sejumput

sejumput opooo??? bikin judul koq ga jelas amat sih nad? ya beginilah kalo internet ngadat selama seminggu, males ke warnet semua yang mo dipost melayang entah ke mana. aha alasan yang buruk.

padahal aku menargetkan pada tahun baru 2009 ini aku udah ga menulis tentang diriku lagi, n beranjak menuliskan hal-hal lain yang (setidaknya) lebih tidak memuakkan. tapi ada beberapa hal yang masih mengganjal, dan aku sih pengen mengeluarkan semuanya. ga tau kenapa. biar plong kali ya. meski secara konten, sistematika tulisan, bahasa n bla bla bla sepertinya bakal acak adul, ga tertata apalagi terukur. yo bennnn … ini kan upayaku untuk mengenal diri sendiri. keterbatasan dalam mengenal diri sendiri kan ekuivalen dengan keterbatasan dalam mengenal orang lain, kehidupan, lingkungan, tuhan dll. so aku ngerasa perlu untuk melatih diriku sendiri menjebol batasan-batasan itu sedikit demi sedikit di blog semi-privatku ini. aha aku selalu punya alasan, yang buruk pula. mungkin seharusnya aku jadi pengacara hahahaha.

yang kumaksud dengan sejumput, bisa jadi sejumput senyum. bisa pula sejumput kedewasaan.

aku belajar hal baru setiap hari (baru bagiku tentu tak baru bagi orang lain). hampir saja judul tulisan ini adalah "januari kelabu, segeralah berlalu"….  sebuah kelabu yang sudah sekian lama absen sejak terakhir kali hidupku melewati hal mengerikan semacam ini. tapi kalau kupikir-pikir, melihat kembali ke masa lalu, saat aku menghadapinya, melaluinya, toh semuanya baik-baik lagi seperti sediakala. itulah, aku baru menyadari bahwa kapasitas manusia dalam mencintai (mencintai apapun) tuh sangat besar bahkan sampai tak berbatas. manusia, meski berupaya mengontrol diri dan keadaan kayak apapun, toh manusia berbuat salah, atau, kalau "salah/benar" itu tak jelas, manusia melanggar manusia lain, atau melanggar dirinya sendiri, atau norma, atau apapun lah itu sebutannya. dan dalam semua interkonektivitas atau kesalinghubungan manusia, tak ada pilihan lain selain peduli. ketika satu terlanggar, tentu ada yang lain yang ikut kena. dan seterusnya. ini tak terelakkan karena ketika semua manusia memilih untuk berhenti melangkah/membatasi langkahnya hingga tak secuilpun melanggar apa-apa, maka kehiduan di dunia ini akan berhenti.

kemudian, ketika kenyataan itu sudah terjadi sedemikian itu, apa pilihan manusia? ada bermacam-macam. ada yang terus berpegang dan berlandaskan pada kenyataan yang sudah terjadi itu. ada yang beranjak dan mengatakan, "hei, walaubagaimanapun toh itu semua sudah terjadi, tak bisa diapa2in lagi." lalu mulai memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. mereka yang berpegang dan berlandaskan pada kenyataan yang sudah terjadi itu cenderung mengambil langkah penghakiman dan penghukuman sebagai sesuatu yang sewajarnya, sebagai aksi pencegahan agar hal serupa tak terjadi lagi. atau malah sebuah kontrol dalam menegakkan prinsip-prinsip atau apapunlah itu agar hidup ini tertata, tidak chaos. sedangkan mereka yang memilih beranjak, mungkin akan marah pada mulanya, karena tak mengerti. namun, setelah itu, entah apa yang membuat mereka tak ingin berlama-lama berpegang pada kemarahan itu. mungkin karena amarah adalah api yang menggerogoti dari dalam dan akan menghanguskan segala yang tersisa. mungkin juga, karena kapasitas manusia dalam mencintai, yang ternyata tak berbatas itu tadi. dari sinilah muncul pemaafan, dan rasa percaya yang sempat tercederai dapat dipegang kembali. manusia tak luput dari salah dan khilaf dalam sebuah pembelajaran hidupnya. itu saja. dan aku percaya betul (karena merasa udah terbukti  lagi dan lagi kalo ampe ga percaya mungkin aku kebangeten n bebal), bahwa segala yang tak membunuhmu membuatmu lebih kuat. satu hal yang kupercaya selain "absence makes the heart grow fonder" 😛

Crime and Punishment

Fyodor Dostoevsky

batal menulis januari kelabu bukan berarti aku tak mau mengakui kekelabuan dalam hidupku. aku hanya menunda. sejenak, sampai ada pembalikan dalam diriku, pembalikan dalam menyikapinya hingga berbuah sejumput senyum yang masih tersisa dari puing-puing penyesalanku. entah kenapa pada poin ini aku ingin menceritakan novel favorit "nomor satu sepanjang masa"-ku, kejahatan dan hukuman karya fyodor dostoyevsky. mungkin tak sepenuhnya bisa kuungkapkan dalam kata2. selain ceritanya seru banget , intensitas plotnya terjaga, juga karena aku ngesoul banget dengan apa yang disampaikan maupun disembunyikan dalam novel itu. raskolnikov nama tokoh utamanya. ia seorang terpelajar, tapi toh berbuat kesalahan, pembunuhan lebih tepatnya. dan kesalahan, ingatlah, tak pernah sepenuhnya milik satu pihak. sebuah kesalahan terjadi karena kesempatan dan atau keterpaksaan. adanya kesempatan dan keterpaksaan itu pun menunjukkan bahwa raskolnikov sendiri bisa dibilang adalah korban dari kesalahan sistemik, sebuah sistem yang tidak becus melindungi anggotanya dari kemelaratan.

kenapa pembunuh dengan senjata api/tajam itu absolut dianggap salah dan harus dihukum, sementara pembunuh yang menghisap kehidupan orang melarat secara perlahan-lahan justru dilindungi? dan, itulah yang terjadi. sebuah pertanyaan sangat mendasar bagiku, karena kemudian tersadari bahwa sebenarnya keduanya sedang melakukan hal yang sama, yakni mengambil keputusan dalam hidup dan mengenai hidup. hidupnya sendiri, hidup orang lain. sehingga, kesalahan dan kebenaran seringkali berada pada wajah yang sama, hanya tergantung bagian mana yang tersorot. secara lebih sederhana, mereka yang menolak menjadi korban/pasif akan mengambil tindakan aktif dalam hidupnya. entah apapun hasilnya. tindakan aktif cenderung pada kesalahan, karena dia berbuat, bukan "jadi korban". t tindakan aktif menunjukkan bahwa orang tersebut berkuasa, pada level sesempit apapun toh dia yang memilih dan mengambil keputusan itu sendiri. oleh karena itu, kembali pada mengambil keputusan, memilih bertindak aktif a.k.a berkuasa, kekuasaan itu memang benar cenderung pada kesalahan. tapi sungguh orang yang kemudian menolak semua kesalahan itu dengan cara hanya ingin pasif, menjadi korban, menurutku adalah orang yang tidak bermutu.

ada yang pernah bilang bahwa kesalahan seorang rahib adalah dia menolak kesalahan, menolak berbuat salah, so sama saja dia membiarkan orang lain harus mengotori tangannya dan melakukan kesalahan itu untuknya. dan toh, benar salah itu tinggal dilihat dari mana. misal, secara hukum positif kamu salah, secara hukum agama kamu benar, dan lain-lain. sehingga kesepakatan untuk menarik garis yang sama sebagai pembatas mana yang masih bisa diterima "nurani manusiawi" dan mana yang tidak, akan selamanya ambigu. mungkin. sebagai kelanjutannya sebaiknya Anda membaca sendiri deh novel ini, karena saya sayang membocorkan refleksi-refleksi tahap selanjutnya itu di sini. Dostoyevsky jauuuuuh lebih jago menyampaikannya.

bagaimana dengan Anda sendiri dan kesalahan-kesalahan Anda? jangan bilang ga punya lho ya hehehe, kayak temen sma saya yang ngotot bilang bahwa baginya dia tak pernah salah, tapi bagi orang lainlah itu dianggap sebuah kesalahan. bisaaaa aja deh. canggih benerrr..

sedangkan, kalo aku,,,
aku adalah seorang manusia yang sering melakukan eksperimen dalam kehidupanku. termasuk eksperimen terhadap diriku sendiri. dan, semua kesalahan, kegagalan, kebejatan dan kebusukan, kehancuran, kutukan bahkan mungkin taubatan nasuha (pernahkah?) nyatanya tak membuatku ingin berhenti. karena satu yang aku pelajari dari pengalamanku yang cuma sejumput ini, penyesalanku jauh lebih banyak dikarenakan hal-hal yang tidak aku lakukan, bukan yang aku lakukan.

nb: tentang sejumput kedewasaan mungkin lain kali aja ya, abis ntar kepanjangan n keluar topik. btw, post ini bagian dari catatan akhir tahunku. happy new year!

Read and post comments |
Send to a friend

Advertisements

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s