jangan hindari aku dan jangan kau malu

walau kutahu …
tentang kisahmu
waktu yang lewat
atau engkau kini
jangan hindari aku
dan jangan kau malu
karena cintaku itu
dari hati yang suci…

kupu-kupu liar ~slank

beberapa hari ini saya sibuk mengirim sms pada teman2, curhat: “saya jenuh.” ga ada kesibukan. jawaban dari satu orang membuat saya berpikir. dia bilang sedang mempersiapkan terbitan dengan tema “perempuan miskin kota”.

kalo harus ikutan nulis, kira2 apa yang ada di benak kalian tentang tema itu?

entah kenapa, yang langsung terbayang di benak saya adalah industri prostitusi. langsung saja, saya teringat dengan pengalaman beberapa waktu yang lalu.

suatu hari, saya hendak membeli tiket kereta api di stasiun tugu. biasanya, kalau tiket untuk hari itu juga, belinya di loket depan. karena keberangkatan masih beberapa hari lagi, saya harus membeli dari loket belakang.

saya mendaftar, menunggu, dan membeli tiket di loket belakang. kemudian, saya keluar dari tempat itu dengan tiket di tangan. ternyata pintu keluar jalan itu langsung mengantarkan saya ke daerah pasar kembang. bagi teman-teman yang belum tau, itu daerah prostitusi terkenal di yogyakarta, berdekatan dengan malioboro, berarti terletak di pusat kota. meskipun dekat (saya sering main ke malioboro) namun tak pernah sekalipun saya melintas ke jalan pasar kembang tersebut.

karena saya tidak membawa kendaraan, jadilah saya berjalan kaki menyusuri daerah itu. meski beberapa teman seringkali mengira saya perempuan “modern”, sebenarnya saya merasa cara berpikir saya seringkali kolot, kuno, konvensional, puritan, terserahlah mau disebut apa. saya masih merasa tabu dengan segala hal yang berkaitan dengan prostitusi, tidak bisa membicarakannya secara santai, fasih, terbuka, bahkan sambil bercanda seperti teman-teman saya. saya ingin belajar menganggap itu semua biasa-biasa saja. karena tidak biasa, bisa dibayangkan, saat saya berjalan di daerah itu, ada rasa campur aduk yang bergejolak, antara rasa ingin tahu dan sedikit takut terhadap sesuatu yang asing.

daerah itu telah menjadi momok, bahkan selama ini terkesan angker bagi otak dangkal saya. entah mengapa. dan, pengalaman saya berjalan di sana tidak sepenuhnya menghapus impresi yang telah tertanam bertahun-tahun itu. hanya saja, setelah melewati daerah itu secara langsung untuk pertama kalinya, ternyata keadaannya sangat berbeda dari apa yang saya bayangkan.

terinspirasi dari film ca bau kan karya nia di nata, saya kira di daerah itu banyak perempuan, bahkan mungkin mereka melambaikan selendang dan memanggil orang yang lewat. ternyata nol besar. sama sekali tidak ada orang terlihat di sana, kecuali tukang-tukang becak berwajah ketus yang parkir berjajar. berhadap-hadapan di jalan itu, yang pertama adalah deretan hotel kelas melati, dan yang ada di hadapannya adalah deretan warung-warung/gubuk kecil yang berjualan pulsa. jalan itu sendiri sangat sepi dan lengang, tidak ada kendaraan lewat. “mungkin ramai ketika malam,” pikir saya.

saya tidak punya nyali untuk menyelidiki dan masuk-masuk ke dalam tempat-tempat itu. hanya saja, aduh ya ampun, pengalaman itu menyadarkan bahwa saya ini bodoh sekali! tentu saja semua kegiatan itu dilakukan secara rahasia! terbit pula pertanyaan dalam diri saya, bagaimana informasi “bawah tanah” yang mungkin sudah jadi rahasia umum ini bisa sampai dan menyebar pada orang-orang? dari mana orang-orang itu? bagaimana cara mereka bertemu? entahlah.

seks sebagai perlawanan
sebagian orang mungkin menolak untuk membahas tema ini, terutama gara-gara stigma “tidak bermoral” yang telah dilekatkan oleh orang-orang saleh. sayang sekali, sekontroversial apapun, terlepas dari benar tidaknya perbuatan tersebut di mata hukum atau norma-norma lain, pada kenyataannya industri tersebut masih ada sampai sekarang. kita tidak bisa menutup mata dan pura-pura tidak tahu untuk selamanya. mereka yang ikut terlibat di sana adalah manusia biasa juga, seperti saya. saya tidak tahu dan tidak pernah bertemu dengan orang yang terus terang mengatakan pada saya bahwa mereka terlibat dengan industri tersebut. kalaupun saya bertemu, tentu banyak cerita yang siap saya dengarkan.

siapa tahu, industri ini bagaikan puncak gunung es yang telah membiayai banyak kebutuhan hidup masyarakat? siapa tahu industri ini telah menyelamatkan kondisi keuangan banyak orang? benarkah mereka yang bekerja di industri ini adalah perempuan miskin kota? ataukah (jangan-jangan) lagi-lagi itu persepsi saya yang salah dan tidak berdasar. saya tidak tahu sama sekali. mungkinkah mereka seperti hiroko dalam novel nh dini, yang melakukan-“nya” sebagai pekerjaan sampingan saja, yang bisa memilih lelaki mana yang diinginkan dan hanya menerima mereka yang rupawan lagi berkantong tebal?

seseorang pernah menulis tentang seks sebagai perlawanan berdasarkan novel tuan guru karya salman faris. mungkinkah mereka di pasar kembang juga sedang melakukan jalan tersebut sebagai perlawanan terhadap kesulitan hidup yang mendera mereka dan keluarga? mungkinkah perjuangan mereka membuat mereka jauh lebih mulia daripada orang-orang lain yang merasa mulia? pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan, yang semakin menunjukkan kebodohan dan kenaifan saya, manusia yang tidak tahu apa-apa tentang orang-orang lain. lebih tepat lagi, saya: manusia yang bersalah karena tidak memiliki kepedulian.

risiko kekerasan
orang yang mudah menghakimi adalah mereka yang tidak pernah menempatkan dirinya pada situasi dilematis. banyak orang yang terlahir dengan situasi yang bukan lagi dilematis, tapi situasi susah. hidup susah dan manusia demi manusia terdampar ke dalamnya. tidak punya uang adalah kondisi yang traumatis. trauma ini sangat sulit hilang dan menggejala secara luas. orang mengenal fenomena ini dengan istilah “kemiskinan”. saya tidak bisa memakai moral untuk menghakimi kemiskinan.

meski demikian, sekeras apapun usaha saya untuk menerima kenyataan keberadaan industri tersebut dan menoleransinya, terus terang dalam hati kecil saya masih ada jeritan yang menginginkan semua itu tidak ada … meski saya juga tidak tahu bagaimana mengganti sumber penghasilan mereka yang bekerja di industri itu.

lagi-lagi, saya terjebak pada asumsi dangkal, bahwa industri tersebut berputar semata karena masalah uang. saya lupa dengan unsur kekerasan yang menjadi denyut nadi industri tersebut. banyak kasus yang menunjukkan terlibatnya kekerasan bahkan sejak awal seseorang terlibat dalam industri ini: banyak di antara mereka yang dijual tanpa tahu mereka akan dipekerjakan dalam industri ini.

jika menilik pada definisi komnas perempuan tentang kekerasan, ada empat jenis kekerasan yaitu kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan penelantaran ekonomi. kurang apa lagi, industri ini menyediakan semua kekerasan itu. belum lagi soal risiko penyakit menular seksual, yang saya tidak yakin ada jaminan dan perlindungan terhadap penularan penyakit-penyakit tersebut. belum lagi berbicara soal kondisi “mewah” yang mengidealkan hubungan seksual hanya bisa dinikmati jika berdasarkan cinta, atau paling tidak ketertarikan fisik, tidak ada paksaan. lalu apa yang dirasakan oleh tubuh dan batin mereka? lagi-lagi saya tidak tahu dan tidak berani menduga-duga.

satu hal yang berani saya duga adalah, saya curiga, yang paling mendapat keuntungan dan berusaha mempertahankan agar industri ini terus berjalan justru orang yang relatif sudah punya banyak uang (baca tengkulak dan “pemilik” tenaga kerja). mereka bukan orang yang tidak punya pilihan dan terpaksa melakukan itu semua. tapi mereka punya kemampuan memaksa, bahkan mereka mampu memberikan lahan pekerjaan dan penghasilan bagi banyak orang.

saya tidak bisa sok tahu dan mengklaim aspirasi mereka, karena memang saya tidak tahu apa-apa. bisa jadi mereka punya suara yang lain, suara yang berbeda dengan suara kegeraman saya. bisa jadi suara saya ini hanya dianggap terlalu mengawang-awang dan tidak riil, tidak memberikan solusi. bahkan saya membicarakan ini semua hanya masalah fisik dan ekonomi, tidak membaca fenomena ini dari segi budaya, sosial, sejarah yang lebih empatik barangkali. mungkin spektrum yang lebih luas dapat memberikan perspektif yang lebih fleksibel bagi saya, tapi untuk saat ini, cuma sedangkal inilah pikiran saya.

akhir kata, terus terang, mengingat ada yang mengatakan bahwa suara kemarahan tentang industri ini hanyalah suara yang bodoh dan sia-sia, serta semata menjadi pembicaraan dari, oleh, dan tentang perempuan, yang ingin saya lakukan adalah memukul semua penis yang tegak di sana dengan tongkat pemukul kasti sampai hancur dan gepeng dan tidak bisa berfungsi lagi. ditambah pukulan di bagian-bagian lain secara acak. mudah-mudahan bisa dirasakan.

“kekerasan yang paling berbahaya adalah ketidakpedulian.” … ah, sepertinya saya tidak akan ikut menulis di terbitan teman saya tadi, karena tidak mampu. tapi saya akan sangat menghargai jika teman-teman mau berbagi dengan saya mengenai tema ini ….

Advertisements

13 thoughts on “jangan hindari aku dan jangan kau malu

  1. Perempuan miskin kota ??? hmmm, tema yg menarik 🙂
    Kalo aku nulis ttg apanya ya??? bentar agak sulit neh, karna aku jarang bergaul ma orang kota 😦
    Hmmm, mgkn aku akan nulis ttg sifat materialistis nya org2 kota, semua dilihat dari menguntungkan or tidak trus ntar ujungnya aku kaitin dgn kemiskinan jiwa mereka sehingga hal yg sifatnya gemerlap jadi tujuan idup perempuan (orang2) kota
    Gmn idenya ?
    ^_^

    • bagus idenya! tengkyu ya ….
      🙂
      mungkin judulnya “matre atau mati!” 😆
      btw nulis tentang kemiskinan jiwa susah kali ya bok …?

  2. bentuk kepedulian yg paling nyata, terlibat langsung memberikan perhatian kepada mereka. sdh cukup banyak studi ttg perempuan miskin kota, film dan novel pun nggak terhitung banyaknya. tanpa peran serius pemerintah dan masyakarakat, mereka ttp ada dan terus menderita.
    serius banget, ya nad? 🙂

  3. waduh aboot nad..

    aku seringnya lewat pasar kembang kalo mau ke malioboro, mau ke stasiun tugu juga mesti lewat situ. sepi yaa.. entah kalau malam

    • hooh e sepi buanget, dan perasaanku sih pak tukang becak yang di sana tuh galak2 ekspresinya. belum lagi kalo mikirin gubuk2 tempat jual pulsa itu apa ya, kok banyak banget jejer2 gitu

  4. Selamat ya, dengan setulus hati saya berikan Award untuk anda. Silahkan kunjungi blog saya. Smoga ini akan menjadi pemicu untuk terus berkarya 🙂

  5. yang pasti, yang namanya sudah jadi industri ya nad. yang paling untung ya pemodal lah… makanya tempat2 seperti lokalisasi dolly di kota kami, akan sulit tergusur.
    lha uang yang muter disana kan pastinya banyak banget…

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s