Intelijen

Entah saya yang makin paranoid apa gimana, sepertinya makin sering ada penampakan mata-mata alias intelijen yang mencurigakan. Mungkin ini hal biasa, apalagi bagi temen-temen aktivis senior. Tapi, bagi saya ini hal baru. Baru beberapa minggu yang lalu, saya merasa ngobrol langsung sama intelijen.

Seharusnya intelijen itu kan ngga ketahuan, ya? Dia bisa menyamar dan menyembunyikan diri sedemikian rupa, bertingkah se-biasa mungkin seperti di film-film. Tanpa mengundang kecurigaan, dia bisa menjalankan tugasnya untuk mencari informasi. Ketika dia ketahuan sebagai intel, berarti dia bukan intel yang lihai dong.

Orang yang saya curigai sebagai intel itu kayaknya terlalu gamblang deh. Ngga misterius seperti gambaran di film-film. Terlepas dari apakah dia benar-benar intel apa bukan, pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan menurutku sangat “mata-mata” gitu.

Saya hanya seorang peserta biasa pada sebuah seminar biasa waktu itu, di Universitas Al Azhar. Di tengah acara, bapak jangkung berambut putih dengan dasi kepanjangan dan penjepit dasi duduk di sebelahku. Dia mengaku baru selesai mengajar, lalu oleh Pak Rektor disuruh menghadiri seminar tersebut.

Kupikir, ni bapak sok akrab banget, tau-tau nyerocos ngasih tau alasan dia ikut seminar ini. Ngapain pula selesai dia ngajar ada Pak Rektor yang nyuruh-nyuruh dia datang seminar, seolah-olah dia datang bukan karena keinginan sendiri. “Kalau Pak Rektor yang suruh, saya harus datang, kan?” Tiba-tiba juga, dia nunjukkin KTP-nya yang tersimpan di kantong kemeja ke saya. Sungguh aneh.

“Ini yang ngadain siapa? (Padahal semua penyelenggara udah jelas tertulis di spanduk). Kamu dari mana? (Dari Jogja Pak). SPI itu siapa? (Pak, itu singkatan SPI juga ada di spanduk kaleee). Ada hubungannya dengan Gerindra?”

Pak … pak, kok dihubungin sama Gerindra sih, emangnya HKTI?

“Itu siapa si bule? Dari mana? Apa kerjanya? Apa institusi dia di sini? Dia meneliti tentang apa? Siapa yang membiayai penelitian dia?” (Pak kenapa ngga tanya langsung sama dia? Emangnya tampang saya kelihatan seperti jubir dia?)

“Kalo yang itu dari mana? Kalo yang itu?” (Pak emangnya saya bawa absensi nama-nama para bule di sini?)

Akhirnya dia tanya tentang salah satu pembicara, “Kalo yang bicara itu bule dari mana? Orang Jepang ya?” Nah, yang ini langsung saya jawab, “Pak, dia itu mahasiswa Bapak sendiri, orang Indonesia. Tadi Bapak bilang Bapak dosen HI kan? Dia itu mahasiswa Bapak, kok Bapak ngga tau, ngga pernah lihat?”

“Ngga tuh, saya ngga pernah lihat. Benar dia mahasiswa HI?” (yee si bapak ….). Bapak itu langsung sibuk baca artikel. Baru awal baca udah tanya-tanya lagi. Kali ini beda topik. “Kenapa banyak peserta yang keluar?” (laper kali Pak, lagian AC-nya terlalu dingin).

“Nomer telepon kamu berapa? Pake BB?”

Nomer Bapak aja deh, ntar saya miskol. Dengan catatan: kalau saya berminat.

***

Semoga pertanyaan-pertanyaan aneh ngga bikin saya malas buat ikut acara-acara kayak gitu lagi. Agak-agak gimanaaa gitu, karena jangan-jangan saya lengah, kurang jeli dan kurang waspada yang berakibat pada tindakan yang bisa membahayakan teman-teman saya. Tapi itu cuman pikiran saya aja yang lebay.

Saya ngga perlu takut. Apa yang salah? Kegiatan-kegiatan semacam itu ngga ada salahnya kok. Kegiatan wajar yang bikin saya bahagia, ngasih pengetahuan baru dan inspirasi buat saya. Dalam skenario seperti itu, apa yang bisa jadi risiko terburuk? Kematian? Kematian jasmani itu suatu kepastian. Hanya soal waktu. Justru sekarang-sekarang ini waktu yang tepat bagi saya untuk mati, karena saya belum ada tanggungan (anak yang bergantung sama saya, misalnya).

Apakah saya akan merasa kehilangan jika saya mati? Emangnya apa yang saya tinggalkan di dunia ini?

Manusia-manusia yang berlomba-lomba untuk mengkonsumsi? Persaingan untuk memiliki apartemen dan mobil secepat mungkin? Persaingan untuk mendapatkan penghasilan sebesar mungkin? Persaingan untuk dapat jabatan setinggi mungkin? Persaingan untuk melipatgandakan tabungan, deposito, valas, saham pribadi? Persaingan untuk tampil sementereng dan se-bergengsi mungkin?

Selamat deh, yang udah punya saham, tabungan, mobil, apartemen, rumah, tanah, dan juga bisa memiliki berbagai barang-barang konsumtif lainnya. Selamat deh yang PNS dan ngga bisa dipecat serta punya pensiun. Selamat deh yang kerja di bank. Selamat deh yang penghasilannya udah pasti dan bisa ambil kredit. Selamat deh yang punya jabatan ini itu. Saya ikut senang karena kalianlah yang dianak-emaskan oleh masyarakat, dan saya ikut senang karena bagi kalian kebanggaan itu semudah membeli barang mewah terbaru.  Saya juga ikut senang karena anak-anak kalian belajar dari orangtua yang terbaik, bukan saya.

Kalau yang menarik dari dunia ini cuma sebatas itu, saya tidak akan merasa kehilangan jika meninggalkannya. Dunia, silakan berputar terus, saya tidak ikut-ikutan dalam laju persainganmu karena saya tidak punya kemampuan untuk itu.

Advertisements

3 thoughts on “Intelijen

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s