menghilangnya telenovela …

… dari saluran tv indonesia

benarkah kecurigaan saya kali ini?

***

tadi saya sibuk sempat memencet-mencet remote tv, sampai menimbulkan pertanyaan dari seseorang, “lu suka nonton sinetron ya?”. secara asal, saya menjawab,  “engga, suka film india.”

entah mengapa, menonton tv sejak dulu jarang menjadi kegiatan yang bisa saya nikmati. mengapa? karena terlalu banyak iklan-lah, samasekali tak ada acara yang menarik lah, capek-lah (bayangkan, hanya duduk dan mengonsumsi imej saja bisa bikin capek! tentu karena dilakukan dengan terpaksa …), terutama, berisik. terus terang saya sering tidak pede dengan keanehan saya ini. “betapa tidak tolerannya saya,” pikir saya dalam hati, “bersabar terhadap televisi saja tak sanggup!” oh, betapa terasingnya saya.

padahal, banyak orang mahfum bahwa televisi adalah media yang sangat memasyarakat, terutama di indonesia ini, paling tidak jika listrik sudah masuk di daerah tersebut (coba tebak, lebih banyak daerah yang sudah atau belum teraliri listrik di indonesia ini…?). saya pernah melakukan pengembaraan desember, semacam napak tilas rute gerilya sudirman, dan tak jarang masyarakat yang hidup di dalam hutan-hutan kecil tak memiliki kamar mandi tapi tetap memiliki televisi pribadi. demikian pula di panggang, gunungkidul. di kampung nenek saya, payakumbuh (alias padang “coret”), juga padang, sangat umum terlihat rumah-rumah gedek berjejer yang luasnya paling-paling 3x3m, tetapi masing-masing mempunyai tv lengkap dengan parabola, satu-satu. jika ditanya, alasan mereka adalah, “tanpa parabola kami hanya bisa menonton tvri dan tv3 (tv malaysia).” lebih jauh dari itu, pertanyaannya adalah “mengapa harus menonton tv?” atau, lebih halusnya, “mengapa tv menjadi prioritas?” rupanya, tak jarang alasannya sederhana dan mungkin sudah bisa kita tebak: hiburan. ya, mereka butuh hiburan. di antara sekian ketidakjelasan, hiburan adalah pilihan tepat untuk mengisi waktu.

saya membandingkan dengan teman-teman dari daerah yang lebih “metropolitan”-lah, sebut saja begitu. mereka sudah bisa berpartisipasi aktif lewat internet. mengekspresikan diri, memilih konten-konten yang perlu dibuka (entah itu tulisan, audio, ataupun video), juga bertegur sapa. istilahnya, lebih “eksis” gitu, bukan sekadar menjadi penonton pasif. sehingga, bisa dimaklumi pula jika bagi mereka internet adalah prioritas. jika ditanya mengapa berinternet ria, tak sekedar “bermain-main, iseng, atau butuh hiburan” yang jadi jawabannya. tak sedikit yang menjawab dengan alasan-alasan “rasional bertujuan” atau istilah-bikin-muntah-nya “rasional instrumental”. mereka memang memerlukan internet, (termasuk laptop pribadi dengan spesifikasi tertentu dan perangkat pendukung lainnya) demi mencapai suatu tujuan “penting” tertentu, minimal “penting” bagi mereka. taruhlah, kalimat semacam “gue emang butuh, bukan gaya-gayaan” (oh, jadi bergaya bukan sebuah kebutuhan? butuh buat apa? hiburan?) bisa dijadikan penjelas yang mungkin lebih ngena untuk memahami merebaknya media yang satu ini di kota besar.

mulai dari kebutuhan studi-lah, (ya, mereka yang berada pada level ini cenderung “aman” dalam status terpelajarnya), sampai urusan dapur ngebul rumah tangga. televisi? sudah lewat masanya …. mereka yang sudah bekerja terkadang bahkan tak menengok tv samasekali. karena, di kantor tak ada tv sedangkan di rumah, oh, sungguh tak sempat lagi. mereka adalah manusia-manusia aktif yang memanfaatkan hidup dengan “sebaik-baiknya”. sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. dengan kalimat lain, “hiburan” adalah kata yang jauh terlalu sepele sekaligus menyepelekan bagi orang-orang dengan tingkat “kebutuhan” selevel mereka. meski terkadang, tanpa perlu disangkal atau ditolak, mereka juga tahu bahwa “hiburan” (diakui atau tidak) masih punya magnet bagi mereka. magnet untuk melakukan apa yang bagi mereka perlu dilakukan. barangkali, di balik semua alasan mulia yang terlontar, hiburan masih jadi alasan dan prioritas nomor satu yang membuat mereka melakukan sesuatu dari hati, dan, tanpa beban.

singkat kata, apa yang perlu, apa yang penting, apa yang sepele, apa yang produktif atau konsumtif, menjadi upaya-upaya pemilahan yang super-kabur dan tak jelas lagi bagi otak saya. sementara, apa yang nikmat, apa yang menarik bagi sang “rasa”, jauh lebih mudah dikenali dan dipegang. lebih sederhana dan lebih terasa gitu. tak perlu pakai benar salah. tentu saja, ini postingan ngawur, karena lintasan pikiran2 ngawur dalam kepala saya mendadak setengah bertanya, “mungkin inilah mengapa, untuk menimbulkan pengaruh, terutama secara (singkat, cepat dan meluas), hal tersebut pertama-tama perlu menyentuh dimensi rasa.” nah, anda bisa mencari sendiri contoh-contohnya.

pentingnya dimensi rasa ini seringkali membuat saya bertanya, pada diri sendiri tentunya, apalah hidup ini kalau bukan berhibur saja. berhibur menanti kapan berakhirnya. berhibur dengan cara mengisi hari-harinya. toh, berhibur itu baik. jauh lebih baik daripada marah, mengumpat, melakukan sesuatu karena terpaksa, apalagi mencederai orang entah dalam bentuk apapun. semua itu menimbulkan penyakit, sementara berhibur mengalihkan beban pikiran, melemaskan ketegangan urat syaraf dan melancarkan aliran darah (ah yang benerrr,, dua yang terakhir sepertinya tidak berlaku untuk main game visual). salahkah jika di celah-celah setiap keputusasaan masih ada hiburan? hiburan, membuat manusia bisa menerima keadaan “kentang” alias kena tanggung dalam kehidupan mereka. semacam, hidup enggan mati tak mau. lain cerita ketika hiburan telah menjelma menjadi belenggu baru. semakin tinggi angka ketergantungan terhadap hiburan, bagi saya semakin menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa tinggikah jumlah kehidupan yang tergadai oleh keterpaksaan? ah, atau, bahasa lebih sederhananya: hidup yang dijalani karena “ya mo bagaimana lagi?” mungkin anda, sebagai orang dewasa, bisa membantu saya memperkirakan jawabannya.

***

nb: jadi, benarkah telenovela sudah menghilang dari saluran tv indonesia? jika ya, sejak kapan? ah rupanya saya belum berhasil melakukan praktik “melihat sesuatu tak hanya apa yang ada, melainkan juga apa yang tak ada.”

nb2: saya habis terdampar ke blog orang tak dikenal yang … ya ampun, sungguh memusingkan untuk dibaca. dwibahasa tapi campur aduk jadi satu.

selama ini saya merasa abnormal jika ada yang menganggap bahasa saya baik dan benar atau apalah, dan saya juga merasa terbebani jika ada yang bilang kepribadian saya lebih dewasa daripada usia saya sebenarnya (membuat saya meratap merindukan kemudaan, ah … anehnya komentar ini seringkali terlontar!). hal ini membuat saya melakukan hal-hal untuk mendapatkan kesan sebaliknya. misalnya, dengan cara mencoba menulis secara amburadul-nggak-jelas-dan-super-slengean (tenang, saya udah ga ngefans slank lagi gara2 mereka jadi bintang esia milik si abu itu), serta bertingkah kekanak-kanakan.

setelah mengalami secara langsung betapa memusingkannya membaca tulisan yang mungkin dianggap “gaul” dan “tren masa kini” tersebut (bukan berarti saya anti-gaul juga), saya hanya ingin berbahasa sebagaimana yang saya tahu. ya, saya akui saya memang krisis identitas, karena … bahkan dalam berbahasa pun saya tidak percaya diri dan masih mencoba-coba. tapi, kali ini, mencoba menjadi diri sendiri ternyata melegakan juga. saya menulis ini tanpa beban, tak perlu berpura-pura. temanya aneh, cara menulisnya pun aneh, tapi selesai menulis rasanya lega. berbeda dengan model tulisan-tulisan ga jelas sebelumnya yang setelah selesai membuat saya merasa, “hah, kegilaan apa lagi yang saya lakukan barusan?!” diikuti dengan ketawa patah-patah.

namun, namanya juga belajar, tentu saya belum puas dengan hasilnya. saya merasa banyak bagian yang belum jelas poinnya, argumentasi ataupun datanya (saya terlalu malas untuk itu semua), juga kecenderungan saya dalam menyambungkan poin-poin secara acak, terlalu terburu-buru dan tidak halus. namun, untuk soal gaya, misalnya bagaimana agar tulisan itu menyentuh, menusuk, atau apapun, saya rasa masih belum menjadi urusan saya. karena, pertama-tama, apa yang disampaikan jelas. itu saja. tak bertele-tele soal gaya. berbunga-bunga seringkali menyebalkan dan pamer, patut dicurigai orang yang menulis biasa mempermainkan perasaan orang, berbumbu-bumbu seringkali harus hati-hati soal takaran yang pas. ah, tapi intinya saya masih belajar.

Read and post comments

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s