Terobsesi dengan kayu

Beliau senang dan menganggap saya seperti anak sendiri. Senyum itu berbicara melebihi semua cerita.

Pak Yoto adalah seorang tukang kayu yang menjadi korban bencana Merapi. Dari beliau, saya belajar tentang pentingnya memiliki keahlian. Dengan keahlian sebagai tukang kayu, meski kehilangan rumah dan lahan, Pak Yoto tetap bisa menjalankan usaha dan tidak trauma. Pesanan untuk Pak Yoto tidak pernah sepi, karena barang-barang kayu buatan Pak Yoto dikenal sebagai jaminan mutu. Kini, beliau mendidik tetangga sekitar untuk menjadi tukang kayu.

Sebelum menjadi seperti sekarang, Pak Yoto mengalami kisah yang sama dengan sebagian besar anak petani lain di zaman itu. Setelah lulus SD, ia putus sekolah. “Lakukan sesuatu yang sudah jelas menghasilkan,” Ia pun membantu ayahnya mencari rumput untuk ternak.

Semasa belia, Pak Yoto harus kehilangan ayah. Ia pun membantu ibu berjualan gorengan. Satu per satu, sapi yang mereka miliki habis terjual. Kakaknya bertransmigrasi ke Sumatra, ingin mencari penghidupan yang lebih baik di perkebunan sawit. Namun nasib berkata lain. Kakaknya meninggal di Sumatra. Pak Yoto kehilangan satu-satunya saudara kandung. Setelah mampu menerima kabar duka kedua tersebut, Pak Yoto yang sebelumnya menganggur, justru ditawari ibunya untuk menikah.

Dengan tawaran tersebut, Pak Yoto mencari-cari pekerjaan seadanya yaitu membantu menderes kelapa. Siapa sangka, menambah keluarga justru membuka pintu rezeki. Setelah menikah, suatu hari Pak Yoto membantu kakak iparnya membuat kusen-kusen. Pak Yoto ingin belajar dan ingin bisa. Dalam hati, Pak Yoto bicara berulang-ulang, “Aku ingin jadi tukang kayu, aku ingin jadi tukang kayu, aku ingin jadi tukang kayu.” Sebagai pemula, Pak Yoto hanya membantu memasah, menggergaji, dan menatah kayu. Kemudian, Pak Yoto diajari cara merumuskan ukuran-ukuran kayu untuk membuat kusen. Kakak ipar Pak Yoto melihat Pak Yoto sudah menguasai cara-cara menentukan ukuran kayu.

Ketika Pak Yoto meminta kakak iparnya untuk membuat pintu, kakak ipar justru menyuruhnya membuat sendiri. Dia yakin Pak Yoto sudah mampu. Dia tidak mau meninggalkan rumah untuk semacam “memaksa” Pak Yoto mencoba membuat pintu sendiri. Saat itulah Pak Yoto meninggalkan rumah kakak iparnya dan pulang, mencoba membuat pintu sendiri.

Melalui proses uji coba selama lima hari, akhirnya Pak Yoto berhasil membuat pintu meski belum sempurna. Hal ini membekali Pak Yoto dengan rasa percaya diri untuk mencoba membuat produk lain yang belum ia punya seperti dipan dan meja. Pak Yoto belajar secara otodidak agar berhasil. Meski dipan hasil rakitan itu belum stabil, beliau puas karena setidaknya bisa menghasilkan “bentuk” dipan.

Sejak keberhasilan-keberhasilan itu, Pak Yoto terobsesi dengan kayu. Begitu bangun tidur, yang disayang-sayang bukan istrinya tetapi kayu. Demikian pula, dalam keseharian, Pak Yoto lebih banyak berkutat dengan kayu daripada dengan istri. Pak Yoto sangat senang karena memiliki istri yang mendukung obsesi tersebut, istri yang memiliki rasa pengertian luar biasa meski Pak Yoto sering membuat rumah berantakan karena uji coba bertukang kayu. Dengan demikian, Pak Yoto tidak pernah berhenti belajar.

Setelah berhasil membuat pintu, Pak Yoto ditawari pekerjaan oleh juragan kayu. Pak Yoto menjadi karyawan sampai juragan tersebut meninggal. Setelah empat puluh hari, Pak Yoto memberanikan diri untuk minta izin pada janda juragannya, “Bu, bagaimana kalau kayu-kayu yang masih tersisa dari usaha ini saya ubah jadi duit untuk uang jajan anak-anak?” Beliau mendapat izin, “Kalau kamu bisa mengubahnya menjadi duit, itu bagus, daripada telantar dimakan rayap.” Sejak saat itulah Pak Yoto menjadi tukang kayu mandiri sampai sekarang.

Dari cerita Pak Yoto, saya membayangkan satu elemen kehidupan di desa khususnya Jawa. Mungkin Pak Yoto sebagai orang desa yang harus menjaga harmoni dengan tetangga punya cara hidup yang “tahu diri”. Misalnya, “tahu diri” untuk tidak bersaing secara terang-terangan. Kakak ipar Pak Yoto juga “tahu diri” dengan cara memaksa Pak Yoto bisa bertukang kayu, agar Pak Yoto punya penghasilan. Selain itu, Pak Yoto juga “tahu diri” untuk tidak mengganggu gugat juragan kayunya. Pak Yoto baru bisa terlepas dari status sebagai karyawan setelah juragannya meninggal dunia, bukan atas inisiatif sendiri.

Rasa “tahu diri” itu juga membuat Pak Yoto tidak bermimpi muluk-muluk. Beliau tidak bercita-cita menjadi juragan kayu. Selama bisa memenuhi kebutuhan keluarga, itu sudah cukup. Yang terpenting, beliau punya obsesi dengan kayu dan itu membuatnya terus berlatih serta menjaga kualitas. Beliau percaya, rezeki sudah ada yang mengatur. Jika nantinya beliau menjadi juragan kayu, itu sudah pasti seizin yang maha memberi rezeki. Namun, jika beliau tidak digariskan untuk menjadi juragan kayu, apapun upaya yang beliau lakukan untuk itu tidak akan berhasil. Pikiran seperti ini membuatnya tetap tersenyum menjalani hidup.

Advertisements

One thought on “Terobsesi dengan kayu

  1. mbak nadya, saya masykur pads 60, yang dulu minjam buku2 sma kelas 1. mbak maaf minta alamat email. makasih mbak.

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s