Si Parasit

Dulu, saat diwawancara untuk pekerjaanku sekarang, aku pernah ditanya:

“Dalam pekerjaan sebelumnya, kondisi apa yang paling membuatmu tidak nyaman?”

Aku langsung tahu jawabannya. “Membicarakan bos saat karyawan istirahat makan siang atau saat lembur.”

Kondisi tersebut sedang aku alami di tempat kerjaku sekarang. Permasalahan yang sering dibicarakan adalah, bosku itu sering hutang ke karyawannya. Kalimat barusan aja udah terdengar aneh, kan?

Aku sendiri pernah mengalami, beliau utang sama aku. Dulu nominalnya Rp 250.000,- Alasannya bla bla bla … untuk kepentingan kantor karena belum ditransfer dari pusat, atau gimanaaa gitu. Meski sudah diterangin sama beliau, jujur nih otakku terlalu lemot untuk menangkap maksudnya. Untungnya utang tersebut sudah lunas dan aku ga mau lagi meminjamkan uang padanya. Apapun alasannya. Aku ga peduli dengan “ewuh pekewuh”, sopan santun atau tata krama. Aku ga peduli andaikata dia jadi tidak menyukaiku dan memberikan penilaian yang kurang fair untuk hasil kerjaku. Karena aku profesional aja.

Pada beberapa kesempatan, teman-temanku sesama karyawan seringkali membicarakan kebiasaan buruk beliau tersebut. Sebab mereka mengalami hal yang serupa. Sekarang, di mataku, beliau ini bukan hanya tukang hutang, tapi juga seorang parasit. Ini harus dihentikan. Karena, hal ini merugikan banyak orang. Bukan hanya dari segi finansial tapi juga suasana kerja jadi ngga nyaman karena teman-teman sebenarnya memendam permasalahan ini. Tidak mau menegur si bos. Di mulut bilang ikhlas, tapi saat bos tidak ada, masih saja hutang-hutang itu dibicarakan.

Aku akan memberikan contoh keparasitan si bos. Saat makan siang bersama, beliau mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok milik salah satu karyawan. Setelah itu, beliau mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, pesan minum, kemudian selesai makan dan minum beliau melesat begitu saja. Siapa yang bayar pengeluaran beliau?

Begitu beliau pergi, barulah teman yang membawa rokok sebungkus tadi mengeluh tentang sikap si bos. Merokok nyaris selalu minta, tidak modal. Makan minta dibayarin. Kalo cuma sekali-sekali ya wajarlah. Tapi kalo terus-terusan? Dan langsung ngacir setelah makan? Melihat yang seperti itu, dan mendapat cerita dari satu sisi (sisi si terhutang) seperti itu, dalam hatiku apa yang dilakukan si bos itu seperti ngerampok. Ini harus diluruskan, seperti apa sebenarnya, tuntaskan saja.

Teman yang lain ternyata juga sering mengalami, uangnya dipinjam 5ribu, 10ribu, dan seterusnya. Memang sedikit-sedikit sih, tapi sering sekali. Maklum, satu kos. Alasannya cuma “pinjam dulu”, tapi si teman ini jadi ga enak menagih. Nah, jadi masalah kan.

Aku tahu ini bukan urusanku. Urusannya adalah antara si penghutang dan terhutang. Yang jadi urusanku adalah aku tidak nyaman terlibat dengan pembicaraan dengan tema ini. Aku bisa saja pulang atau menghindar dan tidak peduli, atau bilang pada mereka untuk bicara tema-tema yang “netral” saja, seperti film terbaru atau skor sepakbola. Tapi, sampai kapan? Ganjalan hati tentang masalah keuangan dan hutang-piutang ini nyata dialami, dibicarakan di antara kami sampai kapan tau juga ngga akan menyelesaikan persoalan. Aku juga tidak nyaman dengan kondisi teman-teman membicarakan si bos, apalagi membayangkan teman-teman di depan si bos berusaha biasa-biasa saja, tapi di dalam hati menggerutu. Hubungan kerja jadi tidak sehat. Bicarakan saja dengan si bos, misalnya tentang keberatan mereka: bos kok hutang ke karyawan atau minta dibayarin karyawan? Logika itu bisa dipakai. Memang gaji bos kami itu jauh lebih besar daripada kami, bisa dua kali lipat lho. Aku tidak peduli ke mana uang beliau pergi. Itu bukan urusanku, yang jelas kalau gaji sekian, ya patoklah pengeluaran harus kurang dari gaji, tidak ada alasan untuk berhutang. Lagipula beliau kan tidak keluar ongkos transportasi serutin karyawan. Untuk kepentingan kerja, karyawan kan harus rutin setiap hari kerja bolak-balik ke venue (lokasi kerja), sedangkan beliau kan lebih fleksibel. Aku tidak peduli kemungkinan bahwa dia belum ditransfer dari pusat, dll. Lha wong yang menggaji kami sama-sama dari pusat kok. Tentunya berbarengan.

Jujur aku merasa jengah, sampai-sampai hanya bisa curhat pada blog ini. Mungkin aku akan bilang saja ke mereka secara tegas, janganlah berlarut-larut selama berbulan-bulan dalam masalah ini. Aku bisa saja merelakan diri bicara pada si bos, karena urat “sopan santun”-ku sudah putus. Tapi kan hutangku sendiri sudah dilunasi, apa kepentinganku? Tidak ada, kan? Biarlah mereka yang bermasalah itu sendiri yang menyelesaikan masalahnya. Kalau tidak mau menyelesaikan ya tidak usah melibatkan teman-teman lain untuk mendengar permasalahan tersebut. Aku hanya bisa menyarankan: bicarakanlah, tuntaskan, karena ini sama-sama menyangkut pekerjaan kita ….

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

6 thoughts

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s