Hari yang Melelahkan

Pagi ini aku bangun dan ngerasa lega. Karena, ternyata ini jatah liburku. Senang. Lumayan … libur dua hari sekaligus.

Lena Kaligaris dalam teenlit the Sisterhood of the Traveling Pants pernah merumuskan, “Kalo mau tau apakah pekerjaanmu itu pas apa engga buatmu, liatlah dari perasaanmu pada minggu malam.” Yaitu, pada saat liburmu berakhir dan hari kerjamu menjelang. Aku sendiri … seneng banget kalo liburan. Sering ngantuk kalo kerja. Artinya apa, hayo? πŸ˜›

Mungkin aku memang pemalas. Mungkin aku ga terlalu cocok jadi “tenaga kerja”. Pada dasarnya, jam kerjaku tu dikit banget. Lebih layak untuk dibandingkan dengan semacam summer job daripada permanent job. Duitnya lumayan. Aku udah terbeli. Mungkin aku cuma sedang kelelahan.

Kemaren bener-bener hari yang melelahkan. Jam 9 pagi ada meeting di kafe. Kafenya belum buka. Kami cuma make kursi outdoor dan beli kopi kalengan dari toserba terdekat. Meeting kami ngebahas tanaman merambat yang ga jelas namanya. Aku amazed dengan koordinator kami yang sering -dan, dengan nyaman- menggunakan kata2 “idealisme, prinsip, tujuan, cita2”. Inilah pekerjaan pertamaku yang secara terang-terangan dan tidak malu-malu memrogramkan adanya semacam “suntikan keyakinan” seperti ini. Menurutku, sederhana dan logis sih, apa yang dilakukannya: kami diharap dapat bekerja dengan lebih baik jika kami yakin dengan apa yang kami lakukan.

Bagiku, idealisme itu klise kalo ga diruntuhkan dulu. Setelah diruntuhkan, dikais-kais dan direnggut dari puing-puing yang tersisa. Idealisme instan dan cangkokan, ga pernah dibenturkan, well … menurutku itu bukan idealisme. Ketika idealisme dicelupkan tanpa perlu nalar dan daya kritis, tentu saja aku sepakat bahwa itu sama dengan cuci otak. Tapi, begitulah konsekuensi dunia-kerja. Agar roda dunia-kerja bisa berputar, dibutuhkan sesuatu yang instan dan praktis!

Sebelum berangkat kerja, seusai meeting, kami makan bareng. Makan aja heboh! Rekan kerjaku masih muda-muda semua. Aku merasa pengen ketawa sendiri. Absurd sekali deh, aku harus mengalami segala gejolak kemudaan teman-teman yang, rasanya, aduh, geli! Banyak yang masih kayak anak-anak, harus senantiasa diperhatikan. Banyak yang blingsatan karena cinlok (cinta lokasi). Ada juga menghalalkan kejudesannya dengan alasan lagi “dapet”. Ada-ada aja. Masiiih aja hal kayak ginian eksis di dunia kerja. Jangan lupa, FB tu penting banget. Cape deh kalo aku harus berteman dengan mereka di kerjaan plus di FB juga. Kapan aku terbebas dari mereka? πŸ˜›

Habis makan, ada yang ibadah, ada yang langsung berangkat ke lokasi kerja. Aku dapet lokasi di depan Mirota Batik. Ramai sekali! Gila, pusing deh kepala. Dua hari sebelumnya, kerjaku lumayan sukses di Mirota Batik ini. Tapi kali ini aku gagal total. Semua rekan setimku, kami bertiga, gagal total.

Yah, paling ngga, kami bisa foto sama artis! (Temen-temenku pake istilah artis, so pardon me). Cantik banget! Ketika difoto, sepertinya kulitnya tuh bersinaaarrr gitu, sementara kami terlihat seperti rakyat jelata πŸ˜› Anehnya, kami ga tau namanya. Kami cuma tau dia main FTV “Pacarku Pendek Sekali”.

Salah satu temenku histeris banget. Ketika si artis mau keluar dari Mirota Batik, dia ngebego-begoin temen lain, nyuruh cepet-cepet pegang kamera.

  • Jepret: satu kali.
  • Posisi: duduk bareng di kursi berkanopi depan Mirota Batik.

Eh, belum cukup rupanya. Temenku itu kayak menguntit si artis di depan Gedung Agung. Dia heboh sendiri sambil senewen,”Sumpah dia mau ke sini! Sumpah dia lewat!”. Sampe sekarang dia masih heboh dengan “gigitan” si artis. Dalam foto, si artis itu tersenyum sambil menggigit bibir bawah. Eh, temenku membayangkan yang aneh-aneh πŸ˜› Dia juga ikut-ikutan bergaya kayak gitu tiap kali difoto.

Pas break, kami duduk-duduk di depan Gedung Agung. Abis tu kami menyebrang ke depan Benteng Vredeburg. Aku makan sate. Si rekan yang histeris itu makan-makanin sate aku … tapi ga mau beli sendiri. Sampe satu jam kami istirahat. Tapi, rekan yang satu lagi -si juru potret, bukan si histeris- delusional sok yakin bahwa kami istirahat ga nyampe 30 menit. Padahal, jam tanganku dan jam Ngejaman di Malioboro menunjukkan, udah satu jam kami beristirahat. Dia berusaha meyakinkan kami bahwa kami “ga sampe setengah jam”. Dia ngga berdasarkan fakta akurat, tapi berdasarkan feeling takut-dimarahin-ketua. Ditambah lagi, kami memutuskan pulang lebih awal setengah jam. Dia ketakutan banget, nyuruh-nyuruh aku dianterin biar ga ketahuan. Parno ih. Cuekin aja, wong aku suka jalan kaki sambil liat-liat kanan kiri, yeee!

Malamnya, ada farewell party karena si koordinator n rekannya dipindahtugaskan, ke Jakarta dan Bandung. Kami nodong traktiran di resto super fancy. Wuih pokoknya mahal banget deh. Life music-nya perkusi akustik gitu. Jalan setapaknya dihias lilin di samping kanan kiri. Ada lukisan-lukisan gedeee dipajang. Kami makan di meja panjang banget, duduk di kursi tinggi, berasa keluarga kerajaan gitu!

Aku kenyang. Sengaja pesan menu spesial, masakan India, bulgogi! Beuu … semuanya pas banget ma lidah aku. Temen-temen lebih pilih ayam, bebek, dll. (Yah, itu sih standar.) Abis tu aku pesen minum mint. Temen-temenku kaget banget dengan rasa mint. Lah kalo sekadar minum strawberry milkshake, kan banyak di mana-mana? Rasa manisnya bisa ngilangin/matiin citarasa makanan tadi. Kalo mint, begitu diminum, langsung dingin. Ga manis. Di dalem mulut jadi seger pedes kayak ada salju antartika. Sampe ke hidung dan paru-paru. Kayak mau beku gitu! Temenku bilang rasanya kayak rokok menthol. Mungkin rasanya kayak odol juga πŸ˜› Sampe sekarang harum mint masih terasa, tercium di hidung aku ….

Selesai makan dan minum, mulailah temen-temen bernorak-norak ria, alias, foto-foto! Awalnya mereka sungkan. Takut dianggap kampungan, ga sopan, de el el. Lama-lama, eh, foto-foto terus. Di depan lukisan, di depan lilin-lilin, semua deh. Pengunjung lain anteng nikmatin makan n suasana, rombongan kami sibuk mengabadikan diri! Kok seperti “sekali-seumur-hidup” aja makan di situ! Hehehe ….

Menjelang pulang, ada cerita lucu tentang Miss Universe dan black box. Aku ga pengen ketawa, so, masak maksa? Sebenernya apa yang aku pikirkan tu ternyata berlapis2 untuk sampe ke bagaimana reaksi aku. Aku justru ketawa sendiri pas udah sampe di rumah, mengingat cara berpikir n reaksi aku itu.

Ngga tahu deh, temen-temen sering bilang selera humorku aneh. Tentang si black box ini, sebenernya aku mau bilang “Emang temen-temen ga tau kalo black box itu warnanya ga item?” Black box kan metafor karena isinya konfidensial. Warna kotaknya sendiri harus ngejreng supaya gampang ditemuin. Makanya, warnanya oranye. Eh, alih-alih ngomong yang sebenarnya kayak gitu, aku malah hening dan bilang, “kan orang tu ga kotak?” Antara takut dibilang sok tau, males, juga heran. Detail kayak gitu aja kok aku pikirin. Akhirnya, aku sms-in hal ini ke si koordinator. Biar deh, semakin orang mengenalku mereka akan makin bingung betapa anehnya aku, hihihi.

Akhirnya untuk menutup malam, mereka lanjut ke lounge atau apalah itu. Aku males banget. Mending pulang duluan.

Mungkin orang mengira aku kesepian karena orang rumah udah pada tidur. Tapi, aku bisa nemuin temen-temenku sendiri, kok. Misalnya, aku lagi nyelesaiin baca e-book Forever in Blue (Sisterhood of the Traveling Pants 4). Tokoh-tokohnya tuh mengingatkanku pada sobat-sobat masa SMA aku. Mereka mau ke Jogja loh dalam rangka libur akhir taun! Duh … kangen. Kami udah pencar-pencar gini, kayak punya jalan hidup sendiri-sendiri dan ga saling bertemu di persimpangan. Selain baca, aku juga bisa ngeblog di hari libur, ternyata menyenangkan sekali! Inilah suaraku, kalo kata Casseybunn “Be a voice not an echo”.

I love u, dear readers! Makasih udah mau baca seserpih kehidupan aku πŸ™‚

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

8 thoughts

  1. bulgogi bukannya dari korea nad? aku beli resep masakan korea, ada resep bulgogidipraktekkan oleh mbak kostku, hasilnya jadi semur daging sapi hahahaha…

    mau dong e-book sisterhood traveling pants 4.. πŸ˜€

  2. hey nadia!!
    lucu..lucu.. tulisan lu ini,, seperti ingat..!! hahahaaa…
    black box lu bagi gw, ajaib! Lu memberi sebuah pengetahuan, ditengah situasi sedang -bodohbodohan-! gw tertarik dg sosok lu, tp mungkin krn kita jarang ketemu, jadi jarang ngobrol.. Tetap berkarakter, nad!!

    1. haiiii Lenaaa!! aduh kangen banget, ga bisa gw deskripsikan dengan kata2 … :’)
      makasi ya udah berkunjung ke mari
      sori lama banget nih ga apdet, lagi stress huahahhahahaa
      pa kabar len?

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s