Kawan-kawanku para pejuang

Lebaran kali ini, aku dapet kejutan berupa: kunjungan satu kawan lama bersama tiga kawan baru! Mereka sedang dalam perjalanan darat naik mobil pribadi dari Garut, muter-muter, lalu kembali ke Garut. Di luar rencana, sampai di Kebumen, kawanku itu ingin mengunjungiku. Mereka pun mampir ke tempatku selama dua hari. Kami keliling-keliling kota dengan senang hati. Kejutan yang menyenangkan!

Mula-mula, aku malu-malu karena belum kenal dengan mereka semua. Ternyata mereka baik-baik. Mungkin karena mereka sudah dewasa dan terbiasa bergaul dengan banyak orang, sehingga pembawaan mereka menyenangkan dan menentramkan (duh, ge-er kali lah mereka ini 😛 ).

Entah seperti apa kesan pertama mereka terhadapku. Yang jelas, saat pertama kali mereka melihatku, aku sedang duduk di bawah pohon besar, dengan ransel batik dan sepeda terlipat. Suara klakson mobil mereka terdengar dari seberang jalan, tapi aku baru ngeh setelah mendengar namaku dipanggil-panggil. Dari balik kaca jendela yang diturunkan perlahan, aku mengenali wajah kawanku yang sedang duduk di kursi supir. Dia tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar. Kepala kotaknya masih sama saja seperti dulu 😀

Aku menyeberang jalan sambil menjinjing sepeda lipat yang dibelikan ibuku 25 Februari lalu. Sepeda itu aku taruh di bagasi. Kesan pertamaku tentang mereka muncul di momen itu: barang bawaan mereka sangat rapi di bagasi. Kesan pertama yang bagus, tentunya.

Sebelum bertandang ke rumahku, mereka tertarik untuk minum kopi dan mengisi perut dengan makanan ringan. Kami berhenti di satu kafe merangkap wisma yang sudah berdiri sejak 1930-an. Meja bundar yang dikelilingi lima kursi kayu bernuansa antik menjadi tempat mereka menyantap roti tuna, kentang goreng dan kue dadar coklat dengan es krim vanila di atasnya. Perutku masih kenyang karena aku baru saja makan. Hanya segelas soda limau yang kupesan untuk sekedar membasahi kerongkongan.

Di atas kami, ada lampu gantung bergaya kuno dan di dinding ada dekorasi keramik biru bergambar kincir angin dari Delft. Aku dan kawanku berpandang-pandangan. Keramik itu mengingatkan kami pada memori yang jauh. Kawanku ini adalah rekan kuliah S2 di Belanda dulu. Dia ambil spesialisasi Pembangunan Pedesaan dan Pertanian, sementara aku ambil spesialisasi Lingkungan dan Pembangunan “Berkelanjutan”. Kami sama-sama ada di bawah payung “Agrarian and Environmental Change”, yang artinya, kami punya satu kelas bersama dan satu perjalanan studi banding bersama. Di kafe itu, sedikit demi sedikit rahasia kawanku ketika berkuliah di Belanda berhasil dikorek dariku oleh tiga kawan yang lain, termasuk panggilan sayang dan kisah romansanya yang jadi bahan celaan tak terlupakan.

Selesai mengisi perut, kami justru pergi ke bioskop untuk menonton film Indonesia. Aku cukup tersentuh karena mereka sama sekali tidak membiarkanku membayar sepeserpun untuk pengeluaran kami. Katanya, sebagai peneliti, lebih baik uangku ditabung. Mereka ada benarnya, tapi tetap saja aku merasa mereka sangat baik dan bersahaja (ceileh …). Mungkin mereka merasa berterima kasih karena menginap di tempatku dan menggunakan “jasa”-ku sebagai penunjuk jalan. Padahal aku sendiri sudah cukup senang dan menikmati jalan bersama mereka. Tempatku juga sudah biasa menjadi tempat menginap orang-orang yang datang ke kota kami.

Usai menonton, kami pulang disambut masakan nenekku yang “Padang total”. Segala makanan yang serba berminyak, bersantan, bercabai dan identik dengan kolesterol, merupakan hidangan khas keluarga kami. Kawanku itu sangat tergila-gila dengan teri sambal hijau. Untunglah ikan bilis yang sempat dibeli di Pasar Payakumbuh Juli lalu sudah dimasak dengan lado hijau, ditambah gulai nangka, rendang dan dendeng sebagai pelengkap 😛 . Di hari lebaran, keluarga kami memang sudah biasa mempersiapkan porsi ekstra untuk tamu yang akan berkunjung. Makan bersama sambil bertukar cerita pun terasa nikmat tanpa repot.

Di malam hari, kami nongkrong-nongkrong di balkon sambil bercerita. Aku senang mendengar cerita mereka. Di sela-sela canda, aku antusias mendengar cerita-cerita mereka tentang perjuangan. Rupanya mereka melakukan perjalanan darat di liburan Lebaran ini dalam rangka mencari tenaga kerja serta pengrajin untuk wirausaha yang sedang mereka rintis. Sebelumnya, mereka berempat adalah teman kerja di penanggulangan bencana Aceh. Singkat cerita, setelah lima tahun, proyek mereka diberhentikan oleh bupati setempat (tidak mendapat perpanjangan izin). Satu di antara mereka sudah dapat pekerjaan lain di Jakarta, sementara dua lainnya mulai berwirausaha. Selain usaha online ticketing yang sudah berjalan dua bulan ini, mereka membuka usaha cuci mobil, juga dagang dompet, tas, dan lain-lain. Dalam perjalanan kali ini, mereka mengunjungi sentra industri kulit dan lain-lain. Di hari kedua bersamaku, kami melihat-lihat beraneka jenis tas hasil karya pengrajin lokal di pasar tradisional. Mereka ingin menjajaki kerjasama dengan pedagang serta menilai produk-produk yang kira-kira potensial untuk dipasarkan.

Satu kawan sangat berdedikasi untuk berkeliling pasar sementara yang lain ingin minum es kelapa (salah satunya ada yang “sakaw” minum kopi, bukan aku). Lagi-lagi aku ditraktir es kelapa dan bakso, sementara mereka makan sate lemak ayam yang akhirnya tidak habis termakan karena mereka ngeri dan merasa itu lemak itu berbahaya untuk kesehatan.

Telepon seluler berdering, tanda satu kawan itu sudah selesai berbelanja. Kami bertemu lagi dan melanjutkan perjalanan untuk makan gudeg di ruang terbuka. Makan gudeg seperti menjadi satu keharusan ketika orang berkunjung ke kotaku. Mereka senang sekali, karena rasa gudeg yang tidak manis, harga yang murah, dan suasana yang semilir. Justru dalam suasana super santai itulah aku sempat merenung. Sudah lama aku tidak mendapat pertanyaan yang membuatku berpikir panjang, dan sewaktu makan gudeg ini ada satu pertanyaan yang membuatku benar-benar berpikir. Pertanyaan itu sederhana dan biasa, tapi rahasia!

Ketika malam menjelang, tibalah waktu kami untuk gila-gilaan!

Masih sempat kami bertemu dengan satu kawan lain yang baru balik dari Semarang saat makan malam. Senanglah kami bisa melepas rindu dan ngobrol meski hanya sebentar. Kami tidak bisa berlama-lama karena kawan berempat tadi harus pulang awal dan tidur cepat karena mereka hendak melanjutkan perjalanan pukul tiga buta keesokan harinya. “Untuk menghindari macet semasa mudik lebaran ini,” kata mereka.

Malam sebelum mereka pulang, masih aku belajar dari cerita yang mereka bagi tentang satu saudara mereka yang juga menyelesaikan sekolah S2 di Belanda. Tidak ada yang mudah dan glamor. Beberapa tahun, saudara mereka itu sempat bekerja sebagai tukang cuci piring dan cuci mobil sepulang kuliah, dan istrinya sempat bekerja sebagai resepsionis agar mereka dapat sekadar melanjutkan hidup. Namun sekarang, kehidupan saudara mereka itu mulai menyenangkan. Saudara mereka itu mendapat pekerjaan di satu LSM di Bali. Seminggu sekali ia bisa menjalani hobi surfing-nya di Kuta. Istrinya juga merasa cocok dengan budaya Bali. Akhir cerita, kami saling mendoakan dan menyemangati agar semua cita-cita tercapai, semoga suka duka perjuangan bisa kami jalani …. *gaya ah, peluk-peluk haru*

Kawan, kunjungan kalian singkat tapi sungguh berkesan. Terima kasih sudah beramah-tamah dengan keluargaku, mendoakan nenekku supaya panjang umur dan memuji masakannya sampai wajahnya sumringah. Terima kasih sudah berbagi cerita. Lain kali datanglah lagi!

Advertisements

One thought on “Kawan-kawanku para pejuang

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s