Penjara/Surga Tubuh

pembebasantubuhperempuanJudul: Pembebasan Tubuh Perempuan,
Gugatan Etis Simone de Beauvoire terhadap Budaya Patriarkat
Pengarang: Shirley Lie
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, 2005
Halaman: xvii + 102

Seberapa pentingkah makna tubuh dalam hidup manusia? Karena dianggap sebagai sesuatu yang telah ada dari sono-nya, terkadang manusia merasa tidak perlu lagi mempermasalahkan konsep ‘tubuh’. Berbeda dengan kaum filsuf, sebagai golongan manusia yang berusaha untuk menggali segala sesuatu secara radikal (radix: akar; dari akar-akarnya), ternyata konsep ‘tubuh’ bisa dikupas dari berbagai segi dan menimbulkan perbincangan yang tiada habisnya.

Bagi filsuf idealis seperti Plato, tubuh konkrit bukan hal yang penting. Justru, tubuh dianggap sebagai penghalang tercapainya kemurnian jiwa. Plato berkata bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa dan jiwa bagaikan terpenjara dalam tubuh (Bertens: 1989). Jika manusia terlalu memberi perhatian terhadap tubuh, maka hakikat keabadian hidup, yang terletak pada alam kejiwaan yang abstrak, akan sulit dicapai. Oleh karena itu, ia menganjurkan bentuk-bentuk askese dan mati raga.

Tidak demikian halnya dengan para filsuf eksistensialis seperti Sartre. Mereka berangkat dari realitas konkrit kehidupan manusia konkrit, bukan semata membahas ide-ide mengenai bagaimana manusia yang ideal (hal.7). Berbicara mengenai konteks realitas konkrit berarti berbicara tentang aspek sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang menyelimuti peradaban manusia. Dalam hal ini, tubuh merupakan konsep penting karena melalui tubuhlah manusia mula-mula disebut ‘ada’. Dari tubuh, manusia mencerna dunia dan kehidupan dalam realitas konkrit.

Buku karya Shirley Lie yang diangkat dari tesis penulisnya ini memaparkan pemikiran salah seorang filsuf eksistensialis kiri yang sangat terkenal di kalangan feminis, yakni Simone de Beauvoir. Bagi de Beauvoir, konsep tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan gender. Sebab, melalui fungsi tubuhlah identitas gender diciptakan.

Mitos yang diciptakan oleh budaya patriarkat membuat banyak perempuan percaya bahwa dirinya tidak berdaya karena kelemahan tubuhnya. De Beauvoir menegaskan “Jika seseorang tidak memiliki keyakinan pada tubuhnya sendiri, dia akan segera kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. [Pemutlakan] kelemahan fisik perempuan ini meluas menjadi kerentanan perempuan secara umum; perempuan tidak punya keyakinan pada kekuatan yang tidak dialaminya sendiri dengan tubuhnya; perempuan tidak berani bereksplorasi, melakukan revolusi, mencipta; dia terkurung dalam sikap pasif dan tidak berdaya…dia hanya bisa menempati tempat yang sudah ditentukan masyarakat baginya. Baginya, segala sesuatu dalam hidupnya sudah ditentukan, sudah tetap, dan pasti.” (hal. 23).

Dikonstruksikan bahwa menjadi perempuan berarti menjadi makhluk yang berpusat pada fungsi tubuhnya, dalam hal ini rahim. Perempuan terutama dihargai karena perempuanlah satu-satunya yang bisa melahirkan kehidupan baru melalui fungsi reproduksi. Melalui fungsi tersebut, keberlangsungan eksistensi manusia dapat dipertahankan. Namun, melalui fungsi tersebut pula, perempuan dibelenggu dalam sebuah ‘kodrat’. Perempuan diakui ‘ada’ dan berguna dalam kehidupan sebatas sebagai penyedia rahim dan penjaga keberlanjutan keturunan. Ketiadaan fungsi rahim menjadikan seorang perempuan berkurang nilainya, bahkan tidak ‘dianggap’.

Peradaban mengajarkan perempuan sebuah kewajiban, yaitu mengabdi kepada orang lain. Pengabdian itu ia lakukan melalui fungsionalitas tubuhnya. Padahal, ketika tubuh tak lain sekadar merupakan instrumen alam, itulah penyangkalan paling kuat terhadap kemanusiaan manusia (Supelli, dalam ‘Kata Pengantar: Tubuh yang Menyangga Sejarah’, hal. xv). Kehadiran perempuan sebagai manusia, sebagai subjek hidup yang berkehendak dan berakal budi, digerus begitu saja. Perempuan tidak berhak untuk berpikir neko-neko dan turut campur dalam urusan yang ‘berat-berat’ karena tanggung jawab sebagai pengabdi pada orang lain sudah cukup memberatkan. Identitas perempuan tidak dianggap penting, kecuali yang dirujukkan pada hubungannya dengan laki-laki. Otonomi perempuan menjadi tidak layak untuk diperhitungkan. Oleh karena itu, adalah sebuah prestasi besar jika perempuan mampu mengetahui apa yang diinginkan oleh-nya dan mengaktualisasikan diri secara utuh dan apa adanya. Perempuan yang berhasil menyandang peran yang menunjukkan keberdayaannya disebut sebagai individu yang berani dan mandiri (independent woman).

Permasalahannya, perjuangan gender tidak bisa berhenti pada level individu. Menurut de Beauvoir, kaum perempuan sendiri bertanggung jawab terhadap penindasan yang dilakukan kepadanya. Melalui sikap diam dan pasrah, perempuan melanggengkan upaya peminggiran terhadap kaumnya. Tak heran, diskriminasi gender terus lestari. Sebenarnya, peran perempuan mempertahankan dominasi laki-laki menunjukkan gejala ketidakdewasaan. Perempuan takut memperoleh kebebasan sebagai hakikat manusia dewasa, dan berusaha menghindar dari tanggung jawab dan resiko yang menyertai kebebasan tersebut.

Solusi yang ditawarkan de Beauvoir adalah revolusi pada tingkat individu dan juga revolusi sosial. Revolusi sosial diilhami oleh cita-cita masa itu, yaitu terjadinya suatu revolusi bolshevik. Diyakini bahwa dengan lenyapnya penindasan kelas, maka ketidaksetaraan gender pun akan musnah dengan sendirinya. Sedangkan, revolusi individu mencakup cara berpikir, bertindak, berperan, yang saling menghargai dan lepas dari ketergantungan dengan pihak manapun.

Sebagai penutup, Shirley Lie menegaskan seruan de Beauvoire kepada kaum perempuan: hiduplah secara otentik! Tidak ada salahnya perempuan menunjukkan nilai dan cara hidup yang orisinal, sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan (hal. 92). Perempuan bisa memaknai tubuhnya sebagai belenggu, namun bisa juga sebaliknya: keistimewaan tubuh perempuan menjadikannya sebagai surga, menuju keotentikan dan pembebasan.

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

2 thoughts

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s