Tukang Fotokopi Ilegal

Hari Jumat lalu, visa-ku udah jadi. Seneng banget dah, lega.

Awalnya aku bingung, maklumlah aku buta tentang visa dan sebagainya. Ya akhirnya aku nurut aja sama semua yang dibilangin di e-mail van Dieren, sambil sesekali menagih dia …. “I feel slightly uneasy …” (tentang visa, soalnya belum jadi-jadi hehehe …. langsung dibales katanya aku ga perlu khawatir).

Ternyata bener, aku ga perlu khawatir … Sehari setelah aku e-mail khawatir-khawatir itu, ada e-mail dari Eef van Oos kalo visaku udah disetujui (MVV). Di Jogja ada konsuler Belanda, jadi aku ga perlu ke Jakarta. Kira-kira enam hari setelah ketemu Meneer Cor van der Kruk, konsuler Belanda di Jogja itu, visaku beres. Visa ini tipe D, berlaku 6 bulan. Begitu sampai Belanda, orang staf ISS (universitas) akan membantu mengurus residence permit dengan visa ini. Dengan demikian, aku bebas mengunjungi wilayah Schengen, yang terdiri dari 25 negara Eropa, yaitu:

1. Austria, 2. Belanda, 3. Belgia, 4. Ceko, 5.  Denmark, 6. Estonia, 7. Finlandia, 8. Jerman, 9. Hungaria, 10. Islandia, 11. Italia, 12. Latvia, 13. Lithuania, 14. Luxembourg, 15. Malta, 16. Norwegia, 17. Polandia, 18. Portugal, 19. Prancis, 20. Slowakia, 21. Slovenia, 22. Spanyol, 23. Swedia, 24. Swiss, 25. Yunani

Setelah dapet visa ini, aku harus mengurus izin bagasi ekstra untuk pelajar/mahasiswa (supaya max. 30 kg). Cara mengurusnya, dateng ke Hotel Inna Garuda di Malioboro, serahin fotokopi surat penerimaan dari universitas, tiket, paspor, dan visa. Sayangnya … tadi aku dan mamaku mau fotokopi tapi susah banget parkirnya. Akhirnya kami udah sampe di Hotel Inna Garuda eh lupa belum fotokopi.

Kami pun masuk ke dalam hotel.Ternyata di tempat pengurusan bagasi ekstra tidak ada servis fotokopi. Yaaaahhh, ga bisa fotokopi di sini ya. 😦

“Mbak fotokopi di luar dulu ya, soalnya di sini ga ada mesin fotokopi.”

Ya sudahlah.

Aku tanya tempat fotokopi sama mbak yang jualan prangko dll di depan.

“Di atas,” jawabnya.

Aku pun balik, naik ke lantai dua hotel itu dengan pedenya … trus clingak clinguk nyari fotokopian. Hmm, ga ketemu. Jadilah aku nanya sama bapak yang jaga absensi seminar di ruang atas.

“Di pojok, biasanya kalo fotokopi itu di pojok,” jawabnya. Bagus. Informasi yang kubutuhkan.

Sampailah aku di pojok yang terpencil, di ruang fotokopi. Ga ada orang woy …. Tengak-tengok, ga ada orang. Pintu ruang fotokopi itu kubuka dengan paksa ….

Di dalamnya aku melihat tulisan “Fotokopi Selembar Rp 300,-” Yah cuekin sajalah. Mesin fotokopi yang menyala tanpa pengawasan di depanku ini terlihat lebih menggiurkan.

Nekat, sambil sok cuek, aku mem-fotokopi sendiri berkas-berkas yang diperlukan. Asal aja, aku jepit berkas di mesin fotokopi itu lalu pencet Start. Percobaan pertama: lho, kok, jadinya terfotokopi di kertas buram. Posisinya juga salah. Seharusnya horisontal tapi aku meletakkannya secara vertikal … sehingga hasil fotokopiku cuma berupa potongan tulisan. Ih ga bermutu banget.

Percobaan kedua: Kertas A4 aku pindahkan ke tempat kertas buram. Posisi berkas aku ubah. Pencet start lagi. Alhasil, mesin ga mau jalan.

Waduh, ada orang pula. Gimana nih, aku sok akrab saja keluar dari ruang fotokopi dan menyapa bapak yang lewat itu, “Gimana Pak, fotoko …” Clep, mendadak aku terdiam melihat seragamnya. Senyum palsuku hilang. “Ooohh, bapak dari Perhutani ya, ikut seminar? Ya udah, Pak.” Bapak itu sama sekali tak merespon, mungkin bingung juga dikira aku orang gila dari mana. Aku sudah keburu masuk lagi ke dalam ruang fotokopi, berkutat dengan tombol-tombol entah apa. Ternyata selain tombol start, semua tombol itu berbahasa Prancis. –”

Iseng-iseng aku memencet petunjuk yang kira-kira artinya “Ubah Jenis Kertas”. Akupun mengubahnya dari Legal menjadi A4. Sebelum memencet start, kertas A4 dan kertas buram tadi aku pindahkan, kembali ke letaknya semula. Masih gagal, mesin tidak berfungsi.

Terakhir, aku ubah jenis kertas, dari A4 menjadi A4R. Memang sih, di pinggir wadah A4 itu ada tulisan A4R. Tanpa sabar aku pencet Start. Dan … srit srit srit … lampu itu menyala.Dokumenku terkopi dengan sempurna. Yay! 😀

Segera saja aku fotokopi paspor, visa, surat penerimaan dari universitas, tiket. Beres. Tidak ada orang. Tidak ada barang yang tertinggal. Sip. Mantap. Aku mengucapkan selamat tinggal pada tulisan “Fotokopi Selembar Rp 300” yang menganggur sendiri di pojok meja itu.

Aku keluar ruangan, lalu kupastikan pintunya kembali “seperti” terkunci. Ya, persis kayak saat aku menerobos tadi, seolah-olah pintu itu terkunci tapi nyatanya bisa dibuka paksa.

Hihihihih.

Aku kembali ke ruang pengurusan bagasi ekstra dengan tawa kemenangan, dan fotokopi dokumen di tangan.

“Fotokopi di mana mbak, kok cepat?” tanya petugas di situ.

Aku senyum aja. 😉

NB: Lumayan. Keahlianku bertambah, jadi tukang fotokopi. Mungkin skill ini bisa dipakai di Belanda untuk melamar kerja paro-waktu gitu 😛

Advertisements

14 thoughts on “Tukang Fotokopi Ilegal

  1. hahaha,,nady as usual…Awalnya aku kira kamu ketemu sama calo fotocopy-an,,hahhay
    greaat!!nice job!

    btw nitip foto copy doong nih form report ya 1rim,,diambil nanti malam ya mbak..
    :p

  2. pantes… pas tenan wes nad… lagian nak ng luar negeri ki fotokopi mesti larang… dadi kowe iso sugeh dadi tukang fotokopi.. hihihihihihihi

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s