semut dan gajah

Selasa, 7 Desember 2004. Malam itu, Lembaga Mahasiswa Filsafat UGM menyelenggarakan diskusi di auditorium Lembaga Indonesia Perancis (LIP) yang terletak di Sagan, Yogyakarta. Hawa dingin dan cahaya remang-remang menemani perbincangan hangat bertemakan “Lokal Mengeja Global”. B. Herry-Priyono, seorang ilmuwan sosial terkemuka, dan Joko Siswanto, dosen mata kuliah ontologi dan kosmologi Fakultas Filsafat UGM, dihadirkan sebagai pembicara.

Berawal dari mengenang masa-masa bersekolah di London School of Economics (LSE), B. Herry-Priyono mengisahkan kerinduannya terhadap lemper. Hasratnya terhadap penganan yang terbuat dari beras itu membekas sampai beberapa hari, karena di London lemper tidak mudah didapatkan. Ketika di Yogyakarta, misalnya, ia tak pernah mengalami kerinduan yang sedemikian hebat hanya terhadap suatu makanan kecil. Keinginan mendalam terhadap hal yang berbau nasional atau lokal justru dirasakan setelah ia berada nun jauh di negeri orang.

Kemudian, dari sini ia mengambil rumusan, “Persis saat muncul hasrat untuk merentang, muncul pula hasrat untuk mengakar”. Maksudnya, persis saat kecenderungan yang terjadi adalah gejala-gejala pengglobalan, muncul kecenderungan untuk melirik dan menjaga sifat-sifat lokal. Memang menjadi paradoksal, namun bukan berarti irasional. Oleh karena itu, sudah selayaknyalah untuk mempertanyakan, membicarakan tema-tema global dari sudut pandang lokal. Kegelisahan sang ‘lokal’ semakin mengemuka seiring terjadinya hegemoni wacana global yang menggerus secara membabi buta.

Menurut B. Herry-Priyono, ada tiga penyikapan dari yang lokal terhadap yang global, yaitu fundamentalisme; politik identitas a la cultural studies; dan pelibatan warga lokal dalam proyek-proyek global.

Fundamentalisme mengandaikan adanya satu sistem mendasar yang harus diterapkan dalam kehidupan. Karena sifatnya yang mendasar itulah, fundamentalisme memiliki patokan-patokan baku yang tak terkompromikan. Bagi masing-masing fundamentalis, cacat-cacat dalam segenap sendi kehidupan bermasyarakat terjadi akibat pelanggaran terhadap sistem ‘ideal’ yang mereka percayai tersebut. Pemberlakuan sistem secara menyeluruh diyakini akan menyelesaikan banyak permasalahan, setidaknya membuat keadaan menjadi lebih baik.

Sayangnya, selama dunia masih berputar, tidak akan ada satu pun sistem baku yang bisa menyelesaikan segala persoalan. Selamanya, kehidupan bergerak dinamis dan senantiasa membutuhkan penyikapan-penyikapan yang dinamis pula. Selamanya, berbagai sistem dan ideologi akan saling berdialektika. Logika fundamentalisme tersebut seolah hendak membekukan waktu, karena sesungguhnya ketika dunia ini menjadi satu warna saja dan baik seluruhnya, seperti yang diangan-angankan, maka berarti kehidupan ini telah selesai.

Penyikapan kedua berasal dari perspektif cultural studies. Mereka menyebutnya ‘politik identitas’. Maksudnya, dalam menyikapi globalisasi, masing-masing identitas harus tetap dipertahankan. Biarkanlah segala identitas tetap menjadi dirinya sendiri, jangan dihomogenkan oleh yang namanya globalisasi atau apapun itu. Mereka mengandaikan, dalam ranah budaya, manusia bebas berdansa merayakan kemanusiaannya. Ranah budaya bagai bilik tempat manusia bisa bernafas dengan sedikit lebih lega dan terbebas dari ‘polusi’ politik dan kekuasaan.

Cara pikir demikian mengandung beberapa titik naif. Tidak ada yang terlepas dari politik dan kekuasaan, termasuk budaya. Bahkan ketika seseorang atau suatu masyarakat merasa alergi dengan politik kemudian memilih untuk bertekun dalam ranah “budaya ‘saja’ “, pilihan itu pun sebenarnya adalah sebuah sikap politis. Selain itu, bagi penguasa dalam cakrawala globalisasi, tidak ada lagi hal yang sakral atau keramat. Budaya, termasuk agama sekalipun, dimasuki dan dikomodifikasi sesuai kebutuhan untuk mencari keuntungan. Tanpa sadar, keinginan untuk ‘menaklukkan’ globalisasi melalui politik identitas justru menyeret ke dalam pusaran kapitalisme global yang susah dibendung. Yang lebih ironis lagi, politik identitas dipakai sebagai jurus adu domba termutakhir. Penuntutan terhadap hak-hak identitas – misalnya saja hak-hak kaum homoseksual, perempuan, pecinta hewan, kelompok etnis tertentu, kaum agama, dan sebagainya – masing-masing dijorokkan pada titik ekstrim dan diletakkan sedemikian rupa sehingga saling bertentangan. Semakin beraneka ragam identitas yang diperjuangkan, semakin senang para pengadu domba tersebut, karena dengan demikian akan semakin susah bagi pelawan-pelawan globalisasi untuk bersatu ke dalam sebuah aksi bersama (joint action).

Penyikapan yang ketiga adalah mengikutsertakan masyarakat lokal dalam upaya penyejahteraan warga global. Masyarakat lokal harus dilibatkan dalam proyek-proyek global. Masyarakat lokal harus mendapat bagian yang layak dan menuntut imbalan yang pantas. Menurut B. Herry-Priyono, penyikapan ketiga inilah yang paling ‘lumayan’ dibanding penyikapan-penyikapan lain. Di era globalisasi, tidak ada yang tidak butuh kesejahteraan. Ketimpangan politik, sosial, maupun ekonomi harus dikurangi. B. Herry-Priyono tidak menyebutkan kelemahan dari penyikapan nomor tiga ini. Entah karena waktu yang terbatas, atau memang ia sudah cukup puas. Seperti katanya, penyikapan ini sudah lebih dari cukup untuk saat ini. Namun, bagi saya, penyikapan ketiga ini adalah sebuah cara kooptasi terbaru … dari gajah pada semut-semut yang selama ini terinjak-injak ….

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

4 thoughts

  1. ah bener banget apa kata si bapak…. walaupun aku cuma merentang dalam skala nasional, hasrat untuk tetap mengakar ke kampung makin menjadi dari hari ke hari.

  2. entah mengapa aku merasa kurang nyaman dengan lingkungan di asalku ya?
    bukan berarti aku tak suka dengan asalku, bukan berati aku melupakan asalku, dan bukan pula aku merasa lebih baik di mana aku sekarang berada, namun entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang aneh disana.

    mbuh ah…

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s