All Posts Filed in ‘Books

Post

Cerpen A.A. Navis: Orang dari Luar Negeri

7 comments

Pengantar:┬áDengan membagi cerpen ini di sini, aku bisa membacanya sewaktu-waktu, karena sepertinya belum ada di internet. Cerpen ini sempat aku bacakan di depan orang tuaku di meja makan, beberapa saat sebelum aku berangkat menuntut ilmu ke negeri orang dua tahun lalu. Gaya bercerita plus selera humornya tuh khas AA Navis banget! Orangtuaku dengerin sambil ketawa-ketawa (ngakak maupun “cengengesan”). Aku sendiri, saat mengetikkan cerita ini, masih aja ngga bisa menahan ketawa di bagian-bagian tertentu, gara-gara membayangkan perumpamaan-perumpamaan, adegan, tokoh, bahasa dan percakapannya.

Sampai sekarang, kadang-kadang istilah “etiket Eropah” dalam cerpen ini masih dipakai orang tuaku untuk menghina-hina aku. Pernah aku dimarahin supir bis di sana, gara-gara ngga bilang selamat pagi sama dia. Waktu itu aku lagi ngga mood bilang selamat pagi. Pagi buta aku harus berangkat dan nunggu kedinginan di terminal terbuka yang ditiup-tiup angin sedingin es.┬áSuasana gelap dan dingin banget, rasanya beku kayak mau mati meski udah pake berlapis-lapis baju hangat dan jaket (ngga lebay loh ini). Ditambah, kurang tidur seperti biasa. Rasanya ngga ada tenaga untuk sekadar bilang selamat pagi.

Teguran supir bis itu bikin aku sadar, ngga ada alasan untuk ngga bilang selamat pagi ke dia. Setelah aku perhatikan, penumpang lain ngga ada yang luput bilang selamat pagi. Mulai dari anak-anak sampai oma opa. Mungkin ini hal kecil dan sepele, tapi ternyata sangat berarti sebagai wujud penghargaan kita ke Pak Supir yang bekerja mengantar penumpang sampai selamat ke terminal tujuan.

Gara-gara kejadian itu, sampai sekarang aku sering teriak selamat pagi atau makasih atau sapaan apapun lah. Aneh banget deh!

Udah dulu pengantar dariku. Selamat membaca cerpen ini!

***

Post

Burung-burung Manyar

8 comments

burung-burung manyar

Judul: Burung-Burung Manyar
Pengarang: Y. B. Mangunwijaya
Penerbit: Djambatan
Cetakan: II, 1981
Halaman: vi+261

Jujur saja, kali pertama membaca roman ‘Burung-burung Manyar’ di bangku SMU, aku tidak terkesan. Entah apa penyebabnya. Mungkin saat itu aku tidak membaca dengan sungguh-sungguh. Mungkin juga, perasaanku masih terlalu tumpul untuk menghayatinya. Apalagi, pemikiranku masih terbatas sehingga akalku belum bisa bertualang. Sebagai remaja yang sedang mekar, yang kuingat hanya adegan-adegan ‘syur’-nya.