negara bangsa

Saat ini, konsep negara-bangsa dan nasionalisme telah menjadi pengetahuan yang diterima secara apa adanya. apapun negara yang didiaminya, apapun bangsanya, macam apapun nasionalisme yang dimaksudkannya, masyarakat di berbagai belahan dunia seolah bersama-sama telah mengangguk setuju dan menyepakati bahwa negara-bangsa –lengkap dengan ideologi nasionalisme– menjadi bentuk yang ‘universal dan satu-satunya’ untuk menyelenggarakan suatu perikehidupan bersama.

Tidak sukar untuk membuktikan hal tersebut. Coba cermati, adakah wilayah tempat tinggal di bumi ini yang belum menjadi klaim atau bagian dari negara tertentu? Adakah individu manusia yang tidak menjadi bagian dari golongan bangsa tertentu? Atau, seberapa banyakkah orang yang berhasil melepas atribut kebangsaannya dan mengatakan, “aku bukan warga bangsa manapun, bukan warga negara manapun, sebut aku ‘manusia dunia’ saja”? Dapatkah orang yang tidak menjadi warga negara tertentu, secara sah memperoleh pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak kehidupannya? Adakah bentuk penyelenggaraan perikehidupan bersama selain negara-bangsa yang diakui kedaulatannya secara politis dalam kancah pergaulan internasional? Dapatkah negara-bangsa bertahan tanpa menganut suatu nasionalisme tertentu? Mengingat hal-hal di atas, tak heran jika pemikiran yang lebih diterima oleh khalayak luas masa kini adalah: hidup di dunia ini tanpa negara-bangsa maupun nasionalisme adalah mustahil dan tidak masuk akal.

Menarik untuk ditelusuri bagaimana hal tersebut terjadi: bagaimana konsep-konsep tersebut merasuk menjadi suatu bentuk ‘kenyataan’ dan ‘kebenaran’ yang diyakini sebagai sesuatu yang ‘memang sudah begitu dari sono-nya’ (taken for granted), sehingga tidak perlu dipertanyakan ataupun diusik2 lagi. Padahal, menilik usia peradaban, secara jujur dapat kita akui bahwa konsep-konsep tersebut tergolong masih muda.

Menurut Anthony D. Smith, seorang ilmuwan yang dikenal lewat pemikiran-pemikirannya tentang nasionalisme, sejatinya negara-bangsa adalah bentukan yang rawan, terutama terhadap isu etnisitas dan disintegrasi. Hal ini sering dijumpai di negara-bangsa bentukan kolonial atau sering disebut sebagai ‘negara dunia ketiga’. Dirasa ada bias ‘Barat’ dalam pembentukan negara-bangsa maupun konsep nasionalisme megara dunia ketiga. Bentuk dan konsep tersebut bagai diadopsi mentah-mentah oleh negara dunia ketiga, tanpa mempertimbangkan latar belakang keragaman etnik.

Ada juga sinyalemen bahwa terjadi ‘pencangkokan’ oleh negara-negara penjajah terhadap negara dunia ketiga. Negara yang dihasilkan pun memiliku karakteristik dan fungsi-fungsi yang serupa: lembaga yang otonom dan terdeferensiasi untuk kepentingan publik; memiliki kekuasaan terpusat yang absah terhadap wilayahnya; serta memiliki monopoli terhadap kekerasan dan ekstraksi (pengumpulan pajak). Cara dan rumus yang digunakan untuk pembentukannya pun berakar dan tidak jauh berbeda dari ‘Barat’, antara lain melalui mobilisasi sosial, asimilasi linguistik, penggunaan media massa dan sistem pendidikan massal.

Dengan demikian, terbukti bahwa terbentuknya negara-bangsa maupun nasionalisme bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Ia bukan merupakan suatu perkembangan perkembangan alamiah dari tahapan ‘evolusi’ bentuk-bentuk penyelenggaraan perikehidupan bersama. Sebelumnya telah dikenal bentuk komunitas adat/kesukuan, negara-kota, kerajaan, ataupun dinasti (imperium) yang kini tergeser. Oleh sebab itu, kita tidak perlu taklid buta terhadap bentuk negara-bangsa seperti yang kita kenal sekarang. sebagai contoh alternatif, misalnya, Smith menawarkan bentuk federasi atau perserikatan.

Saya pribadi memilih untuk mengembalikan ke akar substansinya. Apapun bentuk yang dipilih dalam menyelenggarakan perikehidupan bersama, perlu diingat bahwa bentuk-bentuk tersebut sekedar menjadi alat perjuangan untuk mencapai kedaulatan dari para penyelenggaranya itu sendiri. Jika bentuk-bentuk itu terbukti tidak memadai, jika terjadi pemaksaan untuk terlibat dalam bentuk-bentuk tersebut, jika bentuk-betnuk tersebut justru merampas kedaulatan dan mengeksploitasi rakyat, apalagi jika bentuk-bentuk tersebut dijadikan kedok oleh kepentigan-kepentingan yang menunggangi negara-bangsa kita (baik kepentingan kapitalisme global maupun komprador-komprador domestik), juga menghegemoni dan mengebiri dinamika jiwa-jiwa yang merdeka, maka tidak ada kata lain selain “Selamat Tinggal!” []-g

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s