Beberapa pertanyaan dari mahasiswa

Alhamdulillah, 5 Juni 2012 yang lalu, untuk pertama kali, aku dapat kesempatan untuk mengisi satu sesi mata kuliah Sosiologi Lingkungan. Terima kasih kepada Mbak Fina yang ingat sama aku (ciye…) dan menghubungi lewat sms, mengajakku “berbagi pengalaman” di kelasnya. Aku sempat “batal” di dua pertemuan karena ada kegiatan di luar kota. Akhirnya, bisa juga ngisi di sesi terakhir alias kuliah penutup, sebelum masuk minggu tenang. Malu banget deh, baru pertama kali ngisi eh ngisinya sesi penutup pula.

Seperti yang kubilang di kelas, untuk “mengajar” seperti layaknya Mbak Fina yang memang sudah dosen, jelas aku ngga mumpuni. Oleh karena itu, sebisa mungkin kami saling belajar aja. Aku belajar dari temen-temen mahasiswa, dan kalo memang ada yang bisa temen-temen mahasiswa dapet dariku, ya semoga bisa jadi tambahan wawasan juga. Dengan gaya kelas yang interaktif, (lagipula haus banget deh kalo ngomong terus), dalam satu sesi (alias 1,5 jam yang terasa cepat itu) ada (kira-kira) 7 atau 8 pertanyaan/komentar. Sampai sekarang, terkadang pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar itu masih teringat. Senang rasanya bisa mengetahui isi pikiran temen-temen mahasiswa di kelas tersebut. Rasanya tuh kayak mencoba ngikutin perkembangan zaman gitu, berguru dari yang muda-muda.

Apakah “kuliah”-ku berhasil atau gagal? Jujur, aku ngga tahu dan ngga mau mikirin. Yang jelas, selesai kuliah ada mahasiswa yang bertanya, mendekat gitu. Katanya dia punya pikiran yang ngga akan pernah bisa habis diselesaikan. Dia tuh sebenarnya mau tanya, tapi ragu-ragu. Karena, dia pikir … “percuma” aja, dibahas juga ngga akan ada habisnya. Apaan sih, bikin penasaran aja. Ternyata dia memikirkan tentang rokok.

“Kenapa ya, ngga ada yang mikirin tentang rokok? Soalnya tiga saudaraku kerja di pabrik rokok, Sampoerna itu loh. Kata mereka, Sampoerna itu jauh lebih kaya daripada Indonesia. Bahkan kalau mau, Indonesia ini bisa mereka beli. Mereka bikin draft peraturan dan pemerintah menyetujui aja. Dan itu udah terjadi. Aku ngga tahu lagi gimana.”

Dalam bayanganku, yang dia maksudkan dengan dia “ngga tahu lagi gimana” adalah dia ngga bisa membayangkan beberapa pembahasan yang masih mengharapkan peran pemerintah. Bagi dia, perusahaan swasta seperti Sampoerna itu udah jelas jauh lebih maha kuasa daripada pemerintah karena duitnya juga jauh lebih banyak … trus mau gimana? Pertanyaan dia bikin aku berpikir. Mungkin ini akan terkenang sebagai salah satu pertanyaan yang berkesan dalam hidupku … terutama karena gayanya yang dramatis, pake nunggu sampe kuliah selesai, trus ada embel-embel “dibahas sampe kapan pun ngga akan selesai”. Mungkin, temen-temen ada yang punya komentar tentang pertanyaan ini?

Pertanyaan-pertanyaan lain berkisar soal “kegagalan” upaya-upaya penyelamatan lingkungan (dan juga masyarakat) yang di dalamnya temen-temen mahasiswa ikut terlibat. Misalnya, tentang kasus Gua Lowo dan bijih besi Kulonprogo. Satu mahasiswa bertanya dengan kritis menanggapi pemaparanku tentang lima strategi gerakan lingkungan.

“Apa strategi yang paling ampuh? Karena keempat strategi itu udah dilakuin semua, tapi ngga ada yang berhasil?”

Waaah, berat nih pertanyaannya. Dia juga bertanya tentang skema REDD antara Indonesia dan Norwegia. Mahasiswa lain mempertanyakan elemen politik yang membuat upaya-upaya yang mereka lakukan tuh mentok, karena cuma bisa “menunda selama mungkin” dan ngga bisa mengubah keadaan. Satu lagi mahasiswa bertanya soal ke-ambigu-an gerakan lingkungan. Dia merasa ngga semuanya positif, ada unsur yang masih ambigu, yang dia sendiri belum bisa menjelaskan apa dan kenapa.

Ada juga yang bertanya soal peran swasta, dalam hal ini Pocari Sweat, yang bikin acara bersih-bersih lingkungan pantai.

“Tapi di dalamnya terselubung promosi atau iklan Pocari Sweat itu sendiri! Gimana itu?”

Habis itu, ada dua mahasiswa cewek-cewek yang ngasih pernyataan begini,

“kalo aku sih belum pernah terlibat gerakan lingkungan, karena yang penting dimulai dari diri sendiri.”

Ini virus dari AA gym kayaknya masih nempel banget sampe sekarang ya???

Menjelang terakhir ada pertanyaan dari mahasiswa senior (ketauan senior karena dia bilang dia udah selesai KKN), yang bingung soal pelanggaran hak-hak masyarakat adat.

“Sebenernya untuk menyelamatkan hutan itu perlu pengakuan hak-hak masyarakat adat, tapi kenapa selama ini itu tidak diakui?”

Duerrrr, tanya kenapaaa? Seneng sih, pertanyaan mereka galak-galak. 😛

Pertanyaan terakhir adalah tentang pengalaman pribadi aku, coba diceritain supaya bisa menginspirasi (weks, jujur pertanyaan ini bikin malu-malu gimana gitu, kayak mau narsis tapi ngga ada yang bisa dinarsisin tuh!).

Ternyata, dapet pertanyaan-pertanyaan dan komentar tuh seru juga (hehe). Kadang aku membalikkan pertanyaan ke mereka sendiri, bukan menjawab secara final. Karena, kadang bertanya itu jauh lebih penting daripada memberikan jawaban!

Teman-teman ada yang punya tanggapan atau pertanyaan lain yang nyambung sama pertanyaan/komentar mereka ngga? Lumayan lah … bisa dibahas atau minimal dipikirin bareng. Ternyata ngomongin “beginian” tuh bikin kangen, apalagi setelah lima bulan aku ngga ada temen buat ngobrol beginian ….

Mari bertanya! *ketagihan*

Advertisements

One thought on “Beberapa pertanyaan dari mahasiswa

  1. bgaimna peranan mahasiswa,,, ketika adanya penyelewngan dri pemerintah,karna biasanya mahasiswa sering di katakan serbah salah,klau protes salah,klau diam dlm ketertindasan juga salah krna bertentangan dengan sumpah mahasiswa,bgmn solusinya…..????

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s