Pernikahan Kartini

Kami pulang ke Jogja membawa setandan pisang, oleh-oleh langsung dari kebun. Sekali lagi, Irung Petruk atau lajur jalan di Gunung Kidul yang penuh kelok dan naik turun akan kami tempuh. Udara sejuk dan hijau sawah menyegarkan pandangan, mengingatkan kami pada kebaya hijau limau Kartini dan perona matanya yang berwarna senada.

***

Gempa Yogyakarta tiga tahun lalu. Kami salah satu “armada” KKY atau Komite Kemanusiaan Yogyakarta yang ditugaskan ke Gunung Kidul. Bantul sudah banyak diperhatikan, sebagai korban terparah. Sementara Gunung Kidul tidak terlalu terlintas di benak banyak orang. Daerah berupa perbukitan cadas membuat korbannya tak sebanyak Bantul. Namun, tak terpikirkan bahwa lumpuhnya Bantul menyebabkan pasokan pangan bagi masyarakat Gunung Kidul terputus, sehingga selama berminggu-minggu mereka hanya makan daun ketela, tiwul, dan sambal yang diolah dari kebun masing-masing.

Kami baru saja hendak beranjak dari rumah seorang Pak RT di Gunung Kidul yang berkali-kali berterima kasih, ketika satu perempuan muda mengejar-ngejar mobil kijang kami, tak mau melepaskan. Sambil sedikit menggedor kendaraan, ia menggugat, kenapa yang dikunjungi hanya rumah Pak RT saja, rumahnya tidak. Pemimpin rombongan merangkap supir mengatakan, semua sumbangan sudah ditaruh di rumah Pak RT, tak ada sisa. Jika ingin ambil bagian, silakan hubungi Pak RT saja.

Ternyata, bukan itu yang ia mau. Ia ingin kami berkunjung, menikmati makanan khas Gunung Kidul sambil minum teh hangat. “Mampir tempatku dulu,” katanya. “Tidak ada salahnya,” pikir kami. Toh, kami tidak sedang terburu-buru, dan sang supir sepertinya perlu beristirahat sedikit lebih lama akibat medan perjalanan yang menantang.

Sampai di rumahnya, satu keluarga besar berkumpul. Dari kakek buyut sampai cucu-cucu yang masih bayi. Mereka semua ramah. Aku bertanya, “lho, orang tuamu koq kecil-kecil semua, ini bongsor dari mana?” Ia tertawa, “Dari kecil aku udah besar sendiri.” Ia bungsu kelahiran 21 April 1988, tanggal kelahiran “Ibu Kita” Kartini. Dari situlah ia mendapatkan namanya.

Semua anggota keluarga saut-sautan bercerita. Cerita yang sampai detik ini masih kuingat adalah dari kakek Kartini yang sekarang sudah meninggal. Dengan suara tak terlalu jelas, berbahasa jawa pula, mulut ompongnya tergelak-gelak menuturkan kembali peristiwa yang ia alami di hari gempa. Ia seorang kakek yang sudah tak bisa berjalan. Kakinya hanya bisa tertekuk, jadi ia selalu dalam posisi berjongkok. Semua orang keluar dari rumah, ke sawah lapang. Ia digendong, lalu diletakkan di sawah. Saat orang-orang membuat tenda seadanya, hujan turun. Meski demikian, orang-orang masih terlalu takut untuk kembali ke rumah. Mereka bertahan di tenda itu. Tanpa terasa sang kakek yang tak bisa ke mana-mana itu berkubang dalam air sawah … plus air hujan yang menggenang di sawah membuat ia terendam nyaris tenggelam, kaku tak ada yang bisa memangku. “Gimana ya nak, saya ini sudah ndak bisa gimana-gimana,” ia tak memelas, justru terkekeh-kekeh. Benar-benar tabah.

***

Dari kunjungan itu, kami bisa berhubungan sampai sekarang. Kartini pakai kartu As, Telkomsel satu-satunya yang ada sinyal di sana. Lama-kelamaan, tanpa terasa sudah waktunya bagi Kartini untuk menikah. Ia dilamar oleh tetangga pujaan hatinya, Supriyanto. Beberapa waktu sebelum menikah, kadang kala ia berbagi kisah.

Dulu, saat ia masih kecil, sudah pernah ada yang melamarnya, tapi ia enggan. Pertama, karena ia merasa masih kecil, meski pernikahan “di bawah umur” biasa terjadi di desanya. Kedua, karena tak ada rasa suka terhadap orang yang melamarnya itu.

Kali ini lain. Ia telah mengenal dan berpacaran dengan Supriyanto selama beberapa tahun. Ia sering menceritakan betapa mereka tak pernah berani saling menatap satu sama lain saat sedang berbincang. Seperti itulah gaya berpacaran mereka. Mereka akan saling membuang muka, melihat ke arah sebaliknya bukan ke lawan bicara. Sehingga, orang yang melihat malah akan mengira mereka sedang marahan. “Lha gimana ya? Aku tu ndak berani ….” selalu begitu jawabnya jika aku meledeknya.

Pernah pula ia memberi kabar, ingin menunda pernikahannya, sebisa mungkin sehabis lebaran atau tahun 2009 saja sekalian. Pokoknya menikmati masa muda dulu. “Menikah itu ndak gampang, banyak urusannya,” wow, Kartini tegas sekali. Lagipula ia akan kangen dengan mbok-nya. Setelah menikah ia akan bingung mau ngapain dan bosan, tiap hari hanya bertani sendirian karena Supriyanto ke kota menjadi buruh bangunan. Dia juga bingung, dia berusaha menabung tapi selalu saja ada keperluan. Duitnya terpakai bahkan habis, tapi masih cukup. Kira-kira seperti itulah kalimat-kalimat yang bisa aku tangkap. Tapi, tetap, sebenarnya aku menangkap nada-nada bersemangat dan excited-nya akan rencana pernikahan ini. Aku terharu dan terinspirasi mendengar bahwa ia semakin sering mengaji dan berpuasa. Betapa yakin dan intimnya ia dengan Tuhannya. Tak seperti orang-orang yang merasa “lebih tau” tentang apa saja ….

***

Pikiranku kembali ke masa-masa jauh sebelumnya, saat aku bertanya kenapa ia tak ambil Paket C saja. Ia kan sudah lulus SMP, setelah lulus paket C ia bisa ambil pendidikan keguruan kalau sudah bosan bertani. Tenaga guru masih sangat dibutuhkan di desanya, lagipula sebagai guru ia akan dihormati. Saat itu, ia seperti menyambut ide tersebut dengan cukup bersemangat. Ya, tapi tak ada realisasinya sih, hehe 😛

Aku selalu merasa dunia ini tak adil kalau teringat perkataannya bahwa pilihannya hanya tiga: bertani, jadi buruh pabrik, atau jadi pembantu rumah tangga. Secara fisik dan finansial, semua itu bukan pilihan yang menyenangkan, terus terang saja. Menurut kalian apa yang membedakan aku dengan dia? Kami sama-sama manusia. Aku bisa saja ada di posisinya dia, terlahir di Gunung Kidul sebagai dia … lalu kenapa hidupku harus dibatasi dalam tiga pilihan saja.

Aku tidak bicara soal mana yang lebih baik, “nasibku” atau “nasibnya”. Orang bisa saja bilang, bersekolah di zaman sekarang semakin mirip dengan berlaga di medan tempur. Hmm, yah, saat bersekolah dulu, aku tidak berurusan dengan tawuran, bullying ataupun narkoba. Juga, sama sekali tidak ikut les atau bimbingan belajar seperti anak-anak lain yang sepulang sekolah masih ada beban les, tidak bisa beristirahat atau main. Orang bisa bilang bahwa seorang Kartini, di pelosok Gunung Kidul, terselamatkan dari hal-hal mengerikan macam itu. Menurutku bukan di situ permasalahannya. Aku tidak bicara soal mana yang lebih baik, tapi, aku merasa bahwa semua orang berhak mendapat kesempatan yang terbaik dalam kehidupannya. Entah siapa yang peduli dan akan bertindak dalam persoalan ini ….

***

23 Februari 2009, hari pernikahan Kartini. Kami menunggu, mendengarkan sambutan dalam bahasa jawa. Jalan setapak itu telah disulap menjadi tempat duduk tamu pengantin. Kartini dan suaminya berada di dalam ruangan rumah, sementara kami di luar, dihibur penyanyi berpakaian jawa dan orgen tunggal/”electone”. Hm, seperti yang tertulis di surat undangan nih, “Hiburan: electone”. Dan, aku baru tahu dari surat undangan tersebut bahwa ternyata nama Kartini itu Sukartini ….

Sebelum menyanyi, grup yang terdiri dari dua penyanyi perempuan, dua penyanyi laki-laki, dan seorang pemain orgen itu bertukar lawakan, meski dalam hal ini penyanyi laki-laki yang lebih aktif. Sesekali tamu undangan diajak berduet.

Duh denok gandulane ati, tegane nyulayani …
Janjimu sehidup semati amung ono ing lathi
Rasa sayangmu sudah pergi, tak menghiraukan aku lagi
Duh denok gandulane ati, tegane nyulayani ….

Duh kangmas jane aku tresno, lilakno aku lungo …
Ati ra kuat nandang rasa, rasa ketonto ronto
Cintamu sudah gak beneran, aku cuma buat mainan
Duh kangmas jane aku tresno, lilakno aku lungo

Tresno iki, dudu mung dolanan
Kabeh mau amargo kahanan
Sing takjaluk, amung kesabaran

Mugi Allah, paring kasembadan

dst …

Lagu yang kuingat hanya ini, karena ada campuran bahasa Indonesianya 😛 Lagian rada lucu-lucu mengenaskan, yah menghibur beneran dech hahaha 😆

Selanjutnya, acara hiburan diisi oleh tamu yang dari tadi disebut-sebut namanya. Ternyata beliau seorang caleg DPRD II Gunung Kidul. Sebelum bernyanyi, beliau bertanya pada tim yang sedari tadi menyanyi, “bagaimana pembiayaan kelompok ini? bla bla bla.” Kemudian, ia menyerahkan amplop berisi uang Rp 50.000,oo untuk kesejahteraan mereka sembari woro-woro. Tak lupa ia mengingatkan tim penyanyi itu untuk bilang tentang dirinya saat pentas, “… kalau cocok.” Suami sang caleg itu menambahkan Rp 50.000,oo lagi, sehingga kami semua tahu total sumbangan mereka. Barulah caleg tersebut mulai menyanyi. Meski berbahasa jawa, ternyata lagu itu berisi kalimat-kalimat kampanye partainya. Tapi penampilan sang caleg lumayan juga koq, tidak norak pamer perhiasan.

Sambil menunggu makan siang, kami keluar berjalan-jalan di sawah, di kandang ternak, di sumur, di pohon beringin …. Hwuaaahhhh, top markotop.

Saat kembali, kami duduk depan sendiri. Pengantin keluar dijemput domas. Begitu keluar, Kartini melihatku di depan sendiri, langsung nyengir lebar, demikian juga aku. Aku sampai melotot sambil menyalami saat dia lewat, “hwuaahh, cantik banget kamu!” Saat dijemput domas pengantin memakai baju Jogja berwarna hitam. Saat kembali ke pelaminan, diantar domas, pengantin sudah berganti baju hijau limau segar … sesegar raut muka Kartini. Ia benar-benar bahagia! Aku juga ikut bahagia banget sampai dadaku terasa sesak mau menangis ….

Selamat berbahagia, Kartini. Love u love u love u! *mmmuuach*

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

4 thoughts

  1. Pingback: Pernikahan Kartini
  2. indah sekali..

    semoga menjadi keluarga sakinah ma waddah wa rohmah…kartini seusia adekku ternyata, jadi kangen.

    kalo aku yang terlahir di bantul mungkin pilihanku : menjahit, jadi buruh pabrik rokok, atau jadi pramuniaga di minimarket yang menjamur di sana. dan menjadi ibu dua orang anak mungkin? 😛

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s