baiklah, tentang kedewasaan (muntahin smua)

salah satu hal yang masih mengganjal adalah
pembahasan mengenai kedewasaan. sebagai latar belakang, aku adalah anak
pertama yang merasa tak pernah kanak-kanak. alias, sepertinya, saat
masih anak-anak aku sudah harus memahami dunia orang dewasa karena
orangtua dan tante2ku sering curhat ke aku tentang
persoalan-persoalan orang dewasa. dan, aku menganggap kedewasaan itu
sesuatu yang membosankan, penuh manipulasi dan rekayasa. segala
kerumitan yang dibuat-buat hanya karena ga mau mengalah. makanya aku ga
tertarik. seolah-olah, orang kalo udah dewasa itu sok tau tentang orang
lain, padahal menurutku seharusnya "justru jadi tahu bahwa dirinya
tidak tau". keenggananku merengkuh kedewasaan salah satunya karena
males untuk takabur dan terbutakan oleh kesoktauan semacam itu. kuharap
aku tak lupa mengingatkan diri sendiri biar ga sok tau seperti itu,
biar bisa lebih berusaha memahami dulu. satu hal lagi yang membuatku
malas dengan kedewasaan adalah kecenderungannya untuk merepresi diri,
maksudnya segala segi antara lain segi emosional, intelektual,
spiritual, dan fisik, semuanya direpresi untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan. (eh tapi trus dikeluarinnya malah ama anak kecil hehe :-P).
represi oh represi, makanya aku jadi sering melihat jiwa-jiwa mati
dalam orang dewasa, atau minimal, kering dan sekarat. kurasa jahat
sekali kondisi yang membiarkan mereka menjadi seperti itu, meski di
sisi lain itu juga pilihan mereka (mungkin pilihan dalam segala
keterbatasan). sekarang mungkin aku pikir kata represi terkadang
terlalu keras, meski kadang akurat. kupikir sudah saatnya aku
mempertimbangkan istilah "pengendalian", meski masih terdengar buruk
tapi mungkin istilah ini lebih condong pada semacam "cara" untuk
"menghasilkan yang terbaik" dalam dunia yang kadang absurd ini.

sekarang,
secara khusus aku ingin membicarakan tentang kedewasaan karena tahun
baru 2009, alias tahun ini aku akan berusia 24 tahun, pada bulan
november. teman-temanku udah melalui usia 24 taun itu, dan sebagian
besar orang sudah mulai menanyai soal bagaimana "quarter-life crisis"
di usia itu.

apa-apaan. umur 24 tahun saja harus ada yang
namanya quarter-life crisis segala. mendengar kata krisis kan otomatis
alarmku bereaksi, mengacungkan tanda "antisipasi". tapi apa yang harus
diantisipasi?

menurut penelusuran kecil-kecilan terhadap
teman-temanku yang berulang tahun ke-24, sebagian besar dari mereka
(pada saat itu) mengalami permasalahan/concern utamanya adalah pada
soal asmara (atau apalah itu sebutannya). apakah ini yang diselubungi
dengan istilah crisis itu? hmm, tapi ini bias cewek dink, karena
teman-teman yang sempat jadi sumber penelusuranku tu cewek semua.

kuharap pada usia 24 besok aku tak perlu menghadapi permasalahan itu. ^_^ '@'
kacau-kacau
gini, kalo kupikir-pikir aku termasuk orang yang cukup antisipatif.
jadi melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang lebih tua dari aku
dan memperkirakan seperti apa situasinya. hasilnya, jika perjalanan
hidupku direntang-rentang, ternyata aku menjalani tahap demi tahapnya
tak terlalu melenceng dari outline/kerangka imajiner yang ada dalam
kepalaku sendiri. bukan berarti aku seorang perencana yang baik lhoch.
cuman, aku membuat jangka waktu dari kapan sampai kapan aku harus
menghadapi masalah yang dalam diriku sendiri (bukan masalah dari luar).
yach, mungkin sebenarnya aku ingin berani. dengan kata lain, aku ingin
dengan sengaja menghadapi ketakutan-ketakutanku sendiri.

hal-hal
yang aku takutkan biasanya sangat mendasar, meski aku menyangkalnya.
tapi syukur banget itu semua sudah berlalu. pokoknya ga enak banget lah
ngomongnya. rasanya sekarang yang aku takutkan semakin berkurang, meski
ternyata masih ada. kalau usia 24 tahun biasanya ditandai dengan
quarter life crisis yang biasanya adalah tentang percintaan (ohookk
:-P) kuharap itu semua udah selesai dulu waktu usiaku 20 tahun sampai
sekarang ini. (karena memang, dari curhat2 orang dewasa, aku rasa
permasalahan ini cukup sulit jadi aku ingin mulai menghadapinya lebih
awal, tapi ga terlalu awal juga. yah sedengan lah, pada saat aku sudah
merasa siap). ternyata pelajaran kehidupannya adalah, hmmm, belajar
percaya adalah sesuatu yang sangat sulit dalam kehidupan ini. seperti
kalimatnya jeffrey lang, berjuang untuk berserah (ciyeh). sekarang lega
banget aku dah bisa bilang syukur (dan secure). padahal seringkali sama
orang lain tu aku terbiasa menilai dengan reaksi intuitif, apalagi pas
belum kenal. sampe sekarang masih suka gitu, tapi ga terlalu ngerasa
terancam banget kayak dulu. (tarik nafas … aku seperti orang parno
πŸ˜› ya, kalo dulu kadang aku bisa ngerasain "ni orang jahat" gitu,
padahal biasanya dari luar tampang mereka malah baik2 hehehe). sekarang
jangan gitu2 amat lagi ya nad. ga baek πŸ˜›

ya, sebelum 20 tahun,
alias waktu aku 16, 17, 18, dan 19 tahun masalah yang kuhadapi dan
ingin kuselesaikan bukan itu, sama sekali ga menyerempet-nyerempet ke
sana, tapi aku ga enak ngomongnya. langsung aja deh, jadi, menjelang
ultah ke -20 ku aku merasa udah waktunya untuk menghadapi dan
menuntaskan salah satu ketakutan terbesarku, yaitu takut terhadap
laki-laki. sekarang aku 23 tahun, rasa sudah saatnya beranjak ke
permasalahan lain. tahap kedewasaan lain. apakah itu?

hm, karena
terlalu panjang yang beredar di otakku, kayaknya langsung aja deh. aku
harus berjuang masalah finansial. ya, itu aja. aku harus tau diri dan
mawas diri termasuk rendah hati. (mungkin ini yang ingin kucapai tahun
ini). bangga banget denger puri bisa ikut urun beli buah buat
keluarganya, dll (blognya menarik banget dan aku ga pernah bosan
membacanya!). karena mampu menanggung diri sendiri secara finansial tu
menurutku satu ciri kedewasaan. teknis banget ya, tapi emang begitu
menurutku. konkrit. kerja. apalagi kalo bisa jadi tulang punggung orang
lain/keluarganya. orang dewasa itu tau cari uang susah. makanya juga ga
war wer beli ini itu yang ga perlu sekedar untuk memberi rasa aman
dalam soal gengsi.

selain itu, menurutku ciri lain kedewasaan adalah dia punya rahasia
gelap. makanya lebih sulit untuk menghakimi dan menghukum orang lain.
orang tuh makin mudah untuk menghakimi dan menghukum kalo ga pernah
membiarkan dirinya dalam situasi dilematis. dan, karena dia mengalami
hal semacam itu, memiliki rahasia gelapnya itu, dia jadi ga
mempermasalahkan hal-hal yang ga riil. kalimat "alah masalah itu ga
riil" mudah terlontar untuk kemudian dikesampingkan begitu saja.
sepertinya aku iri dengan kemampuan mengucapkan kalimat itu karena
kedengarannya keren :-P. sepertinya itu membebaskan …. tapi di sisi
lain, terkadang situasi terjepit permasalahan tidak riil adalah upaya
memanjakan jiwa muda yang sebenarnya selalu ada dalam diri manusia,
yang menjadi sumber inspirasi kreativitas tiada habisnya …. dewasa=ga
inosen lagi hihihihihi πŸ˜›

ketiga, soal pengendalian itu. orang dewasa itu udah bisa mengelola
kediriannya gitu deh. sehingga dia mulai bisa berkontribusi pada diri2
lain, bukan malah memperbesar ego dan harus jor-joran ke orang lain
karena ngerasa ga secure. mungkin kamu bisa dibilang dewasa kalau kamu
pernah ngerasa takjub terhadap keajaiban-keajaiban kaum remaja. atau
itu bukan dewasa tapi tua?

hm … trus, mungkin hal-hal lain yang menjadi faktor berpengaruh
terhadap kedewasaan seseorang mungkin adalah: bila orangtua meninggal,
bila punya anak, bila mengalami penyakit yang mematikan. aura mereka tu
beda. ada yang ketakutan, ada yang bisa menaklukkannya. orang dewasa
yang menyenangkan kadang bisa jadi bahagia banget, seperti udah tau di
mana letak surga dan mereka bisa ke sana kapan aja mereka mau.

ngomong-ngomong soal surga dan neraka, itu hal lain. surgaku sekarang
adalah tidur. dan ngeluarin semua muntahan-muntahan yang masih tersisa
dalam diriku ini ke dalam blog berisi mentahan ini. aku berencana untuk
mengeluarkan semua muntahan mentah agar ketika itu habis/ ga toksik
lagi, aku bisa beranjak ke tahapan atau persoalan tainnya. istilah
curhat mentah mungkin asik juga :-P, mo kujadiin judul blog ah. karena,
mentah berarti belum dipoles-poles. ada masa lain saat aku harus
mencapai tahap "ga mentah" itu, tapi bukan sekarang. masih jauuuuhhhh,
dan sedikit demi sedikit ternyata aku menikmati proses ini …. menjadi
ekstrovert gagal hehee πŸ˜› semua tumplek blek ga beraturan, serba acak,
abstrak mungkin absurd dan membuat pembacanya garuk-garuk kepala (itupun kalo ada yang bertahan membaca sampe sini hahahhahaha).

luv u all, mates! mo ngistirahatin leher dulu, jangan dipaksa ntar mluntir ga bisa balik. btw, udah keluar smuakah tentang kedewasaan ini? kayaknye belom deh. au ah.

tambahan:
wow, ternyata ingin kuungkapkan juga, akhirnya … ngungkapin apa sih nad? gini, sejujurnya aku merasa ketakutan terbesarku adalah terhadap diri sendiri. kalo kuliat diriku, dan segala kemungkinannya …. ada bakat jadi orang yang mengerikan. makanya harus banyak-banyak belajarrr ….

kalo berurusan dengan orang lain, aku takut mereka jadi korban kejahatanku. seringnya iya bener terjadi, alias aku sering menyakiti perasaan orang lain (tapi ga sampe fisik sih), seringkali ada bayangan-bayangan tindak kekerasan gitu dalam kepalaku, padahal aku ga suka main game ataupun nonton film yang ada adegan kekerasannya. kurasa semua ketakutan itu udah terlepas beberapa tahap lalu, tapi sekarang, apa lagi kemungkinan2 menakutkan yang bisa muncul dari diriku ini? intinya: aku harus tahu siapa diriku dan apa yang akan kulakukan dalam hidupku. itu quarter-life crisis yang harus kuantisipasi. harus, tahun ini!

Read and post comments

|

Send to a friend

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

2 thoughts

  1. Kalau kita menakar keberhasilan berdasarkan standar orang lain, ya akan selamanya menjadi pengekor saja. Setiap orang khan diberi bakat dan keberuntungan yang berbeda. Ada yang dengan cepat bisa didapatkan ada yang membutuhkan jalan yang panjang dan berliku untuk menemukan keberhasilannya. Ada yang perlu berdarah-darah untuk menemukannya tapi ada yang tiba-tiba datang dengan sendirinya. Kadang saya bertanya, "Maumu apa sih Tuhan dengan hidup saya ini. Kenapa baru sekarang kau kirim sedikit keajaibanmu itu. Kenapa tidak 10 tahun yang lalu. Barangkali Tuhan punya skenario lain yang tidak bisa aku mengerti. Atau karena kebodohanku memahami keinginan-Nya." Ibarat mata kita klilipan. Kita pasti membutuhkan orang lain untuk meniup udara ke mata kita. Kita tidak bisa meniup mata kita sendiri. Artinya, kita membutuhkan orang lain untuk menemukan keberhasilan dan keberuntungan kita. Kita kadang tidak tahu potensi dan bakat kita, justru orang lain yang mengetahuinya. Intinya, kita harus terbuka dan mempercayai orang. Tidak semua orang berniat jahat seperti yang dulu kau pikirkan. Curiga kadang perlu selama dalam batas-batas yang wajar dan tidak berlebihan. Selama kita baik kepada orang lain maka orang lain pasti akan baik kepada kita.Makanya saya pernah menolak keinginanmu untuk "mengerjai" seseorang. Dan, aku katakan, "Kamu tidak boleh berbuat begitu." (Ethok-ethoke aku lagi dadi seorang motivator).

  2. hahaha, ya ampun, aku udah lupa semua … emang ngerjain sopo to? kayaknya aku lebih senang ngerjain orang sendiri deh, ngapain ngelibatin orang lain (berkomplot), itu kan ga seru. bukannya pak kelik sendiri yang bilang aku single fighter? pertama, kalo ngerjain lewat orang lain kan aku ga bisa menikmati proses ngerjain itu. kedua, kalo ngerjain lewat orang lain kan ketahuan, ga asik jadinya :-Pbtw makasih banget ya pak kelik motivasinya. sebenernya aku bingung keberhasilan itu apa sih, gitu.

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s