Posted in Bahasa

Dostoyevski bicara sakit gigi

Kemarin, gigi belakangku numbuh. Sakit banget dan aku diem-diem aja makan bubur seharian, ngga bisa tidur pula. Tiba-tiba inget seorang sahabat yang suka banget dengan bagian “sakit gigi” dalam “Catatan dari Bawah Tanah”-nya Dostoyevski. Terus terang aku lupa bagian tersebut. Maklum, aku baca buku ini waktu SMA, udah lama banget. Si pencerita dalam buku ini tuh semacam orang “gila” yang sedang ngomyang. Buku ini memberikan kesan yang dalem dan menarik. Aku suka emosinya … dan “gila”-nya. Dia juga bikin aku berpikir tentang hal-hal yang belum pernah aku pikirin, dan berpikir dengan cara-cara yang belum pernah aku pakai. I ❤ Dostoyevski, juga Chekov.

Nah, untuk merayakan tumbuhnya gigi belakangku, buku kecil nan tipis ini ini kembali kubuka. Ketemu nih cerita sakit gigi Dostoyevski di "Catatan dari Bawah Tanah", ditulis pada 1864:

Continue reading “Dostoyevski bicara sakit gigi”

Posted in Bahasa

Tiga tingkatan nasi kotak

Orang Jawa bilang “saru” kalo kita mengkritik atau meributkan makanan. Menurutku itu kondisi ideal. Pada situasi tertentu, mengkritik makanan itu perlu, misalnya ketika makanan itu bikin sakit perut atau sakit lainnya. Sering juga mengkritik makanan itu ngga perlu tapi tetep dilakukan. Urusan makanan bisa dianggap sepele, bisa juga dibesar-besarkan. Yang jelas, aku dapet pelajaran baru. Siapa sangka, dari mengamati urusan yang dianggap sepele seperti makanan dan perilaku orang-orang terhadapnya, wawasan bisa nambah dikit dan ada latihan berpikir serta kesimpulan yang ngga diduga.

Di sini, aku mau cerita tentang nasi kotak. Jujur, aku pengen banget mengerti dan belajar sungguh-sungguh secara terus-menerus tentang Indonesia dan masyarakatnya. Ternyata, nasi kotak bisa bicara banyak tentang itu.

Continue reading “Tiga tingkatan nasi kotak”

Posted in Bahasa, Books

Cerpen A.A. Navis: Orang dari Luar Negeri

Pengantar: Dengan membagi cerpen ini di sini, aku bisa membacanya sewaktu-waktu, karena sepertinya belum ada di internet. Cerpen ini sempat aku bacakan di depan orang tuaku di meja makan, beberapa saat sebelum aku berangkat menuntut ilmu ke negeri orang dua tahun lalu. Gaya bercerita plus selera humornya tuh khas AA Navis banget! Orangtuaku dengerin sambil ketawa-ketawa (ngakak maupun “cengengesan”). Aku sendiri, saat mengetikkan cerita ini, masih aja ngga bisa menahan ketawa di bagian-bagian tertentu, gara-gara membayangkan perumpamaan-perumpamaan, adegan, tokoh, bahasa dan percakapannya.

Sampai sekarang, kadang-kadang istilah “etiket Eropah” dalam cerpen ini masih dipakai orang tuaku untuk menghina-hina aku. Pernah aku dimarahin supir bis di sana, gara-gara ngga bilang selamat pagi sama dia. Waktu itu aku lagi ngga mood bilang selamat pagi. Pagi buta aku harus berangkat dan nunggu kedinginan di terminal terbuka yang ditiup-tiup angin sedingin es. Suasana gelap dan dingin banget, rasanya beku kayak mau mati meski udah pake berlapis-lapis baju hangat dan jaket (ngga lebay loh ini). Ditambah, kurang tidur seperti biasa. Rasanya ngga ada tenaga untuk sekadar bilang selamat pagi.

Teguran supir bis itu bikin aku sadar, ngga ada alasan untuk ngga bilang selamat pagi ke dia. Setelah aku perhatikan, penumpang lain ngga ada yang luput bilang selamat pagi. Mulai dari anak-anak sampai oma opa. Mungkin ini hal kecil dan sepele, tapi ternyata sangat berarti sebagai wujud penghargaan kita ke Pak Supir yang bekerja mengantar penumpang sampai selamat ke terminal tujuan.

Gara-gara kejadian itu, sampai sekarang aku sering teriak selamat pagi atau makasih atau sapaan apapun lah. Aneh banget deh!

Udah dulu pengantar dariku. Selamat membaca cerpen ini!

***

Continue reading “Cerpen A.A. Navis: Orang dari Luar Negeri”

Posted in Bahasa

Kawan-kawanku para pejuang

Lebaran kali ini, aku dapet kejutan berupa: kunjungan satu kawan lama bersama tiga kawan baru! Mereka sedang dalam perjalanan darat naik mobil pribadi dari Garut, muter-muter, lalu kembali ke Garut. Di luar rencana, sampai di Kebumen, kawanku itu ingin mengunjungiku. Mereka pun mampir ke tempatku selama dua hari. Kami keliling-keliling kota dengan senang hati. Kejutan yang menyenangkan!

Mula-mula, aku malu-malu karena belum kenal dengan mereka semua. Ternyata mereka baik-baik. Mungkin karena mereka sudah dewasa dan terbiasa bergaul dengan banyak orang, sehingga pembawaan mereka menyenangkan dan menentramkan (duh, ge-er kali lah mereka ini 😛 ).

Entah seperti apa kesan pertama mereka terhadapku. Yang jelas, saat pertama kali mereka melihatku, aku sedang duduk di bawah pohon besar, dengan ransel batik dan sepeda terlipat. Suara klakson mobil mereka terdengar dari seberang jalan, tapi aku baru ngeh setelah mendengar namaku dipanggil-panggil. Dari balik kaca jendela yang diturunkan perlahan, aku mengenali wajah kawanku yang sedang duduk di kursi supir. Dia tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar. Kepala kotaknya masih sama saja seperti dulu 😀

Aku menyeberang jalan sambil menjinjing sepeda lipat yang dibelikan ibuku 25 Februari lalu. Sepeda itu aku taruh di bagasi. Kesan pertamaku tentang mereka muncul di momen itu: barang bawaan mereka sangat rapi di bagasi. Kesan pertama yang bagus, tentunya.

Sebelum bertandang ke rumahku, mereka tertarik untuk minum kopi dan mengisi perut dengan makanan ringan. Kami berhenti di satu kafe merangkap wisma yang sudah berdiri sejak 1930-an. Meja bundar yang dikelilingi lima kursi kayu bernuansa antik menjadi tempat mereka menyantap roti tuna, kentang goreng dan kue dadar coklat dengan es krim vanila di atasnya. Perutku masih kenyang karena aku baru saja makan. Hanya segelas soda limau yang kupesan untuk sekedar membasahi kerongkongan.

Di atas kami, ada lampu gantung bergaya kuno dan di dinding ada dekorasi keramik biru bergambar kincir angin dari Delft. Aku dan kawanku berpandang-pandangan. Keramik itu mengingatkan kami pada memori yang jauh. Kawanku ini adalah rekan kuliah S2 di Belanda dulu. Dia ambil spesialisasi Pembangunan Pedesaan dan Pertanian, sementara aku ambil spesialisasi Lingkungan dan Pembangunan “Berkelanjutan”. Kami sama-sama ada di bawah payung “Agrarian and Environmental Change”, yang artinya, kami punya satu kelas bersama dan satu perjalanan studi banding bersama. Di kafe itu, sedikit demi sedikit rahasia kawanku ketika berkuliah di Belanda berhasil dikorek dariku oleh tiga kawan yang lain, termasuk panggilan sayang dan kisah romansanya yang jadi bahan celaan tak terlupakan.

Selesai mengisi perut, kami justru pergi ke bioskop untuk menonton film Indonesia. Aku cukup tersentuh karena mereka sama sekali tidak membiarkanku membayar sepeserpun untuk pengeluaran kami. Katanya, sebagai peneliti, lebih baik uangku ditabung. Mereka ada benarnya, tapi tetap saja aku merasa mereka sangat baik dan bersahaja (ceileh …). Mungkin mereka merasa berterima kasih karena menginap di tempatku dan menggunakan “jasa”-ku sebagai penunjuk jalan. Padahal aku sendiri sudah cukup senang dan menikmati jalan bersama mereka. Tempatku juga sudah biasa menjadi tempat menginap orang-orang yang datang ke kota kami.

Usai menonton, kami pulang disambut masakan nenekku yang “Padang total”. Segala makanan yang serba berminyak, bersantan, bercabai dan identik dengan kolesterol, merupakan hidangan khas keluarga kami. Kawanku itu sangat tergila-gila dengan teri sambal hijau. Untunglah ikan bilis yang sempat dibeli di Pasar Payakumbuh Juli lalu sudah dimasak dengan lado hijau, ditambah gulai nangka, rendang dan dendeng sebagai pelengkap 😛 . Di hari lebaran, keluarga kami memang sudah biasa mempersiapkan porsi ekstra untuk tamu yang akan berkunjung. Makan bersama sambil bertukar cerita pun terasa nikmat tanpa repot.

Di malam hari, kami nongkrong-nongkrong di balkon sambil bercerita. Aku senang mendengar cerita mereka. Di sela-sela canda, aku antusias mendengar cerita-cerita mereka tentang perjuangan. Rupanya mereka melakukan perjalanan darat di liburan Lebaran ini dalam rangka mencari tenaga kerja serta pengrajin untuk wirausaha yang sedang mereka rintis. Sebelumnya, mereka berempat adalah teman kerja di penanggulangan bencana Aceh. Singkat cerita, setelah lima tahun, proyek mereka diberhentikan oleh bupati setempat (tidak mendapat perpanjangan izin). Satu di antara mereka sudah dapat pekerjaan lain di Jakarta, sementara dua lainnya mulai berwirausaha. Selain usaha online ticketing yang sudah berjalan dua bulan ini, mereka membuka usaha cuci mobil, juga dagang dompet, tas, dan lain-lain. Dalam perjalanan kali ini, mereka mengunjungi sentra industri kulit dan lain-lain. Di hari kedua bersamaku, kami melihat-lihat beraneka jenis tas hasil karya pengrajin lokal di pasar tradisional. Mereka ingin menjajaki kerjasama dengan pedagang serta menilai produk-produk yang kira-kira potensial untuk dipasarkan.

Satu kawan sangat berdedikasi untuk berkeliling pasar sementara yang lain ingin minum es kelapa (salah satunya ada yang “sakaw” minum kopi, bukan aku). Lagi-lagi aku ditraktir es kelapa dan bakso, sementara mereka makan sate lemak ayam yang akhirnya tidak habis termakan karena mereka ngeri dan merasa itu lemak itu berbahaya untuk kesehatan.

Telepon seluler berdering, tanda satu kawan itu sudah selesai berbelanja. Kami bertemu lagi dan melanjutkan perjalanan untuk makan gudeg di ruang terbuka. Makan gudeg seperti menjadi satu keharusan ketika orang berkunjung ke kotaku. Mereka senang sekali, karena rasa gudeg yang tidak manis, harga yang murah, dan suasana yang semilir. Justru dalam suasana super santai itulah aku sempat merenung. Sudah lama aku tidak mendapat pertanyaan yang membuatku berpikir panjang, dan sewaktu makan gudeg ini ada satu pertanyaan yang membuatku benar-benar berpikir. Pertanyaan itu sederhana dan biasa, tapi rahasia!

Ketika malam menjelang, tibalah waktu kami untuk gila-gilaan!

Masih sempat kami bertemu dengan satu kawan lain yang baru balik dari Semarang saat makan malam. Senanglah kami bisa melepas rindu dan ngobrol meski hanya sebentar. Kami tidak bisa berlama-lama karena kawan berempat tadi harus pulang awal dan tidur cepat karena mereka hendak melanjutkan perjalanan pukul tiga buta keesokan harinya. “Untuk menghindari macet semasa mudik lebaran ini,” kata mereka.

Malam sebelum mereka pulang, masih aku belajar dari cerita yang mereka bagi tentang satu saudara mereka yang juga menyelesaikan sekolah S2 di Belanda. Tidak ada yang mudah dan glamor. Beberapa tahun, saudara mereka itu sempat bekerja sebagai tukang cuci piring dan cuci mobil sepulang kuliah, dan istrinya sempat bekerja sebagai resepsionis agar mereka dapat sekadar melanjutkan hidup. Namun sekarang, kehidupan saudara mereka itu mulai menyenangkan. Saudara mereka itu mendapat pekerjaan di satu LSM di Bali. Seminggu sekali ia bisa menjalani hobi surfing-nya di Kuta. Istrinya juga merasa cocok dengan budaya Bali. Akhir cerita, kami saling mendoakan dan menyemangati agar semua cita-cita tercapai, semoga suka duka perjuangan bisa kami jalani …. *gaya ah, peluk-peluk haru*

Kawan, kunjungan kalian singkat tapi sungguh berkesan. Terima kasih sudah beramah-tamah dengan keluargaku, mendoakan nenekku supaya panjang umur dan memuji masakannya sampai wajahnya sumringah. Terima kasih sudah berbagi cerita. Lain kali datanglah lagi!