Menjelang April

Pada akhirnya, kebenaran itu sederhana. Ternyata kekuasaan yang kau punya tidak cukup untuk membuatmu memiliki sedikit saja keberanian untuk mengakuinya. Katakan padaku, siapa yang kau lihat ketika kau bercermin? Bagaimana rasanya menjadi orang yang harus selalu melarikan diri dari dirimu sendiri?

Minggu lalu. Seorang pemangkas rambut yang sedang hamil muda.

“Di UIN itu mbak, demo bbm paling. Kalo menurut saya udah nggak bisa diubah mbak. Wong sudah dari akarnya.”

“Maksudnya gimana to bu, kok pake akar-akaran segala?”

“Misalnya kayak lurah-lurah jaman dulu itu lho mbak. Belandane bilang, iki tanahmu taktuku tapi kowe kudu ngene ngene ngene. Lha kan udah susah to mbak, udah nggak bisa diubah. Wong sudah dari akarnya. Urip makin susah mbak. Tapi yo mereka itu … mikirnya nggak sampe ke sana!”

“Nggak usah bbm mbak, wong pendidikan aja sekarang mahal. Coba to, berapa … ”

Apa kesalahan dia, seorang ibu pemangkas rambut yang hanya ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak dan sang jabang bayi, hingga kau merasa harus, harus dan tidak bisa tidak, mempersulit hidupnya?

Tidak hanya dia. Apa kesalahan seorang penjual gorengan-minyak makin mahal, semakin hari dia telah mempertipis potongan gorengannya hingga nyaris transparan untuk mempertahankan usaha, namun pada akhirnya ia harus beralih profesi menjadi pemulung sampah di area pemukiman. Katakan padaku bahwa kau tidak ikut andil dalam perubahan hidupnya, hidup orang-orang yang bergantung padanya dan hidup orang-orang yang serupa dengannya.

Katakan padaku bahwa semuanya baik-baik saja. Katakan dengan keras, seolah kau meyakininya.

Katakan juga bahwa kau punya jawabannya. Katakan bahwa BLT atau apapun namanya sekarang, telah diberikan setiap bulan kepada masing-masing kepala keluarga korban bencana sebagaimana yang kau janjikan. Katakan, jika kau berani, bahwa mereka bukannya hanya mendapat dua kali Rp 150.000,00 selama lebih dari setahun terombang-ambing tinggal di pengungsian. Dan katakan bahwa kau bisa mengulang keberhasilan itu kali ini. Katakan itu semua itu, tanpa terkecuali, maka bagi kami kau sudah tidak layak didengar.

Tanyakan pada dirimu. Bagimu mereka semua tidak ada artinya, kan? Mereka yang hidup dan perlu penghidupan, bagimu, apapun yang terjadi pada mereka bukan urusanmu, kan? Karena kau hanya melakukan apa yang benar. Tahukah kau apa yang benar jika apa yang hidup saja kau tak tahu? Dan, kau itu, hidupkah? Jangan-jangan sudah tidak ada bedanya?

Sekarang katakan padaku bahwa kau melakukan hal yang benar. Katakan dengan keras, agar kami semua mendengar.

….
ah, kau mengatakannya dengan terlalu keras, kami tahu bahwa kebenaranmu hanya dibuat-buat.
Ulangi.
….
ah, tidakkah kau dengar suaramu yang bergetar? Getar itu menyampaikan seribu kali lebih banyak kebenaran daripada yang kau inginkan.
Ulangi sekali lagi.
Sekarang katakan dengan benar, bahwa apa yang kau lakukan memang sebenar-benar benar.



Hei, mana suaramu?
Pengecut, kau bahkan tak berani mengatakannya. Sebuah kebenaran yang sederhana, bahwa kau pengecut kuadrat, karena kau menuntut semua orang lain untuk menjadi pengecut sepertimu.

Maka katakan padaku, jika kau memang benar.

Advertisements

4 thoughts on “Menjelang April

  1. Indonesia seperti pot yang dibentuk dari ide akan kebutuhan dan keharusan. Tapi kosong, Nad. Yang mengisinya kelupaan diikutsertakan.

  2. nad, aku merinding baca tulisan ini. soalnya kadang di kepala itu pengen bgt meracau ngomong kek gini ke orang-orang yg bilangnya berjuang untuk rakyat dan pimpinan tertinggi.

    *komennya gantung*

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s