Tiga tingkatan nasi kotak

Orang Jawa bilang “saru” kalo kita mengkritik atau meributkan makanan. Menurutku itu kondisi ideal. Pada situasi tertentu, mengkritik makanan itu perlu, misalnya ketika makanan itu bikin sakit perut atau sakit lainnya. Sering juga mengkritik makanan itu ngga perlu tapi tetep dilakukan. Urusan makanan bisa dianggap sepele, bisa juga dibesar-besarkan. Yang jelas, aku dapet pelajaran baru. Siapa sangka, dari mengamati urusan yang dianggap sepele seperti makanan dan perilaku orang-orang terhadapnya, wawasan bisa nambah dikit dan ada latihan berpikir serta kesimpulan yang ngga diduga.

Di sini, aku mau cerita tentang nasi kotak. Jujur, aku pengen banget mengerti dan belajar sungguh-sungguh secara terus-menerus tentang Indonesia dan masyarakatnya. Ternyata, nasi kotak bisa bicara banyak tentang itu.

Sabtu, 15 September lalu, kami dari tim peneliti Merapi mengadakan acara halal bihalal atau Syawalan dengan warga korban bencana yang selama ini kami dampingi. Ini acara terbesar yang pernah kami buat, karena mengundang warga dari empat dusun dalam satu kegiatan. Makan siang dan snack untuk 200 orang dipesan dari katering milik korban Merapi langganan kami (milik seorang ibu dan tantenya). Namun, membuka tutup nasi kotak katering warga seringkali seperti membuka sebuah kejutan bagi orang yang tidak mengamati pola menu nasi kotak secara berkesinambungan.

Konon, kejutan dan kesalahpahaman muncul karena kenyataan ngga sesuai dengan apa yang dibayangkan. Isi nasi kotak pada acara halal bihalal dianggap ngga mencerminkan anggaran dana yang diberikan. Lauk-pauk yang ada dianggap lebih murah dari yang seharusnya. Kasak-kusuk itu menular sampai ke telinga ahli ekonomi yang menganalisis bahwa ini soal likuiditas katering karena mereka ngga diberi uang muka-kemudian ada teman yang bilang bahwa uang muka sudah diberikan.

Keluhan teman-teman tentang nasi kotak ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Seringkali, menunya dianggap gitu-gitu aja, meski udah diberi anggaran yang lebih besar. Kadang ada yang bilang, orang desa itu ngga menguasai hitung-hitungan usaha katering. Makanya, meski udah diberi anggaran yang lebih besar tetep aja ngasih menu yang serupa.

Pertanyaanku ada tiga:

  1. bener ngga sih penyebabnya adalah ngga ada likuiditas?
  2. sebelum itu, pertanyaan kedua, bener ngga sih karena mereka orang desa, makanya ngga bisa ngitung dan ngasal ngasih menu yang sama meski harganya beda?
  3. yang ketiga dan sebenernya pertanyaan yang paling penting dan mendasar adalah: emangnya bener ngga sih, yakin ngga kalo menu itu bener-bener gitu-gitu aja meski harga lebih besar?

Pertanyaan udah diformulasikan. Daripada ikutan kasak-kusuk, bagiku lebih menarik untuk mencoba belajar supaya bisa mengerti kesalahpahamannya di mana.

Pertama soal likuiditas, sebelum acara, ibu itu sempat ngobrol sama aku bahwa:

  • suaminya dulu kerja di Pertamina Cilacap dan sekarang punya pensiun yang cukup,
  • usaha katering dia dan tantenya selalu ramai pesanan sampai ke acara-acara di kota,
  • usaha isi ulang air minum galon miliknya punya langganan sebanyak 350 KK. Dia menambahkan bahwa dia dapat banyak omzet setiap harinya karena warga desa punya kesadaran tinggi untuk mengonsumsi air minum berkualitas (ini kata dia).

Dari cerita itu, ada petunjuk tentang pertanyaan pertama dan kedua. Tentang pertanyaan kedua, meski dia orang desa, sebagai wirausahawan tentunya dia bisa menghitung, apalagi usahanya cukup maju. Untuk pertanyaan pertama, aku mengira-ngira modal usaha katering dia ngga se-“likuid” restoran besar, tapi juga ngga kering-kering amat. Dengan informasi kayak gitu, ditambah kata temen yang udah ngasih uang muka, aku ragu … aku ngga teryakinkan bahwa perihal teknis seperti likuiditas adalah penyebab isi nasi kotak itu ngga sesuai ekspektasi. Solusi teknis seperti menambah likuiditas sudah dilakukan dan ternyata tetap aja keluhan tentang menu yang dianggap ngga sepadan dengan harga itu muncul.

Ngga papa, seringkali berpikir di level teknis itu reaksi awal atau mula-mula sebelum sampai ke pertanyaan yang mengacu ke level konsep, bahwa perbedaan itu terletak di pikiran/cara berpikir. Untuk mengevaluasi cara berpikir, masuk ke pertanyaan ketiga, bener ngga sih mereka ngasih menu gitu-gitu aja meski diberi anggaran lebih besar? Sebenarnya menurut pengamat alias aku (hehe), anggapan ini ngga benar. Ada perbedaan dan standar yang jelas.

Menurut pengamatan, dengan harga Rp 10.000,- per kotak, mereka kasih lauk ayam. Dengan harga Rp. 15.000 per kotak, mereka kasih lauk daging sapi. Nah, yang kemarin dipermasalahkan di halal bihalal, harga Rp 20.000,- per kotak, mereka kasih lauk daging sapi plus ikan! Ikan tu belum pernah ada di dalam nasi kotak sebelumnya. Yang perlu diperhatikan lagi, mahal bukan berarti berukuran lebih besar. Ketika harga paling murah, (Rp 10.000,-) justru lauk ayam goreng itu cukup besar ukurannya, sehingga banyak daging. Sementara ketika harga meningkat (Rp 15.000,-), memang lauknya daging sapi, tapi dengan ukuran lebih kecil daripada daging ayam (ini menimbulkan ketidakpuasan/tidak sesuai ekspektasi). Ketika harga Rp 20.000,- ukuran semakin kecil, ada tiga bulatan kecil berupa daging sapi dan serpihan-serpihan ikan yang tidak terlihat seperti ikan karena digoreng dengan tepung. Yang perlu diingat, meski berukuran kecil, di sini ada dua lauk lho.

(Catatan, harga yang tertera di sini mencakup nasi kotak, dua gelas air minum kemasan, plus sekotak snack berisi tiga macam makanan kecil dan kadang-kadang ada tambahan berupa buah seperti pisang atau jeruk).

Mungkin pengaturan harga katering warga desa memang belum sempurna. Sebagai contoh saja, di Jogja masih ada restoran padang seharga Rp 3500 per porsi, sudah lengkap dengan lauk protein nabati. Tapi menyatakan bahwa katering mereka kurang likuiditas, bahwa warga desa tidak punya standar menghitung lauk, bahkan bahwa menunya itu-itu saja, ternyata tidak akurat.  Pernyataan bahwa isi nasi kotak cuma itu-itu aja ngga terbukti karena ada variasi ayam, daging sapi, dan ikan. Pemilik katering punya persepsi yang jelas bahwa ayam itu murah, kemudian di tingkatan berikutnya ada daging sapi, dan tingkatan yang paling mewah adalah ikan. Itulah tiga tingkatan lauk nasi kotak: ayam, sapi, dan yang tertinggi adalah ikan. Sapi ditambah ikan dinilai sudah sepadan dengan harga yang lebih tinggi itu. Aku agak sedih ketika ada temen yang protes ke ibu itu, padahal mungkin bagi warga, mereka udah sepenuh hati mempersembahkan yang terbaik (dan termahal menurut mereka) dalam nasi kotak itu, ditambah bonus satu gurame goreng besar. Belum lagi kalo inget mereka masak cuma berdua.

Sesuatu yang ngga pernah dipertanyakan, yaitu ekspektasi/pikiran pengeluh itu sendirilah yang jadi kunci teka-teki iseng untuk menjawab kenapa keluhan-keluhan tadi muncul, bukan di likuiditas ataupun kemampuan berhitung. Berarti, sebelum yakin banget dengan pikiran kita, perlu banget mengecek apa pikiran itu punya dasar yang akurat … berpikir ulang secara seksama tentang pikiran kita itu. Karena, kalau enggak, mungkin aja kejadian, suatu tindakan diambil berdasarkan pikiran yang ternyata ngga tepat. Kita cuma perlu membuka pikiran, melakukan evaluasi sama diri sendiri agar bisa menemukan detail di bulatan-bulatan kecil dan serpihan-serpihan yang mungkin dianggap ngga berarti.

🙂

Advertisements

One Reply to “Tiga tingkatan nasi kotak”

  1. Wah, menarik banget observasi dan analisa tentang nasi kotaknya. Kadang orang memang lebih melihat ukuran besar-kecil, mahal-murah untuk menilai kualitas suatu barang. Paket yang 20.000 mungkin terlihat murah karena ukuran daging yang lebih kecil, membandingkan secara visual mungkin lebih mudah (mungkin ya) buat kebanyakan orang.

    Di tempat saya berdomisili pun ada anggapan (buat yang belum mengerti khususnya pendatang) bahwa jaket wool yang hangat (dan mahal) adalah yang tebal, padahal belum tentu. Kualitas wool ditentukan dari bahan dan jenis wool itu sendiri seperti cashmere, angora, merino, lambwooll atau mohair yang ditentukan dari asal, proses pengolahan dan komosisi materinya itu sendiri. Jadi ada baju berbahan wool yang super tipis tapi lebih hangat dari jaket yang tebal misalnya. Sayang masih banyak yang nggak mengerti dan sulit percaya kalau diberi tahu karena logika berpikirnya memang beda.

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s