Anarkisme (3)

Sambungan …. (sama, males mengedit juga meski buruk sekali 😦 )

Negara sebagai Ibu Kandung Pemaksaan

Menggunakan definisi Weber mengenai negara, negara adalah lembaga kemasyarakatan yang berhasil memiliki monopoli hukum untuk memiliki kekerasan fisik di suatu daerah tertentu (Gerth & Mills, 1962: 78 dalam buku ‘Teori Negara’, Budiman, 1996: 3). Arief Budiman juga menyebutkan bahwa:

“Mungkin ada lembaga-lembaga lain yang memiliki kesanggupan untuk memakai kekerasan fisik,seperti misalnya kelompok-kelompok penjahat yang terorganisir di suatu daerah. Tetapi, mereka tidak memiliki keabsahan untuk menggunakannya. . . . Karena itu, bila negara kehilangan keabsahannya, dia sama saja dengan kelompok penjahat ketika dia memaksa warganya untuk mengikuti kehendaknya dengan ancaman kekerasan.” (1996:3).

Secara singkat, negara memiliki monopoli keabsahan untuk menggunakan paksaan atau kekerasan (force) dalam wilayah tertentu. Dengan demikian negara dapat berfungsi sebagaimana layaknya karena ia mengandung empat unsur yakni monopoli, keabsahan, kekerasan atau pemaksaan, dan wilayah. Ia juga mempunyai tangan-tangan gurita yang jumlahnya tak sedikit, untuk mencengkeram kedaulatan rakyat hingga rakyat merasa tidak berdaya tanpa negara. Tangan-tangan gurita ini antara lain sistem politik, sistem peradilan, militer, dan sistem keuangan, yang menjadikan peranannya seolah begitu menyeluruh, lengkap, dan tak tergantikan.

Pemusatan kekuasaan pada segelintir orang dengan klaim ‘perwakilan’ atau dalih ‘kepentingan umum’ membelah rakyat menjadi dua golongan: yang berkuasa dan yang tidak, yang memerintah dan yang diperintah. Rakyat kebanyakan hanya menjadi objek dari kekuasaan, dianggap berarti hanya sebatas kuantitas atau jumlah dan angka-angka prosentase statistik – contohnya saat pemilu atau ketika terjadi korban bencana alam – tanpa mempertimbangkan bahwa mereka adalah makhluk yang bernyawa, berakal budi serta memiliki daya kreasi. Ini adalah bentuk pelemahan rakyat agar korban-korban kekuasaan terpusat ini bersedia menerima dengan kebungkaman penuh, tanpa perlawanan.

Disadari atau tidak hal ini berpengaruh terhadap kejiwaan masyarakat. Masyarakat yang merasa tidak berdaya cenderung fatalis. Perkembangan kedewasaan mental menjadi terhambat akibat keengganan dalam mengemban tanggung jawab untuk menentukan nasib sendiri. Kepasrahan dan keputusasaan merasuk dalam benak khalayak ramai, sehingga tuntutan terhadap kedaulatan dapat dipinggirkan. Kedigdayaan institusi yang berkuasa terhadap rakyat menjerumuskan mereka ke dalam hubungan yang bersifat eksploitatif. Alienasi masyarakat pun tak terelakkan. Kesadaran masyarakat dimandulkan, mereka jadi berjarak dengan kenyataan yang dialaminya. Tak ayal, rakyat gagap dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan kedaulatan mereka sendiri.

Namun, sebisa mungkin aneka kerangka teoritik diwacanakan oleh kuli-kuli intelektual demi melegitimasi kekuasaan negara, mulai dari teori teokrasi, teori hukum alam, sampai teori perjanjian masyarakat (Soehino, 1986). Bakunin bereaksi keras:

“Any logical and straightforward theory of the State,” argued Bakunin, “is essentially founded upon the principle of authority, that is eminently theological, metaphysical, and political idea that the masses, always incapable of governing themselves, must at all times submit to beneficient yoke of a wisdom and a justice imposed upn them, in some way or other, from above.” [Bakunin on Anarchism, p. 142]

Dengan sistem yang sedemikian rupa, bersifat terpusat, hierarkis dan birokratik, negara tumbuh menjadi kekuatan yang jauh lebih besar sehingga kesanggupan rakyat untuk mengontrolnya menjadi sangat terbatas. Dugaan kuat yang semakin mendapatkan pembuktiannya adalah bahwa pembentukan negara justru menjadi ajang untuk mempermudah okupasi dari kapitalisme terhadap sumber-sumber hidup masyarakat. Ini semakin menjauhkan rakyat dari kedaulatan yang seharusnya erat berada dalam genggamannya, dan justru menyerahkan itu pada the rulling elite.

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

One thought

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s