Post

Lost in Rome

6 comments

I had a great time in Rome. The workload was enormous, though!

There, visually, I felt like living in a movie … the trains were full of graffities (yes, it is the country of artists!), the landscape was beautiful and old buildings were everywhere! It was kind of like time-travelling, perhaps, being lost in some kind of poetry (oh, no, what have I just said?). I really enjoyed the glorious old-and-dusty vibe of this city. In addition, the weather was so nice and the food was delicious and CHEAP (very important!) 🙂

386895_10201225271258246_1640307422_n
Colosseo was so beautiful during sunset. The late sunshine gave a golden touch on top of Colosseo. I was never bored looking at that particular moment of beauty. Angiola (one of the interpreters from Italy) said October is the best time to visit Rome because October’s light is the most beautiful. The ticket of Colosseo also included Palatino and Fort Romano, so I visited them too.

420646_10201225295738858_1151262209_n

Andrea, the leader of Via Campesina Italy, said that the view from FAO (8th floor) is one of the most beautiful view of Rome, because there we can see everything. Yes, we can see the top of Colosseo, Caracalla, Jewish Synagogue, Popolo, Circo Massimo and also St. Pietro, etc. I am so lucky to have the opportunity to be there.

I only had one day free, which I requested. So, only on Tuesday I could move around, further than Colosseo. Early morning, I went to Basilica St. Pietro to visit Vatikan, but the queue was too long. I couldn’t waste more time, so I went to Castel St. Angelo, Piazza Navona, and then I went to a park at Flaminio. There were a lot of statue of the literary heroes from Gogol to Ibnu Arabi! I was so excited but didn’t come inside the museum. (too bad I didn’t bring my camera’s charger, so I only took very few pictures of this very photogenic city! On the other hand, it was good because I could be fully present and enjoyed the moment without trying too hard to get nice pictures as I used to do 😛 ).

21103_10201225304099067_1407905974_n
After eating lunch, I went to another park. If I’m not mistaken, it is called Villa Borghese. I walked and walked, suddenly it was Piazza del Popolo, and then Piazza del Spagna and I went up to the Vila Medici. I didn’t feel any pain on my legs because the walk was so worth it 😛

936258_10201225309779209_419565680_n

Vila Medici at dawn, the sky color and the clouds was, again, so beautiful. I could see the top of St. Popolo and St. Pietro and I was calling in my heart, “Pope … pope … can you hear me?” It’s funny because I’m Muslim and going to Vatikan is not a pilgrimage for me. The Pope and Vatikan become one of the tourist attraction that I missed.

933966_10201225307739158_2029795027_n
Because I didn’t visit all the artworks exhibition, and because my camera was dead most of the time, and especially because Rome was such a nice place, I hope one day I could visit Rome again. People say if you visited Fontana di Trevi and made a wish, you will come back to Rome. Fontana di Trevi at night was very beautiful, especially during moonlight. The beauty was overwhelming, I forgot to make a wish. Anyways,

I [heart] Rome 🙂

Post

Kisah sedih petani sawit perempuan

1 comment

Rangkuman dari tulisan:

Julia and Ben White. 2012. “Gendered Experiences of Dispossession: Oil Palm Expansion in a Dayak Hibun Community in West Kalimantan”. Journal of Peasant Studies 39 (3-4): 995-1016

 

Pembukaan perkebunan kelapa sawit memberikan dampak yang berbeda-beda bagi masyarakat lokal. Dalam penelitian ini, Julia dan White menyoroti dampak yang dirasakan perempuan Dayak Hibun di Dusun Anbera, Desa Dabat, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sebagai gambaran awal, sebagian besar perempuan Dayak Hibun putus sekolah setelah menyelesaikan SD. Usia pernikahan rata-rata berkisar antara 13-20 tahun. Dewan Adat Hibun mengampu urusan adat masyarakat Hibun.

Sebelum perkebunan kelapa sawit dibuka, masyarakat menanam karet, beras, serta ladang campuran. Lahan adat terdiri dari tiga jenis, yakni lahan kolektif (poyotono), lahan milik klan atau satu keturunan keluarga (poyotiant), dan lahan individual dari warisan. Perempuan Dayak Hibun berhak mendapatkan warisan tanah sama seperti laki-laki. Mereka mendapat hak mengakses tanah komunal adat dan hutan, sama seperti laki-laki. Hanya saja, perempuan tidak terlibat dalam struktur formal kepemimpinan adat.

Ketika perusahaan hendak membuka perkebunan sawit, perusahaan mendekati pemimpin formal maupun informal, yang terdiri dari pemimpin adat, pemimpin masyarakat lokal, guru, pemimpin keagamaan, dan lain-lain. Perempuan Dayak Hibun Dusun Anbera tidak ikut terlibat dalam pengambilan keputusan pembukaan perkebunan sawit, sebab semua pemimpin tersebut berjenis kelamin laki-laki. Para pemimpin ini ditugasi untuk memberi tahu warga lain, termasuk para perempuan. Mereka mendapatkan bayaran untuk melakukan tugas tersebut, juga untuk mendaftar sebanyak mungkin petani kecil ke dalam skema inti-plasma. Di kemudian hari, mereka bersama dengan kepala desa, anggota kepolisian dan militer, direkrut sebagai Satuan Pelaksana (Satlak) perusahaan yang digaji tiap bulan.

Secara formal, konsesi lahan komunal diserahkan kepada perusahaan perkebunan dalam bentuk Hak Guna Usaha (HGU). Hal ini menghilangkan hak masyarakat adat terhadap lahan komunal. Mereka diajak bergabung dalam skema inti-plasma perkebunan sawit. Skema ini mengharuskan mereka menyerahkan lahan untuk mendapatkan sepetak kebun sawit dengan perbandingan 5:2 atau 7:2. Artinya, mereka memberikan lima atau tujuh hektar lahan dan mendapatkan dua hektar lahan yang sudah ditanami sawit. Sisa tiga atau lima hektar lahan tersebut menjadi milik perusahaan inti perkebunan. Meskipun kebun sawit yang mereka dapatkan itu lebih kecil daripada lahan yang mereka serahkan, setelah mendapatkan kebun sawit mereka harus membayar cicilan untuk melunasi kebun tersebut. Hasil bulanan yang mereka dapat dari panen sawit dipotong oleh perusahaan, antara lain untuk membayar cicilan, pemeliharaan infrastruktur, ongkos transportasi, pembelian pupuk, dan bibit.

Pemerintah memberlakukan sertifikasi lahan pribadi berkenaan dengan pembukaan perkebunan sawit. Proses formalisasi kepemilikan lahan ini menunjuk laki-laki kepala keluarga sebagai pemilik lahan. Perempuan dapat menjadi pemilik lahan secara formal jika suaminya meninggal atau bercerai. Satu perempuan bukan janda yang diwawancara dalam penelitian ini mengatakan bahwa ia membuat KTP dengan status janda supaya bisa memiliki lahan secara formal. Tadinya, secara adat, perempuan Dayak Hibun memiliki lahan, misalnya melalui warisan. Namun, akibat proses formalisasi kepemilikan lahan, sertifikat lahan itu harus atas nama suaminya. Akibatnya, kontrol perempuan terhadap penghasilan keluarga berkurang. Perempuan yang mengalami hal ini ada yang harus menjadi penderes karet di kebun tetangga untuk memenuhi keperluan sendiri dan pendidikan anak. Tanpa kepemilikan formal terhadap lahan, perempuan tidak bisa memberi jaminan kepada bank untuk mendapatkan kredit. Perempuan juga tidak bisa menjadi anggota koperasi sawit maupun Serikat Petani Kelapa Sawit, karena hanya petani sawit terdaftar yang bisa menjadi anggota.

Dampak lain yang dirasakan perempuan Dayak Hibun adalah pembagian tugas yang lebih berat bagi perempuan. Mulanya, ada perbedaan tanggung jawab yang jelas antara laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan pertanian. Laki-laki melakukan pembakaran untuk membuka ladang, perempuan merawat ladang. Pekerjaan membersihkan lahan, menanam, dan memanen dilakukan bersama-sama oleh laki-laki dan perempuan. Hasil pertanian berupa beras tabu dijual, hanya untuk dimakan keluarga atau dibarter. Karet dideres oleh laki-laki dan perempuan. Hasil berupa latex dijual oleh laki-laki. Perempuan identik dengan tanaman yang tidak dijual, sementara laki-laki mengurus tanaman yang menghasilkan uang kas.

Pada perkebunan sawit, perempuan merawat pohon sejak pukul 06.00 atau 07.00 sampai pukul 16.00. Perempuan harus bertanam sawit di lahan sendiri, bekerja sebagai buruh perkebunan inti sawit, serta menjadi pemulung berondol sawit yang jatuh untuk menambah penghasilan dan mendukung keuangan keluarga. Meski mengerjakan lahan, perempuan bukan pemilik formal, sehingga tidak bisa menjadi anggota koperasi petani sawit. Perempuan menjadi kelas pekerja, sementara jabatan struktural perkebunan dipegang oleh laki-laki. Pemupukan, penyemprotan pestisida, fungisida, dan pemberantas hama dilakukan oleh perempuan. Mereka jarang dilengkapi masker, kacamata, sarung tangan atau sepatu, apalagi boots, meski kandungan kimiawi dari pestisida tersebut berbahaya bagi kesehatan. Perlengkapan tersebut harus dibeli dengan uang sendiri, padahal harganya jauh lebih mahal daripada penghasilan yang mereka terima. Di perkebunan inti sawit, pekerjaan memanen dan menjual hasilnya dianggap terlalu berat untuk perempuan, meski pada kenyataannya perempuan melakukan pekerjaan ini di lahan plasma. Karena pemanenan dan penjualan dilakukan oleh laki-laki, uang hasil penjualan dipegang, bahkan dikelola, oleh laki-laki.

Uang hasil penjualan tersebut seringkali habis di tangan laki-laki dengan alasan membayar tenaga pemanen, padahal sesungguhnya dihabiskan untuk membayar pekerja seks di kafe yang mulai bermunculan. Selain menimbulkan masalah sosial dan keluarga, fenomena ini membuat sumber penghidupan perempuan petani sawit hancur. Perempuan petani sawit harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan hidup. Salah satunya dengan memulung berondol sawit yang jatuh meski harga jualnya lebih rendah daripada tandan buah segar (TBS). Jika tidak diambil pemulung, berondol tersebut hanya akan tergeletak dan membusuk. Hampir seluruh pemulung berondol sawit adalah perempuan. Polisi memperlakukan pemulung berondol sawit sebagai pencuri yang melanggar teritori perusahaan dan mengambil properti. Perempuan diintimidasi, dilecehkan dan diancam. Ada dua perempuan yang pernah diproses secara hukum karena memulung berondol sawit. Meskipun demikian, karena keterdesakan hidup, perempuan tetap memulung berondol sawit, terutama secara berkelompok.

Keterdesakan hidup semakin menghimpit karena perubahan hubungan masyarakat dengan pertanian dan lingkungan. Kelapa sawit ditanam secara monokultur di lahan. Luas lahan pertanian campur berkurang. Kebutuhan terhadap sayur tidak bisa dipenuhi dari lahan sendiri. Hutan rusak oleh perkebunan, sehingga tidak ada makanan yang bisa diambil dari hutan dari tidak ada bahan baku untuk membuat kerajinan rotan yang bisa dijual. Sungai tercemar. Bahkan, ketika perempuan mengambil ikan di sungai, mereka dilarang polisi dan harus mengembalikan tangkapan karena sungai itu milik perusahaan. Situasi ini menyebabkan perempuan mau tidak mau harus ikut mencari nafkah dengan bekerja keras. Mereka pun lebih paham untuk membela kepentingannya dan melawan tekanan dari pihak-pihak yang mengintimidasi.

Secara garis besar, setidaknya ada lima hal yang dialami perempuan Dayak Hibun akibat pembukaan perkebunan sawit. Pertama, perubahan akses dan kendali terhadap lahan dan sumber daya lainnya. Kedua, perubahan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Ketiga, penurunan kendali terhadap penghasilan keluarga. Keempat, perubahan strategi bertahan hidup. Kelima, peningkatan perlawanan terhadap tekanan korporasi dan patriarki. Di sisi lain, pembukaan perkebunan sawit membuat mereka pengetahuan baru. Pengetahuan baru tersebut antara lain tentang ekonomi modern yang bergantung pada uang tunai, karakteristik tanaman, naik turun harga sawit, pentingnya hak atas tanah dan variasi sumber penghasilan, serta efek lingkungan yang dihasilkan oleh perkebunan kelapa sawit.

Post

Israel: The Logic of a Settler State

Leave a reply

Tulisan Matthijs Krul:

Notes & Commentaries

Let us not today fling accusations at the murderers. Who are we that we should argue against their hatred? For eight years now, they sit in their refugee camps in Gaza and, before their very eyes we turn into our homestead the land and the villages in which they and their forefathers have lived. We are a generation of settlers, and without the steel helmet and the cannon we cannot plant a tree and build a home. Let us not shrink back when we see the hatred fermenting and filling the lives of hundreds of thousands of Arabs, who sit all around us. Let us not avert our gaze, so that our hand shall not slip. This is the fate of our generation, the choice of our life – to be prepared and armed, strong and tough – or otherwise, the sword will slip from our fist, and our life…

View original post 2,507 more words

Post

Tahun Baru tanpa Damai

Leave a reply

Hoy, harusnya tahun baru Islam itu nyenengin ya! Kan libur! Ditambah hari Jum’at ikutan libur karena kejepit. Artinya: long wiken! Teman-teman mungkin banyak yang tamasya ke luar kota gitu. Seharusnya menyenangkan lah!

Tapi pada hari ini juga, Israel menyerang Gaza. Dari darat, laut, dan udara. Kira-kira dimulai belasan jam yang lalu.

Post

4 comments

kado terbaik yang diberikan bapak saya pada anak perempuannya adalah ilmu pengetahuan. kado terbaik yang diberikan ibu saya pada anak perempuannya adalah rasa percaya diri.

🙂

Post

Evaluator Eksternal

Leave a reply

Bergaul dengan para peneliti membuat saya mendengar pikiran-pikiran mereka, serta diundang dalam seminar yang berkenaan dengan topik penelitian mereka. Meski tema penelitian serta seminar tersebut berbeda-beda, ada satu benang merah yang bisa saya tarik sebagai persamaan dari beberapa pembahasan mereka, terutama karena mereka sama-sama melakukan studi kasus dalam konteks Indonesia.

Benang merah ini mungkin tidak secara langsung berhubungan dengan pertanyaan penelitian mereka, bahkan sangat simpel, tapi entah mengapa menggelitik saya untuk menanyakannya secara umum. Ada empat tema berbeda yang bagi saya memunculkan benang merah yang sama. Empat tema yang kebetulan melibatkan saya tersebut antara lain perubahan iklim, bencana, konflik lahan, sampai ke pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Benang merah tersebut adalah perlunya evaluator eksternal terhadap institusi-institusi publik di Indonesia.

Post

Pidato Haji Terakhir Nabi Muhammad

1 comment

Ceramah solat id pagi ini menceritakan tentang sepuluh perintah Arafah. Kata sang penceramah, sepuluh perintah Arafah adalah intisari dari khotbah Nabi Muhammad yang disampaikan pada haji terakhir atau haji perpisahan (haji wada’) 9 Dzulhijjah 10 Hijriyah. Khotbah ini sendiri sering dianggap sebagai khulashah atau kesimpulan ajaran Islam yang disampaikan pada umatnya.

Secara kebetulan, tadi malam saya membaca buku berjudul “Muhammad kekasih Allah” yang juga membahas episode haji perpisahan di Arafah tersebut. Buku tipis nan kecil yang diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia pada 1984 ini sangat menarik, karena mengaitkan peran Nabi Muhammad dalam konteks sosial politik pada era tersebut. Contohnya tentang penghancuran berhala di Kakbah. Sebelumnya, berhala menjadi simbol prestise bahkan spiritualitas mereka. Sayangnya, hanya orang banyak duit yang bisa membuat banyak berhala. Penghancuran berhala sangat berarti terutama bagi kaum budak, karena ini membuat para budak punya tempat yang setara dalam hal tingkat spiritualitas atau keagamaan. Yang membedakan tingkat keberagamaan seseorang bukan lagi berapa banyak berhala yang dia punya, tetapi hanya dari kadar ketakwaannya saja.

Banyak contoh lain yang sangat menarik bagi saya, mungkin biasa saja bagi orang lain. Mengenai sepuluh perintah Arafah, akan sangat menarik jika ada yang bisa mengkontekskan mengapa sepuluh perintah tersebutlah yang disampaikan sebagai semacam pesan terakhir Nabi, mengapa sepuluh poin tersebut penting, terutama bagi perubahan situasi sosial politik masyarakat pada masa itu, dsb. Oleh karena itu, sambil menunggu jawaban, komentar atau diskusi dari teman-teman sekalian, di sini saya akan menulis ulang secara singkat sepuluh perintah Arafah sesuai ceramah solat id pagi ini, dan menuliskan pula teks lengkap terjemahan pidato Haji Wada’ Nabi Muhammad seperti yang tercantum di buku Muhammad kekasih Allah.