Dear Diary, maaf lama sekali …

~Setelah satu tahun lebih

Dear diary, maaf ya aku lama sekali ngga nulisin kamu. Mungkin aku terlalu sombong dengan ilusi kehidupan sosialku. Sampe-sampe aku melupakan ruang privatku. Aku melupakan bahwa pada dasarnya setiap manusia itu sendirian. Termasuk aku … dalam menjalani kehidupanku.

Aku seperti ingin mengatakan, dengan nada sedih yang kututupi dengan kamuflase sempurna, bahwa aku sudah cukup normal. Aku bergaul dengan banyak orang. Terlibat dengan kehidupan bersama mereka. Sebuah kehidupan yang kaya dan penuh euforia. Merekalah “diary berjalan”-ku.

Tidak perlu lagi menyudut dalam ruang soliter hanya bersama buku diary dan pena. Hanya aku dan pikiran-pikiranku sendiri, kayak orang gila aja. Aku seperti ingin menegaskan bahwa diri ini tidak ada artinya, tidak perlu menulis diary segala … karena menjadi “berarti” ternyata terlalu berat untuk ditanggung. Aku pun tak tahu secara pasti, kenapa dan untuk apa arti aku menulis diary ini.

… hanya sebuah kerinduan, barangkali.

Di satu sisi aku jengkel dan kapok dengan aktivitas menulis diary. Karena, apa yang aku tuliskan selalu saja “negatif”. Penuh dengan kemarahan, protes, memori menyakitkan yang aku simpan sebagai gumpalan-gumpalan dendam, dan … terutama tema klasik “kemuakan”.

Aku nggak tahu apa pengaruh tulisan semacam itu terhadap alur garis hidupku. Aku menduga jika coretan di diaryku bernada “positif” maka itu menunjukkan persepsiku yang oke dalam menjalani hidup, lalu akan banyak kejadian manis sebagai ganjarannya. Mungkin lho, itu hanya reka-rekaku aja. Aku nggak tahu pasti.

Yang jelas, aku merasa terpukul saat mencuri baca sebuah buku “rahasia”, semacam diary scrapbook punya Dinaya yang sering dia bawa ke mana-mana. Kenapa diaryku tidak berisi tulisan-tulisan seperti itu, seperti punya Dinaya? Dia menulis secara puitis tentang keindahan alam, betapa itu semua mengingatkannya pada keagungan Tuhan. Dia menyitir kalimat-kalimat ilahiah dan menambahinya dengan motivasi kontekstual bikinan sendiri. Dia secara empatik mencatat pengamatannya terhadap orang lain, perjuangan hidup mereka dan hal-hal yang membuatnya terinspirasi. Dalam segala hal selalu ada hikmah yang bisa diambil, suatu pelajaran kehidupan baru. Bijaksana sekali, atau paling tidak, dia ada kemauan untuk belajar menjadi bijaksana.

Aku salut dengan itu semua. Meskipun mungkin semua omonganku tentang tulisan Dinaya tadi terdengar pedas, sinis, dan mencemooh, tetapi sesungguhnya aku memang memuji. Aku pengen, dan berusaha, mencoba menulis seperti cara Dinaya …. Tapi entah kenapa aku tidak bisa. Atau, mungkin karena aku ngerasa nggak bisa, lalu jadi nggak bisa beneran. Entahlah. Terus terang saja, entah kenapa aku merasa tulisan-tulisan begituan itu tuh tidak keluar dari jiwaku.

Terkadang aku meng-konfrontasi diriku sendiri, dengan mengatakan bahwa isi jiwaku tidak perlulah aku tuang-tuangkan menjadi tulisan segala, toh hanya semua predikat buruk yang pantas melekat di sana. Tapi sisi lain diriku mengatakan, kalau tidak menulis trus aku mau ngapain? ~

[Sama seperti permohonanku: aku nggak pengen hidup dalam ilusi. Tapi kalo nggak hidup dalam ilusi, trus aku mau hidup di mana?]

end note: karena nggak ada yang bisa bikin aku sebahagia saat nulis diary ….

Dear diary, maaf lama sekali ….

Advertisements

8 thoughts on “Dear Diary, maaf lama sekali …

  1. lha nad yg kautulis sendiri ini puitis ga ya? manis lho, iramanya kena

    Aku seperti ingin mengatakan, dengan nada sedih yang kututupi
    Aku seperti ingin menegaskan, kenapa dan untuk apa menulis diary
    … hanya sebuah kerinduan barangkali

    kalo model tulisan ini dipertahankan, aku yakin kau akan jadi
    penyair wanita hebat kayak gabriel mistral, serius niy ucapanku
    ayo nad dirawat souls “lembut”nya, jgn marah, protes, dendam
    dan muak terus2an. nggak banget deh yg gituan mah. ayo nad!

    hei, mbok nulis tuh yg bener, pusing palaku baca kata2mu yg ini:
    pun merupakan; menyudut; menjadi; mencuri baca; mengkonfrontasi
    tuang-tuangkan. belum lagi kata2 lain kayak ilusi, privat, individual,
    status, kamuflase, euforia, aktivitas, persepsi, kontekstual; predikat
    capeeek deeh, mending makan semangka kalo gini mah 🙂

    hehehe, udah galak2 aja, piss nad, ga usah ikut2an bijaksana, kalo kau
    bijaksana ntar malah bintang2 di langit pd rontok semua dan ga ada lagi
    bunga yg mekar di taman buah, ga ada lagi ikan yg berenang di telaga

    diary, jgn maafin nadya yg udah setahun lebih menelantarkanmu
    ayo dinaya, temani nadya menulis seperti caramu dgn kebaikan
    dan keindahan serta cinta yg sungguh yg kaumiliki

  2. masing-masing orang punya gaya sendiri 🙂

    meskipun gaya nadya nulis “negatif” tapi aku membaca ada semangat merubah itu menjadi hal yang lebih baik

    • sumpah aku pengen belajar nulis diah …
      pengennya ga usah pake kursus atau pelatihan gitu tapi learning by doing n dari liat tulisan2 yang aku suka 🙂

  3. just be you. just be brave to speak up your beautiful mind. and beautiful doesn’t always mean sweet. even when you are a little bit rough you can be beautiful. who gives a damn anyway?

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s