Jantung Dipanah

Judul Cerpen Danarto

 

Hai fellow blogmates!

Sebenernya aku pengen ngeblog niy. Udah sejak hari pertama puasa aku absen ngeblog. Belum sempat nge-schedule blog. Aku sudah mencoba (ngeblog). Tak mampu. Hanya terbaring di kasur karena kelaparan. Ga kuat mikir (hehe).

Jadilah untuk mengatasi hal tersebut, di sini akan aku post saja beberapa cerpen berkesan yang pernah aku baca. Enak, ga mikir, bisa sambil tidur-tiduran dan blog tetap terapdet. Smoga bermanfaat dan selamat menikmati. Kalau terlalu panjang, bisa dibaca dikit-dikit trus disambung lagi.

Untuk cerpen pertama, dari Danarto. Judulnya berbentuk gambar jantung dipanah itu (liat kan potonya). Iya, Danarto juga seorang pelukis, dan itu jantung adalah hasil goresan tangannya. Kalo ga salah, terkadang cerpen ini juga dikenal dengan nama Rintrik si Buta.

Hujan deras disertai angin kencang, disertai petir yang melengking-lengking, merupakan badai yang dahsyat yang menyapu bersih segala kehidupan lembah itu. Pohon beringin yang kukuh dan perkasa tumbang tercabut sampai ke akar-akarnya. Pohon-pohon pangan yang berguna bagi manusia patah-patah dan hancur seolah-olah ada pembongkaran besar-besaran. Bunga-bunga mungil dan jelita tercabuti dari tangkai-tangkai mereka dan berhamburan diterbangkan angin ke mana-mana. Batang-batang padi yang menurut dongeng orang-orang bijaksana lebih tangguh dari beringin, hingga tersebarlah “kata-kata mutiara” tentang kebagusan perangai dan kepandaian batang-batang padi itu ke seluruh dunia, kali ini ternyata tekuk lutut oleh badai yang menggila itu.

“Kami kalah! Kami menyerah! Kami pasrah!” teriak batang-batang padi itu, yang dicabuti dari sawah tempat berpijaknya dan berumpun-rumpun diterbangkan ke udara. Seandainya batang-batang padi itu telah masak, itu merupakan hal yang luar biasa. Para petani tidak usah repot-repot mengeluarkan tenaga untuk menuainya. Tetapi pedih, batang-batang padi itu sedang menjelang ranum, batang-batang harapan yang pasti akan menghidupi seluruh keluarga. Dan sekarang sia-sia. Sia-sia. Beberapa rumah mereka roboh dengan keluarga yang dikubur hidup-hidup. Dan ada beberapa orang yang sempat lari keluar, berteriak-teriak, tetapi sekeras-kerasnya suara mereka, ditelan saja oleh geledek yang memecah-mecah. Dan angin dengan cara kesenangannya sendiri mempermainkan pohon-pohon kelapa hingga bergoyang-goyang merunduk-rumduk penuh irama. Sedang di seberang sana cemara-cemara berderai-derai mengalun bagai harpa yang dipetik dengan bergelora.

Kerja yang selama ini dilakukan, dan akan menghasilkan buah yang gilang-gemilang, ternyata malapetaka singgah dan menghabiskannya dengan singkat. Betapa cepatnya penghancuran itu. Amat cepat. Panas setahun hilang oleh hujan sehari.

Burung berkicau lenyap dari angkasa: adalah daun-daun kering yang berguguran dari tangkainya yang telah tua, gemerisik menciap-ciap dan pecah-pecah. Kerbau melenguh, sapi melenguh, dan anjing-anjing yang rajin melolong-lolong terdiam. Ular-ular membisu dan tambah dalam menyelam ke bumi. Ayam-ayam mencicit-cicit kayak tikus dan tikus-tikus kedinginan kayak umbi talas.

Jerit orang-orang menembusi badai:

Hujan deras membasahi angin dan angin menerbangkan hujan bagai anak panah salju dan hujan dan angin itu dibelah-belah petir dan ekor-ekor petir jadi melempem oleh suasana dingin yang beku bagai kerupuk dalam lemari es.

Dan di seberang lembah itu, laut menerima airnya kembali. Biji-biji melayang-layang dan jatuh dalam tanah yang lantas dipeluknya erat-erat, dan serunya “Allah, aku telah menerima bagianku. Dia punyaku! Punyaku! Sesungguhnya dia punyaku!”

Semuanya menerima miliknya kembali.

Semuanya menerima bagiannya sendiri-sendiri.

Tetapi di seberang sana, seorang perempuan tua yang buta, yang rambutnya terurai panjang, yang badannya kurus tinggal kulit pembalut tulang, yang pakaiannya compang-camping, sedang melakukan suatu pekerjaan dengan tenangnya. Angin kencang menarik-narik pakaiannya hingga berkibar-kibar. Rambutnya menjuntai-juntai dn air huan yang ditampungnya mancur deras lewat ujung-ujungnya yang kusut itu bagai air terjun yang tak kunjung padam.

Perawakannya tinggi, kulitnya hitam, matanya yang buta itu cekung ke dalam, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan keseluruhan wajahnya tampak bersih dan bahkan mencerminkan suatu kecemerlangan. Orang melihat dia akan membayangkan waktu mudanya. Tentulah dia seorang gadis yang cantik dulu-dulunya. Yang mungkin selalu dikejar laki-laki. Tapi kini dia telah tua.

Ia berada di tengah-tengah prahara itu dengan tenteram bagai bayi tidur dalam buaian, tidak terusik sedikit pun oleh petir yang sambar-menyambar di atas ubun-ubunnya. Ia bekerja dengan cekatan. Melihat cara kerjanya itu tentulah ia memiliki kekuatan jasmani yang luar biasa, Orang setua itu! Perempuan dan buta! Di dalam badai! Masih bekerja Lagi! Kakinya yang runcing dalam-dalam mencengkeram tanah yang telah jadi becek dan jari-jari tangannya tajam-tajam mencakar-cakar tanah lumpur menggali lubang, hingga urat-uratnya yang biru itu tampak menegang-negang. Lubang demi lubang, ia gali. Lubang demi lubang. ya, lubang demi lubang. Sejak sebelum badai datang; sejak pagi-pagi benar ia sudah bekerja. Sejak pagi-pagi kemarin ia menggali. Bukan! Sejak pagi-pagi kemarinnya kemarin yang kemarin lagi ia sudah bekerja, menggali dan menggali. Yah, ia saban hari kerjanya menggali.

Ia menggali kubur! Seorang penggali kubur yang rajin, patuh, tanpa bayaran. Ia seorang perempuan yang setia dan cinta kepada pekerjaannya. Itulah makanya ia selalumenekankan, jika seseorang mau memulai pekerjaannya, cintai dulu pekerjaan itu, lantas orang boleh menjenguk berapa bayarannya.

Ia seorang penggali kubur tanpa bayaran. Penggali kubur bagi bayi-bayi!

Ada sebuah lembah yang indah di lereng gunung. Para pelancong banyak yang berlibur ke sana,. Mereka berpasang-pasangan. Cantik-cantik dan gagah-gagah. Bekal mereka ada yang mewah ada yang sederhana, tetapi tidak mengurangi kemesraan di antara mereka. Lembah itu memang benar-benar indah, ada sesuatunya yang kuat menarik hingga hampir tiap saat orang berbondong-bondong ke sana. Kata orang, lembah itu merupakan perpaduan keindahan dan kegaiban, sehingga sukar orang mengatakan isi hatinya yang tepat mengenai kekagumannya atas pemandangan itu. Dan kadang-kadang lembah itu berbolak-balik rasanya. Pernah orang mengutarakan pendapatnya mengenainya dan tiba-tiba lembah itu berbalik lain sekali. Orang mengatakan begini dan lembah itu menunjukkan dirinya begitu. Lama-lama orang insaf, rupanya tidaklah perlu mengatakan pendapatnya.

Kalau pagi hari matahari menyinarinya dan lembah itu ditutup oleh segumpal kabut di atasnya, hingga sinar-sinar lembut yang menerobosinya, merupakan sutra-sutra lembut dengan warna biru-hijau-putih, merupakan pagar-pagar ranjang pengantin yang menggairahkan, demikian kata orang yang habis pergi ke sana. Sedang sore hari lembah itu kena pantulan merah langit, hingga menjadilah beledu ungu yang redup dan samar-samar membentang luas adalah taman surga tempat pasangan-pasangan asmara berkejar-kejaran dengan manjanya.

Sehingga mereka yang berpasang-pasangan ke sana, dari pagi hingga petang, akan merasa terombang-ambing hatinya. Segala tanaman ada di lembah itu, bunga liar yang jinak, pohon-pohon kelapa yang tinggi-tinggi, cemara-cemara yang berderai-derai, batang-batang padi, rumput-rumput yang halus.Tpi lama ke Lembah itu harum baunya sepanjang masa.

Tapi lama-kelamaan lembah itu pudar oleh karena banyaknya bayi yang telah mati maupun yang masih hidup dibuang ke sana. Pada kejadian pertama, kedua, ketiga, orang tidak curiga apa-apa. Tetapi lama-kelamaan hampir tiap hari ada dua puluh bayi yang masih merah-merah, dan baru saja keluar dari rahim, yang berkaparan di lembah itu. Orang mulai gempar. Untuk menjaga moral, keindahan, dan ketertiban, orang mulai menaruhkan penjagaan yang keras yang memagari seluruh lembah itu. Tetapi ini pun akhirnya kalah juga oleh sogokan-sogokan yang cukup memuaskan.

Orang heran, kenapa mereka justru membuang bayi-bayi mereka ke lembah yang indah tempat tamasya itu. Jawab mereka, katanya, seolah-olah ada semacam kekuatan yang menjalar-jalar dalam tubuh mereka, hingga sepuluh dari lembah itu, pasangan itu mulai terperosok dan hanyut dalam warna ungu dan merah jambu yang menggairahkan. Dan tentu saja, jawab mereka selanjutnya, hasil dari itu semua selayaknya dibuang kembali ke lembah yang meracuni mereka itu.

Demikian lembah itu bertahun-tahun sepi. Makin banyak mayat bayi yang dibuang ke sana setiap saat dari segala penjuru, makin matilah lembah itu. Ia sekarang merupakan lembah yang mengerikan. Orang memandangnya bukan lagi sebagai ranjang pengantin yang terhampar luas dan sejuk, tetapi dengan bulu roma yang berdiri dengan segala bayangan hantu-hantu ganas pemakan bangkai-bangkai bayi.

Mula-mula lembah itu sebagai gadis ayu dengan dandanan cantik, kini sekonyong-konyong terserang oleh dirinya sendiri. Kemudian seperti kemasukan setan, diidapnya tubuhnya, dirobek-robeknya pakaian indahnya, sambil berlari-lari dicakar-cakarnya rambutnya yang gemulai lembut hitam legam, hingga gadis ayu itu sudah jadi perempuan penyihir yang seram. Ya, alam merobek-robek dirinya sendiri. Para petani yang bertempat tinggal seberang menyeberang lembah itu merasa getir dan ketakutan. Dulu mereka mempunyai mata pencarian tambahan dengan menjual hasil-hasil tanaman mereka ke lembah tamasya itu, kini hilang lagi. bukan itu saja, mereka dihantui oleh kepercayaan-kepercayaan yang menakutkan, hingga siang mereka tak enak bekerja dan malam mereka tak enak tidur.

Tetapi tak lama kemudian tak disangka-sangka datanglah seorang perempuan buta, tua, dan kerempeng ke lembah itu dan mentap di sana. Entah dari mana datangnya, asalnya, tak seorang pun mengetahuinya, dan tak seorang pun kepingin menyelidiki asal-usulnya. Semula para petani ketakutan dengan kehadirannya, tetapi lama-lama mereka mengetahuinya bahwa perempuan buta itu seorang perempuan yang baik hati, seorang tua yang pantas dihormati.

Tidak itu saja, bahkan mereka mengangkatnya sebagai sesepuh, yang bagi mereka artinya seorang yang mau menjaga keselamatan mereka lahir batin, seorang pembebas dari ketakutan, yang dengan cinta kasihnya dilindunginya mereka dari malapetaka.

Mula-mula mereka menemukan perempuan tua itu waktu subuh, ketika di lembah seram itu terdengar bunyi piano. Para petani berbondong-bondong menghampiri dengan ketakutan. Dilihatnya perempuan itu sedang dengan asyiknya menancap-nancapkan jari-jarinya pada biji-biji nada piano, dengan semangat yang bergelora. Mereka tidak tahu lagi apa yang dimainkannya, cuma mereka merasa terharu. Seorang perempuan hitam dengan pianonya yang putih, seputih kapas, betapa suatu pemandangan yang menakjubkan.

“Wahai lagu yang mengiris-iris, siapakah gerangan perempuan, engkau yang gagah berani di lembah yang seram ini, kalau kami boleh bertanya?” tanya salah seorang di antara mereka.

“Siapalah yang akan menyangkal kalau aku mengatakan bahwa petani itu penyair, sebagaimana yang aku dengar barusan, budi bahasamu yang halus-tulus bagai batang-batang padi yang kalian tanam,” jawab perempuan tua itu tanpa menoleh dan tetep duduk tenang-tenang di depan pianonya.

“Apakah penyair itu?” tanya seorang lainnya.

“Ah, orang yang berbudi baik biasanya tidak tahu bahwa ia berbudi baik.”

“Dengan demikian, engkau telah menumpuk di atas pianomu dua pertanyaan yang tidak dijawab.”

“Bukan main, lihatlah, satu pemakaian kalimat yang tajam yang jarang dipakai oleh penyair …. Eh, engkau menanyakan siapa gerangan aku?”

“Begitulah kalau kami boleh bertanya.”

“Aku bukan manusia,” jawab perempuan itu.

“Genderuwokah?” tanya mereka heran.

“Juga bukan ….”

Lalu perempuan itu menjatuhkan jari-jarinya di atas biji-biji nada hingga mengalunlah sebuah irama. Kemudian berhenti lagi.

“Manusia bukan dan hantu juga bukan, apakah gerangan kalau begitu?”

“Aku ini sebuah benda mati!” jawab perempuan itu keras berbarengan dengan pianonya melantangkan nada besar seolah-olah gong bagi kata-katanya.

Setelah itu apa yang dikerjakan perempuan itu tidak lain menggali, menggali, dan menggali kubur bagi bayi-bayi yang saban hari dilemparkan orang ke lembah itu. Dua puluh atau dua puluh lima bahkan sampai tiga puluh bangkai tiap hari, hingga tangan perempuan telah kebal kulitnya, kasar dan tebal. Konon, kabarnya, orang-orang yang membuang bayi-bayi itu ada juga yang datang dari kota-kota yang jauh.

Kemudian para petani memandang perempuan tua itu tidak sampai di situ saja, bukan sebagai sesepuh dan pembebas saja, tetapi juga sebagai pembawa rahmat dan seorang suci yang telah mendapatkan limpahan cahaya Tuhan. Seorang yang tiap doanya dikabulkan Allah. Seorang yang mempunyai kemauan keras untuk menyadarkan orang-orang yang menyeleweng dan sesat.

Seorang yang setiap bernapas menyebut kebesaran Tuhan. Hingga jadilah perempuan tua yang buta itu kekasih para petani. Tiap saat ada saja yang mengunjunginya. Ada yang ingin belajar ilmu yang tinggi-tinggi daripadanya. Ada yang ingin mendapat sorotan matanya yang buta itu, biar imannya kuat dan hidupnya sentosa. Ada yang hanya ingin melihat wajah perempuan yang luar biasa itu. Hampir sebagian besar orang yang datang membawa bingkisan berupa makanan, buah-buahan, nasi dan lauk-pauknya, kain, tikar, dan sebagainya. Tetapi segala bingkisan itu ditolaknya dengan rendah hati:

“Dengan perasaan haru aku terpaksa menolak pemberian kalian, Kalau kalian bersusah payah dengan bingkisan-bingkisan itu untukku, itu aku bukan peolongmu, tetapi aku menyusahkanmu. Janganlah sekali-kali kalian ulangi.”

Maka,sejak itu orang tidak berani menemuinya lagi dengan segala macam bingkisan. Ketika ada seorang yang berani menanyakannya, dengan apakah selama ini ia makan, maka dijawabnya,

“Masakan kalian tidak tahu. Apa yang harus dimakan oleh benda mati, kecuali tidak ada? Seandainya ia masih membutuhkan makanan, udara yang lewat sekelilingnya sudah cukup bukan?” Mendengar ini para petani cuma melongo saja dan berpandang-pandangan.

Badai masih mengamuk terus dan perempuan tua buta itu masih tetap terus menggali kubur bagi bayi-bayi itu.

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s