Pidato Haji Terakhir Nabi Muhammad

Ceramah solat id pagi ini menceritakan tentang sepuluh perintah Arafah. Kata sang penceramah, sepuluh perintah Arafah adalah intisari dari khotbah Nabi Muhammad yang disampaikan pada haji terakhir atau haji perpisahan (haji wada’) 9 Dzulhijjah 10 Hijriyah. Khotbah ini sendiri sering dianggap sebagai khulashah atau kesimpulan ajaran Islam yang disampaikan pada umatnya.

Secara kebetulan, tadi malam saya membaca buku berjudul “Muhammad kekasih Allah” yang juga membahas episode haji perpisahan di Arafah tersebut. Buku tipis nan kecil yang diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia pada 1984 ini sangat menarik, karena mengaitkan peran Nabi Muhammad dalam konteks sosial politik pada era tersebut. Contohnya tentang penghancuran berhala di Kakbah. Sebelumnya, berhala menjadi simbol prestise bahkan spiritualitas mereka. Sayangnya, hanya orang banyak duit yang bisa membuat banyak berhala. Penghancuran berhala sangat berarti terutama bagi kaum budak, karena ini membuat para budak punya tempat yang setara dalam hal tingkat spiritualitas atau keagamaan. Yang membedakan tingkat keberagamaan seseorang bukan lagi berapa banyak berhala yang dia punya, tetapi hanya dari kadar ketakwaannya saja.

Banyak contoh lain yang sangat menarik bagi saya, mungkin biasa saja bagi orang lain. Mengenai sepuluh perintah Arafah, akan sangat menarik jika ada yang bisa mengkontekskan mengapa sepuluh perintah tersebutlah yang disampaikan sebagai semacam pesan terakhir Nabi, mengapa sepuluh poin tersebut penting, terutama bagi perubahan situasi sosial politik masyarakat pada masa itu, dsb. Oleh karena itu, sambil menunggu jawaban, komentar atau diskusi dari teman-teman sekalian, di sini saya akan menulis ulang secara singkat sepuluh perintah Arafah sesuai ceramah solat id pagi ini, dan menuliskan pula teks lengkap terjemahan pidato Haji Wada’ Nabi Muhammad seperti yang tercantum di buku Muhammad kekasih Allah.

Sepuluh perintah Arafah menurut Bapak penceramah yang saya lupa namanya:
1. Keesaan Allah
2. Keesaan manusia
3. Persaudaraan
4. Alquran dan Sunnah sebagai dua peninggalan terbesar Nabi Muhammad
5. Hak dan kewajiban suami-istri
6. Memberikan warisan jika meninggal
7. Menjaga jiwa dan harta
8. Supremasi hukum dan keadilan
9. Hubungan kerja yang tidak aniaya (menurut saya bagus banget ini poinnya hehehe)
10. Menghindari godaan syaitan

Sementara itu, inilah pidato Nabi Muhammad pada haji terakhirnya. Di sela-sela pidato ini, beliau sering berkata, “sudahkah saya sampaikan ini padamu?” sebagai penguat kesaksian pendengarnya bahwa poin tersebut sudah diterima dengan baik. Berikut selengkapnya:

“Segala puji bagi Allah. Kita panjatkan puja-puji kepada-Nya; kita memohon ampun dan pertolongan-Nya; dan kepada-Nya kita kembali. Kita berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang bersemayam di dalam diri kita, dan dari kejahatan yang ditimbulkan oleh tindakan-tindakan kita. Tak akan ada yang bisa menyesatkan ke jalan yang salah orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan tak akan ada seorang pun yang bisa memimpin ke jalan yang lurus, orang yang Dia sesatkan. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, sendiri tanpa sekutu apa pun, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Aku perintahkan kamu sekalian, wahai hamba Allah, untuk takut kepada Allah dan aku tekankan padamu untuk taat kepadanya, dan aku buka pembicaraan ini dengan sesuatu yang baik.

Wahai manusia sekalian! Perhatikanlah kata-kataku ini, karena aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, aku tidak pernah lagi mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan kamu sekalian di tempat semacam ini.

Wahai manusia, bahwasanya darah (nyawa), harta benda dan kehormatanmu adalah suci dan tidak dapat diganggu gugat, seperti sucinya hari ini di kota ini, sehingga kamu sekalian bertemu dengan Tuhanmu. Sesungguhnya, engkau sekalian akan bertemu dengan Tuhanmu, dan Dia akan bertanya padamu tentang segala perbuatan-perbuatanmu. Ingatlah, sudah aku sampaikan risalah ini. Wahai Allah jadilah saksi atas peristiwa ini.

Karenanya, barangsiapa telah diserahi amanat, maka tunaikanlah amanat itu kepada orang yang berhak menerimanya.

Ingatlah, tak ada seorang pun yang terlibat suatu kejahatan dan bertanggung jawab atasnya kecuali dirinya sendiri. Tidaklah seorang anak menanggung kejahatan yang dilakukan ayahnya, dan tidak pula seorang ayah bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan oleh anaknya.

Ingatlah wahai manusia, dengarkan kata-kataku dan pahamilah. Ketahuilah bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, dan orang-orang Muslim adalah satu persaudaraan. Tidaklah harta benda seorang Muslim halal bagi saudaranya kecuali apa-apa yang diizinkannya. Karena ya, janganlah kamu sekalian menganiaya dirimu sendiri. Wahai Allah, telah aku sampaikan risalah ini.

Ingatlah, bahwa seluruh ajaran masa Jahiliyah telah hancur di bawah kedua kakiku. Dendam berdarah masa Jahiliyah adalah sesuatu yang terlarang. Sesungguhnya, dendam berdarah yang pertama kali aku hapuskan adalah dendam berdarah Ibn Rabi’ah ibn Harits, yang dibesarkan dalam suku Sa’d dan yang dibunuh oleh Hudhail.

Riba pada periode zaman Jahiliyah telah dihapuskan. Namun, kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah menganiaya, niscaya engkau tidak akan dianiaya. Allah telah menentukan bahwa riba tidak boleh lagi ada. Riba pertama yang aku hapuskan adalah kepunyaan Abbas ibn Abdul Muthalib. Sesungguhnya, riba ini telah dihapuskan seluruhnya.

Wahai manusia sekalian, takutlah kepada Allah dalam persoalan wanita. Engkau telah peristrikan mereka dengan amanat dari Allah, dan dengan ajaran Allah telah engkau buat bagian-bagian rahasia yang ada pada diri mereka menjadi halal bagimu.

Sesungguhnya, telah engkau dapatkan hak-hak tertentu bagimu atas istri-istrimu,dan istri-istrimu mempunyai hak-hak tertentu atasmu. Hak kamu atas mereka adalaah bahwa mereka tidak boleh mengizinkan siapa pun, yang tidak engkau sukai, menginjak-injak tempat tidurmu, dan bahwa mereka tidak boleh memperkenankan siapa pun yang tidak engkau sukai memasuki rumahmu. Jika mereka melakukan tindakan demikian, maka Allah telah mengizinkanmu untuk memarahi mereka, berpisahlah dari tidur mereka, dan pukullah mereka, tetapi jangan terlalu keras. Jika mereka menahan diri dari perbuatan demikian, maka mereka harus mendapatkan perlindungan dan pakaian yang layak darimu.

Ingatlah, berlaku baiklah kamu terhadap wanita, karena mereka adalah penolongmu. Mereka tidak memiliki sesuatu pun bagi diri mereka sendiri dan kamu mengambil mereka sebagai amanat Allah, dan kehormatan mereka dihalalkan buatmu dengan nama Allah. Jika mereka taat kepadamu dalam hal ini, maka janganlah engkau perlakukan mereka secara tidak adil. Saksikanlah, bukankah sudah aku sampaikan? Ya Allah, jadilah saksi atas peristiwa ini.

Wahai manusia, dengar dan taatlah kepada seorang budak Abesinia sekalipun, yang menjadi penguasamu yang melaksanakan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam Kitab Allah di antara kamu.

Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap orang haknya. Tidak ada wasiat* yang sah bagi ahli warisnya, (*maksudnya, harta yang diwasiatkan untuk diberikan kepada sseorang, di luar para ahli waris yang telah ditentukan dalam hukum Islam-penyunting), dan wasiat tidaklah halal jika melebihi sepertiga dari kekayaannya.

Anak adalah milik suami yang sah dan tiada hak apa pun bagi pezina. Barangsiapa menisbahkan seorang anak kepada orang lain selain ayahnya atau mengklaim kehambaannya kepada orang lain selain tuannya, baginya kutukan Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima tobat dan perbuatan-perbuatan baiknya.

Wahai manusia, sesungguhnya setan merasa kecewa karena tidak pernah disembah di bumimu ini. Tetapi setan itu akan merasa puas jika mereka ditaati di dalam tindakan-tindakanmu yang kamu kira tidak berarti. Maka berhati-hatilah kamu akan mereka di dalam agamamu.

Sesungguhnya telah aku tinggalkan bagi kamu sekalian, apa-apa yang jika kamu sekalian berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat, yang amat berharga, yakni: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Wahai manusia, Jibril telah datang kepadaku, menyampaikan salam dari Tuhanku dan berkata: ‘Sesungguhnya, Allah yang maha besar dan maha kuasa telah memberi ampunan bagi orang-orang yang berkumpul di padang Arafah dan Rumah Suci (Ka’bah) dari kesalahan-kesalahan mereka.'”

(Umar ibn al-Khattab berdiri dan berseru: “Wahai Rasul Allah, adakah ampunan itu hanya bagi kita?” Nabi menjawab: ) “Ampunan itu bagi kamu sekalian dan mereka yang akan datang setelah kamu hingga pada hari Kebangkitan.

Dan kamu sekalian akan ditanya tentang diriku, maka apa yang akan engkau katakan?” (Mereka menjawab: Kami akan bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan Risalah (Islam), telah menunaikan tugas dan menyampaikan peringatan”).

Kemudian Nabi berkata, “Ya Allah, jadilah saksi, ya Allah jadilah, ya Allah, jadilah saksi atas peristiwa ini.”

Selamat Idul Adha 2012! Saya tunggu komentar dari teman-teman!

Advertisements

One Reply to “Pidato Haji Terakhir Nabi Muhammad”

  1. halo Nadya jujur ya baca tulisanmu ini aku kyk “ditegur” rasanya terutama poin no.4 dan no. 10
    oya poin no. 5 seringkali jadi pembenaran bagi otoritas ulama tentang hubungan suami-istri yg akhirnya diikuti oleh sebagian umat karna gagal mengkontekstualisasikannya & mengaktualisasikannya dgn perubahan zaman dan situasi di setiap kehidupan masyarakat..poin no. 5 biasanya dipukul rata begitu saja tanpa mempertimbangkan historisitas ketika dalil itu turun (dipahami secara literer) padahal poin no. 5 ini sifatnya fleksibel & elastis yg peka terhadap pembacaan zaman..contohnya secara sunnah kita dianjurkan utk bersiwak padahal bersiwak utk konteks sekarang ya menggosok gigi pake odol nah seringkali makna bersiwak pake sebatang kayu kecil mirip sikat gigi mencontoh apa yg dilakukan nabi dan itu dilakukan beberapa aliran dlm Islam (he..he..ku pernah melihatnya) begitu jg sunnah nabi ttg Pria diwajibkan berjenggot nah ini masih debatable dlm mazhab fiqh… poin no. 5 ditegaskan nabi karna keadaan kaum wanita sangatlah memprihatinkan dalam hierarki budaya kaum kafir Quraisy dan pesan nabi trsbut adalah bentuk penegasan kembali kepada umat Muslim ketika itu secara langsung tapi pesan ini jg berlaku secara universal dan abadi sesuai zaman.. pendek kata pesan Rasulullah SAW dalam haji wada adalah bentuk liberasi dari sistem sosial politik dan budaya di kala itu tapi di sisi yag lain berlaku secara universal sampe akhir zaman..
    sampe disini aja komentar sotoy-ku he..he..

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s