Reuni dengan Febri dan Paul

Reuni dengan teman lama memang menyenangkan. Akhir Mei lalu, di Jakarta, aku berkesempatan untuk reuni kecil-kecilan dengan Febri yang sempet jadi roommate-ku di Sunneke. Kami memang belum berpisah terlalu lama, baru lima bulan, tapi rasanya udah lama sekali. Kami bertemu di malam hari di tempat makan-makan di daerah Kemang.

Pada kesempatan itu, Febri sekaligus mau reuni sama Paul. Paul ini rekan kerjanya di Palang Merah Belanda. Paul ke Indonesia dalam rangka membantu Wetlands International menanam bakau. Begitu mudah bagi kami untuk ngobrol akrab dengan Paul, meski aku baru ketemu pertama kali. Sama Paul tuh bahan pembicaraan kami rame dan ngga habis-habis.

Ngobrol sama Paul bikin aku ingat sama orang-orang Belanda. Konon, orang Belanda itu kasar, ngga punya sopan-santun, dsb. Entah kenapa, orang-orang Belanda yang aku temuin di Den Haag tuh ngga kasar juga ngga halus, tapi mereka seneng sekali ngobrol. Kayaknya, kalo mereka ngomong tu terbuka banget dan ngga ada yang ditutup-tutupin. Mereka ngga malu-malu mengajak aku yang orang asing ini untuk mengobrol berlama-lama, ingin kenal, dsb. Apa mungkin karena di Den Haag sepi trus mereka pada kesepian dan suka iseng-iseng cari temen ngobrol ya?

Tapi kalo udah ngomongin hal yang menyangkut politik, waspada, waspada … kalo bagi aku sih, secara umum jangan mudah percaya sama saran-saran politik dari mereka, karena mereka tuh pake strategi, “pintar”, alias ngga jujur/terbuka. Selain itu, konon mereka tuh (umumnya) bener-bener menganggap bahwa diri mereka tuh unggul, peradaban mereka lebih maju, singkatnya reputasi mereka sebagai kaum rasis cukup diakui khalayak (duh bahasaku 😛 ). Temenku dari Mesir selalu ngomel-ngomel, karena dia merasa peradaban Mesir jauh lebih tua, tapi perasaan superioritas orang Belanda itu udah mendarah daging … bahwa kebudayaan Barat tuh paling maju, jauh lebih maju daripada Timur yang mereka anggap “terbelakang”. Pede sih boleh aja, tapi kadang agak maksa aja sih, pede-nya. Yang paling ngga asik sih kalo udah pake ngata-ngatain “terbelakang” itu.

Perasaan superioritas yang udah mendarah daging itu sempet secara eksplisit maupun implisit terlontar dari Paul. Karena itu aku tertarik untuk menuliskannya dalam blog ini. Obrolan tetep berlangsung seru dan asik, apalagi mereka kan kalo ngomong cenderung ekspresif banget. Yang jelas, obrolan kami itu aku jadiin pertanyaan buat evaluasi diri sendiri.

Misalnya gini nih. Wajar kan kalo pertama kali ketemu trus nanya kesibukan masing-masing. Tentang kesibukan, saat ini aku tergabung dalam satu proyek penelitian. Aku bercerita ke Paul tentang penelitian itu dengan penuh semangat. Trus Paul tanya gini, “apakah belajar di Belanda memberikan perubahan pada dirimu?” Maksudnya gimana? Ternyata, dia bilang, mendengar ceritaku tentang penelitian tadi, dia merasa pendidikan di Belanda udah mengubah aku, karena aku bisa lebih “free-thinking“. Kalo aku belajar di Indonesia aja, mungkin terlalu text-book. Hwa, pede banget deh, emangnya free-thinking itu eksklusif cuma milik pendidikan Belanda aja? Emangnya aku ngga bisa dapat free-thinking itu dari luar sekolah, misalnya? Tapi dipikir-pikir, aku mau bilang, “enggak ah, pendidikan Indonesia tu free-thinking dan pendidikan Belanda itu terlalu text-book …” kok rasanya ngga pas juga. Ini jadi pertanyaan buat aku sendiri sekaligus evaluasi, soalnya kayaknya ngga salah-salah banget kalo pendidikan di Indonesia dibilang masih mensakralkan text-book.

Topik pembicaraan yang seru adalah tentang krisis Eropa. Paul yang mulai dan bertanya, “Di sini orang tidak membicarakan krisis Eropa. Yang mereka bicarakan adalah Lady Ga ga.” Melihat ekspresinya waktu ngomong ini, aku ngga bisa menahan tawa. Ekspresi dia tuh serius banget sekaligus konyol memelas gitu. Aku jadi inget temen-temenku dari Eropa. Mereka benar-benar lagi galau tentang krisis Eropa. Kalau di Indonesia kan kayaknya yang ngetren itu galau karena kesepian, atau malam minggu sendirian dan semacamnya. Kalau orang Eropa tuh mukanya terlihat galau tentang masalah ekonomi, karena krisis itu benar-benar berefek secara nyata di kehidupan mereka. Galaunya bukan pasif tapi sambil protes dan stress. Mereka tuh kayak ketakutan banget dengan krisis Eropa ini, dan aku ceritakan tentang kegalauan temen-temenku ke Paul.

“Emangnya apa sih, efek krisis Eropa yang kamu rasain secara nyata?” tanyaku. Dia jawab panjang lebar dan banyak banget, misalnya masalah pekerjaan, pensiun, dsb, dan mukanya pun tertunduk galau. Baru sebentar tertunduk galau, dia langsung narsis lagi. Masa’ dia bilang Eropa itu cuman bakal jadi museum, dia dan orang-orang Eropa akan cari pekerjaan di Asia yang perekonomiannya selalu tumbuh. Narsisnya di mana? Dia tuh bilang gini, “Ya peradaban Eropa kan lebih maju daripada yang lain-lain, jadi ini Eropa akan jadi museum aja, tempat orang-orang dari seluruh dunia melihat kemajuan peradaban. Sementara untuk bekerja, cari di Asia.” Hwa, pede banget, dasar Eurosentris.

Lalu aku tanya, menurut dia, apa sih penyebab krisis Eropa ini? Dia menyalahkan pemerintah Yunani yang boros dan banyak utang. Eh … trus lagi-lagi dia narsis. Dia bilang, “Kamu pasti bisa membandingkan sendiri, antara orang Eropa Utara dengan Eropa Selatan. Kami di Eropa Utara, meski punya uang tetap berhemat. Orang Eropa Selatan itu tidak punya uang tapi mau menghambur-hamburkan uang. Lihat saja Yunani, Italia, dan Spanyol, semuanya kena krisis. Pemerintah Spanyol itu menghabiskan terlalu banyak anggaran untuk pegawai negeri, misalnya yang bekerja di transportasi umum. Mereka menggaji terlalu banyak pegawai negeri yang hanya bermalas-malasan dan tidak ada kerjaan.” Padahal kalo aku dengar dari sudut pandang temen-temen yang berasal dari Yunani atau Italia, beda tuh analisis mereka.

“Setelah kena krisis begini, apakah kamu merasa ide mata uang Euro itu ide yang buruk?” Ternyata dia tetap menganggap itu ide yang bagus. Masalahnya hanya pada level pelaksanaan. Lebih spesifik lagi, masalahnya adalah pemerintah Yunani yang curang dan menipu. Sebenarnya Yunani ngga pantas gabung Euro, tapi karena dulu Yunani adalah salah satu pendiri Uni Eropa maka dia harus gabung. Gitu kata Paul. “Menurut kamu pemerintah Yunani itu curang dan penipu? Bagaimana bisa Uni Eropa-tempat orang-orang pintar itu-tertipu oleh Pemerintah Yunani? Kan ada monitoring, dsb?” Bagiku itu ngga mungkin banget. Dia beralasan kalo pemerintah Yunani membuat laporan keuangan palsu. Lah tapi tetep aja pertanyaan Febri juga adalah, masa’ sih … kok bisa dengan mudahnya pemerintah Yunani itu menipu Uni Eropa? Lalu Paul sendiri bilang, “… pertanyaan yang bagus, sebenarnya itu pertanyaan saya juga.”

Selain itu, Paul juga punya pendapat tentang pemerintah Jerman. Dalam krisis Eropa ini, Jerman memegang peranan kunci. Yang agak di luar kebiasaan adalah … ini pertama kali aku dengar komentar bagus tentang Jerman dari orang Belanda. Biasanya orang Belanda agak alergi dan “minder” kalo ngomongin Jerman, karena mereka dulu pernah dijajah Jerman. Temanku pernah bilang, kalo dibandingin dengan orang-orang Jerman, orang-orang Belanda terlihat sangat polos, lugu, innocent dan cupu sekali. Pada kesempatan ini, si Paul memosisikan Jerman sebagai pahlawan Uni Eropa. Katanya, Jerman tuh merasa bersalah karena di masa lalu memulai perang dunia. Karena rasa bersalah itulah Jerman merasa harus bertanggung jawab terhadap situasi Uni Eropa sekarang. Buat aku ya … mana mungkin lah, Jerman ngambil keputusan gitu karena argumen moral “Jerman harus bertanggung jawab karena merasa bersalah di masa lalu.” Susah bagi aku untuk percaya versi ini, terutama setelah mendengar versi dari temen-temen Yunani dan Italia. Apalagi Jerman gitu loh, negara Uni Eropa yang sampai sekarang perekonomiannya paling lancar dibandingkan negara-negara lain. Seperti kata Paul sendiri tentang Eropa Utara (yang aku plintir sedikit), mana ada orang Jerman menghambur-hamburkan uang kalo itu bukan untuk menyelamatkan uang dia itu sendiri.

Terakhir aku tanya tentang Geert Wilders yang meluncurkan otobiografi. Kenapa banyak orang Belanda mendukung dia? Kalo kata Paul sih, dia juga pusing karena banyak orang Belanda yang menginginkan status quo.

Banyak sih sebenernya yang kami omongkan di malam itu, mulai dari obrolan sehari-hari seperti tentang bersepeda, sampe masalah krisis yang aku tulis di atas. Menyenangkan, ngobrol dengan teman! Ngomong aja terbuka dan apa adanya, jangan mentang-mentang mereka bule lalu kita punya mental untuk selalu memuji-muji mereka dan kita sendiri merasa rendah diri. Toh, mereka juga punya banyak masalah. Sama aja, kita di Asia (atau Indonesia) ini juga punya banyak masalah, tapi kita juga harus bisa tetap pede ya, ok!

Advertisements

One thought on “Reuni dengan Febri dan Paul

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s