All Posts Filed in ‘Bahasa

Post

Tahun Baru tanpa Damai

Leave a reply

Hoy, harusnya tahun baru Islam itu nyenengin ya! Kan libur! Ditambah hari Jum’at ikutan libur karena kejepit. Artinya: long wiken! Teman-teman mungkin banyak yang tamasya ke luar kota gitu. Seharusnya menyenangkan lah!

Tapi pada hari ini juga, Israel menyerang Gaza. Dari darat, laut, dan udara. Kira-kira dimulai belasan jam yang lalu.

Post

4 comments

kado terbaik yang diberikan bapak saya pada anak perempuannya adalah ilmu pengetahuan. kado terbaik yang diberikan ibu saya pada anak perempuannya adalah rasa percaya diri.

🙂

Post

Evaluator Eksternal

Leave a reply

Bergaul dengan para peneliti membuat saya mendengar pikiran-pikiran mereka, serta diundang dalam seminar yang berkenaan dengan topik penelitian mereka. Meski tema penelitian serta seminar tersebut berbeda-beda, ada satu benang merah yang bisa saya tarik sebagai persamaan dari beberapa pembahasan mereka, terutama karena mereka sama-sama melakukan studi kasus dalam konteks Indonesia.

Benang merah ini mungkin tidak secara langsung berhubungan dengan pertanyaan penelitian mereka, bahkan sangat simpel, tapi entah mengapa menggelitik saya untuk menanyakannya secara umum. Ada empat tema berbeda yang bagi saya memunculkan benang merah yang sama. Empat tema yang kebetulan melibatkan saya tersebut antara lain perubahan iklim, bencana, konflik lahan, sampai ke pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Benang merah tersebut adalah perlunya evaluator eksternal terhadap institusi-institusi publik di Indonesia.

Post

Pidato Haji Terakhir Nabi Muhammad

1 comment

Ceramah solat id pagi ini menceritakan tentang sepuluh perintah Arafah. Kata sang penceramah, sepuluh perintah Arafah adalah intisari dari khotbah Nabi Muhammad yang disampaikan pada haji terakhir atau haji perpisahan (haji wada’) 9 Dzulhijjah 10 Hijriyah. Khotbah ini sendiri sering dianggap sebagai khulashah atau kesimpulan ajaran Islam yang disampaikan pada umatnya.

Secara kebetulan, tadi malam saya membaca buku berjudul “Muhammad kekasih Allah” yang juga membahas episode haji perpisahan di Arafah tersebut. Buku tipis nan kecil yang diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia pada 1984 ini sangat menarik, karena mengaitkan peran Nabi Muhammad dalam konteks sosial politik pada era tersebut. Contohnya tentang penghancuran berhala di Kakbah. Sebelumnya, berhala menjadi simbol prestise bahkan spiritualitas mereka. Sayangnya, hanya orang banyak duit yang bisa membuat banyak berhala. Penghancuran berhala sangat berarti terutama bagi kaum budak, karena ini membuat para budak punya tempat yang setara dalam hal tingkat spiritualitas atau keagamaan. Yang membedakan tingkat keberagamaan seseorang bukan lagi berapa banyak berhala yang dia punya, tetapi hanya dari kadar ketakwaannya saja.

Banyak contoh lain yang sangat menarik bagi saya, mungkin biasa saja bagi orang lain. Mengenai sepuluh perintah Arafah, akan sangat menarik jika ada yang bisa mengkontekskan mengapa sepuluh perintah tersebutlah yang disampaikan sebagai semacam pesan terakhir Nabi, mengapa sepuluh poin tersebut penting, terutama bagi perubahan situasi sosial politik masyarakat pada masa itu, dsb. Oleh karena itu, sambil menunggu jawaban, komentar atau diskusi dari teman-teman sekalian, di sini saya akan menulis ulang secara singkat sepuluh perintah Arafah sesuai ceramah solat id pagi ini, dan menuliskan pula teks lengkap terjemahan pidato Haji Wada’ Nabi Muhammad seperti yang tercantum di buku Muhammad kekasih Allah.

Post

Dusun Palemsari, Merapi: Relokasi Mandiri, Sapi dan Jeep Pariwisata

2 comments

Berat ya Pak, tinggal di shelter waktu itu?

Kepala Dusun Palemsari, Bapak Ramijo, menyambut kami di hunian tetap baru yang berjarak 9 km dari puncak Merapi. Ketika letusan terjadi dua tahun lalu, mereka tinggal di lokasi yang berjarak 4,5 km dari puncak. Kejadian tersebut merenggut banyak korban jiwa dari Dusun Palemsari. Lebih dari 200 sapi milik warga ikut pula menjadi korban. Warga yang selamat sempat tinggal di shelter atau “huntara” selama 1,5 tahun. Sejak Juni tahun ini, mereka pindah ke huntap (hunian tetap) yang belum sepenuhnya selesai dibangun.

“Kami di shelter selama 1,5 tahun. Atap shelter itu sepenuhnya dari seng. Ketika hujan turun, suaranya bikin takut anak-anak. Anak saya langsung tidur dan menutupi badannya dengan kasur. Pernah hujan lebat disertai angin kencang. Seng-seng itu terbuka separuh, nyaris terbang. Begitu terus, atap seng itu berulang kali membuka dan menutup, sampai akhirnya ada yang copot satu. Air deras masuk ke shelter, disertai angin. Saya beserta sembilan orang lain sembunyi di toilet.”

Pada awalnya, sama seperti penduduk dusun kawasan zona merah lain, warga dusun Palemsari menolak relokasi. Mereka takut lahan pertanian mereka diambil pemerintah. Setelah berembug, pemerintah menjelaskan bahwa lahan tersebut tidak akan diambil. Lahan tersebut untuk digarap, ditanami untuk membantu perekonomian warga, juga untuk cadangan ekosistem. Hanya saja tidak boleh dihuni. Warga jangan tidur di sana.

Akhirnya mereka bersedia relokasi asalkan bukan ke lokasi yang ditentukan pemerintah. Mereka hanya mau jika semua warga dusun bersedia relokasi bersama ke satu tempat yang sama. Kalau tidak, lebih baik tidak relokasi sama sekali. Jangan sampai ada yang tertinggal atau terpisah.

Masing-masing kepala keluarga membayar iuran sebesar Rp 4.500.000,- untuk secara mandiri membeli lahan seluas 1,2 hektar. Di lahan inilah hunian tetap mereka bertempat.

“Karena kami sudah beli lahan sendiri, kami menagih ke Bupati Sleman untuk menyediakan bantuan pembangunan hunian tetap dan fasilitas. Kami kan sudah meringankan beban pemerintah dengan beli lahan sendiri.”

Dana cair dari Rekompak JRF untuk pembangunan hunian tetap. Warga mengelola sendiri dana tersebut dan membangun rumah mereka dengan tenaga sendiri, secara bergotong royong. Warga juga berbangga bahwa mereka merancang sendiri hunian tetap masing-masing.

Dengan menyetujui relokasi, warga bisa menerima bantuan pemerintah, misalnya untuk pembangunan hunian tetap, sembako, dan fasilitas umum seperti jalan, jembatan, selokan. Selain itu, warga menerima banyak pelatihan, terutama untuk pemulihan sosial ekonomi. Contohnya, pelatihan dagang, beternak lele, pertanian, memasak, membuat kerajinan bambu, dan lain-lain.

Pak Ramijo juga mengatakan bahwa dusunnya yang dulu hancur terkena lahar sekarang sudah hijau kembali. Selain rumput yang baik untuk ternak, buah-buahan juga tumbuh. Meski lokasi rumah kini berjarak 3,5-4 km dari lahan garapan mereka, warga tidak terlalu berkeberatan. Penyebabnya, warga Palemsari kini banyak yang beralih profesi. Adanya Merapi lava tour membuat hampir seluruh warga menggantungkan penghidupannya dari sektor pariwisata. Mulai dari jadi guide, buka warung, buat suvenir, sampai menyewakan motor trail dan jeep seharga Rp 250.000,- untuk satu kali sewa.

“Warga sendiri yang punya jeep dan motor trail itu. Mungkin dulu mereka jual sapi, jadi sekarang bisa buat persewaan jeep.”

Bagaimana dengan warga ekonomi lemah?

“Ya tetap ada. Itu tergantung keuletan pribadi. Yang paling sedih itu warga yang semua keluarganya mati, misalnya yang jadi janda. Sebenarnya mereka ini awalnya warga yang cukup berpunya, tapi karena tulang punggung keluarga meninggal, mereka jadi warga ekonomi lemah.”

Selain dari sektor pariwisata, warga juga berharap untuk mendapat sumber penghasilan lain dari ternak sapi perah.

“Pagi-pagi bisa cari rumput, kasih makan sapi. Lalu siangnya ke lava tur. Dua-duanya bisa jalan. Ini pemerintah mau bikin dua unit kandang sapi dan tempat menampung susunya, juga saluran biogasnya. Setelah jadi, pemerintah juga mau memberi bantuan satu sapi per KK. Ini jauh lebih sesuai dengan aspirasi warga, daripada program di shelter dulu, pemerintah menyuruh ternak lele dan lele ini bikin warga bangkrut dua kali.”

Meski sibuk dengan pariwisata, Pak Ramijo mengatakan bahwa warga jangan sampai lengah. Ia bertanya mengapa belum diadakan simulasi kebencanaan untuk seluruh warga Dusun Palemsari. Yang bisa mereka lakukan hanyalah membaca tanda-tanda gunung berapi, seperti awan dan suara, juga mencermati perubahan status Merapi. Yang penting, jangan terlalu takut, jangan pula terlalu menyepelekan.

Post

Dostoyevski bicara sakit gigi

1 comment

Kemarin, gigi belakangku numbuh. Sakit banget dan aku diem-diem aja makan bubur seharian, ngga bisa tidur pula. Tiba-tiba inget seorang sahabat yang suka banget dengan bagian “sakit gigi” dalam “Catatan dari Bawah Tanah”-nya Dostoyevski. Terus terang aku lupa bagian tersebut. Maklum, aku baca buku ini waktu SMA, udah lama banget. Si pencerita dalam buku ini tuh semacam orang “gila” yang sedang ngomyang. Buku ini memberikan kesan yang dalem dan menarik. Aku suka emosinya … dan “gila”-nya. Dia juga bikin aku berpikir tentang hal-hal yang belum pernah aku pikirin, dan berpikir dengan cara-cara yang belum pernah aku pakai. I ❤ Dostoyevski, juga Chekov.

Nah, untuk merayakan tumbuhnya gigi belakangku, buku kecil nan tipis ini ini kembali kubuka. Ketemu nih cerita sakit gigi Dostoyevski di "Catatan dari Bawah Tanah", ditulis pada 1864:

Post

Tiga tingkatan nasi kotak

1 comment

Orang Jawa bilang “saru” kalo kita mengkritik atau meributkan makanan. Menurutku itu kondisi ideal. Pada situasi tertentu, mengkritik makanan itu perlu, misalnya ketika makanan itu bikin sakit perut atau sakit lainnya. Sering juga mengkritik makanan itu ngga perlu tapi tetep dilakukan. Urusan makanan bisa dianggap sepele, bisa juga dibesar-besarkan. Yang jelas, aku dapet pelajaran baru. Siapa sangka, dari mengamati urusan yang dianggap sepele seperti makanan dan perilaku orang-orang terhadapnya, wawasan bisa nambah dikit dan ada latihan berpikir serta kesimpulan yang ngga diduga.

Di sini, aku mau cerita tentang nasi kotak. Jujur, aku pengen banget mengerti dan belajar sungguh-sungguh secara terus-menerus tentang Indonesia dan masyarakatnya. Ternyata, nasi kotak bisa bicara banyak tentang itu.