keterhubungan

dari kejauhan, sekumpulan anak muda itu terlihat seperti hendak bersama-sama menembak burung. lebih tepatnya, burung yang sedang rehat di sarang. tangan-tangan terlatih diarahkan miring, kira-kira 30 sampai 45 derajat dari kepala. lengan terjulur kaku ke atas dengan senjata kecil dalam genggaman, siap mengenai sasaran nun di entah sana. melongok jauh, jauh sekali pandangan mata saya mencoba menelusuri arah tembak mereka, mencari lihat seperti apa wujud sasaran bernasib sial tersebut. nihil. sepertinya mereka salah mengarahkan senjata, atau memang menyasar bidang kosong? entahlah. tapi perihal tak ada burung yang siap ditembak, maklum saja, kami sedang berada di dalam mal.

dalam sekejap, mereka berganti rupa. ekspresi ceria dan siap menghabisi sasaran tadi berubah menjadi tampang-tampang cemas, deg-degan, tak sabar, penuh rasa ingin tahu. ada juga sih, yang bermuka lempeng saja. senjata mereka dekatkan ke dada, seperti hendak memastikan apakah keadaannya baik-baik saja. menatap penuh fokus, mata mereka seperti berbicara dalam bahasa empati. setelah tiga detik, tampang cemas mereka beroleh jawaban. tertawa bahkan terlonjak girang, atau, mulut terlipat lesu dengan alis terangkat rata, seperti menyiratkan, "kali ini tak berhasil, tapi tak apalah, masih ada kesempatan lain." tak lupa bercanda tawa sesama mereka. setelah gejolak emosi singkat tersebut, mereka kembali memeragakan posisi semula. saya masih tak mengerti apa yang mereka lakukan.

rupanya tak hanya posisi tangan dan badan yang telah terlatih, setel-setelan muka dan pose pun telah mereka latih dengan tekun. barulah saya sadari, mereka sedang membidik diri sendiri. dan, sungguh keterlaluan tingkat keprimitifan saya yang tak akrab dengan ponsel berkamera. tangan harus diarahkan jauh-jauh dan miring di atas kepala, agar foto yang dihasilkan memuaskan selera dan memenuhi standar foto yang baik (bagi mereka). jepret, jepret, jepret, tiga detik kemudian hasil sudah bisa dilihat, sambil melemaskan otot sekitar mulut yang kaku oleh senyum (atau tawa) terlatih.

setiba di samping saya, terdengar oleh telinga saya bahwa sekumpulan anak muda itu janjian memasang foto-foto tersebut di facebook. satu dari mereka langsung menimpali, "di-retouch dulu…" yang lainnya segera menyahut, "iya iya, lo sih ga bawa mcboo". mungkin itu nama komputer portabel mereka, yang mahal sakjagad tapi memiliki fasilitas terkini untuk melakukan olah gambar. mungkin bagi orang-orang dengan tingkat melek teknologi setinggi mereka, kegaptekan saya sangat mudah terendus. karena, tentang retouch, saya hanya mengerti artinya. dalam hal ini, bayangkan, satu-satunya aplikasi olah gambar yang bisa saya gunakan adalah "paint", itu lho yang ada di "accessories". purba banget dan bagi saya susahhh bukan main.

setelah mereka berlalu, saya kehilangan alasan untuk bertahan di tempat semula. namun, karena pantat saya malas beranjak dari duduknya, saya biarkan pikiran saja yang mengembara. saya bertanya pada diri sendiri, mungkin bagi manusia ada yang lebih berpengaruh daripada dimensi rasa, yaitu dimensi keterhubungan. maksudnya, kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, dan, tidak merasa sendirian di dunia ini. lagian, siapa sih yang mau terkucil? (ohookkk). motivasi melakukan sesuatu adalah agar bisa diterima orang lain, agar bisa nyaman menjadi bagian dari suatu kelompok. sehingga kelompok tersebut menjadi jaring pengaman sekaligus penjerat bagi individu-individu.

konsekuensi bila melanggar dimensi keterhubungan pun lebih riil daripada bila melanggar dimensi rasa. betapa sudah terbiasa orang-orang menipu bahkan mempermainkan perasaan pribadinya. selain itu, berbeda dengan dimensi rasa yang cenderung bisa disimpan sendiri (meski juga tak steril dari pengaruh dari luar diri), dalam dimensi keterhubungan lebih banyak yang terlibat, secara sadar. saya percaya (tanya kenapaa?) seindividualis-individualisnya seseorang, jika ia berada di mayoritas daerah di indonesia, tingkat komunalitas itu cukup tinggi dan ada semacam tuntutan bahkan kerelaan otomatis untuk saling terhubung dan "menyesuaikan diri dengan lingkungan".

cara manusia terhubung satu sama lain semakin bervariasi, tentunya jika anda berada dalam situasi yang memungkinkan anda bersentuhan dengan variasi-variasi tersebut. bagi sekumpulan anak muda tadi, jalan dengan teman, berfoto bersama, serta menerakan interaksi-interaksi melalui facebook, seolah bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan sudah menjadi ritual. sesendiri-sendirinya seorang anak rantau yang malas keluar dari kamar kosnya, bisa jadi masih bisa terhubung dengan teman-teman melalui facebook, deelel. berdaya secara ekonomi, bertegur sapa setiap hari. tak apalah, yang penting hati senang, dan ada pencapaian baru lagi di hari ini.

Read and post comments |
Send to a friend

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

8 thoughts

  1. kalo aku…nek aku lho ya..melakukan sesuatu itu hanya 'agar diterima' merupakan salah satu hal paling me-malaskan di dunia ini, motivasi harus dari dalam diri, kebutuhan akan hal yang dilakukan bukan terpaksa karena agar diterima

  2. sehingga kelompok tersebut menjadi jaring pengaman sekaligus penjerat bagi individu-individu. aku suka yang itu. jeratan itu mungkin harga yang harus dibayar untuk mendapatkan jaring pengaman. dan aku nggak keberatan terjerat, selama aku masih sanggup dan senang. bikin account di facebook gara-gara baca di majalah kalo dian sastro suka main poker di situ rame-rame sama sodara-sodaranya. mereka bikin facebook karena pengen main itu, apa sih jadi pengen ngerti. itu beberapa bulan lalu sebelum banyak temen-temen. sekarang udah rame kok jadi kehilangan minat, padahal sebenarnya menyenangkan yaadd facebook-ku ya nad :Phahaha…

  3. aku suka keterusteranganmu nutri … tentang jaring2 itu ….btw ternyata lebih nyenengin ya, ngeblog itu, kalo jadi tau pendapat2 orang tentang suatu pokok masalah (hwalwah 'pokok masalah' wekz)

  4. ketoke rodo ora nyambung karo tulisanmu, nad..the way to escape from loneliness. semakin lama hidup, semakin menyadari ngga bisa sendiri. padahal kenyataan itu seringnya malah bikin down ketika orang-orang yang di depan mata tak bersikap sesuai harapan (pertanyaan balik ke diri sendiri, emangnya kamu juga udah bersikap seperti seharusnya ke mereka?). hasilnya? another escapade.hahaha. kinda sad when u realise that percakapan dua layar is the only one you got. sometimes u want something real..

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s