Cerpen A.A. Navis: Orang dari Luar Negeri

Pengantar: Dengan membagi cerpen ini di sini, aku bisa membacanya sewaktu-waktu, karena sepertinya belum ada di internet. Cerpen ini sempat aku bacakan di depan orang tuaku di meja makan, beberapa saat sebelum aku berangkat menuntut ilmu ke negeri orang dua tahun lalu. Gaya bercerita plus selera humornya tuh khas AA Navis banget! Orangtuaku dengerin sambil ketawa-ketawa (ngakak maupun “cengengesan”). Aku sendiri, saat mengetikkan cerita ini, masih aja ngga bisa menahan ketawa di bagian-bagian tertentu, gara-gara membayangkan perumpamaan-perumpamaan, adegan, tokoh, bahasa dan percakapannya.

Sampai sekarang, kadang-kadang istilah “etiket Eropah” dalam cerpen ini masih dipakai orang tuaku untuk menghina-hina aku. Pernah aku dimarahin supir bis di sana, gara-gara ngga bilang selamat pagi sama dia. Waktu itu aku lagi ngga mood bilang selamat pagi. Pagi buta aku harus berangkat dan nunggu kedinginan di terminal terbuka yang ditiup-tiup angin sedingin es. Suasana gelap dan dingin banget, rasanya beku kayak mau mati meski udah pake berlapis-lapis baju hangat dan jaket (ngga lebay loh ini). Ditambah, kurang tidur seperti biasa. Rasanya ngga ada tenaga untuk sekadar bilang selamat pagi.

Teguran supir bis itu bikin aku sadar, ngga ada alasan untuk ngga bilang selamat pagi ke dia. Setelah aku perhatikan, penumpang lain ngga ada yang luput bilang selamat pagi. Mulai dari anak-anak sampai oma opa. Mungkin ini hal kecil dan sepele, tapi ternyata sangat berarti sebagai wujud penghargaan kita ke Pak Supir yang bekerja mengantar penumpang sampai selamat ke terminal tujuan.

Gara-gara kejadian itu, sampai sekarang aku sering teriak selamat pagi atau makasih atau sapaan apapun lah. Aneh banget deh!

Udah dulu pengantar dariku. Selamat membaca cerpen ini!

***

Orang dari Luar Negeri

karya A.A. Navis

PADANGPANJANG adalah kota yang berbahagia. Aku di situ lahir. Hampir seperlima abad aku dihidupinya. Kota itu memang banyak memberi hidup. Di situ ada batukapur yang memberi hidup. Ada sungai yang memberi hidup. Ada pasar yang memberi hidup. Ada oto, ada kereta api yang memberi hidup, meski kadang-kadang orang mati juga digilingnya. Banyak sekolah yang memberi hidup. Banyak tentara, polisi dan kantor-kantor yang memberi hidup. Tapi di waktu perang Revolusi dulu, tentara dan polisi itu banyak juga yang mengambili hidup orang. Hujan banyak turun di situ, juga memberi hidup. Pada sawah dan tanaman tentunya. sawah dan tanaman itu memberi hidup pada manusia. Toko-toko banyak, juga memberi hidup. Dan rumah-rumah yang berjejeran di sepanjang jalan melindungi orang yang hidup.

Setahuku, tiada kota yang pernah kulihat, yang lebih hidup dari kota kelahiranku dalam memberi hidup. Jakarta tidak. Medan tidak. Bandung tidak, meski kota itu di kaki gunung juga. Di kota-kota itu orang hidup dengan mati-matian. Dan matinya, meski mati kehilangan nyawa seperti biasa, kadang-kadang caranya sangat mengerikan. Tidak juga seperti kota Denpasar, kota di pulau surga itu. Sebab sorganya cuma buat pelancong, tapi mereka juga bagi perempuan janda yang miskin.

Di kota kelahiranku tak seorang pun yang hidup dengan mati-matian. Mereka hidup seenaknya. Berjalan boleh lenggang kangkung. Setiap hari, dari pagi sampai tengah malam, orang dapat duduk-duduk atau bermain kartu di kedai-kedai kopi sambil menghutang segelas kopi, tanpa dapat masam muka dari si empunya kedai. Di kota kelahiranku memang air berlebihan. Hingga kemanapun kita bertandang, perempuan atau gadis-gadis cepat-cepat menyediakan minuman bagi kita. Air-air di kotaku tidak sejahat air di kali Musi atau Ciliwung. Tak ada banjir. Tak ada menghanyutkan  bangkai. Kalaupun ada orang terbenam di benuah bandar, itupun karena sakit sawan. Dan sisi kota jadi gempar.

Demikianlah kota kelahiranku yang bahagia yang banyak memberi hidup. Yang semenjak hampir lima belas tahun yang lalu telah kutinggalkan, karena takdir menghendaki aku hidup di tempat lain.

Namun bagaimanapun banyaknya sudah orang meninggalkannya, tapi tetap juga jadi kota yang berbahagia. Banyak orang yang sudah mendapat nama di situ (bukan nama yang diberikan di waktu lahir). Ulama-ulama di seluruh Sumatera Barat memulai kemasyhurannya di situ. Mula-mula ia belajar di situ. Kemudian namanya disebut di seluruh Nusantara, sebagai orang besar tanah air. Meskipun demikian, orang di kota kelahiranku tidak ketagihan membuat tugu-tugu. Untung juga tidak. Karena di masa sekarang tugu-tugu dibuat orang, seperti orang mencetak pamflet propaganda saja.

Memang kota kelahiranku kota yang berbahagia. Meskipun majunya tidak bukan main seperti kota lain, tapi dengan beringsutan ada juga. Terutama pada saat terakhir ini, telah bertambah lagi orang dari luar negeri. Orang dari luar negeri ini, orang-orang Indonesia juga. Kelahiran kota kelahiranku. Mereka belajar setahun dua di luar negeri. Dan kini mereka telah berpulangan. Memang dulu-dulunya orang dari luar negeri sudah banyak juga di kota kelahiranku itu. Tapi kebanyakan mereka itu karena jadi anak kapal. Atau petualang yang kecewa hidup, lalu pergi ke Malaya. Kadang-kadang petualangannya sampai ke Mekah. Pulang membawa sorban. Tentu saja mereka itu tidak banyak memberi kesan apa-apa untuk kota kelahiranku. Sebab memangnya mereka tidak untuk mendapat apa-apa pergi ke luar negeri itu. Ada memang, beberapa orang yang pergi ke luar negeri untuk belajar. Ketika pulang, mereka telah hapal ayat-ayat dan hadis-hadis. Lalu mereka jadi pemimpin ulung di seluruh Nusantara.

Tapi semenjak pemimpin ulung tidak dicetak di luar negeri lagi, semenjak partai-partai di Jakarta telah mampu mencetaknya, maka orang luar negeri menimbulkan harapan yang lain. Harapan yang ditimbulkan oleh kehendak akan ilmu yang praktis bagi hidup yang serba baru. Demikianlah terhadap orang luar negeri yang baru pulang , kota kelahiranku sedang menunggu suatu perobahan sejarah yang gemilang dulu dalam bentuk yang lain.

Apakah harapan itu akan terkabul dengan kepulangan mereka?

Aku hanya dapat mendengar ceritanya dari saudara sepupuku. Ia ini orang istimewa dalam tabiat dan wataknya. Dan oleh ceritanya itu aku dapat tersenyum.

Begini ceritanya: Kau kenal sama si Bahrum? Tidak? Si Bahrum anak Mak Jaya yang berlepau di simpang staasiun itu? Ia kan sudah pergi ke Eropah. Ia dapat tunjangan belajar. Lima tahun. Semenjak ia pergi, meskipun ia sudah jauh, tapi dalam semua percakapan dan angan-angan kami, ia selalu kami bawa serta. Kami ikut merasa bangga dia ada di Eropah itu. Tentu saja, bukan? Karena ia sahabat kami, kawan selapik seketiduran. Lebih-lebih di masa darurat dulu. Dan kalau salah seorang di antara kami menerima suratnya, berhari-hari lamanya surat itu dikantongi. Ke mana kami pergi, surat itu kami bawa. Seolah jimat yang keramat saja. Kepada setiap orang akan selalulah surat itu diperagakan. Orang-orang jadi kagum pada kami. Atau orang-orang jadi iri pada kami. Karena kami punya kawan orang luar negeri. Dan ini sangat menyenangkan hati kami.

Sekali rasa bangga kami meluncur juga. Seperti meluncurnya salju di puncak gunung ketika musim panas tiba. Kami tak bisa berlagak-lagak karena punya sahabat orang luar negeri. Seperti halnya salju yang cair menjadi air, kini tergenanglah di rawa-rawa, demikian pula kami. Hingga kami tak berani memperagakan surat-surat Bahrum yang datang.

Matahari yang datang mencairkan salju di puncak gunung kebanggaan kami itu, ialah seseorang yang baru kembali dari luar negeri. Ia setahun di Amerika. Dan ia tidaklah sahabat kami. Tapi ia orang kota kelahiran kami juga.

Gagahnya bukan main. Bajunya wol semua. Berdasi kupu-kupu yang saban hari bertukar saja ragamnya. Bertopi dan bermantel besar. Dan di bahunya tersandang tali kamerakecil. Langkahnya satu-satu. Dan setiap melangkah, satu anggukkan kepala. Jika mengingat betapa gantengnya, wah kami jadi seperti anak ayam yang mencericit di kerampang induknya bila ada elang di udara. Dan bila ia lewat dekat kami sedang berkelompok, lenyaplah segala tawa besar kami. Dan kepala kami jadi tertunduk tanpa disengaja, seperti ada malaikat maut lewat di dekat kami. Tapi mata kami mengikutinya dengan menyudut serta iringan hati yang mengiri.

Setiap sore, setiap pagi, di mana orang-orang ramai, ia akan lewat pada waktu-waktu yang tertentu. Ayahnya mengirimkan di belakang. Bila ayahnya bertemu dengan setiap orang, selalu ia menegur dengan tersenyum sambil memperkenalkan anaknya: “Ini anakku. Dari luar negeri. Dari Amerika.”

Kemudian ia pergi meninggalkan mulut orang yang melongo.

Dan yang menyakitkan hati kami benar, kekasih-kekasih kami ikut-ikut pula mempercakapkan orang Amerika itu bila setiap mulut mereka bisa terbuka. Segala pujian bukan untuk Tuhan lagi, tapi untuk orang Amerika itu, dan itu berarti, setiap celaan, setiap kehengakan hanya tertentu buat kami. Kami yang dari tahun ke tahun sepanjang umur kami, hanya tahu berbegar di sekitar dapur ibu saja.

Ketika terdengar sudah, bahwa orang Amerika itu mau cari bini, kawan-kawan yang punya kekasih cantik, jadi cemas. Dan segala gadis-gadis asik berbedak dan bergincu. Dan dengan pakaian serba baru mereka jadi rajin keluar rumah. Kurang ajarnya, jika mereka bertemu dengan kami, mereka tidak mau lagi omong dengan kami. Apalagi berjalan berduaan. Meskipun berjalan itu cuma kebetulan seiring jalan. Kami tahu maksudnya. Tentu saja supaya jangan disangka orang Amerika itu, bahwa dia sudah berpunya. Dan kalau orang Amerika itu lewat di hadapan rumahnya, beramai-ramai mereka ke depan, kadang-kadang juga sampai ke gerbang rumahnya. Lalu dengan semanis tengguli, mereka menegur, “Mampir duluuu.”

Memang merapung benar hidup kami ketika itu. Seperti ikan-ikan yang kolamnya dituba dengan  kapur saja.

Dan iapun tak pandai lagi berbahasa awak. Ia bicara dalam bahasa Indonesia saja. Meskipun kepada orang tua-tuanya di kampung. Kadang-kadang bercampur aduk dengan bahasa Inggris: “He yu. Kemon.” Atau sekali-sekali kami dengar: “Oke boi.” Kepada orang tua-tua pun sering ia bilang: “Oke boi.” Astaga bukan main dia itu. Lagaknya.

Pada suatu hari terbitlah matahari lain, hingga orang Amerika yang telah jadi salju di puncak gunung tertinggi itu lalu cair pula, meleleh seperti nanah ke luar dari telinga di dalam pandangan kami. Matahari itu seorang luar negeri pula. Ia ini dari Eropah. Dua tahun ia di situ. Jadi lebih lama.

Kau tentu kira, ia akan lebih ganteng, bukan? Ya. Ia lebih ganteng. Selain semua peragat apa yang pernah dibawa orang Amerika itu pulang, iapun membawa skuter. Lambretta mereknya. Mengikuti jejak orang Amerika yang selalu diiringi ayahnya, maka skuter itu merang-raung setiap petang dan pagi. Suaranya mengatasi segala kekaguman orang terhadap si Amerika selama ini. Lain daripada dasi dan topi dan mantel, ia juga pakai sarung tangan. Sarung tangan putih. Bila ia bersalaman dengan gadis-gadis barulah sarung tangannya itu dilepaskannya. Tentu ini maksudnya mau merabai kelembutan tangan gadis, kiraku. Tapi kemudian ia katakan itu etiket.

Tentu kau kira sekarang, pongahnya dua kali lipat, bukan? Tidak. Hatinya rendah bukan main. Hingga terjela-jela dan kadang-kadang rasa-rasa dapat dipijak saja.

Ia jadi sahabat kami. Selalu ia suka datang ke kedai di mana kami biasanya menghabiskan hari. Dan ia omong-omong dengan kami. Banyak sekali omongannya. Sebaiknya matanya tertutup saja hendaknya. Kalau ia sudah melihat sesuatu seperti kebisaan orang kita, lalu ia bilang, “Tidak seperti di Eropah.”

Ia lihat jalan becek, lalu ia bilang, “Tidak seperti di Eropah.” Banyak lalar, dia bilang, “Tidak seperti di Eropah.” Berebut-rebut orang naik kereta api atau beli karcis bioskop, ia bilang, “Tidak seperti di Eropah.” Dilihatnya anak-anak telanjang dalam hujan, dia bilang,”Tidak seperti di Eropah.” Semua-muanya dibandingkannya dengan Eropah saja. Dan cerita itu membikin kami ingin pula ke Eropah.

Tahu kau bagaimana ceritanya? Katanya ia sudah pergi ke Skandinavia. Katanya, gadis-gadis di situ dapat dipeluk saja bila mau. Dan sambil berbisik dia bilang, “Tahu kalian, di negeri itu tidak ada gadis yang perawan?”

“Eh. Jadinya kalau begitu, gadis di sini saja yang dilahirkan punya perawan?” tanya kami keheranan.

“Oh. Bukan begitu, maksudku. Perawannya dengan mudah mereka berikan,” katanya dengan sungguh-sungguh.

“Bagaimana kau tahu?” kami ingin tahu.

“Sudah kau coba?” tanya kami lagi ketika ia hanya ketawa menjawab pertanyaan kami.

Sekali lagi ia ketawa. Tapi pertanyaan kami tinggal pertanyaan saja. Sebab kemudian ia bilang tentang gadis-gadis di Negeri Belanda. Betapa pula di Paris. Lain lagi di Roma. Dan cerita-ceritanya itu membikin kami ngiler.

“Dan di Napoli,” katanya lagi, “kita dapat menyewa kamar hotel dengan 1000 lira semalam. Lengkap dengan seorang perempuan untuk kawan tidur.”

“Ondeh, Mak. Seribu semalam?” kata kami terkejut.

“Di Jakarta 100 rupiah sudah hebat,” komentar yang lain.

“Seribu lira itu cuma 10 rupiah saja. Dan perempuannya potongan Gina tulen,” katanya.

Kami senang sekali mendengar ceritanya yang demikian. Karena ceritanya itu, selamanya kian lama kian menarik. Jauh lebih menarik dari segala cerita cabul yang dilarang polisi menyiarkannya.

Tapi pelitnya orang Eropah itu bukan main pula. Dalam sesering itu kami mengobrol di kedai kopi, haram sekali ia yang membayar. Selalu saja kami yang kena. Tapi kami selalu senang ke padanya. Bukan saja ia punya cerita yang menagihkan, juga ia sangat hormat kepada kami. Kalau salah seorang kami mengambil rokoknya, cepat-cepat ia bertindak. Rokok itu ia ambilkan buat kami. Lalu disuguhkannya dengan segala hormat. Lalu diambilnya korek api. Dicetuskannya. Lalu dibakarkannya rokok kami. Dan sebaliknya, kalau kami pula yang menyuguhkannya rokok, lalu kami bakarkan pula, selamanya dengan mengangguk ia ucapkan terima kasih. Katanya, cara demikian juga etiket buatan Eropah.

Tapi dalam hal ini, aku memang kurang ajar benar. Kalau aku mau mengisap rokoknya, lalu aku katakan, “Sim, aku mau merokok.”

“Oh,” katanya. Dan dengan cepat ia menyuguhkannya padaku. Lalu dibakarkannya pula.

“Terima kasih,” kataku menirukan suara rendahnya dan lagak tingkahnya juga.

Melihat aku terlalu sering berbuat demikian, kawan-kawan lainnya pun berbuat demikian. Maka jadilah orang Eropah itu jadi tukang suguhkan dan tukang bakarkan rokok kami. Tapi kalau kami sama kami saja, kami hanya seperti biasa yang kami lakukan. Ambil sendiri dan bakar sendiri. Akhirnya ia tahu juga etiket buatan Eropahnya itu hanya kami tempel-tempelkan pada mukanya saja. Dan ia merasakan kelakuan kami seperti mengejek. Kemudian ia tak mau lagi berbuat demikian. Maka kembalilah ia jadi orang Minangkabau tulen lagi.

Kalau ia bicara dengan kami selamanya dengan tenang. Tidak tergopoh-gopoh. Tapi satu kata demi satu kata. Dan selamanya ia tak mau bicara berebutan. Kalau ia  hendak menyela, selamanya ia akan berkata, “Tunggu dulu. Boleh aku menyela?” Atau kadang-kadang ia bilang “Maaf. Aku ingin bicara.”

Tapi aku ini juga yang kurang ajar. Akupun meniru dia itu. Dan kawan-kawan pun berbuat demikian pula. Bicara satu-satu dan pelan-pelan. Dan kalau mau menyela, kami bilang, “Tunggu dulu. Boleh aku menyela?” Atau kami katakan, “Maaf. Aku ingin bicara.” Tapi kami keseringan berbuat demikian, bila di dekatnya. Dan bila kami dengan kami saja ya seperti orang awak saja. Kelibut. Siapa yang keras suaranya, ialah yang didengar. Ialah yang menang. Akhrinya ia kembali jadi melayu lagi, setelah tahu kami terlalu banyak cemooh.

Sekali hari ia bilang, ia telah membalaskan dendam bangsa kita terhadap Belanda.

“Bagaimana?” tanya kami serentak.

“Aku telah menghardik-hardik Belanda itu di negerinya sendiri. Aku perintah-perintah ia seperti jongos. Angkat ini. Ambil itu, kataku dengan membelalakkan mataku besar-besar, seraya menunjuk dengan tangan kiriku,” katanya seraya mencobakan gerakan tuan menghardik jongosnya.

“SIapa-siapa yang kau damprat? Juliana juga?” tanya kami pula.

Ia tertegun dari omongannya. Dan matanya berputar-putar kehilangan kata melihat kepada kami.

“Tentu jongos-jongosnya saja, bukan?” tanya kami lagi.

“Biar jongos, tapi kan Belanda?” sela yang lain.

“Tapi Belanda itu pernah menghardik Datuk kita, ketika Datuk kita itu masih jadi loper,” kata yang lain.

Dan akhirnya pembicaraan kami jadi meriah dan kami tertawa terbahak-bahak. Sedang orang Eropah dua-tahun itu sudah bungkem suaranya. Dan untuk seterusnya hilanglah dengungan cerita Eropah di telinga kami.

Namun demikian tiba juga pertanyaan-pertanyaan dalam hati kami. Bagaimana pula lagaknya si Bahrum kalau ia pulang nanti. Yang setahun di luar negeri, sudah kami lihat poaknya. Yang dua tahun, sudah kami ketahui pula lagaknya. Dan Bahrum lima tahun di luar negeri. Kalau tidak lima kali lipat orang Amerika, tentukah sekurangnya dua kali lipat orang Eropah dua tahun itu dalam segala gaya dan bawaannya.

Kembalilah kami mengomongi sahabat kami itu. Tapi kami tidak bicara tentang surat-suratnya lagi. Karena kini terasa suratnya itu tak ada isinya sama sekali, selain cerita ilmu bumi anak sekolah saja sampainya kepada kami. Dan cerita-ceritanya tentang perempuan, orang Eropah dua tahun punya cerita lebih serem. Cuma kini kami merekakan lagak bagaimana pula yang akan kami tonton kelak. Tambah dekat ia pulang, tambah seringlah kami mengomonginya.

Dan kamipun sama sepakat, bahwa si Diah, tunangannya, gadis yang telah 28 tahun umurnya, akan sia-sia menunggu. Kini badannya sudah kerempeng. Tapi putihnya bertambah-tambah. Sebab tak pernah berpanas matahari lagi, dan rajin berbedak tebal-tebal. Namun kepandaiannya sudah bertambah-tambah juga. Segala macam kursus dimasukinya. Dari menjahit, menambal dan menyulam, sampai pada menghias bunga dan muka. Dan kepandaiannya memasak, konon kabarnya sejak dari Barat, melalui India terus ke Timur Jauh. Maksudnya tentu mau menempatkan dirinya sebagai bidadari si Bahrum itu. Tapi dia tidak tahu, bidadari si Bahrum bisa menari-nari dengan telanjang di hadapan orang ramai di Eropah itu. Dan tentu saja si Diah tak pernah memperolah surat yang berisikan kisah bidadari Eropah itu.

Akhirnya Bahrum tibalah. Apa yang kami duga selama ini, meleset sama sekali. Cuma satu yang tidak meleset, yaitu tentang kesia-siaan si Diah menunggu hingga berunur 28 tahun. Baru saja ia turun dari kapal dan bertemu dengan Diah yang matanya menyinarkan kelaparan cintanya, Bahrum hanya bilang “Eh, si Diah.”

Ketika si Bahrum pulang itu, sama saja keadaannya dengan ketika ia pergi dulunya. Mamamg ia punya pakaian wol juga, tapi wolnya wol kasar. Kaus kakinya usang, sama usangnya dengan sepatunya. Dan hatinya, seperti hati si Bahrum dulu juga. Meski ada kelainannya. Itu pun dalam pembawaan bicaranya saja. Ada juga etiket buatan Eropahnya ia bawa, selain etiket-etiket itu, ia juga bawa skuter. Juga sebuah piano dan radio pikap dan sebuah teprekorder, Sebuah mesin tulis dan kamera tak ketinggalan.

Ya. Tentu saja ia rendah hati dan tidak punya tingkah dibikin-bikin. Aku kira, karena ia seorang seniman. Ia belajar musik di situ. Terutama biola. Dan kami mengira-ngirakan, tentulah ia sudah sehebat Jasha Heifetz atau Yehudi Menuhin benar-benar. Sedangkan dulu ia sering bilang, bahwa ia Yehudi Mehuhin Indonesia.

Tentu saja kami ingin benar mendengar betapa seronoknya gesekan biolanya. Betapa pula jari-jari kirinya menari-nari di atas tali. Apa sudah seperti lidah ular yang kehausan cepatnya. Dan biolanya hebat benar. Dari kayu yang sudah 300 tahun usianya.

Maka sekali hari, ketika orang-orang tidak ramai lagi mengunjunginya, kami datang. Kami datang bukanlah hendak mendengar cerita luar negerinya lagi, sebab cerita luar negeri itu sama saja dengan cerita siapapun juga. Keinginan kami hanyalah hendak mendengarkan gesekan biolanya.

“Rum. Coba main, ah,” kata kami. “Rindu benar kami mendengar mainmu.”

Ia hanya tersenyum. Barulah setelah kami berulang mendesaknya ia pergi ke kamarnya. Kami kira tentu ia mengambil biola. Dan hati kami bukan main senangnya. Tapi ketika ia keluar, ia hanya menjinjing teprekorder. Dan ketika teprekorder itu berbunyi, kedengaran lah suara biola dengan iringan piano. Maka ia mendengarkannya dengan  sungguh-sungguh. Bunyinya nget ngot nget ngot saja. Dan kami tidak mengerti. Dan kami tidak merasakan keindahannya.

“Kau yang mainkan itu?” tanya kami.

“Yang main piano kau juga, ya?” tanya yang lain.

Kemudian katanya, “Masa bisa orang main biola sekaligus dengan piano.”

“Les Paul konon kabarnya bisa. Ia main gitar, ia main hawaian dan ia pula main bas. Isterinya menyanyi dalam empat suara. Kenapa ia bisa, kau tidak?” kata kami.

“Yang main piano itu seorang nona,” katanya menyahuti tanya kami.

“Tunangannya, yaaa?” kami bertanya dengan nakal-nakalan.

Dan ia mengerdipkan matanya sebelah. Kemudian ia ceritakan segala rencananya dengan segala alat-alat yang ia bawa.

“Aku mau menyelidiki lagu-lagu daerah kita. Lagu-lagu rakyat di daerah kita, tidak kalah indahnya dengan lagu rakyat Eropah” katanya.

Kemudian ia berbicara panjang sekali tentang rencananya yang sudah lama diperamnya di luar negeri. Ia juga menceritakan, bagaimana lagu-lagu orang Janggi di Spanyol. Bagaimana polka-polka di Eropah Timur. Lalu musik orang Negro yang telah menyusup ke seluruh jiwa pemuda di seluruh dunia. Kami mengangguk saja mendengarkannya seraya dengan mulut yang ternganga.

“Piano yang kubawa itu, untuk penyusun  kembali lagu-lagu yang telah kuselidiki. Teprekorder untuk menyalin lagu-lagu asli di kampung-kampung. Kamera untuk foto dokumentasi. Mesin tik, ya tentu saja untuk mentik hasil penyelidikan ilmiah tentang musik daerah. Dan pula untuk mempertinggi selera tukang musik kita di sini,” katanya.

Apapun cita-citanya yang diuraikannya dengan penuh semangat, namun dalam hati kami mendesak-desak juga rasa ingin tahu bagaimana kepandaiannya memainkan biola setelah jarinya disepuh lima tahun di Eropah itu. Ingin tahu kami itu, kian besar juga. Dan akhirnya kami desak juga supaya ia mainkan biolanya yang dari kayu 300 tahun itu. Akhirnya ia main juga setelah ia tak dapat mengelak lagi oleh desakan kami. Tapi lagunya nget ngot nget ngot seperti yang dibunyikan teprekorder tadi juga. Lalu kami minta saja ia memainkan lagi “Pelayaran”. Sebab lagu itu lebih kena di hati kami. Dan tentu saja kami kira, kalau ia memainkannya lebih seronok dan lebih sahdu. Maklum jari-jarinya sudah lima tahun disepuh oleh Akademi Musik.

“Kalau demikian saja cara mainmu, kakek Taik tentu bisa jadi profesor biola di Eropah,” kata kami setelah ia selesai.

Sungguh kami heran benar, kenapa orang luar negeri jadi kaku memainkan lagu nenek moyangnya. Percuma saja ia sekolah lima tahun di Eropah. Lebih baik uang sekolahnya yang telah habis sebanyak itu, digunakan oleh Pemerintah untuk pembrantas kemiskinan.

Dan mendengar komentar kami itu, rupanya tersinggung benar perasaannya. Hingga sampai sekarang, tak pernah lagi kami mendengar gesekannya.

Kemudian ia jarang bersua dengan kami. Sebab, katanya, ia lagi sibuk. Tiap sebentar ia pergi ke kantor Pemerintah di Bukittinggi. Kami kira mulanya ia mau minta kerja. Dan kami jadi heran, kenapa seorang pemain biola minta kerja di kantor. Tapi rupanya ia sedang merencanakan pendirian sebuah sekolah musik. Pemerintah sudah setuju. Dan meminta kepadanya untuk membuat rencananya. Siang malam ia bekerja membuat rencana itu. Hingga badannya kelihatan jadi kurus dan pucat. Dan ketika rencananya selesai, diajukannya kepada Pemerintah.

“Ini rencana apa?” kata orang Pemerintah itu. “Mana anggaran belanja pegawainya? Mana anggaran pembangunan gedungnya? Bagaimana sekolah bisa berdiri kalau gedungnya tidak ada?”

“Yang penting bukan gedungnya. Tapi rencana sekolahnya,” kata Bahrum.

“Ya. Sekolah itu kan gedung?” kata orang Pemerintah itu tak mau kalah. “Rencana ini tidak laku.”

Dan semenjak itu, taklah lagi ia menyibukkan dirinya dengan kantor-kantor Pemerintah itu. Dan mukanya selalu berkerut masam dan hatinya selalu meluapkan benci. Apalagi ketika orang-orang Pemerintah selalu mengiriminya surat, supaya segera menjadi pegawai Kantor Pemerintah, sebagai pemenuhi perjanjian Ikatan Dinasnya.

“Biar aku masuk penjara saja,” katanya menggerutu. Lalu kepada kami ia katakan, “Kalau aku jual segala barang-barang yang aku bawa dulu, berapa harganya kira-kira?”

“Piano dan pikap itu?” tanya kami heran dan penuh harap. Sebab kamipun ingin juga menolong menjualkannya, karena mencatut adalah pekerjaan kami juga.

“Semuanya,” katanya.

“Biola juga?” tanya kami.

“Ya. Biola juga,” katanya tegas.

Dan kini keheranan kami jadi bertambah. Lalu kami tanya ia lagi, “Hendak jadi apa kau lagi?”

“Aku mau beli tanah. Aku mau jadi petani. Itu lebih baik,” katanya. Bagaimana itu, pikir kami, sudah begitu lama belajar musik, di Eropah pula, kini mau jadi petani.

Dan semenjak itu kami hanya mendengar keluhan dan kebenciannya yang meluap-luap kepada setiap orang. Serupa saja tabiatnya dengan orang Amerika itu, yang setiap hari mengeluh karena tak dapat berdangsa. Dan di Eropah dua tahun mengeluh juga, karena tak punya uang. Sudah mengeluh, mereka mencela. Habis mencela mereka mengutuk.

Kami tak mengerti sama sekali, kenapa mereka jadi demikian. Padahal jika menurut pepatah orang tua-tua, kalau nak tahu disayang kampung, pergilah merantau. Tapi barangkali juga, karena orang yang membuat pepatah itu yang salah. Karena merantaunya orang dahulu tidak sampai ke luar negeri.

Akhirnya semua orang keluaran luar negeri itu pergi. Perginya lain dari perginya orang Belanda dan Jepang yang betul-betul orang luar negeri tulen. Mereka itu pergi dengan hati sedih karena meninggalkan Indonesia kita yang makmur dan sentosa. Sedang orang luar negeri buatan dalam negeri itu, perginya karena benci dan mengutuki tanah tumpah darahnya. Apakah tidak aneh itu?

Dan si Amerika, setelah belajar ilmu pertanian di Amerika kini ia bekerja di kantor. Menulis-nulis surat di Kementerian. Dan di waktu ia pergi ke Kementerian, sawah orang tuanya digadaikannya pula. Dan si Bahrum, yang belajar kesenian, lebih suka jadi petani. Hanya si Kasim yang lain pendiriannya. Ia belajar ilmu grafika di Eropah. Dan kini ia bekerja di Kebayoran mencetak uang. Meskipun percetakan orang tuanya dibiarkannnya saja diinjak dengan kaki baru jalan. Tapi itu bolehlah, setelah ia pandai mencetak uang banyak-banyak, tentu ia takkan mengeluh oleh sebab kekurangan uang lagi.

Apakah tidak aneh orang luar negeri buatan dalam negeri itu, menurut sangkamu?

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

5 thoughts

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s