Indonesia Punya Relief Borobudur, Belanda Punya Relief Pasir

Liat deh, udah jelas sering hujan plus angin kencang, e eh … seniman-seniman nekad ini masih aja mendirikan relief dari pasir. Tuh, hidung Mbah Rembrandt jadi copot, kan.

Memang sih, relief pasir ini dibuat saat musim panas. Kita bisa lihat relief pasir ini hingga 28 Agustus 2010 di pusat kota (di depan bioskop dan departemen keadilan loh). Pengunjung juga bisa liat saat relief ini dibuat yaitu dari tanggal 7 sampe 20 Juni 2010. Zandacademie (Akademi Pahat Pasir Dunia) bikin pahatan pasir di depan Buitenhof. Seniman-seniman dari Rusia, Ukraina, Inggris, Ceko dan Belanda ini pengen mengulang kembali kejayaan masa kecil. Yah, semacam lah dengan bikin istana pasir di pantai dengan penuh keseriusan, meski sebentar juga akan hancur diterjang laut, ditiup angin, dan ditendang orang, anjing, atau kuda.

Relief ini bertajuk Ode bagi Maestro Belanda, menampilkan relief pasir lukisan karya Vermeer, Rembrandt, Escher, dll sebagai bagian dari Festival Seni Den Haag.

Di bawah ini relief lukisan Escher yang geometris dan surealis (halah apaan sih), sangat khas seperti teka-teki. Sebelah kiri berjudul “Waterfall” kalo ga salah, trus kalo ga salah yang sebelah kanan itu “Reptile”. Maklumlah cuma tebak-tebak buah manggis.

Ini juga dari lukisan Escher, “Hell”. Tapi knapa di samping tu ada relief bebek-bebek ya? Kagak ngerti deh.

Sebelah kiri ada itu dari lukisan Paulus Potter yang konon monumental karena menaikkan derajat lukisan bertema hewan menjadi sederajat dengan lukisan-lukisan lain. Judulnya “The Bull”. Sedangkan di sebelah kanan, dalam pigura, itu dari lukisan Frans Hals, Jester with a Lute (ini aku tanya mbah Google).

Ini relief dari lukisan Vermeer, “The Milkmaid”. Lukisan ini ga dipamerkan di Den Haag tapi di Rijkmuseum Amsterdam. Sebenernya ukuran lukisan ini ga terlalu besar loh:

Ini tipikal lukisan Jan Steen, keluarga yang heboh “The Merry Family”:

Bener-bener di tengah kota gitu deh.

Apa yang kalian persepsikan tentang mereka setelah melihat relief pasir ini? Bahwa mereka sangat mengapresiasi seni? Bahwa mereka kurang kerjaan dan terlalu banyak uang? Kenapa pasir? Apakah mereka ingin dengan congkak bilang: “Hei! kalian pikir jika sesuatu itu hanya akan berlangsung sementara maka sesuatu itu tidak layak dibuat dan dikerjakan?”

Apakah kesementaraan itu sedang ngetren?

Apa sih yang nggak sementara?

Tidak lagikah keabadian diagung-agungkan? Apakah mereka tahu diri gitu bahwa istana-istana mereka, perlambang kejayaan masa lalu, ternyata kurang kinclong gitu karena biaya perawatan yang tinggi?

Mereka juga mengeluarkan biaya ekstra untuk merawat lukisan-lukisan para maestro ini dalam galeri atau museum. Kunjungan para wisatawan tentu menjadi harapan. Uang yang dirogoh dari kocek para wisatawan adalah soal lain.

Ketika kita melihat langsung sebuah lukisan maestro ini, memang bagus sekali. Mungkin visual termasuk salah satu yang paling mudah merangsang respon imajinatif (mungkin kita paling sering berimajinasi pun dalam wujud visual ya). Melihat lukisan-lukisan tersebut, Tidak hanya membuatku mengimajinasikan tentang lukisan itu sendiri, tentang sang pelukis atau proses dia melukisnya, tentang betapa lukisan-lukisan ini dirawat sedemikian rupa dalam galeri yang mewah dan didisplay sedemikian rupa, tapi juga membuat aku membayangkan kejayaan sebuah Era.

Aku membayangkan, sebenernya sama aja sih di mana-mana orang ingin mengingatkan pada orang lain tentang Kejayaan kerajaannya, pada suatu Era.

Advertisements

5 thoughts on “Indonesia Punya Relief Borobudur, Belanda Punya Relief Pasir

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s