Mimpi atau De Javu?

Percayakah kamu bahwa kehidupan ini bersifat paralel? Ketika kamu sedang makan singkong goreng misalnya, di waktu dan tempat yang paralel ada dirimu yang lain, sedang melakukan hal lain? Mungkin kamu dan dirimu yang satu lagi itu pada dasarnya melakukan rentetan hal yang sama, namun ia melakukan sesuatu hal tersebut lebih dulu daripada kamu, atau sebaliknya. Atau dalam urutan yang berkebalikan.

Aku sering berpikir tentang kehidupan paralel. Entahlah. Geen idee, kalo kata orang Belanda.

Mengapa aku memikirkannya? Karena aku punya dunia mimpi yang sangat aktif. Selain itu, aku juga kurang kerjaan.

Bagi orang lain, mungkin mimpi hanyalah bunga tidur yang tidak perlu dipikirkan. Aku pun tak tahu apakah mimpi mereka serupa dengan mimpiku. Jika aku bercerita tentang mimpiku, orang sering berkomentar mimpiku panjang sekali. Aku seperti nonton film absurd saat sedang tertidur. Parahnya, terkadang aku tidak yakin apakah itu mimpi atau beneran. Aku lupa apakah aku sedang tidur atau terjaga.

Akhir-akhir ini kadang-kadang mimpiku berlagu. Saat terbangun, aku memikirkannya dengan bahagia. Aku bahagia bermimpi tentang musik. Aku senang bahwa ada musik dalam mimpiku. Aku bermimpi dalam medium melodi, tidak hanya visual. Melodi-melodi itu berhenti di dalam diriku saja karena aku sama sekali tidak tahu cara mengekspresikan sesuatu yang musikal.

Karena ketidakmampuan itu, seringkali aku berpikir, tak ada gunanya memikirkan mimpi. Tetap saja aku tak tahu apa yang harus kuperbuat dengan mimpi-mimpi itu. Hanya menimbulkan lamunan bingung dan tidak ada petunjuk sama sekali. Kadang aku berpikir, untuk apa ada mimpi, toh apa yang akan terjadi tetap saja akan terjadi. Tarohlah kita sudah tahu apa arti mimpi, kemudian mengerti apa pengaruhnya bagi adegan dalam hidup kita (kalaupun ada pengaruhnya), toh tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghindari atau mencegah apa yang tidak kita inginkan.

Dari apa yang kualami, aku menyimpulkan bahwa arti mimpi itu biasanya berkebalikan. Mudahnya begini, jika aku bermimpi melakukan perjumpaan dengan Stella (tokoh fiktif) misalnya, maka pada kehidupan nyata aku tidak akan pernah bertemu dengannya. Jika aku bermimpi berantem maka di kehidupan nyata berarti justru akan berbaikan. Jika mimpi berpisah, berarti justru akan bertemu lagi. Sayangnya, aku baru sadar sekarang bahwa aku sering tidak bisa membedakan antara mimpi dengan de javu.

Kamu pernah mengalami de javu kan? De javu, maksudnya, seperti ini: ketika kalian sedang melakukan atau mengalami sesuatu dalam dunia nyata, kalian merasa, “sepertinya pernah mengalami hal ini sebelumnya!” Misalnya sebuah percakapan, atau sebuah kejadian, atau sekadar kamu sedang duduk-duduk di ubin coklat bersama sahabat, diam tak bersuara dan terasa ada angin semilir menerpa … dan kamu mendadak ingat, kamu seperti sudah pernah melihat atau mengalami ini, kamu seperti mengulang adegan duduk-duduk di ubin coklat bersama sahabat dan hembusan anginnya pun sama. Itulah de javu.

De javu juga terjadi di alam mimpi, kalau aku tak salah memahami. Terkadang rasanya sangat real dan nyata sehingga aku tak percaya itu hanya mimpi. Tapi perbedaan mimpi dengan de javu, salah satunya adalah tentang keberkaitannya dengan kejadian yang kita alami secara nyata. Apa yang akan beneran kita alami, biasanya berkebalikan dengan mimpi, tapi sama persis atau bahkan seperti mengulang de javu.

Biasanya antara mimpi dan de javu tidak bisa tercampur, berdiri sendiri-sendiri. Aku sendiri belum pernah mengalami mimpi yang bercampur dengan de javu. Ini menjadi perbedaan kedua. Perbedaan yang … kadang jelas, kadang tidak. Yaitu: adegan-adegan dalam mimpi biasanya sangat absurd, gambar-gambarnya surreal, dan panjang sekali bersambung-sambung meski tak nyambung. Sedangkan de javu cenderung singkat, hanya satu potong adegan, dan itu masih bisa terjadi dalam dunia nyata. Ada juga sih, mimpi-mimpi yang kalau dinalar, secara teoretis masih bisa terjadi di dunia nyata, tapi kamu tidak akan mungkin melakukannya. Misalnya ya, contoh ekstrim saja, seorang anak laki-laki yang bermimpi berhubungan seksual dengan ibunya (mohon maaf). Hal ini mungkin saja dan bisa terjadi di dunia nyata, tapi kan sang anak tidak akan mungkin melakukan hal tersebut.

Aku sering keliru membedakan mimpi atau de javu. Contoh yang masih aku ingat: aku melihat temanku dari atas, di tengah hutan. Dia mengulurkan tangan padaku, memintaku menariknya. Kupikir itu pasti mimpi, karena … ngapain aku ada di hutan (kayaknya absurd dan ngga mungkin banget gitu loh)? Ternyata itu de javu, aku benar-benar mengalaminya. Saat itu aku mengikuti PDT (Pengembaraan Desember Tradisional), napak tilas jalur yang dulu dilalui Jenderal Sudirman, berkemah dan melanjutkan perjalanan. Bodohnya saat temanku mengulurkan tangan, minta ditarik, aku tidak langsung menariknya, tapi justru melongo dan berpikir, “hah, de javu!”

Bagaimana bisa kita mengalami atau melihat sesuatu yang akan kita alami sebelum sesuatu itu benar-benar terjadi … kalau bukan karena keparalelan hidup ini?

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

6 thoughts

  1. Woowww, eh berarti tentang de javu itu, gimana penjelasannya ya?
    Kok bisa gitu loh
    Aku sering mikirin itu heeheh

    India? Vanya mau ke India ya? Sering de javu India gitu? 😛
    Percaya ngga, kata mamaku kakek buyutku dulu orang India loh.
    Aku sering ga percaya.

  2. o, ya, kakek buyut (seorang asketik) dari mamaku juga orang india lho. terus nenek buyut dari mamaku ada cinta seorang belanda (duh, yg mau sekolah lagi di londo, selamat ya, semoga tambah montok dan tambah cantik ya nad). ehm, mamaku cantik nad: hidungnya mancung, sorot matanya jernih dan menyejukkan (dalam tiap tatapannya kutemukan cinta yg dalam), kulitnya kuning halus bercahaya (seperti kulitmu), sikapnya lembut (tak seperti nadya, galak :P), rambutnya hitam panjang (tak pernah dipotong pendek, jarang digeraikan, selalu diikat karet), tubuhnya kecil dan ramping, pinter masak (kalau manjaku kumat, hehe, aku sering merayunya dimasakin sayur, mamaku selalu kalah oleh senyuman dan rayuanku lho), tapi aku paling gak suka jika mamaku berdandan, jadi ilang semua cantiknya (sama kayak nadya dengan eye linernya itu, jadinya kayak putri ting-ting :P)

    soal de javu, aku nggak mau ngomong banyak, pokoknya nikmati aja dan gak usah dipikirin dalem-dalem. ya kadang aku pingin menuliskannya tiap kali terbangun dari mimpi, tapi ada yang menolak untuk menuliskannya di dalam sana. hehehe, jadinya kubiarin aja dan aku mah nyengir-nyengir aja kalo de javu. mimpiku dgn de javu gak pernah berkebalikan lho. tapi selalu sama persis. aku pernah mimpi diajak seorang perempuan ke prancis lho, ke lyon tepatnya, duduk berdua di tebing laut yang teduh. hehehe. ya gitu deh.

  3. hmmm gitu ya, salam kenal deh buat mamamu …. seperti bunga seruni?

    kalo aku, sebagai putri gothic harus pakai eye-liner dwonks, hahaha ….
    aku lebih suka jadi garang daripada cantik hoohoho
    tapi iya sih, kata mamaku aku kayak putri cina kalo pake eyeliner 😛

    btw emangnya di lyon ada tebing laut yang teduh ya? bukannya marseille?
    trus di mimpimu itu ada tulisan lyon gitu?

    kalo mimpiku, lokasi selalu antah berantah, cuma bisa ditebak-tebak tak ada petunjuk yang pasti 😛

  4. yup, ntar disalamin, paling mamaku melongo aja dan bingung, siapa itu nadya? ya ntar kubilang aja orangnya kayak putri cina 😛 hehehe mamaku seperti kembang seruni, kayak kembang mums, wah boleh juga tuh. hehehe mamaku kayak bunga lemon aja deh, seger. fotonya ketika muda selalu mengingatkan saya pada gadis-gadis india dan pakistan

    hehehe putri gothic yang garang ya, iya deh sip putri gothic yang garang, kayak avril jadinya ntar

    iya tuh nggak tau di lyon kok ada tebing laut, perasaan adanya di marseille ya. iya ada tulisan lyon dan cewek itu selalu menyebut “ini lyon”. wis mbuh lah, lihat saja nanti jadinya kayak apa, nek beneran yo syukur, ne gak yo setidaknya saya udah jalan-jalan ke prancis. wah aku tuh kadang takut dengan mimpi-mimpiku (sebenarnya hampir seluruh mimpiku tak pernah ada adegan yang mengerikan tapi selalu ada tanggung jawab yang mesti kupikul, dan aku senantiasa menolak itu). hehe wis kacau tenan aku mah.

    hehehe antah berantah ya. aku mah jelas semua, entah itu tempat, orang dan apa pun…

    1. hihihii yawda jangan disalamin ntar bingung lageee …
      ya moga2 aku juga bisa mampir ke prancis,
      tapi bukan ke lyon atau marseille …
      ke aix-en-provence soalnya rumahnya temenku (stephanie) di situ ….
      top abiez dah tempatnya.

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s