Tahun Baru tanpa Damai

Hoy, harusnya tahun baru Islam itu nyenengin ya! Kan libur! Ditambah hari Jum’at ikutan libur karena kejepit. Artinya: long wiken! Teman-teman mungkin banyak yang tamasya ke luar kota gitu. Seharusnya menyenangkan lah!

Tapi pada hari ini juga, Israel menyerang Gaza. Dari darat, laut, dan udara. Kira-kira dimulai belasan jam yang lalu.

Ada yang bilang serangan ini berkaitan dengan akan diselenggarakannya pemilu Israel. Ada yang bilang ini karena roket. Yang jelas, banyak sekali kehancuran dan korban. Yang jelas, AS, Inggris, dan Kanada mendukung penyerangan ini.

Mungkin ada yang merasa ngga peduli dengan Palestina. Ngapain orang Indonesia ngurusin Palestina, sampe demo-demo di jalan segala. Negara sendiri aja diurus. Tapi itu bukan sebuah pilihan yang saling meniadakan, kan? Ngurusin negara sendiri dengan kapasitas masing-masing plus peduli dengan Palestina dengan kapasitas yang bisa dia lakukan, menurutku bukan sesuatu yang mustahil. Liat deh daftar ini, aksi protes terhadap penyerangan Israel ini bakal berlangsung di berbagai belahan dunia.


Fotografer: Martin Blok

Mau ngga mau, masalah Palestina-Israel itu masih menjadi salah satu kasus kejahatan internasional terbesar di bumi ini. Ngga selesai-selesai. Percaya apa engga, peduli sama Palestina itu ngga ada hubungannya sama apa agama yang kita anut. Mau Islam atau ateis atau kejawen sekalipun, ini masalah kemanusiaan.

Ngga usah heran kalo dulu pas aku kuliah di Belanda, justru teman-teman dari Belanda itu sendiri yang paling rajin kampanye anti-Israel (padahal yang lain sibuk belajar). Orang Yahudi sendiri juga lumayan banyak yang jadi aktivis, termasuk ilmuwan-ilmuwan dan pemuka agamanya, karena Judaism itu ngga sama dengan Zionism. Cara ngelawannya macem-macem. Misalnya, sayur-sayuran di supermarket Belanda banyak yang diimpor dari Israel. Salah satu cara yang dilakuin temen-temen yang kampanye anti-Israel itu adalah menyebarkan daftar barang-barang yang berasal dari Israel, atau punya komponen dari Israel, atau perusahaannya ada kerjasama dengan Israel. Kita dianjurkan ngga membeli barang-barang itu. Yah, itu selemah-lemahnya yang kita bisa, dan lebih bagus lagi kalo bisa ngelakuin hal lain juga sesuai kapasitas kita.

Awal tahun ini aku baca buku bagus, judulnya The Shock Doctrine, karangan Naomi Klein. Di dalam buku tentang “disaster capitalism” ini ada cerita kasus Palestina-Yahudi juga. Dia nganalisis kenapa Israel bisa “berkuasa” seenaknya gitu, mau ngapa-ngapain ngga ada yang bisa ngelarang atau menghukum.

Menurut Klein, satu-satunya kesempatan terakhir buat perdamaian di Israel-Palestina tuh dulu tahun 1993 (Oslo Accord), tapi itu gagal total karena perkembangan ekonomi Israel yang makin maju dan bikin mereka makin digdaya.

Ceritanya gini. Pada awal 1990-an, warga-warga Israel yang cukup berpengaruh ngelobi ke pemerintahnya, pengen ada perdamaian. Ini ada kaitannya dengan komunisme yang dianggap udah runtuh pada 1989 dengan dirobohkannya tembok Berlin. Para pengusaha Israel tuh pengen ikut menikmati keuntungan dari potensi “emerging markets” dari pasar bebas, jadi mereka pengen ada perdamaian. Mereka pengen bisnis mereka ngga lagi harus terganggu oleh situasi peperangan. Mereka punya cita-cita selangit, pengen jadi Hongkong atau Singapura-nya Timur Tengah. Maksudnya, Israel jadi bandar perdagangan internasional di wilayah Timur Tengah. Bayangin aja, cukup menggiurkan lah keuntungan yang bakal mereka dapetin dari posisi ini.

Sayangnya cita-cita itu terhalang karena negara-negara Arab ngeboikot mereka. Jadi, biar bisa diterima sama negara-negara Arab (untuk mencapai cita-cita ekonomi tadi), mereka pengen nunjukin ke dunia bahwa mereka udah damai dan baik sama Palestina. Itu sih kira-kira latar belakang mereka. Seperti kata Simon Peres, menteri luar negeri mereka waktu itu,

We are not seeking a peace of flags, we are interested in a peace of markets.”

Yang menarik dari arguman Klein tadi adalah, dia ngeliat dalam konteks yang lebih luas, yaitu perkembangan neoliberalisme global, yang mungkin belum terlalu dibahas oleh orang-orang lain.

The debates about who derailed the peace process, or whether peace was ever the real goal of the process, are well known and have been exhaustively explored. However, two factors that contributed to Israel’s retreat into unilateralism are little understood and rarely discussed, both related to the unique ways that the Chicago School free-market crusade played out in Israel. One was the influx of Soviet Jews, which was a direct result of Russia’s shock therapy experiment. the other was the flipping of Israel’s export economy from one based on traditional goods and high technology to one disproportionately dependent on selling expertise and devices relating to counterterrorism. Both factors were greatly disruptive to the Oslo process: the arrival of Russians reduced Israel’s reliance on Palestinian labor and allowed it to seal in the occupied territories, while the rapid expansion of the high-tech security economy created a powerful appetite inside Israel’s wealthy and most powerful sectors for abandoning peace in favor of fighting a continual, and continuously expanding, War on Terror.” p. 430

Cita-cita perdamaian di awal 1990-an tadi ternyata ngga didukung oleh keadaan internasional. Karena, pada periode yang sama, di Rusia ada krisis ekonomi yang bikin banyak orang Rusia galau lalu merantau ke Israel. Karena krisis, ada pemotongan nilai uang. Tabungan orang-orang Rusia jadi ngga bernilai. Mereka mau pergi ke mana aja, karena udah ngga bisa bertahan hidup di Rusia. Klein menyebut mereka “desperate economic refugee, not idealistic Zionists“. Artinya, mereka pindah ke Israel bukan karena “tanah yang dijanjikan” atau apalah itu, tapi karena emang trauma secara ekonomi, ngga tau mau ngapain lagi, dan pengen cari penghidupan di tempat baru.

Perpindahan ini berangsur-angsur. Pemerintah Israel sendiri sangat mendukung, ada agen yang jadi tukang rekrut di Rusia sana, ngiming-imingin pindah ke Israel. Trus di Israel sendiri, mereka dapet fasilitas rumah/apartemen dengan harga yang lebih murah (terutama di area okupasi), pinjaman khusus, dan bonus. Bayangin, sampe 1 juta orang Yahudi loh yang pindah dari Rusia ke Israel pada masa itu. Konteks historis tersebut menimbulkan “ledakan penduduk” buat negara sekecil Israel, dan tiba-tiba jumlah orang Yahudi jadi lebih banyak daripada orang Arab di area konflik tersebut. Di tahun 2007, jumlah emigran ini 18% dari total penduduk Israel, jumlah yang sangat signifikan.

Sebelum adanya perpindahan warga dari Rusia tersebut, Israel sangat tergantung sama warga Palestina. Setiap hari ada 150.000 tenaga kerja dari Gaza dan West Bank yang bolak-balik ke Israel untuk kerja, berdagang (ngisi stok barang dagangan di Israel), atau bercocok tanam. Kalo ngga ada mereka, ekonomi Israel lumpuh (makanya Israel sendiri ketat banget ngejaga biar orang Palestina ini ngga punya “autonomous trade relationships with Arab states“).

Keadaan berubah dengan adanya para imigran dari Rusia ini. Israel bisa ongkang-ongkang kaki karena dapet rejeki nomplok berupa buruh murah (banyak lagi). Kondisi itu membuat Israel ngga lagi bergantung sama Palestina. Artinya, mereka bisa seenaknya, dan lebih seenaknya. Mereka mulai kebijakan penutupan (“Closure”) sejak 30 Maret 1993, yang bikin warga Palestina dibentengi, ngga bisa keluar dari area jajahan, ngga bisa kerja, berdagang, ataupun ke lahan pertanian. Menderita banget lah warga Palestina, sementara Israel makin agresif mencaplok lahan dan sumber air.

.
sumber gambar: muftah.org

Di waktu yang bersamaan, perekonomian Israel maju pesat karena, banyak juga imigran dari Rusia ini yang berpendidikan tinggi banget dan ahli di bidang teknologi informasi. Dari pertengahan sampai akhir 1990-an, perekonomian Israel didongkrak sektor teknologi informasi. 50% ekspor mereka berasal dari sektor ini dan secara keseluruhan menyumbang 15% GDP, sampe-sampe BusinessWeek bilang Israel itu negara yang paling bergantung sama teknologi di seluruh dunia.

Dengan perkembangan ini, perekonomian Israel ngga lagi bergantung sama perdamaian dengan negara-negara tetangga.

“When Israel’s niche in the global economy turned out to be information technologies, it meant that the key to growth was sending software and computer chips to Los Angeles and London, not shipping heavy cargo to Beirut and Damascus. Success in the tech sector did not require Israel to have friendly relationships with its Arab neighbors or to end its occupation of the territories.”

Eh, cerita ngga berhenti di situ, malah makin parah. Pada awal 2000-an, ekonomi dot-com kolaps. Perusahaan-perusahaan Israel pada bangkrut. Pemerintah Israel langsung bertindak cepat, mengurangi anggaran untuk pelayanan publik/sosial dan menambah sebesar 10,7% untuk pengeluaran militer. Dengan dukungan finansial ini, pemerintah Israel juga ngebujuk perusahaan-perusahaan Israel untuk beralih dari teknologi informasi ke teknologi pertahanan dan keamanan, serta pengintaian/mata-mata (security and surveillance). Israeli Defense Forces (IDF) jadi semacam inkubator bisnis. Meledaklah itu usaha-usaha start-ups macam “search and nail data-mining“, kamera mata-mata, “terrorist profiling“, dan gadget-gadget pertahanan keamanan lainnya. (Kalau mau liat daftar contoh2 sampe tahun 2007, bisa diliat di halaman 437-438).

Strategi ini pas banget dengan kondisi negara-negara barat. Khususnya, Amerika lagi parno banget dengan terorisme, gara-gara peristiwa 11 September 2001. Israel langsung rajin banget promosi ke seluruh dunia kalo mereka tuh yang paling berpengalaman dan canggih dalam menghadapi para teroris dari Arab itu. Mereka sering ngadain semacam konferensi sekaligus pameran teknologi pertahanan keamanan, ngundang perwakilan negara-negara lain, termasuk FBI, Microsoft, sama Mass Transit System-nya Singapura. Ketika studi banding, misalnya mereka ke kebun binatang gitu, tapi yang diliat pagar-pagar keamanannya yang super canggih. Strategi pertahanan Israel dibilang udah melegenda.

Sampai 2007, Israel tuh negara terbesar nomer empat dalam hal perdagangan alat militer. Saham mereka terbanyak terdaftar di Nasdaq dibandingkan dengan negara-negara asing lain (ngga heran kompak banget sama AS). Mereka juga punya lebih banyak paten daripada Cina plus India jadi satu. Yang terpenting, 60% ekspor mereka adalah barang-barang teknologi pertahanan keamanan. Perekonomian mereka tergantung banget sama sektor pertahanan keamanan.

Sebagai kesimpulan, Klein menghubungkan Israel sebagai contoh paling maju dari “Dilema Davos”. Dilema Davos adalah suatu fenomena ketika keadaan perang malah bikin perekonomian negara tersebut maju. Kan dulunya dianggap, kesejahteraan itu bermula dari perdamaian. Tapi perkembangan terbaru, justru ketika perang itulah perekonomian bangkit segencar-gencarnya. Ironis, karena pada awalnya Israel pengen ada perdamaian demi kesejahteraan, sekarang justru Israel tanpa beban menyebarkan peperangan dan konflik supaya ekonomi mereka yang berbasis ekspor teknologi pertahanan keamanan itu booming dan makin laku. Perang jadi semacam ladang usaha. Begitulah sekelumit cerita dari Naomi Klein.

Yang perlu aku ingat, itu kalo ngomongin perekonomian maju tuh yang dimaksud perekonomiannya siapa? Terutama kan perekonomian perusahaan-perusahaan besar, sementara banyak orang kecil yang paling banter cuman bisa jadi buruh (kalaupun digaji sama perusahaan pertahanan keamanan juga jumlahnya bisa dianggap receh dibandingkan dengan keuntungan perusahaan), petani, atau pedagang kecil yang masih perlu perdamaian untuk hidup. Ngga cuma orang Palestina aja yang jadi korban, wong cilik-nya Israel sendiri juga jadi korban karena tingkat kemiskinan meningkat jadi 24,4% (di 2007), serta tingkat kesenjangan sosial makin melebar. Tapi ya, yang berkuasa makin berkuasa dan makin rakus pengen perang, dan orang-orang sipil jadi korban kejahatan kemanusiaan.

“Yet even though the benefits of the boom have not been widely shared, they have been so lucrative for a small sector of Israelis, particularly the powerful segment that is seamlessly integrated into both the military and government (with all the familiar corporatist corruption scandals), that a crucial incentive for peace has been obliterated.”

Klik di sini kalau mau lihat foto2 dari blogger/fotografer di Palestina tentang situasi hari ini.

Advertisements

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s