Pertanyaan dari Kondangan

Image
Serius amat ya, percaya aja aku gombalin ­čśŤ

24 Juni 2012

Mana ada tamu pernikahan yang lebih kurang ajar dari kami? Malam sebelum resepsi pernikahan, kami berempat tidur menjajah ranjang pengantin yang udah didekor romantis dengan bunga-bunga, seprei berlapis-lapis dan bantal besar-kecil yang tertata harmonis. Bukan bermaksud mengusir kedua mempelai, tapi tahu sendiri, harga-harga di Singapura tidak ada yang bersahabat dengan kantong cekak. Teror dari harga-harga penginapan itu sempat membuat kami ragu untuk hadir … sampai sobat kami, sang mempelai perempuan dari Singapura, menawarkan pada kami sebagai tamu internasional┬áuntuk menginap di rumahnya. Karena tabiat kami yang kurang sensitif membedakan tawaran serius atau basa-basi, kami pun mantap bilang oke, lalu benar-benar hadir untuk memberikan dukungan moral plus ikut ngrusuhin┬ángramein, merayakan hari bahagia mereka. Tapi, kami sama sekali ngga tahu kalo mengiyakan tawarannya itu berarti mendepak kedua pengantin untuk tidur di luar kamar: satu di sofa panjang, satu di tumpukan sajadah di atas karpet, tepat semalam sebelum resepsi.

Bukannya segera tidur, kami malah ngobrol-ngobrol dulu dengan alasan masih jetlag (alasan ngga mutu dan ngga nyambung banget). Tamu internasional dari Belanda, Martiene (tuh yang pake baju putih bunga-bunga), “gumunan” banget dengan resepsi a la Asia. Maklum, ini resepsi internasional pertamanya. Dia sangat heran dengan tamu yang diundang sejumlah 700 orang. Menurutnya, itu terlalu banyak.

“Kok mau, mengundang orang sebanyak itu? Tentu biayanya mahal sekali!”

Dia membandingkan dengan pernikahan di Belanda, di mana maksimal tamu undangan hanya 100 orang.

“Siapa saja tuh 700 orang? Kalau aku paling hanya mengundang teman dekat saja, yang asik-asik. Teman-teman di tempat kerja ngapain diundang?”

ujarnya menambahkan.

Ya, di Belanda sih bisa begitu. Coba di sini, di Asia. Kalo ngga mengundang seluruh sanak, saudara dekat sampai jauh, handai taulan, tetangga, kerabat, teman, rekan, kenalan selengkap-lengkapnya, dan seterusnya, keluarga pengantin bisa ngga enak sendiri. Pihak keluarga rela dan memang (mungkin) udah mempersiapkan biaya untuk mengundang sebanyak mungkin tamu di acara perayaan “sekali seumur hidup” macam pernikahan gini. Tidak ada yang terlalu mahal demi rasa kebersamaan, ┬ájuga supaya predikat “pelit” tidak menghinggapi keluarga tersebut. Di Asia, pernikahan tidak bisa dianggap sebagai urusan yang terlalu personal seperti di Belanda. Yang bener aja? Banyak sekali tekanan sosial, adat, keluarga yang ikut melibatkan diri dalam segala tahapan.

Kayaknya klise kalo ngomongin kalimat semacam, yaa ngga bisa donk kalo semuanya diukur dengan uang, kebersamaan kan jauh lebih berharga bla bla bla …. Aku coba pake cara berpikir Martiene yang berada dalam kerangka “uang”, “harga/biaya”, “mahal”, “boros”.

“Martiene, kamu ngga tahu ya kalo banyak ‘pernikahan Asia’ justru menghasilkan uang? Bukan boros, seringkali jumlah uang di kotak sumbangan pengantin itu lebih banyak dari biaya yang mereka keluarkan. Kamu ngga bisa berharap terlalu banyak kan, kalo tamu yang kamu undang cuma 100 orang?”

Martiene, tipikal Belanda yang cenderung perhitungan soal uang (termasuk uang orang lain), terlihat lebih lega dan ngga setegang sebelumnya.

“Bagus juga kado pernikahan berupa uang. Apalagi kalo tamu undangan banyak sekali seperti ini. Tamu undangan yang hanya seratus saja seringkali memberikan kado yang sia-sia. Misalnya, pengantin jadi punya terlalu banyak seprai. Ada temanku, sampai sekarang belum memakai semua seprainya karena dia punya terlalu banyak dari kado pernikahan!”

Gantian aku yang agak “gumun” mendengar cerita Martiene setelahnya. Dia bilang, calon pengantin Belanda zaman sekarang punya website atau semacamnya, berisi daftar barang-barang yang mereka inginkan. Jadi tamu ngga perlu bingung mau kasih kado apa. Tinggal lihat daftar tersebut, lalu menuliskan nama mereka di samping nama barang yang akan mereka kasih. Dengan cara ini, ngga bakal ada tuh kado yang sia-sia atau kado dobel. Karena semua undangan tahu apdetan daftar itu. Siapa yang akan memberikan kado apa. Barang apa yang udah atau belum dibelikan. Terbuka banget!

Apa yang umum dan wajar di Belanda, kayaknya belum kurang umum ya kalo di Asia sini?

Kembali ke masalah biaya, ngga semua pernikahan di Asia bisa “surplus”. Tetap ada risiko “besar pasak daripada tiang”. Kenapa risiko itu tetap diambil? Demi rame-ramean?

“Maksudnya, mungkin keluarga pengantin bisa sedih kalo tamu di acaranya kurang rame. Bisa-bisa keluarga dan pengantin berpikir, kenapa ngga ada yang suka sama aku?”

Mendengar ini, Martiene langsung nyambung. Dia pun cerita tipikal Belanda banget dan bikin kami senyum-senyum sendiri, karena mau ngakak ngga tega.

“Bener banget tuh. Ada saudaraku menikah. Untuk resepsi dia udah menganggarkan 100 euro per orang untuk makanan, makan siang, dan bir di malam harinya. Tapi, ketika teman-teman yang diundang itu diajak untuk ikut pesta bujangan semalam sebelum resepsi, mereka menolak. Gara-gara, untuk pesta bujangan itu, mereka harus bayar 50 euro per orang. Mereka itu bodoh sekali ya, tidak ingat kalau mereka dapat makan gratis di resepsi seharga 100 euro. Cuma keluar uang 50 euro aja ngga mau!”

Mendengar cerita-cerita itu, ada komentar bahwa orang Belanda itu individualis banget. Komentar ini bikin aku bertanya, “bener ngga sih?”. Sampe saat resepsi di tengah berlimpahnya makanan-makanan enak, hawa laut dan angin sepoi-sepoi, aku masih mikirin ini. Bahkan sampe balik ke Indonesia, aku masih mikirin ini. “Bener ngga sih?”

Bukannya aku membela orang Belanda, tapi evaluasi diri aja. Kalo dilihat dalam dimensi lain, kadang aku pikir (kayak di Indonesia) mungkin kesannya aja “kebersamaan”, misalnya dalam resepsi pernikahan yang rame-rame. Tapi sebenernya di sisi lain lebih individualis juga. Maksudku tentang sistem jaminan sosial (duh jadi berat banget ya).

Kalo emang di Belanda itu lebih individualis, apa mereka mau bayar pajak progresif lebih dari 50 persen penghasilan untuk membiayai sistem jaminan sosial orang-orang yang berada dalam posisi “kurang beruntung” di negaranya? Artinya, paling ngga ada lah sedikit upaya mereka, untuk setidaknya peduli, untuk bareng-bareng ikut “menanggung penderitaan” orang sebangsanya,┬ásecara sistematis dan kontinyu.

Kenapa dalam hal ini kita di Indonesia kayak semacam “individualis” ~ ┬ámaksudnya ya, yang penting kerja aja dan dapat uang. Kalo bisa ya, cukup untuk kebutuhan hari-hari. Ngga peduli misalnya biaya pendidikan ngga terjangkau orang banyak, dsb. Yang penting diri sendiri (ini aja udah cukup ribet). Kalau ada lebihnya ya, berilah sumbangan semampunya (yang penting ikhlas) untuk beberapa anak tidak mampu.

Ada yang bilang, kenapa orang Belanda bisa kayak gitu, karena mereka pernah kena krisis berat. Dalam krisis itu, semua orang terkena dampaknya. Kalo ngga salah resesi tahun 1930an, depresi besar. Ngga ada yang imun dari krisis. Nah, sejarah pengalaman kolektif traumatis itu ngga mereka lupakan. Ketika suatu masyarakat bisa berpikir,

“oh, bisa jadi suatu hari nanti aku yang akan berada dalam situasi paling tidak beruntung di Belanda ini. Oh, bisa jadi suatu hari nanti aku bangkrut, aku dipecat, aku tidak mampu bayar sekolah atau ongkos kesehatan,”

maka dia coba merumuskan kebijakan sosial yang bisa melindungi orang dalam situasi paling tidak beruntung itu.

“Mari yuk, kita coba bikin gimana caranya, supaya seandainya ada yang pengangguran (sambil bayangin diri sendiri, siapa tau bakal pengangguran), ada sistem jaminan sosial yang bisa meringankan beban, yang ditanggung bareng-bareng sama kita semua biar ngga terlalu memberatkan,”

dan seterusnya.

Aku ngga yakin sih dengan konteks Indonesia, tapi kalo kembali ke prasangka tentang individualisme tadi, aku ngebayangin banyak orang Indonesia yang merasa mereka itu bisa menyelesaikan masalah pengangguran, pemecatan, bangkrut, dan sebagainya di level individu saja. Hal-hal semacam itu tuh urusan pribadi masing-masing orang. Orang yang kurang mampu ya … apa boleh buat, sudah nasib dia atau mungkin orang itu perlu lebih berusaha. Yang penting itu adalah situasi dia, bukan situasi saya. Selama saya masih rajin pangkal pandai, tekun, maka situasi semacam itu tidak akan pernah kena atau ngefek ke saya. Ngga perlu ada upaya bareng-bareng dan sistematis untuk memberikan perlindungan bagi mereka yang sedang kurang beruntung. Kalaupun biaya pendidikan dan kesehatan ngga terjangkau, saya masih bisa kok buka usaha kecil-kecilan untuk nalangin dulu. Kalau saya bisa, kenapa orang lain engga? (saya dan orang lain jadi terasa sangat berjarak, bukannya ada/tumbuh empati “oh bisa jadi saya yang akan ada di posisi orang lain itu“).

Dari kondangan, ngga perlu mikirin berat-berat sampe ke sistem jaminan sosial segala. Tanyakan saja pada peselancar di laut dekat Changi Coast Walk.

Image
heeuu, segar angin semilir ….
Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

2 thoughts

  1. Nadya cantik :))

    ah iya, aku malah mau bikin wishlist! waktu itu udah dipraktekin, jadi aku yg ngumpulin ‘duit’ dari temen”, trus aku bawa aja si penganten baru wat belanja. seru loh ­čśÇ

    tapi pas aku yg nikah, ga ada yg ngumpulin saweran, hwakakak. temen”ku dateng ke jogja aja udah seneng bgttt :))))

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s