rayuan

Everything is seduction and nothing but seduction… To seduce is to die as reality and reconstitute oneself as illusion. (Baudrillard, 1979).

Dalam komunikasi interpersonal intim, dikenal konsep “rayuan”. Secara spesifik, konsep tersebut memegang peranan penting dalam menjalin hubungan asmara, utamanya dalam pengekspresian perasaan cinta dan kasih sayang. Secara luas, dalam konteks kehidupan bermasyarakat, rayuan dapat menjadi bentuk halus dari dominasi. Rayuan menjadi strategi yang bersifat sangat hegemonik dalam menjaga bertahannya status-quo. Ia menjadi “pengaruh memaksa” yang tersamar dan tanpa disadari menjelma menjadi sesuatu yang tak tertolak. Keberlangsungan rayuan menunjukkan pemetaan atas relasi kuasa yang berlaku dalam masyarakat. Pada level mikro maupun makro, interaksi dan intensitas rayuan mengingatkan kita pada keterbatasan manusia bahwa “realitas” tak ubahnya manipulasi yang tak sepenuhnya-seutuhnya terpahamkan.

Menurut Jean Baudrillard dalam bukunya yang berjudul “De la séduction”, rayuan ada dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari rayuan seks, sampai rayuan untuk mempertahankan order-order (tatanan) dalam masyarakat. Segala sesuatu adalah “simbol” atau “tanda”. Rayuan dimaknai sebagai tanda yang diberi “nilai rasa” yang nikmat dan menyenangkan. Oleh karena itu, aspek kehidupan sesungguhnya tak bisa terlepas dari “rayuan”.

Lingkaran rayuan senantiasa bereproduksi bahkan tergerus ke dalam bentuk-bentuk perulangan yang robotik dan mekanistik. Sebagaimana yang dialamatkan Walter Benjamin mengenai seni, rayuan dapat digolongkan ke dalam tiga tahapan. Semula statusnya ialah sebagai ritual alias penuh kewajiban, kemudian beranjak pada bentuk kultural atau estetis dengan tingkat kewajiban yang lebih sedikit, dan terakhir ia menjelma menjadi sebentuk mekanisme politik yang melibatkan relasi kuasa dalam pelaksanaannya. Rayuan menjadi senjata “penakluk” yang lebih ampuh daripada pedang, sebab secara mendasar ia memformulasikan hubungan antarmanusia dan juga tatanan-tatanan dalam masyarakat.

Rayuan sebagai permainan simbol, secara mikrososiologis dapat ditelaah melalui prinsip aksi-reaksi. Bagaimana rayuan menjadi medium yang cukup efektif untuk menimbulkan dampak yang diinginkan sang perayu? Agar dapat menjadi rayuan yang “kena”, perlu dikenali terlebih dahulu sasaran rayuan tersebut. George Herbert Mead mencoba menunjukkan empat basis dan tahap tindakan manusia yang saling berhubungan. Keempat tahap itu adalah: impuls, persepsi, manipulasi, dan konsumasi.

  • Impuls adalah dorongan hati yang meliputi rangsangan spontan yang berhubungan dengan alat indera dan reaksi manusia terhadap rangsangan itu.
  • Persepsi adalah saat manusia menyelidiki dan bereaksi terhadap rangsangan yang berhubungan dengan impuls. Sebuah rangsangan mungkin memiliki beberapa dimensi dan manusia mampu memilih di antaranya, mana yang perlu diperhatikan dan mana yang patut diabaikan dalam pemahaman mereka.
  • Manipulasi muncul setelah impuls menyatakan dirinya dan objek telah dipahami. Yang dimaksudkan dengan manipulasi adalah mengambil tindakan berkenaan dengan objek tersebut.
  • Terakhir adalah konsumasi, yakni berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang ada, manusia mengambil tindakan yang memuaskan dorongan hati yang sebenarnya.

Teorinya, manusia dimungkinkan untuk memilih, sehingga ia tidak hanya terperangkap dan berkubang dalam jeratan rayuan. Namun, seringkali keleluasaan manusia untuk memilih tersebut adalah semu. Manusia tak benar-benar memiliki kewenangan untuk memilih secara otonom, berkuasa, sebab terdapat keterbatasan pilihan manusia yang terlepas dari relasi kekuasaan dan konsekuensi-konsekuensi tertentu. Manusia tidak berada dalam vacuum social atau ruang hampa koneksitas.

Untuk itu, dalam menangkap simbol yang terkandung dalam rayuan, diperlukan kesadaran. Perlu diingat, tujuan rayuan adalah membuat orang percaya, terpikat. Kesadaran dan kepekaan dalam mengenali rayuan dalam segenap aspek kehidupan diperlukan untuk mewaspadai realitas sebagai semacam panggung sandiwara. Saya ingin mengingatkan diri pada pola-pola relasi kuasa yang ada –> tampak muka: rayuan, ealah hukum pancung terbungkus rapi di belakang, menunggu saat untuk ditunjukkan ….

NB: Saya bosan dengan rayuan dunia politik formal …. btw politik nonformal sepertinya ga dikenal blas yo 😛

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

2 thoughts

  1. Sepertinya kalo kita menguasai teknik2 merayu maka dunia akan ada di genggaman kita. Ada ga ya mata kuliah teknik merayumologi

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s