Anarkisme (1)

… sebagai Alternatif Negara Bangsa

(sorry ya aku post ini di sini, ini basi banget kubuat pas masih koel, cuman untuk mempermudah dokumentasi aja kok. Lagipula, setelah jadi pekerja kok rasanya aku lupa bagaimana cara menulis tugas … ini sih pengennya biar aku sekaligus mengingat2, hehehee. Tulisan ini buruk banget, tapi aku males mengeditnya. Capek. Aku bikin bersambung pula. Kalau tak suka, langsung lari saja dari sini, kabuuurrr 😉 ).

Prolog

Kepala saya terganggu oleh pikiran “hey, apakah benar kita ini berbangsa, bernegara?”.

Sebagai seorang warga negara, menurut teori klasik yang diajarkan di bangku sekolah, seharusnya masyarakat memandang keberadaan negara-bangsa sebagai suatu hal yang penting. Konon negara berdiri berdasarkan konsensus atau kontrak sosial dari masyarakat untuk mendelegasikan kewenangan pada segelintir orang yang dipercaya untuk menjalankan pemerintahan. Melalui pemerintahan tersebutlah segala kebutuhan masyarakat akan diurus.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa seharusnya ‘ada’-nya negara-bangsa diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat itu sendiri. Dengan keberadaan negara-bangsa sebagai suatu cara masyarakat untuk menyelenggarakan perikehidupan bersama, diharapkan kedaulatan rakyat dapat diwujudkan.

Namun, apa yang terjadi justru sangat jauh dari apa yang diharapkan. Seorang wara negara seperti saya tidak merasakan relevansi keberadaan negara. Konsep ‘kepentingan umum; terus dipertahankan dan disebarluaskan mnejadi suatu dongeng ilusif untuk menjaga klaim kewenangan yang dimiliki oleh negara. Pada kenyataannya, warga negara seolah hidup sendiri-sendiri, memikirkan dan memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri, tanpa terlibat dalam bentuk kepentingan umum yang seharusnya menjadi kepentingan semua warga negara itu. Ketika ‘kepentingan umum’ telah tiada, negara kehilangan raison d’etre-nya.

Negara-bangsa muncul sebagai mitos yang menghegemoni masyarakat luas demi kepentingan segelintir orang yang berkuasa. Saya – dan banyak warga negara lainnya yang tidak memegang tampuk kekuasaan – tidak merasakan kedaulatan untuk menentukan nasib sendiri. Negara yang seharusnya muncul sebagai suatu kesatuan yang memberdayakan masyarakatm justru merenggut kedaulatan dari tangan rakyat, meninggalkan suatu kehampaan yang mendalam pada masyarakat yang frustasi dan tertekan oleh ketidakberdayaan. Entah di mana rakyat harus merebut kembali daya itu, sebab ternyata negara bukan satu-satunya aktor yang terlibat. Bahkan, bisa jadi negara hanyalah kedok untuk menyelamatkan muka aktor-aktor sesungguhnya. Mengingat bahwa negara sendiri memiliki kekuasaan yang sangat besar, bisa dibayangkan betapa besar dan dahsyat pula kekuatan aktor-aktor yang menungganginya.

Pertanyaan saya adalah: apakah keadaan ini berkaitan dengan status negara-bangsa saya sebagai suatu ‘Negara Dunia Ketiga’ yang menanggung nasib sebagai negara-bangsa bekas dijajah? Di mana letak permasalahan yang sesungguhnya?

Bersambung ke

Anarkisme (2)

Anarkisme (3)

Anarkisme (4)

Anarkisme (5)

Advertisements

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s