fracture 2 (sambungan yang tadi ….)

film ini mengandung misteri atau lebih tepatnya teka-teki. sedetil apapun aku bercerita, tetap saja jika tidak menonton sampai akhir tidak akan ketemu ceritanya.

jangan tertipu oleh hadirnya kejelasan (kejelasan yang sangat gamblang) di awal film ini. jennifer crawford (embeth davidtz) adalah istri seorang insinyur genius, kaya raya dan perfeksionis, ted crawford (anthony hopkins). merasa terintimidasi dengan kepintaran suaminya, ia tidak bisa memenuhi kebutuhannya terhadap afeksi dari sang suami yang terkesan dingin, rasional, bahkan control-freak. ia tak bisa menangkap cinta yang diekspresikan melalui istilah-istilah fisika. meski telah berusaha sekian lama, dahaganya terhadap keintiman itu masih mencari jawaban. jawaban itu ia temukan pada seorang polisi, Lt. Robert Nunally.

Mereka bertemu dua minggu sekali, tidak boleh saling bertelepon, tidak boleh saling tahu nama asli. Mereka memanggil satu sama lain “Mrs. Smith” dan “Mr. Smith”. Hubungan yang seolah anonim ini ketahuan di depan mata oleh ted crawford yang mengunjungi rumahnya saat “mr. and mrs. smith” sedang bercengkerama di kolam renang pribadi. ted pura-pura tidak tahu apa-apa, lalu seolah pulang ke rumah seperti biasa. dalam perbincangan singkat yang penuh kepalsuan dan nuansa basa-basi antara suami istri itu, ted menyampaikan apa yang ia rasakan dengan istilah-istilah fisika, bagaimana ia selalu memikirkan istrinya secara detail meski sibuk dengan pekerjaan, sebuah ungkapan yang tulus dan jujur, sayang sudah terlalu terlambat.

“i love u.”
“i know,” jawab sang istri sambil berlalu dan memunggungi suaminya.
“did he?”

tahulah jennifer bahwa suaminya sudah mengetahui perselingkuhan itu. ketika ia berbalik dan hendak mengatakan sesuatu, sang suami menembaknya di kepala. darah segar tumpah di lantai marmer. tatapan mata jennifer crawford seperti kosong dan hampa, mungkin ada sedikit aroma ketakutan.

polisi datang atas laporan tetangga yang mendengar suara tembakan. ted crawford membuat pengakuan lisan dan tertulis bahwa ia yang menembak istrinya. pengakuan itu disampaikannya kepada sang polisi yang ternyata adalah Lt. robert nunally sendiri (hubungan anonim itu membuat mereka tidak saling tahu tentang keluarga pasangannya). selain itu, tim kepolisian telah menemukan bukti senjata berupa pistol dan empat peluru. lengkap sudah.

selesaikah di situ? bukankah semuanya sudah sangat jelas? pengakuan lisan dan tertulis yang telah ada tidak bisa dijadikan barang bukti sebab diungkapkan kepada nunally yang merupakan selingkuhan istri. hakim menolak keabsahan bukti tersebut karena dengan posisi dan kepentingan nunally, bisa saja ted crawford dipaksa membuat pengakuan dengan mendapat tekanan dari nunally. bagaimana dengan bukti senjata? tidak ada sidik jari, bersih, dan keempat peluru ternyata bersih tidak ada yang memiliki bukti pernah dipakai untuk menembak jennifer crawford. jangan salahkan tim kepolisian, karena mereka sudah serius mencari bukti-bukti yang benar (bukan bukti palsu) berkali-kali, tentunya di bawah bentakan dan umpatan dari sang jaksa penuntut yang merasa tertipu, dan hasilnya nihil. ke mana perginya? apa diterbangkan dengan balon helium? dilebur dengan asam (acid)?

yang hendak diceritakan dalam film ini adalah bagaimana ted crawford –yang telah membuat istrinya terdampar koma di rumah sakit (nyaris wafat dan hanya bertahan hidup dari alat bantu)– tetap tenang selama penangkapan, penyidikan kasus dan persidangan. apa yang menarik dari ketenangan itu? ketenangannya bukan ketenangan biasa, bukan ketenangan seorang idiot yang tidak tahu apa-apa. ia justru sang genius manipulatif yang menjadi pengacara/pembela bagi dirinya sendiri, mempermainkan sistem peradilan terhadap kasusnya, termasuk mempermainkan willy beachum (ryan gosling), jaksa pidana umum yang menanganinya, seakan-akan sedang mempermainkan bola-bola logam pada alat permainan fisikanya, dijalankan ke kanan, ke kiri, berputar, dibiarkan saling bertubrukan satu sama lain, tapi tetap pada rel/ lajur penampang bola yang ia buat.

sumber gambar: about.com

selain pemecahan teka-teki yang menguras otakku karena tidak ditemukan satupun barang bukti, tidak senjata tidak pula pelurunya (akui saja kelemotanku hehe …), yang tak kalah menarik adalah kekeraskepalaan willy beachum untuk memenjarakan tersangka. beachum sedang mengepaskan tuksedo baru saat diserahi kasus ini. sedianya, ia akan meninggalkan kantor jaksa publik yang sempit dan terlalu penuh barang (hehe, tipikal …) untuk pindah kerja sebagai pengacara firma swasta dengan gaji selangit dan wanti-wanti dari bos yang berbunyi, “bekerja di firma ini berarti kamu harus menggadaikan diri pada setan.”

bisa jadi ego, bisa jadi ambisi, bisa jadi karena beachum tidak pernah dan tidak bisa menerima kekalahan seumur hidupnya (yang masih muda itu), yang menyebabkan ia nekad mempertaruhkan (calon) pekerjaan barunya, mempertaruhkan hubungannya dengan supervisor baru di firma swasta itu dengan siapa ia bercinta, dan mempertaruhkan pekerjaan lama (bos lamanya menolak ia meneruskan kasus ini dan berkata, “kami harus membersihkan ulahmu. ini peringatan terakhir, kalau kau kalah lagi kau bahkan tak bisa kembali bekerja di sini, juga kehilangan peluang untuk bekerja di firma swasta itu.”). bahkan, ia juga mempertaruhkan reputasinya dan seluruh karirnya di bidang hukum.

beachum tidak memilih memakai cara-cara yang tidak benar demi memenangkan kasusnya, meski kesempatan itu ada. alih-alih, willy beachum, seorang yang mendapat skor keberhasilan 97% semasa menjadi mahasiswa hukum di universitas bergengsi, princeton, menjadi pengangguran yang menukar tuksedo kakunya dengan kaos oblong dan celana kutung, membereskan rumah bobroknya dari barang-barang rongsokan.

tragis? eh tapi ceritanya belum berhenti di sini. selanjutnya, silakan tonton sendiri kalo berminat.

🙂

Advertisements

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s