuharap di vox yang telanjur kucintai ini (dan berhasil membuatku merasa nyaman dan betah), aku bebas berceracau. Jangan lagi diriku sendiri yang menghalang2inya (menghalang2i ceracau2 itu). Mau nulis peristiwa sehari2 kek, renungan kek, artikel kek, suka2 aku. Ini kan tempatku untuk “reflect, and be sober. stay truthful to yourself because allowing dishonesty means letting no lesson learnt”.

Walau terkadang pahit, asem, menyakitkan ataupun memalukan, mo tulisanku jelek kek bosok kek, aku harus jujur (artikel ilmiah sekalipun). Namanya juga belajar.

Akhir kata, makasih…

NB: Mbak Desi, ke mana aja? Aku juga suka banget tulisan2 Mbak Desi (di sini n sini) dan Taufikul (soalnya mengalun). Menurutku mereka berbakat deh

Send to a friend

hooooy?

Entah kenapa aku malas aja ngerjain semua tugas-tugas kuliah yang serba nggak reasonable gini. Apalagi mengingat adanya jarak antara dunia kuliahan (sebagai dunia yang serba 'berusaha' akademik) terhadap dunia yang lainnya.

Ternyata mahasiswi yang satu ini udah benar-benar nggak ada semangat kuliah.

Kok bisa ya? Nggak tahu dulu tu dari mana dapat semangat untuk terus bertahan kuliah – maksudnya kuliah beneran ga cuma kuliah sebagai status – , mengerjakan tugas-tugasnya, dan mendapat nilai-nilai yang lumayan, walaupun mata kuliah yang kuambil sengaja yang diistilahkan teman-teman sebagai kuliah yang "berat-berat" alias… pengen aja sih menantang diri sendiri. Asli bukannya sok-sokan lho ya ^_^ cuma ehm aku emang orangnya rada gila aja.

Sebenernya semakin kurasa bahwa perkuliahan ini serba omong kosong juga kalau diikutin terus. Bahkan, kadang kayak nggak lebih dari sekedar basa-basi. Bukankah (ujung-ujungnya) orientasi dari mereka yang kuliah itu sebagian besar adalah "materi" (yaaaa kasarnya bisa dibilang begitu, terus terang aja hayo). Bukankah mayoritas yang diinginkan adalah bagaimana meningkatkan taraf hidup dirinya? Ngapain sih pake belajar kalo cuma berhenti di permukaan aja, nggak menggerakkan untuk berbuat sesuatu? Cuma sebatas jadi senjata untuk menjawab soal ujian trus dapat nilai bagus biar kemudian kerja di industri yang bergaji besar, atau kerja di bank, dan nggak ada yang peduli ma orang lain karena urusannya sendiri aja udah berat dan dianggap nggak tertanggungkan. Harus ribet kerja dari pagi sampe malam tanpa kreasi. Harus menyesuaikan diri sebagai satu sekrup aja dalam suatu mekanisme yang udah sedemikian terstruktur dan mengerjakan sesuai perintah, dan… udah. Hal-hal lainnya? Alaaaah, nggak mau tahu karena ngerasa nggak perlu tahu.

Yang penting diri sendiri, kebutuhan diri sendiri diberesin dulu deh….yang ternyata nggak pernah ada habisnya. Bergaji seolah-olah besar, ternyata nggak cukup karena gaya hidup yang ikut berubah, sok berduit akhirnya gaji habis buat bayar cicilan ini itu. Merasa berterima kasih banget karena pekerjaan yang dikasih bos tapi di sisi lain was-was dengan ancaman penggangguran.

What kind of life is that?????

But that's what most college students are trying to reach. That's what they set as their target. "The ultimate goal", sort of. Because, that's how they define "convenient life".

Forget about dreams, they try not to believe on something that is – as a matter of fact – nothing more than some naive childhood fantasies. Silent it on memories, there's no need to plug away and struggle for something "ridiculosly-unrealistic".

If anybody said differently, let's just wait and see. Time will answer: would the journey stop or there's something else in the end.

NB: hoooyyy nggak boleh nih nulis pake bahasa campuran… gimana sih Nad yang bener donx!

Send to a friend

keluar dari zona nyaman

Ternyata masih inginkan hidup yang "normal-normal" saja.

Hari ini aku menolak ajakan orang di sore hari dengan alasan tidur, tapi kemudian menerimanya di malam hari karena sudah bangun dan lagi pengen aja. Ternyata, rasanya sudah saatnya mencoba dengan segala ekstremitas untuk menemukan jati diri yang asli (adakah?), identitas yang sesungguhnya, aku yang benar-benar aku, dan aku tahu kalau itu aku.

Hari ini pertemuanku dengan orang-orang baru dan mereka berasal dari dunia yang benar-benar baru bagiku. Cukup menyenangkan untuk mengetahui bahwa paling tidak secara pribadi aku berhasil menembus zona nyamanku dan memperluasnya ke dalam hal-hal yang mungkin tidak dialami teman-temanku. Walaupun, penolakan itu ada, picingan mata, maupun kata-kata yang secara jelas-jelas terasa menyudutkan. Tapi aku tidak mempermasalahkan itu, karena kami memang berasal dari masa atau tahap yang sama sekali berbeda, dan paling tidak dengan memperkental keberbedaan itu, sedikit dapat meneguhkan identitas yang ada (menemukan?).

Perbandingannya adalah antara orang pekerja keras dengan orang absurd yang tidak berguna. Mungkin sebagai apologi dan pembenaran dari rasa frustasi atas pencapaian yang segitu-segitu aja. Atau mungkin justru aku yang frustasi. Terus terang kubilang pada mereka bahwa aku sedang berada dalam titik jenuh, dan mereka sama saja seperti orang-orang lain yang hanya pandai membolak-balikkan kata. Seharusnya tadi tutup mulut saja dan tidak banyak berkata, tapi, paling tidak, jadi mendapat info-info baru yang tidak akan kudapatkan kalau tidak mengambil resiko ini.

Ingin ku merasakan sebuah kedamaian, ketenangan, tapi semua kerjaanku beres. Ingin menikmatinya dengan senyum tanpa beban. Ingin menjadi orang bijak yang tidak perlu menilai orang lain dan bisa memahami dan menyikapi semuanya, (tapi mungkin ngga sih?). Ada suatu sisi dalam diriku, suatu bentuk kedirian yang memanggil-manggil. Dunia ini begitu beraneka ragam dan tidak perlu kupedulikan segalanya, (padahal terus terang aku belum mengetahui apa-apa).

Send to a friend