Burung-burung Manyar

burung-burung manyar

Judul: Burung-Burung Manyar
Pengarang: Y. B. Mangunwijaya
Penerbit: Djambatan
Cetakan: II, 1981
Halaman: vi+261

Jujur saja, kali pertama membaca roman ‘Burung-burung Manyar’ di bangku SMU, aku tidak terkesan. Entah apa penyebabnya. Mungkin saat itu aku tidak membaca dengan sungguh-sungguh. Mungkin juga, perasaanku masih terlalu tumpul untuk menghayatinya. Apalagi, pemikiranku masih terbatas sehingga akalku belum bisa bertualang. Sebagai remaja yang sedang mekar, yang kuingat hanya adegan-adegan ‘syur’-nya.

Ternyata keadaan berbalik saat aku membacanya untuk kedua kali. Bagian ‘Prawayang’ kujadikan acuan dasar dalam memahami roman ini. Nuansa pewayangan semakin terasa melalui judul-judul bab yang menggunakan makna tersirat, seperti ‘Cendrawasih Terpanah’, ‘Burung Kul Mendamba’, dan sebagainya. Di sebelah judul bab, tergambar lambang yang menunjukkan siapa yang sedang bercerita dalam bab itu: daun melambangkan Teto dan burung melambangkan Atik. Hal ini mengingatkanku pada budaya Jawa yang gemar menggunakan perlambang-perlambang. Selipan unsur-unsur budaya tradisional tersebut menjadi daya tarik tersendiri.

Penokohannya unik. Tidak ada yang bersifat hitam putih, semua tokoh berwarna abu-abu. Karakter-karakter seperti ini jauh dari kesan menjemukan dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada dua tokoh utama yaitu Teto (Setadewa) dan Atik (Larasati). Mereka bersahabat sejak kecil, saling jatuh hati, namun perjalanan hidup meletakkan mereka secara berlawanan. Tokoh lain yang menyita perhatian adalah Jana, suami Atik yang memiliki kepribadian yang langka.

Semakin kubaca, semakin tertariklah aku. Gaya bahasa yang spontan dan lugas serta struktur kalimat yang kejawa-jawaan terasa akrab di telingaku. Gaya bahasa ini dapat dianggap sebagai kekurangan, dapat juga dianggap sebagai kelebihan. Menjadi kekurangan karena mungkin struktur seperti ini menimbulkan jarak dengan pembaca yang tidak terbiasa dengan bahasa Jawa. Di sisi lain, dengan gaya bahasa seperti ini, penuturan pengarang terasa lebih lancar dan hidup.

Menilik isinya, betapa kagum aku ketika tersadar betapa luas cakupannya, merentang dari sejarah sampai hakikat kehidupan. Walau belum kupahami sepenuhnya, ada beberapa perihal penting yang menarik diurai lebih lanjut.

L’histoire repete, sejarah berulang. Kisah-kisah sejarah masa lalu ternyata pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami pada masa sekarang. Bukankah masa sekarang adalah masa lalu bagi masa yang akan datang? Pemahaman ini membawa kita pada kesadaran sejarah, yaitu penghayatan mengenai peran manusia pada bergulirnya sejarah.

Perulangan sejarah tampak jelas antara lain mengenai kisah peran dunia internasional terhadap kebijakan suatu negara. Roman ini menyadarkan bahwa apa yang terjadi pada suatu negara tak bisa terputus dari kepentingan internasional. Kemerdekaan Indonesia menjadi salah satu contoh. Bukan hanya perjuangan dalam negeri, persaingan di dunia internasional pun ikut mempengaruhi tercapainya proklamasi. Dalam kehidupan berbangsa dewasa ini, kekuatan internasional masih bermain, bahkan dapat mengancam kedaulatan negara. Ambil contoh kebijakan ekonomi. Pemerintah Indonesia dipaksa berhadapan dengan rakyatnya sendiri melalui keputusan pencabutan subsidi, penjualan aset-aset negara, dan sebagainya.

Mencermati hakikat penjajahan, mental penjajah tergambar baik melalui tokoh Teto yang menyangsikan kemampuan bangsanya sendiri dan memilih berpihak pada Belanda. Terlepas dari alasan pribadi yang melatarbelakanginya, sikap seperti Teto inilah yang menghambat persatuan dan kemajuan bangsa. Sampai sekarang, mental-mental seperti ini masih terlihat. Percuma berkebangsaan Indonesia bila bermental penjajah.

Di balik sikap-sikap tersebut tentu ada berbagai latar belakang. Dalam roman ini, sikap Teto memihak Belanda -yang disesalinya- dilatarbelakangi oleh masalah pribadi. Menurut Atik, itulah kesalahan Teto, tidak bisa melepaskan masalah pribadi dari masalah negara. Tak perlu berpanjang lebar, sekarang ini sikap tersebut masih merajalela dan merusak bangsa ini. Apa lagi kalau bukan korupsi, kolusi dan nepotisme? Demi kekayaan pribadi, keuangan negara dihabisi. Amanat rakyat digeser pada peringkat dua. Yang nomor satu tentu saja kepentingan pribadi.

Yang patut dicatat adalah bahwa Teto mengalami kerugian akibat sikapnya itu. Kesulitan hidup yang dialami menempa jiwanya menjadi seorang ksatria. Ia menyesal dan pada akhirnya melakukan tindakan yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia, walaupun akibatnya ia dipecat dari pekerjaannya. Seringkali, pahlawan-pahlawan berserakan tanpa kita ketahui namanya. Bisa jadi ia adalah orang biasa yang tidak kita sangka sama sekali, seperti Teto. Pahlawan yang tak dikenal dan tanpa tanda jasa. Pertanyaannya: beranikah?

Menaksir jawaban pertanyaan tersebut, bolehlah kita beralih pada sisi filsafat roman ini. Romo Mangun berbicara mengenai jati diri dan citra diri. Jati diri ada di dalam diri dan citra diri adalah bahasa ke luar diri. Seringkali manusia terlalu sibuk berias untuk menampilkan citra diri tertentu sehingga melupakan jati dirinya. Itu menunjukkan bahwa manusia terkadang sangat memedulikan penilaian orang lain. Ia ingin dianggap, dihargai, dan diakui keberadaannya di antara manusia-manusia lain. Terbuai oleh bahasa citra diri, manusia mengabaikan bahasa jati diri. Menyemukan perasaannya terhadap diri sendiri. Mengesampingkan kenyamanan, perdamaian dan penerimaan diri.

Seorang pahlawan sejati melakukan kebaikan tanpa pusing dengan citra diri. Jati diri yang kuat menopangnya, sehingga ia mampu terus berjuang dengan atau tanpa penghargaan dari manusia lain. Inilah yang disebut dengan keseimbangan antara jati diri dengan citra diri. Ketika jati diri baik, orang itu akan merasakan citra dirinya juga baik. Sebaliknya, untuk mencapai perasaan bahwa citra dirinya baik, seseorang harus mempunyai jati diri yang baik. Kutipan berikut dapat menjelaskan lebih lanjut,

…jati diri kita sebenarnya mendambakan arti, makna, mengapa, dan demi apa kita saling bergandengan, namun juga berkreasi aktif dalam sendratari agung yang disebut kehidupan. (halaman 211).

Menjadi pahlawan yaitu memahami arti dan melakukan sesuatu untuk kehidupan.

Pelajaran mengenai jati diri dan citra diri dapat disarikan melalui tokoh-tokohnya. Teto disamakan dengan Kakrasana yang seta (bersifat putih) namun memihak Kurawa (pihak antagonis). Pada awalnya, ia bercitra diri sebagai pengkhianat di mata bangsa Indonesia. Beban kehidupan yang harus ditanggungnya sungguh berat. Jati dirinya tabah dan dewasa, mungkin karena pada usia muda ia harus betul-betul mandiri. Ayahnya tak diketahui kabarnya dan ibunya hilang ingatan. Rasa cinta kepada ibunya sangat besar, sehingga perlakuan Jepang terhadap ibunya membuncahkan amarah terhadap Jepang. Kebenciannya itu diperluas menjadi kebencian terhadap Indonesia juga, karena ia melihat bangsa Indonesia dan Jepang seolah bersatu melawan Belanda, negeri asal ibunya. Pada akhirnya ia berubah haluan. Ia memihak Indonesia dengan mengorbankan diri sendiri. Indonesia disadari sebagai pengejawantahan ibunya. Dari lubuk hati, ia tetap mencintai tanah airnya.

Atik, secara citra diri adalah pahlawan. Ia telah menjadi sekretaris Republik pada usia yang sangat muda. Kelebihan tokoh Atik adalah pada sifatnya yang prenjak dan kiprah, yaitu lincah, cerdas, dan bersemangat. Dalam jati dirinya terlihat ia masih kekanak-kanakan, manja, dan kenes. Mungkin karena ia adalah anak tunggal yang masih diasuh ibunya sampai dewasa. Ia belum menyadari arti cinta dan kepemimpinan sejati yang dicurahkan oleh Jana, suaminya. Ia kurang peka menangkap kekuatan dan kepahlawanan dalan diri Jana. Sebelum diberi pengertian oleh Teto, ia hanya melihat Jana dari sisi citra diri, tidak berusaha menyelami jati dirinya.

Tokoh yang langka adalah Jana. Citra dirinya di mata Atik kurang menyenangkan. Ia dianggap kurang gagah. Ia bukan orang yang suka menonjolkan diri. Hanya orang yang dianugerahi pengamatan batin yang tinggi yang mampu melihat kecemerlangan jati dirinya. Ia mampu mecintai secara mendalam dan tanpa pamrih, sampai-sampai serasa cintanya disia-siakan oleh Atik. Atik mengatakan bahwa Jana baik, tetapi lemah, Atiklah yang selalu memimpin. Menanggapi hal ini, kutipan kalimat Teto kepada Atik berikut cukup mengena,

…memimpin tidak selalu dengan komando. Kualitaslah yang memimpin dan kualitas sering menang tanpa kata… Ia memimpin seperti alam raya ini. Tanpa kata. Seperti karakter. Dengan pengertian…

Kesimpulan yang bisa dipetik antara lain, kedewasaan adalah ketika seseorang mampu hidup untuk orang lain, mengalahkan ego pribadinya. Hal yang menghindarkan Atik dengan Teto dari perbuatan zina adalah kelebatan anak-anak Atik dalam pikiran kedua orang itu. Semakin dewasa, manusia tidak bisa selalu menuruti keinginannya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dengan arif. Jati dirilah yang akan menyelaraskannya.

Satu hal yang sayang untuk dilewatkan adalah kisah percintaan antara Teto dengan Atik, juga Jana dengan Atik, dan cinta kasih antara Teto dengan Jana. Selain itu, keunggulan roman ini adalah pada penceritaannya yang menggunakan sudut pandang yang tidak biasa, yaitu melalui tuturan seorang yang semula antinasionalis. Dengan demikian roman ini menegaskan bahwa segala sesuatu bergantung pada perspektif atau sudut pandang. Pepatah mengatakan,

Batas antara pahlawan dengan pengkhianat sangatlah tipis.

Akhir kata, roman ini adalah roman sejarah dan filsafat yang bagus, layak dibaca, dan tak lekang dimakan waktu.

Advertisements

8 thoughts on “Burung-burung Manyar

  1. wah… resensi mu apik nad, secara garis besar mudeng. tapi klo disuruh baca thok, mungkin aku ga mudeng.
    hahahaha…

    berat berat….
    entah sdh berapa lama otakku ini tak di jejali isi buku bermutu.

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s