telepon seluler

Aku tidak merasa sedih meninggalkan dunia ini. Mereka bukan milikku. Dan aku bukan milik mereka. Kami membutuhkan secara fungsional saja. (Hudan Hidayat dalam cerpen ‘Bunuh Diri: untuk sutardji calzoum bachri’).

Seorang teman yang baru pulang dari Norwegia datang membawa cerita. Di sana, pemakaian telepon seluler sangat jarang dijumpai di ruang publik. Benda yang satu itu bahkan diperlakukan nyaris seperti rokok: terdapat tanda-tanda yang menyatakan “mobile phones prohibited” (“telepon seluler dilarang”) dan ada ruang-ruang khusus tempat pemakaian telepon seluler diperbolehkan. Sebelum menggunakan telepon seluler, meminta izin kepada teman yang sedang barengan merupakan harga mati. Itu asas sopan santun yang berlaku umum dan ditaati bersama.

Ketika ditanya mengapa, seorang warga menjawab dampak telepon seluler bersifat polutif. Masyarakat sebagai pihak yang tidak berurusan dan tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan personal tersebut tidak ingin ruang publiknya tercemar oleh suara-suara dan ekspresi-ekspresi yang tidak dikehendaki. Sebagai perbandingan, dikatakannya,”seperti halnya masyarakat menolak menjadi perokok pasif.” Lagipula, sebagai bangsa dalam negara yang hidupnya relatif teratur, telepon seluler tidak terlalu diperlukan. Semua agenda sudah tercatat, keinginan bercakap-cakap dapat ditentukan lewat perjanjian sebelumnya, sehingga, mereka bisa bertemu dan ngobrol secara langsung, seperlunya. Telepon seluler hanya berdering jika ada hal-hal yang sangat mendadak dan penting, dan hal-hal semacam itu jarang terjadi. “Kami kan warga sipil, bukan polisi”, demikian ia mengakhiri penjelasannya.

Hal yang berbeda ditemukan di Indonesia. Wow, betapa telepon seluler terlihat sudah memasyarakat, terutama di kota-kota. Perilaku-perilaku yang melibatkan telepon seluler menjadi pemandangan yang biasa. Tidak ada keraguan sedikitpun untuk menggunakan telepon seluler di ruang publik, kecuali mungkin dalam tempat ibadat.

Sebagai ilustrasi, mari menengok satu rumah kos di Yogyakarta. Semua penghuni mengawali harinya dengan gerakan yang sama dan serentak: mengecek telepon seluler. Entah mematikan alarm, melihat jam, mengharap ada sms atau missed call yang masuk, atau sekedar karena tubuh mereka sudah terotomatisasi dengan gerakan tersebut. Sepanjang hari, kecuali saat sedang bersembahyang atau berada di kamar mandi, telepon seluler selalu ada dekat jangkauan, tak mau meninggalkannya lama-lama, seolah dalam status ‘siaga’, harus selalu siap untuk menerima kabar berita apapun, kapanpun, di manapun, dari siapapun, dan tanpa itu ada sesuatu yang dirasa kurang. Tak heran, terkadang masalah-masalah yang berkaitan dengan telepon seluler membuat mereka uring-uringan. Sampai-sampai, perlu berhutang untuk membeli pulsa, bahkan memproklamirkan, “aku tidak bisa hidup tanpa pulsa”: sebuah pernyataan yang menimbulkan pertanyaan, apakah ini dikarenakan kultur masyarakat Indonesia yang sangat gemar bersosialisasi (anehnya dengan keberadaan telepon seluler terkadang teman-teman di sekelilingnya seperti sedang dicuekin, dianggap tak ada), ataukah ini sebentuk tindakan konsumtif yang inefisien?

Sebagaimana perangkat teknologi lainnya, keberadaan telepon seluler memiliki wajah ganda: membebaskan, sekaligus membatasi. Sosial, sekaligus alienatif. Dengan iming-iming keleluasaan mobilitas, sekaligus, kemudahan berinteraksi, telepon seluler menjelma sebagai kebutuhan massal dalam lingkup kehidupan modern – saat ruang dan waktu menjadi faktor vital dalam aktivitas sehari-hari. Fungsi telepon seluler tak sekedar sebagai alat komunikasi, melainkan dapat pula ditangkap sebagai simbol status dan gengsi sang pemilik, bahkan sampai pada taraf kemelekatan tak terpisahkan dalam kehidupan personal sehingga mengakibatkan keterlibatan secara emosional. Penggunaan telepon seluler yang semakin marak telah menimbulkan perubahan dalam relasi sosial maupun ritual kultural, juga berpengaruh terhadap perilaku dan persepsi individual.

Langsung tidak langsung, telepon seluler menjadikan penggunanya sebagai ‘diri virtual’ walaupun dampak telepon seluler betul-betul dirasakan dalam kehidupan sang pengguna. Sebagaimana yang dikemukakan Agger:

The virtual self is connected to the world by information technologies that invade not only the home and office but the psyche. This can either trap or liberate people… By virtual self, I am referring to the person connected to the world and to others through electronic means such as the Internet, television and cell phones… [These] technologies get inside our heads, position our bodies and dictate our everyday lives. (Agger 2004:1, dikutip dari http://www.fastcapitalism.org)

Selain dimensi virtualitas, telepon seluler juga mengandung dimensi anonimitas. Hal ini dimungkinkan karena ‘diri’ kemanusiaan direpresentasikan melalui simbol ‘nomor telepon’ berupa figur angka-angka yang berderet. Nomor tersebut dapat diubah-ubah sehingga tidak dikenali, terkadang sukar terlacak, bahkan terkadang ada telepon seluler yang memiliki fasilitas hide id sehingga nomor penelepon tidak bisa diketahui.

‘Identitas’ menjadi sangat cair tak bisa dipegang, dapat diubah-ubah ataupun dipalsukan tanpa harus mempertanggungjawabkan apa-apa. Keadaan hampir ‘tanpa resiko’ ini dapat mendorong terjadinya ‘eksperimentasi’ dalam representasi ‘diri’, salah satu contohnya adalah dalam hal ‘pengekspresian diri’. Ambil misal, seseorang yang dalam interaksi tatap muka sehari-hari bersifat sangat pasif dan pendiam, ternyata ketika berhubungan melalui telepon seluler (entah telepon maupun sms) berubah menjadi penyampai pesan yang aktif, bahkan mengumbar ungkapan-ungkapan yang berbunga-bunga. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang melalui telepon seluler terkesan sangat ‘dingin’ dan hambar karena penyampaian pesan yang singkat dan padat, ternyata dijumpai sebagai orang yang sangat cerewet, ekspresif, dan ramah. Sulit untuk menerka yang manakah ‘diri-nya yang sesungguhnya’, karena bisa jadi individu-individu tersebut sedang melakukan apa yang tadi disebut ‘eksperimentasi’ terhadap bagaimana diri mereka ingin ‘tampil’/ ‘ditampilkan’.

Dalam argumen kepraktisan, hubungan yang terjadi pun bersifat impersonal, meski imajinasi yang terbangun bisa melayang mengembara entah ke mana. Di balik proses sosialisasi, terjadi proses individualisasi, bahkan alienasi. Terkadang seseorang menjadi terasing dalam relasi tatap muka sehari-harinya karena sibuk berinteraksi melalui telepon seluler. Tanpa perlu saling mengenal pribadi/kepribadian masing-masing, individu-individu semakin dimudahkan untuk berhubungan sebatas hal-hal fungsional, dengan kata lain sesuai kebutuhan saja.

Daftar nomor telepon yang memenuhi phonebook menunjukkan jaringan-jaringan yang membuat mereka saling terhubung. Jaringan (network) itu jualah yang memperluas pergaulan individu-individu menembus sekat-sekat jarak. Hubungan yang tadinya tidak dimungkinkan sebelum adanya teknologi, menjadi mungkin. Tak jarang pula relasi-relasi personal yang melibatkan keterikatan emosional mewujud melaluinya. Entah bisa dibilang ‘nyata’ sesuai pengertian ‘konvensional’ atau tidak. Di sinilah, realitas kembali menunjukkan segi-segi ‘simulasi’-nya. Dengan kata lain, realitaskah atau simulasikah, untuk membedakannya tak semudah membedakan siang dan malam di negara tropis.

Tak dapat dihindari, bagi sebagian orang, telepon seluler menjadi bagian dari identitasnya, tak terpisahkan, sebab telepon seluler juga mengandung makna simbolik yang menyatakan ‘siapa Anda’ dalam strata sosial dan ‘seberapa besar tingkat keberdayaan Anda secara ekonomi’. Yang patut disayangkan adalah apabila, sebagai bagian dari ‘identitas’, perangkat tersebut mengakibatkan kecanduan atau ketergantungan bagi penggunanya.

“There has been growing evidence of an increased dependency on mobiles—not just in practical terms, but in an emotional sense.” (Michael Hulme cited in “Downtime” by Mark Lewis in Computer Weekly, May 20, 2003 http://www.computerweekly.com/ )

Hal tersebut tidak sehat, apalagi jika benda sampai menjadi sebuah kemelekatan seolah-olah menjadi organ tubuh baru yang dicangkokkan dan manusia tidak bisa hidup tanpanya.

Disadari atau tidak, selain berfungsi sebagai alat komunikasi, telepon seluler juga menjadi alat kontrol untuk senantiasa mengetahui keberadaan pengguna. Tak jarang, pengguna justru merasa terpenjara oleh telepon seluler tersebut, tidak bisa menghindar dari segala panggilan, tak ada waktu luang, kehilangan privasi dan waktu beristirahat. Dalam usahanya menjadi subjek yang leluasa mengontrol relasi sosial, ternyata di sisi lain manusia juga harus siap menjadi objek yang dikontrol. Dalam imajinasinya untuk membuka peluang-peluang baru pergaulan ataupun ‘networking‘ demi memperluas perolehan order pekerjaan untuk mengebulkan asap dapur, ada tanggung jawab merawat perangkat itu sendiri dan segenap kebutuhannya, juga merawat interaksi-interaksi yang telah terwujudkan gara-gara perangkat itu.

Entah mengapa, tiba-tiba dalam hal ini, saya membayangkan manusia-manusia masa kini yang dengan sengaja dan sukarela mendaftarkan dirinya sebagai nomer-nomer berderet, berbondong-bondong tanpa perlu dipaksa, tak seperti zaman Auschwitz. Entah apa yang menggerakkan itu semua ….

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

9 thoughts

  1. bahkan ada lho temanku yang bahkan ke kamar mandipun ponselnya dibawa. aku pernah nelepon dia, kok brisik air, aku tanya lagi di mana, jawabnya lagi mandi di kamar mandi, hehehe…

    tulisan nadya keren…

    1. hahahahaha … ya ampun sampe segitunya, komenmu bikin aku ketawa2 terus lho, ngebayangin temenmu (gek2 pacarmu) itu hehehehe 😀 koq isooo ngono lho, terampil bangetz. lagek kesusu n super-urgent po yo (belum bisa paham kalo blum mengalami sendiri kalii ya? mungkin perlu dicoba hahaha …)

      thx anyway, sbenernya aku masih belajar, diah ……..

    1. hihihi … sunyi di tengah keramaian? atau kayak lagunya ipang bip 😛 😛 thx lho pak heri, em, ni masih blajar n ngarang2 ngacooo (tapi ga bisa memperbaikinya hehehe ….) terinspirasi kemaren ngomongin rokok2, trus ternyata ponsel juga ada efek semacam candu 😛 kira2 apa lagi ya yang bikin kecanduan?

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s