kemesraan tabu

sorot matanya jernih dan teduh. raut wajahnya tidak berbayang, memancarkan seberkas cahaya malaikat. masih teringat jelas saat pertama kali ia menatapku. ada wibawa, ketabahan, dan kegamangan di kedalaman matanya.

dia benar-benar melihatku di momen itu. melihat, mata ke mata, hati ke hati, seperti ingin mengajak bercakap-cakap dalam bahasa mata hati.

dia rekan kerjaku. seniorku, lebih tepatnya. aku sempat menghormat dan menuakannya. wajar saja, sebab ia seorang calon ibu. tubuhnya sangat mungil, seperti anak kecil. aku tak pernah menyangka, ternyata dia memang masih sangat muda.

pada saat aku seusianya, aku masih sibuk dengan diri sendiri. kuliah dan bermain-main. sementara, dia sudah harus mempersiapkan kelahiran. pada saat aku seusianya, laki-laki hanyalah makhluk pengganggu yang tidak perlu dipikirkan secara serius. sementara, dia, dalam usia semuda itu, sudah menikah.

entah mengapa, meski belum lama kenal, dia terbuka padaku, menceritakan banyak hal. aku senang mendengarkan ceritanya, kisah-kisah kehidupannya, keluarganya, kelebatan pikiran dan kegelisahan-kegelisahannya. sepertinya semua spektrum waktu terangkum jadi satu periode dalam dirinya. cara berpikirnya seperti tak mengalami fase. ia bisa jadi anak kecil, remaja puber, dan nenek tua nan bijak sekaligus dalam satu momen. aku senang mendengarkannya. namun, terkadang aku merasa aku tahu terlalu banyak.

untuk saat ini, tahu terlalu banyak dapat diartikan dengan: aku terlibat dalam sebuah kemesraan tabu.

suaminya adalah rekan satu timku. kami bekerja berpindah-pindah tempat. beberapa saat belakangan ia suka dengan seorang spg baru yang belum tahu bahwa lelaki ini beristri. kebetulan spg baru ini juga senang berteman denganku, bukan dengan rekan-rekanku yang lain. anak baru masih kurang gaul gitu deh.

nah, kalian bisa bayangkan, aku jadi seperti terminal tempat ketiga pihak ini menumpahkan uneg-unegnya. terkadang aku mengutuk ketidakmampuanku mengatakan “hei, aku tidak mau dengar.” si suami bercerita tentang gejolak perasaannya. si spg bertanya tentang si suami. si istri bertanya tentang si spg dan si suami. masing-masing menyuruhku bersumpah tidak akan bilang apa-apa pada siapa-siapa.

si suami, sudah jelas punya istri yang sedang hamil tua, istri yang sedang di luar kota karena cuti, malah sibuk memanjakan perasaannya sendiri pada si spg. seperti abg saja deh!

“kenapa ya nad, aku gelisah memikirkan dia?”
“aku suka sama dia, aku sayang sama dia ….”
“nad, ntar ajakin makan bareng ya, bertiga”
“nad, dia itu baik ya”
“kenapa dia ga pernah bales smsku sih? telpon juga ga diangkat.”

ilfil deh aku mendengarnya. saking capeknya, alih-alih berkomentar, aku hanya memasang ekspresi mati rasa. kuharap ekspresiku itu bisa memancarkan mantra-mantra “woy, ingat anak istri, woy”. terbukti, mantra-mantraku samasekali tidak mujarab.

suatu siang, aku diajak makan siang oleh si spg. ingin ngomong penting, katanya. ternyata ia menanyakan tentang siapa saja rekan kerjaku yang sudah menikah. kujawab apa adanya. dia seperti kaget, melongo, mengambil jeda sejenak, dan mengulangi pertanyaannya. lalu meluncurlah dari mulutnya, kisah kemesraan tabu itu:

si spg tidak tahu status si suami yang sebenarnya. si suami bilang “belum punya ikatan dengan siapapun, baik pacar maupun istri”. si suami mengajaknya “serius”. si spg bilang ingin memikirkan dulu. si spg bersedia “mencoba jalani”. si suami ingin dia menyembunyikan hubungan mereka dari semua rekan-rekan kerja. si suami melarangnya ngobrol dengan spg2 laki-laki. si suami melarangnya makan siang dengan teman-teman laki-laki lain. si suami bermulut manis, tapi pengekang. si suami bilang, mau melakukan apa saja untuk bikin dia senang. si spg baru tahu si suami sudah punya istri. secara kalem si spg bilang, dia ingin menamparkan sepatu ke muka si suami. si spg tidak mau berhubungan lagi dalam bentuk apapun, pokoknya PUTUS!

si suami juga curcol di sela-sela kerja. dia patah hati, betapa mudahnya si spg berubah. si spg hanya mempermainkan perasaannya. tadinya mau, sekarang marah seperti tidak kenal. si suami curiga si spg lesbi dan sebenarnya masih sayang pada teman ceweknya yang tomboy. si spg tidak secantik yang dia bayangkan dulu. si spg sombong. si suami masih sayang pada si spg. si suami ingin minta maaf. si suami sebenarnya hanya bercanda pada waktu me-“nembak” si spg. si suami bilang “gimana kalo aku nembak kamu?” sambil lalu, di motor. ternyata si spg mau memikirkan, dan akhirnya mau “coba jalani”. si suami sebenarnya tak ingin statusnya diketahui secepat ini. si suami penasaran siapa yang memberitahu si spg. si suami ingin pada saatnya nanti mengatakan “mau ga jadi istri muda?”, si spg sudah telanjur sayang, jadi mau.

aku menuliskan semua ini seperti catatan polisi, karena aku tak tahu cara lain untuk menuliskannya. perselingkuhan, apapun bentuknya, kuyakini banyak terjadi di mana-mana dan telah berusia sangat purba. sama purbanya dengan ungkapan “begitulah cinta, deritanya tiada berakhir”. kalau bilang perselingkuhan itu hal biasa, kok rasanya janggal. tapi kok ya kisah perselingkuhan itu bisa ditemui di setiap tikungan, dengan bermacam-macam format dan versi.

selingkuh tidak pandang stereotip. mulai dari orang tajir sampai orang tidak berpunya, mulai dari orang berpendidikan tinggi sampai orang tanpa pendidikan formal, tua sampai muda, dari kos-kosan sampai hotel bintang lima, kisah-kisah perselingkuhan itu bertaburan. sungguh membosankan. kisah-kisah perselingkuhan kehilangan daya tariknya di telingaku. semua seperti tak direncanakan, padahal jelas, salah satu pihak melakukannya dengan dua pilihan saja: sengaja atau “lalai”.

kalian boleh bilang aku sok polos: terkadang aku seperti mencari semacam “pelita moral”, bagaimana menyikapi semua rahasia yang diceritakan padaku.Β ngapain aku mengalami dilema yang dramatis begini. lebay deh, ke-puritan-ku hanya layak untuk ditertawakan! kenapa aku tidak bisa tertawa dan menganggap enteng saja, seperti orang-orang lain yang membicarakan ini selayaknya humor cabul?

pada dasarnya aku cuek dan masa bodoh. di satu sisi aku tidak tertarik dengan urusan rumah tangga orang dan tidak mau ikut campur. bukankah itu tabu? tapi, di sisi lain aku takut apa yang aku lakukan -membiarkan rahasia-rahasia itu tidak bocor- merupakan tindakan yang salah. dan, mengapa pula aku aku masih peduli pada benar salah? apa pentingnya? apa pentingnya bagiku?

bagaimana cara aku mengetahui apa yang salah dan apa yang benar untuk kulakukan? aku orang “awam”, dan, percayalah padaku, pernikahan adalah hal yang kompleks. sejujurnya kepalaku terasa berat, dan hatiku bersenandung dengan putus asa, “o kidung yang indah, kau luputkan aku dari sebuah dosa ….”

sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya terjatuh juga. sekuat-kuat aku mengabaikan rahasia-rahasia itu, akhirnya terbongkar juga. pada suatu akhir pekan si suami menemui istrinya di luar kota. ponselnya diperiksa si istri tanpa sepengetahuannya. sms-sms, foto-foto itu … hal pertama yang dilakukan si istri adalah konfirmasi pada si spg melalui sms yang panjang dan memedihkan. sebagai sesama perempuan, si spg ikut merasakan sakitnya dan ia membagi rasa sakit itu kepadaku dengan curhat di depan kamar mandi karyawan. mendadak aku punya “solidaritas sesama perempuan”. aku tidak bisa memahami “alam kejiwaan” si suami yang -dalam penilaian kasarku- hanya dikendalikan oleh burung-nya. kedua perempuan itu sama-sama mungil, bermata jernih dan bermuka polos. mau tak mau, aku merasa ironis tanpa bisa kujelaskan ….

si istri menelponku saat aku masih di angkot yang berisik. awalnya membahas peristiwa lain yang juga bikin geger dalam tim kerjaku. aku menunda dulu pembicaraan via telpon itu sampai aku sampai rumah. “lalu apa yang harus kukatakan padanya?” sepanjang perjalanan angkot prambanan-jogja transfer jogja-kaliurang, aku memikirkan ini terus. ini yang kualami sebagai si terminal, tempat informasi2 mereka bertemu.

mudah saja bagiku untuk mengatakan sejujurnya, tapi apakah itu tindakan yang benar? apakah itu tindakan terbaik? aku tidak ingin punya kontribusi terhadap gonjang-ganjingnya rumah tangga orang. apalagi ada adek bayi yang sebentar lagi lahir. aku juga tak ingin menambah rasa sakit orang.

mungkin sebaiknya aku diam saja. aku akan bilang aku tidak tahu apa-apa. peranku hanya sebatas rekan kerja. kerja bareng tapi tidak tahu apa-apa tentang hal-hal di luar pekerjaan. biarkanlah urusan rumah tangga mereka. kata “tabu” memperingatkanku agar tidak ikut campur. bukan aku tak membela si istri. toh, semua orang juga sepertinya melakukan hal yang sama bila di posisiku. tidak bijaksana juga bila aku mengumbar fakta kejelekan suaminya sendiri. maksudku, seburuk apapun, dia itu suami si perempuan mungil bermata jernih. perempuan muda yang aku sayangi.

ah…! tahu apa aku tentang sayang? beuh …. semua rencana rapiku tadi langsung bubar. bukan apa-apa, aku tak yakin bisa melakukan rencanaku tadi terhadap si istri yang di mataku tidak punya salah apa-apa. ditambah, aku pernah punya pengalaman traumatis tentang berbohong. meski mengatakan “tidak tahu apa-apa” bisa jadi adalah pilihan yang paling bijaksana, sepertinya aku TIDAK AKAN SANGGUP berkata seperti itu … meski cuma lewat telepon. aduh, bagaimana ini? pusing … pusing …. aku mencoba mengalihkan pikiran dengan minum air kemasan yang baru aku beli di tempat transfer angkot. eh tanpa terasa satu botol Β 500 ml aku habiskan seketika.

dalam kebuntuan, aku mengirim sms pada ibuku, minta ditelepon. dia menelepon dan aku hanya bertanya apakah dia di rumah. ya, hanya pada ibuku aku bisa minta petunjuk.

pada ibuku aku bicara garis besar singkat, langsung intinya, dan bertanya apa yang sebaiknya aku bilang pada si istri: jujur atau bilang tidak tahu-menahu? ibuku malah menanyakan dulu secara cukup detail. waduh. akhirnya, kata ibuku, sebaiknya aku bilang: “tanyakan pada suamimu, aku tidak mau ikut campur selain urusan pekerjaan.” oke, baiklah. aku sudah pegang senjata pamungkas dari ibuku. segera aku ke atas dan menelpon balik si istri sesuai janji.

begitu telpon tersambung dan aku ditanya, pertanyaannya itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab si suami. pertanyaan itu hanya aku yang bisa menjawabnya. bubar sudah semua persiapan dan rencana. aku bicara apa adanya saja. aku tidak sanggup mengatakan hal selain apa adanya yang aku tahu. aduh, aku menjaga bicaraku singkat, sesuai pertanyaan dan tidak aku tambah-tambahi. berat sekali. aku minta maaf berkali-kali. dalam hati aku memegang catatan: aku tidak ingin berkontribusi terhadap gonjang-ganjingnya rumah tangga orang, aku tidak ingin menambahi rasa sakit, dan aku tidak ingin menjelek-jelekkan suaminya.

dia berterima kasih padaku.

yang lebih baik lagi, dia bilang aku tak perlu minta maaf. aku tidak salah. aduh … baik sekali T_T …. padahal, aku sempat merasa berkhianat padanya, entah dari sisi mana, karena aku tak mengatakan sejak awal tentang hal ini. dia justru bilang aku jangan kaget. begitu katanya. aduh aduh.

selanjutnya, semua curhat dia cukup aku dengarkan saja. entahlah, kalaupun aku harus memberi saran, saran apa? aku tak punya saran dan tak tahu saran apa-apa. aduh, sudahlah. aku sudah melakukan satu-satunya hal yang aku bisa. bukan karena aku bijak atau mengutamakan moral, tapi memang karena aku tak bisa melakukan hal lain, meski hal lain itu hanya sekedar bilang : “tanya saja sama suamimu”. ah, sudahlah. hal-hal berikutnya sudah bukan urusanku sama sekali. aku bahkan mau berdoa saja tidak tau, apa yang sebaiknya aku doakan. mendoakan apa? “yang terbaik untuk semuanya”? bah, doa macam apa itu, gombal. fiuhhh ….

aku ingat, dahulu dia pernah mengatakan padaku bahwa dalam pernikahan, usus harus panjang. menurut peribahasa jawa, usus panjang artinya sangat bersabar. dalam hal ini, sepanjang percakapan samasekali aku tidak menyebut kata “bersabarlah” padanya. tidak dan tidak akan.

yang jelas, aku percaya dia cukup bijaksana untuk mengambil keputusan, apapun itu.

nb: pengen beli perangkat untuk nyetel musik di kamar, huhuhu ….

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

14 thoughts

    1. well, makasih banget lhoch udah mau baca! aku ngga nyangka ada yang baca sepanjang ini T_T yaa tapi gimana kalo ga kutulis rasanya ngganjel sampe lama banget. seneng banget ada yang baca n komen ….

  1. Untung yang selingkuh bukan artis ya… kalo artis udah keluar di infotaiment dari waktu ke waktu selama seminggu lebih dan bakal dibicarakan orang dari warung angkringan hingga restoran mewah

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s