tak cukup satu kali

menyesal sekali … sepagi ini saya sudah marah-marah pada adik bungsu tersayang ….

gara-garanya, saya bangun pagi lalu bernyanyi-nyanyi

“cup cup bida cubidu dada …

cup cup bida cubidu dada ….”

(kalau kamu belum pernah dengar, itu jingle iklan makanan kecil di tv, tapi saya lupa persisnya “judul” makanan itu apa ….)

saya bersenandung sambil berjalan hendak menyikat gigi di kamar mandi. adik saya sedang mandi dan pintunya tidak ditutup. memang, adik saya belum bisa mandi sendiri karena belum bisa menyabuni punggung. jadi, sudah biasa, meski dia sedang di kamar mandi, orang lain juga bisa menggunakan kamar mandi itu (kecuali kalau mau buang air pasti malu kali ya).

saya masih melangkah dengan nada2 ceria dan hawa mengantuk, tiba-tiba sesampai di depan kamar mandi, pintunya mau ditutup … hampir saja berbunyi jleeerrr kalo tidak saya tahan. juga, hampir saja saya terjepit. untung saya segera mundur. bagaimana rasanya jika seseorang membanting pintu di depanmu, saat kamu baruuu saja mau masuk ke situ? belum lagi kamu dibilang “mengigau”, padahal kamu sudah sepenuhnya sadar dan bangun dari tidurmu?

itu yang membuat saya marah. karena adik saya bilang: “nadya ngeligo …!” saya tidak tau persis itu bahasa mana. yang jelas setahu saya dalam keluarg hanya adik bungsu saya saja yang memakai kata “ngeligo” itu. dan, menurut pemahaman yang terbatas, saya artikan ngeligo itu sama dengan ngelindur atau mengigau. 

langsung saja keluar semprotan saya. sambil menahan pintu yang nyaris menjepit diri saya, saya bilang, “aku ini mau sikat gigi!” trus habis itu dengan gaya tubuh seolah-oleh berkata: “minggir kau” saya berangkat mengambil sikat gigi, odol, gelas berisi air, lalu akan sikat gigi seperti biasa. eits, tapi tunggu dulu, ternyata saya masih merasa perlu untuk melanjutkan “semprotan” saya. “tiap hari bilang aku ngeliga ngeligo, emangnya aku ini tidur sambil jalan?” memang sih, kalau pagi2 saya membangunkannya, bukannya bangun dia malah bilang saya ngeligo. ini lagi, gara2 nyanyi2 ga jelas saya dibilang ngeligo lagee.

cara saya masuk kamar mandi dan segala adegan pengikutnya saja sudah cukup membuat adik saya menyingkir dalam diam. dia mengambil sedikit pasta gigi di ujung sikat giginya, lalu mulai menyikat gigi di sudut kamar mandi. biarin, gitu kataku dalam hati, sambil menikmati menyikat semua celah dan sudut dalam susunan gigi geligi saya.

ada hal-hal yang bagi orang lain mungkin dianggap biasa saja, namun terkadang bagi orang tertentu hal tersebut memiliki makna yang sangat mengganggu. mengganggu dalam pengertian negatif maupun positif. mengganggu dalam artian membangkitkan kenangan, entah yang menyakitkan ataupun membahagiakan. mengganggu dalam artian mengusik kepala ini dengan inspirasi-inspirasi. oleh karena itu, saya rasa, sebisa mungkin tidak meremehkan segala hal merupakan satu kebiasaan yang perlu dikembangkan. barangkali ada makna tertentu yang memerlukan kearifan dan kepekaan kita dalam menghayatinya.

meski bukan berarti kita perlu “membesar-besarkan segala sesuatu” (hyaahhh), tetap ada hal-hal di dalam diri kita yang tak selayaknya kita ingkari. bukan berarti tak mau maju, tapi memori itu merupakan bagian melekat dalam diri kita. selama ia masih melekat, jika kita berusaha mengingkarinya, maka itu justru akan makin menyakitkan. justru lebih baik diakui secara jujur dan apa adanya. lagian ngapain sih kita sebagai manusia selalu sok kuat dan menyangkal kelemahan ….

sebenarnya ke mana arah pembicaraan saya yang muter-muter seperti ini? apa kaitannya dengan cerita awal tadi?

mungkin sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa, saya tidak suka pintu dibanting-banting. saya juga tidak suka dengan anggapan mengigau. keduanya itu terasa bisa menyinggung saya. entahlah, mungkin saya perlu mulai membiasakan diri dengan keduanya.

pertama, soal pintu dibanting. saya sering sekali mengingatkan pada siapapun, sekarang pada pembaca blog ini, “kalau menutup pintu itu pelan-pelan …. ” dan, saya tak suka mengulang-ulang sesuatu yang sudah saya katakan dan contohkan berkali-kali. jangan dibanting. jangan jlar jler jlar jler (suara pintu dibanting). pelan-pelan. apa susahnya. mungkin saya perlu pakai teknik “pujian jika berhasil”, maksudnya jika bisa menutup pintu tanpa membanting saya perlu menghargai dan memberikan apresiasi setinggi mungkin agar lama-lama adik saya biasa menutup pintu dengan baik ….

suara pintu dibanting membangkitkan ingatan saya mengenai suara-suara pada masa kecil saya. suara yang menandakan ada orang-orang dewasa yang tidak bisa saya mengerti dan tidak bisa mengerti satu sama lain. atau mungkin, tidak mau. suara yang mengerikan. suasana yang mengerikan. tegang banget dan saya tak suka. entahlah apakah saya pernah takut atau tidak, tapi ada perasaan yang merayap diam-diam mendengarkan suara-suara itu. perasaan yang sama seperti saat mendengar ada suara motor dari kejauhan, yang sepertinya sedang mendekat ke tempat saya berada, suara motor yang selalu meragukan, atau berusaha saya ragukan. suara motor yang sepertinya saya kenal tapi tak pernah saya yakini, selalu saya tolak dan berharap, “bukan motor itu …!” kedua suara tersebut menimbulkan perasaan yang sama dalam diri saya: konsentrasi penuh mendengarkan. dalam acara apapun, dalam suasana seperti apapun, meski harus dengan cara menyelinap dan diam-diam, saya akan pasang kuping baik-baik … dengan jantung berdebar seperti mencemaskan keselamatan saya atau beberapa orang lain ….

mungkin saya terlalu mensakralkan suara pintu dibanting itu dan terlanjur menganggap bahwa selalu ada kejadian luar biasa yang menyertainya, padahal tidak. orang membanting pintu karena kurang berhati-hati juga biasa saja. mungkin memang saya yang lebay, tapi dilihat dari sisi objektifnya saja, kalau pintu sering dibanting-banting tentu mudah rusak, kan. jadi, tak ada salahnya menutup pintu dengan sabar (tetep …).

kedua adalah mengigau. tentu saja orang yang mengigau tidak sadar bahwa dirinya sedang mengigau. saya sendiri percaya bahwa saya pernah mengigau saat sakit tahun 2006. bukan pamer, tapi saya termasuk jarang sakit, terutama karena ibu saya jago merawat kesehatan anak-anaknya …. tahun 2006 itu mungkin sakit saya yang terparah. tidak dirawat di rumah sakit sih, tapi saya sampai mengigau …. orang tua saya tidak mau mengatakan apa yang saya igaukan, tapi sepertinya saya tau …. saya minta diinfus dan lain sebagainya.

sebenarnya mungkin cuma sakit demam tinggi biasa. badan panas, hawa dingin, seperti jiwa ini mau lepas dari badannya gitu lah …. meski cuma sakit panas biasa tapi saya ingat teman smp saya. namanya mega. kami teman sekelasnya pernah menjenguk di panti rapih, dan sampai sekarang saya ingat kata dokternya: kalau telat sedikit saja, bisa jadi meninggal …. padahal kata mega dan ibunya, mega cuma sakit panas biasa …. tapi ya panas tinggi, demam tinggi, suhu badannya tinggi banget …. dari situ saya berkesimpulan jangan pernah meremehkan sakit panas karena bisa bikin meninggal …. tak terbayang bagaimana yang dirasakan ibunya kalo mega sampai meninggal karena terlambat dibawa ke rumah sakit. intinya, perkataan mengigau itu bikin saya ingat masa-masa saat saya merasa seperti hampir meninggal tahun 2006 itu …. karena itu saya tak suka kata-kata itu dipermain-mainkan. dibilang mengigau, sepertinya saya ini dianggap orang tidak sadar gitu ….

satu lagi rangkaian peristiwa yang cocok untuk dimasukkan ke dalam postingan ini adalah bahwa saya hampir tak pernah marah ataupun memarahi adik bungsu saya. dengan peristiwa tadi, total sudah dua kali seumur hidup saya memarahinya. rupanya saya bukan kakak yang baik.

seseorang, sebagai kakak tertua (halah …), sangat biasa harus memendam segala sesuatunya dan memikirkan orang lain terlebih dahulu. istilah populernya mungkin “mengalah”. sebenarnya semua, tak tergantung anak keberapa, punya tanggung jawab, oleh karena itu tak perlu dijadikan beban. tapi ternyata tadi saya merasa puas bisa membuat adik saya memojok sehingga saya bisa menyikat gigi dengan leluasa. ini benar-benar rasa puas yang tidak baik …. belum lagi perasaan bahwa akhirnya sayabisa “membalas” kekesalan karena selama ini saya “menahan rasa” meski ditendang-tendang di malam hari. maklum, saya tidur dengan adik saya dan dia ini tidurnya lasaaaaakkkk sekali. ini benar-benar harus diamputasi, rasa puas yang muncul dari kesewenang-wenangan seperti itu ….

rasa puas yang muncul itu adalah keburukan saya yang pertama. keburukan kedua adalah, sebenarnya saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah lagi memarahi adik bungsu saya. kenapa? karena saat saya memarahinya untuk pertama kali saya sangat menyesal, dan minta maaf berkali-kali. untung tidak sampai bercucuran air mata saya saat menciumi jidatnya yang lembut. ceritanya, adik saya ini memang kreatif, lincah, dan tidak sabaran. dia sudah tau persis bahwa salah satu sifatnya yang utama adalah tidak sabaran. pada saat memarahi itu (tahun lalu), saya berpikir, ada perlunya menyampaikan bahwa kesabaran itu harus dilatih, dan sepertinya tidak ada orang lain selain saya yang mau “mengambil resiko” menyampaikan hal ini secara “jelas” dan ngefek. juga, menyampaikan bahwa harus latihan memahami orang lain, jangan hanya menuntut orang lain untuk kepentingan diri sendiri saja.

pada waktu itu, saya sedang ingin berbaring dan mendengarkan musik. hanya satu lagu saja dan saya bilang “tunggu tiga menit saja.” saya benar-benar memaksudkan tiga menit itu, bukan basa-basi, tapi rupanya tiga menit saja adik saya tidak mau menunggu. dia terus memaksa saya untuk detik itu juga melakukan sesuatu dengannya. saya tahu sih, semua bukan kesalahan adik saya, tapi kesalahan saya. karena saya yang tidak sabar. adik saya toh sudah biasa menuntut orang secara tidak sabaran. tapi karena saya yang sedang bermasalah secara mental, maka saya menanggapinya tidak dengan elegan. saya membanting walkman sambil dengan muka menyeramkan berkata padanya, dengan suara orang marah, “tiga menit aja! kemauanmu harus selalu dituruti tapi kamu ga mau menuruti kemauan orang.” tentu saja dia ketakutan dan lari terbirit-birit. tapi tak lama saya langsung mengejarnya, minta maaf, karena ada reaksi spontan rasa bersalah yang sangat kuat. tidak seperti kemarahan kedua saya yang sepertinya bisa saya “nikmati” sejenak lebih lama.

saya sayang adik saya, dia bukan anak yang mudah trauma atau mendendam. buktinya pada kejadian itu, setelah saya minta maaf, kami bisa langsung main-main dan bercanda-canda lagi. kata orang memang adik saya itu jadi ceria bersama saya, soalnya saya bisa bergaya kekanak-kanakan juga sih, menyesuaikan diri dengannya dan berkonyol-konyol ria. juga suka ejek-ejekan atau saling mengerjai. ah tapi ga boleh marah-marah lagi deh, nad. saya tidak berani berjanji lagi. sebab, terbukti sudah saya ingkari. saya hanya perlu mengingat, setetes kesabaran ekstra perlu ditambahkan dalam setiap perbuatan yang hendak saya lakukan. tarik nafas dulu karena marah-marah toh tidak baik. bikin cepat tua pula … dan bikin adik takut. kalau ingin adik dapat pelajaran toh tak perlu marah-marah. semua butuh proses meski harus diulang-ulang terus …. semoga mencamkan semua ini akan menghindarkan saya dari kemarahan ketiga. bener-bener. aduh jangan sampai deh …. please 😦 dua kali udah cukup jadi rekor saya … hiks.

endnote: yang mengharukan adalah, pada kemarahan pertama, adik bungsu saya itu menutupi kesalahan saya. saya merasa seperti dilindungi. dia bilang itu rahasia kami. jangan bilang siapa-siapa. meski akhirnya ketahuan bapak saya, dan saya harus mempertanggungjawabkan sebagai “orang dewasa” dengan mengatakan apa adanya (hmm, terkadang bapak saya tak kalah pemaksanya, tahu deh nurunnya ke mana …. o ow), adik saya tetap bilang enggak kok, sssttt rahasiaaa! kalian tahu ga sih betapa menggemaskannya adik saya itu …. saya trenyuh. mungkin adik saya tahu waktu itu saya kapok, dan permintaan maaf saya padanya itu sungguh-sungguh …. ya ampun dah, kenapa harus saya ulangi lagi …. maaf ya fadel ….

padahal kemarin kami baru belajar bikin blog. mampir ya ke blognya di http://fadeldjogdja.blogspot.com komentarin juga ya …. soalnya adik saya yang lucu dan imut-imut itu tiap hari nanya sama saya, kok komentarnya baru satuuu.

saya lega dan bahagia, setelah meminta maaf lewat kolom komentar di blognya, dia sudah biasa-biasa lagi ke saya. udah baik-baik aja gitu. terima kasih tuhan. ntar malam saya harus tidur lagi sama dia dan rela ditendang-tendang atau menaruh bantal kepala saya di samping badan sebagai penahan tendangan …. 

fadel, salam sayang dari kakakmu ini ….

la-mer

 

  

nb: kami punya gantungan kunci kembar lhoch. udah lama sih, fadel beliin untuk saya, gantungan kunci tulisannya “nadya”, sedangkan punya dia tulisannya “fadel”. katanya beli di malioboro hadiah buat saya, duh … meleleh aku dibuatnya ….

  

Advertisements

6 Replies to “tak cukup satu kali”

  1. meleleh baca postingan ini…

    saya jadi inget, beberapa saat yang lalu saya marah sama mama saya di telepon karena mama saya ngga paham hal penting (yang bagi saya penting banget itu) yang ingin saya sampaikan.. hiks hiks..

    dan saya juga marah sama seseorang yang sangat saya sayangi karena hal kecil..
    dan hasilnya, sepertinya dia malah jadi agak formal sama saya sekarang.. (padahal menghilangkan batas formalitas antara kami tu sama sekali ngga mudah melihat dia yang seperti itu dan saya yang seperti ini..)

    harusnya saya bisa bersikap lebih dewasa..

    makasih, nadi, untuk life lesson yang sangat menyentuh ini 🙂
    *jadi pingin meluk fadel juga, tapi dia udah bukan anak kecil yang rambutnya diikat itu ya ^^ *

    1. hmmm …. peluk chang’e balik aja deh, coz i’m so dumb with words right now ….

      btw bener ga sih kata carmen di sisterhood,

      kita cenderung lebih bisa marah justru ma orang2 yang paling kita sayang, karena kita percaya, mereka akan tetep sayang n menerima kita no matter what … ?”

      fadel udah hampir 10 tahun ni sekarang hhehehe … thx ya udah komen di blognya, dia seneng sekali

  2. Trauma masa kecil emang susah banget ilangnya ketika otak masih belum bisa memilah, yang baik dan yang buruk asal masuk aja. Ketika dewasa tiba2 meledak, contohnya ya aku ini 🙂

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s