envy

gambar apa itu? mungkin itu taman gantung spesial buat kamu, mungkin juga cuma sampah. (sumber gambar: klik aja gambarnya)
***

to my dearest friend,

serius, aku merasa tersanjung dan terhormat mendengar kejujuran darimu. hanya antara sahabatlah yang bisa saling berterus terang. aku hanya minta dukunganmu, tak lebih, tak hendak mengutak-atik ataupun mengomentari hidupmu …. kamu kira aku beruntung, bintangku masih tergantung di angkasa dan kantongku masih sanggup menampungnya. bukankah sepertinya dulu kita pernah berdebat tentang lagu itu,

 

catch your shooting star and put it in your pocket …

… sebenarnya aku samasekali tak sesukses yang kamu duga. aku tak seyakin yang kamu bayangkan. bahkan, aku sangat ragu. peribahasa “di ujung tanduk” sepertinya terlalu berlebihan untuk menggambarkan keadaanku, yang jelas aku tak sedang berada di tanah-datar-keras yang permukaannya stabil dan dapat diandalkan. apapun, terima kasih.

ada satu kejadian di hari ini yang hendak kubagi denganmu, sayang ini sudah terlalu malam dan aku mengantuk. semuanya dapat menggambarkan seperti apa keadaanku sesungguhnya. bahwa aku dan kamu sebenarnya sama-sama sedang berjuang. aku minta maaf jika aku membuatmu merasa aku punya keleluasaan lebih untuk memilih, keleluasaan yang seharusnya milikmu juga. hmm, tapi aku percaya kamu cukup tahu tentang risiko masing-masing pilihan. “pilihanku” kalo boleh disebut seperti itu, menempatkanku pada risiko yang … tak bisa disebut “mengenakkan” juga. untuk saat ini aku sedang malas berpikir dan malas mengerahkan segenap emosi untuk menuliskan kejadian hari ini yang dapat menggambarkan padamu “enaknya” aku, oleh karenanya aku mencari-cari dokumen yang sudah ada, sebagai gambaran buatmu, dan ‘kan kutuliskan kembali untukmu.

aku menemukan satu bagian dari buku harianku. kamu akan tahu betapa aku menyayangimu dan tak bermaksud menyakiti ataupun menyinggungmu, sahabat ….

rabu, 24 september 2008

aku pengen curhat sesuatu yang ga jelas banget. tenang aja, ini bukan soal pekerjaan koq, tapi tentang penyesalan-penyesalanku atas kegagalan-kegagalanku. aku ga tau pasti apa yang bikin aku selalu (kayaknya sih, selalu) gagal …. kalo boleh aku menduga-duga, mungkin penyebabnya tuch gara-gara aku ga tau siapa diriku.

“what you do defines who you are.” entah kenapa dari dulu aku ga pernah sreg dengan kalimat itu. meski secara keseluruhan terdengar bener dan masuk akal, tapi di telingaku kok ada yang aneh aja gitu. mengganjal.

aku rasa aku ini seorang yang karbitan dalam segala hal, karena itu selamanya aku akan menjadi seorang amatiran karena tidak menjalani proses yang semestinya. ada tuntutan untuk sukses/berhasil/ “jadi”. bahkan mungkin bukan hanya jadi, tapi jadi yang paling top, ga bisa cuma ecek-ecek. tapi, itu ga adil, kan? karena, itu mendiskriminasi bahwa sesuatu itu ada yang ecek-ecek dan ada yang tidak ecek-ecek.

menurutku sekarang, siapapun agar bisa “sukses”, tidak bisa diraih sendiri. pasti banyak ke-ecek-ecek-an yang membantunya, meski peran ecek-ecek itu tak terlalu dihargai karena dianggap wajar-wajar saja, ga penting, ga perlu dibesar-besarkan, dst. tapi tau ga, rasanya aku pengen menjeduk-jedukkan kepala kalo inget bahwa seringkali otak aku ini udah telanjur ter-install untuk memikirkan hal-hal luas, “grande”, hal-hal yang umum banget, tapi aku ga punya strategi ataupun support-system untuk mengartikulasikannya ke dalam langkah-langkah konkrit. rasanya itu semua berhenti menjadi sekadar kegombalan belaka.

aku ga mau dipaksa. kalo bisa aku ga mau terpaksa (ya iyalah, siapa sih yang mau? kalo mau namanya bukan terpaksa donk 😛 ). aku pengen keluar. aku pengen berontak. aku pengen bebas. hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan penyesalan demi penyesalan. jadi aku harus lakuin yang aku mau. yang selama ini kutunda. meski seluruh dunia mungkin tak akan ada di sana untuk mendukungku, atau minimal ada di pihak yang sama denganku. meski mungkin aku akan kehilangan banyak hal (kehilangan apa? toh aku tidak memperjuangkannya). meski aku selalu terpikir tentang layang-layang putus dan tidak punya tempat pulang … meski aku takut pada akhirnya aku tidak akan jadi siapa-siapa …. tapi aku tak bisa begini terus,, “begini” dalam artian tidak mau mengambil langkah pembebasan tapi senantiasa menyalahkan pihak lain selain diriku.

aku menyalahkan pikiran yang hanya “menganggap”/ “mengambil pusing” terhadap sesuatu yang besar dan wah, serta mengabaikan/ tidak menghargai sesuatu yang dianggap remeh temeh bin sepele. itu semua gombal tau ga? aku capek dengan itu semua, tapi coba liat apa yang aku lakukan? ga ada kan? so aku sama aja omong kosongnya.

coba deh, apa sih yang udah aku lakuin? ga ada. apa yang udah aku capai? ga ada. siapa aku? ga ada juga. nobody. jadi inget puisinya emily dickinson nich tentang nobody. are you nobody too?

orang tu, kalo mau berhasil, perlu tau dirinya itu siapa, sehingga dia sepenuhnya bertanggung jawab terhadap keputusan-keputusan dalam hidupnya. menurutku dari dulu, sebenernya udah waktunya bagiku untuk jadi seperti itu. sumber kekuatanku adalah ibuku. karena beliau mencintaiku apapun yang terjadi. meski demikian, beliau juga bukan tipe pengambil resiko, bukan pula tipe yang mau berkonfrontasi. padahal kamu tau kan tetap saja ada proses sehari-hari yang harus dijalankan. dan, itu semua bukan untuk diremehkan, mentang-mentang hanya berorientasi kesuksesan/ “jadi” … dsb itu. maksudku, kadang-kadang orang perlu fight. intinya aku sedih orientasi hidupku tu penuh kegamangan.

menghadapi semua “calon” kegagalanku, seringkali aku lari ke masa lalu dan memuaskan hasratku terhadap kebiasaan “menyalahkan hal-hal yang perlu disesali.” penyesalanku banyaaaaaaaaa …. k banget, terutama penyesalan terhadap kegagalan-kegagalanku dalam hal studi, misalnya. aku sangat menyesal tidak dapat beasiswa kuliah di nus (s1). temanku ada yang diterima di ntu, namanya vidy, tapi bukan dari program beasiswa yang sama. emang dia genius sich … tapi sungguh keterlaluan karena aku ini ga mempersiapkan diri dengan baik untuk tes itu. udah bagus aku masuk nominasi dan diundang tes itu, seleksi tertulis, hu … hu … hu …. tapi abis tu aku ga lolos ke tahap wawancara. aku ga bisa ngerjain tes tulisnya, terutama matematika. istilah-istilah matematikanya tuh bahasa inggris, aku ga tau yang ditanyakan itu apa! asal-asalan deh liat gambarnya trus diitung-itung sendiri. seharusnya, kalo niat semua materi tes itu emang dipelajari, misal selama setahun, jadi fasih. mana tempat tesnya itu, pager besi tinggi rapet, mau masuk harus diperiksa, detektor antibom, trus ac-nya dingin banget, perut cepet laper karena tesnya susah dan lama dan ga disediain makanan. istirahatnya cuma berapa jam tapi di tempat asing dan aku ga kenal siapa-siapa, ga tau harus ke mana. peserta lain tuh pergi ke sana sama gurunya. hah.

tesnya aduh … persiapanku memprihatinkan banget deh …. ekonomi, sejarah, geografi, materi pelajaran mereka tu inovatif, dituntut untuk menggunakan logika dan kreativitas. kertas jawabannya aja lembar folio garis yang jelas lebih dari 20 halaman, tebel gitu deh waktu lembar jawabnya dibagiin di meja masing-masing.

bayangin aja, contoh soalnya nih, anak sma gitu harus tau terbentuknya negara-bangsa versi ben anderson. pertanyaannya bukan, “menurut ben anderson, bagaimana terbentuknya negara-bangsa?” enggak banget dech. enggak gitu … pertanyaannya mengapa asia tenggara bla bla … nasionalisme bla bla …. dan itu kan penjelasannya ada di buku ben anderson gitu lhoch. kebetulan banget aku udah baca karena buku itu ada di tabel dari nus (daftar buku yang kira-kira keluar buat pertanyaan tes itu). itu aja aku baca karena buku itulah yang tersedia. meski udah baca, untuk jawab pertanyaan kayak gitu aku cukup tertatih-tatih juga. untungnya aku punya guru sejarah yang mantap, namanya pak radi. tapi ya gitu deh, yang jelas aku kalah jauh dari orang-orang lain. ga maksimal.

hal-hal kayak gitu kan ga diajarin di sma. pelajaranku selama ini tuh masih menekankan siswa untuk memahami, bahkan meniru, belum berpikir sendiri/berlogika dan berkreativitas. menurutku gitu sih.

belum lagi pertanyaan ekonomi, seandainya anda jadi pembuat kebijakan suatu negara, sektor pertanian industri dll mau digimanain? jadi soalnya itu sendiri panjang banget ngasih profil negara tersebut (negara tempat kita jadi pembuat kebijakan ekonomi itu). duh, berasa menteri aja dwech ….

trus geografinya juga bukan peta buta sama sekali, bahkan bukan lagi mengenali tapi justru beropini tentang konteks dan relasi-relasi ga cuma antarwilayah tapi juga sektoral. aku lupa sih persisnya. dan, biasanya aku lari ke kardus di gudang, nyari catatan harianku pada masa itu, tapi peristiwa itu ga aku tulis, …. terlalu trauma kali ya, sesusah itu en ga persiapan. akhirnya yang diterima itu cuma dua orang. salah satunya aku sempat kenalan, namanya maria valentina. dia juara olimpiade matematika tingkat apa gitu. yang ips ga ada yang diterima ….

aku emang ga cukup pintar. aku ga segenius vidy, sejak smp dia sering juara paralel, sementara aku terlalu banyak ga fokus denga hidupku. si vidy itu kuliah di nanyang technological university, dapet beasiswa dan sekarang kerja di pt gemalto. aku menyesal kenapa aku serba tanggung dalam segalanya. masih banyak penyesalan tapi aku mo bobo dulu ….

***selesai***

ps: sobatz, aku juga berterima kasih kamu akhirnya mau berkunjung ke blog-ku dan mengultimatum agar surat ini dimuat di sini. “Dimuat”, aku sangat senang dengan kata-katamu ini. sangat redaksi. 😛
xoxo

~ps: ecek-ecek artinya remeh, sepele ….

Advertisements

3 thoughts on “envy

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s