takut mati?

berkaitan dengan film big fish kemaren, ada dua hal yang belum aku obrolkan. pertama, yang bikin edward bloom bisa mengalami berbagai petualangan menakjubkan, fantastis, bahkan mistis itu, salah satunya adalah gara-gara dia ga takut mati. dengan demikian, dia berani mengambil keputusan-keputusan yang membawanya terus menyinggahi berbagai momen-momen ajaib.

semasa kecil, edward bloom pernah mengunjungi rumah penyihir, konon penyihir paling sakti di daerahnya. awalnya, bersama empat teman ia hanya mengendap-endap dan mengintip rumah reyot itu dari kejauhan. tapi, mendengar kesaktian sang penyihir (diperankan dengan baik oleh helena bonham-carter, i love her on all her act!), anak-anak itu bertaruh dan saling menantang satu sama lain, siapa yang punya keberanian mendekati rumah sang penyihir. mulut besar edward bloom-lah yang berbicara, penuh sesumbar dan congkak. akibatnya, ia diharuskan untuk membuktikan omong besarnya, dengan cara masuk ke dalam dan mengambil sebelah mata sang penyihir. konon, satu mata itu terbuat dari kaca. barangsiapa melihat ke dalam mata kaca itu akan mengetahui bagaimana ia mati.

singkat cerita, edward bloom berjalan, mengetuk pintu, lalu berbicara secara sopan dengan sang penyihir. ia pun mengajak sang penyihir untuk bertemu teman-teman yang menunggu di halaman. kepada teman-teman edward, sang penyihir membuka tutup mata sebelah kanannya, mata yang terbuat dari kaca. satu per satu teman-teman edward melihat peristiwa kematian mereka (tapi ada juga yang memilih tak melihatnya). ada yang mati karena tua dan sakit, ada yang masih muda dan mati di toilet. mereka lari ketakutan, dan membawa ketakutan itu dalam tumbuh kembang diri mereka. bukan hanya takut terhadap kematian, tapi juga takut hidup, takut terhadap kehidupan, hidup dengan takut-takut.

sementara, edward masih bersama penyihir tua itu.

“kalau aku melihatnya, gambaran itu akan meresap di benakku dan aku akan menjalani hari-hariku dengan pikiran bahwa … semua ini akan mengarah ke sana. (kematian)”, kata edward pada penyihir itu, “tapi, kalau aku tahu bagaimana aku mati, mungkin, kelak, aku justru akan jadi berani, dalam setiap kesempatan berbahaya yang nyaris membuatku mati. karena, aku tahu bukan begitu cara aku mati. hmmm …, aku ingin melihatnya.”

setelah melihat bagaimana ia mati, edward tenang-tenang saja, bahkan mengangguk, “oh, begitu caraku mati.” sejak saat itu, ia seperti tak punya beban “takut mati” dalam menjalani hari-harinya. berhadapan dengan raksasa yang menghancurkan kota, ia berani. menyusuri hutan angker, ia berani. melihat makhluk aneh seperti ikan raksasa yang bentuknya seperti perempuan, memasukkan kepala ke moncong singa, berkelahi, mendarat di “markas” musuh pada masa perang, bagi edward bukan masalah. apalagi kegelapan, laba-laba atau pohon-pohon tua yang bergoyang-goyang dan suaranya membuat bulu kuduk berdiri. bagi edward bloom, semua itu lewaaattt ….

walo gemanapun, tetap saja aku melihat ada ketakutan dalam diri edward bloom. menurut penglihatanku, yang ia takutkan justru “gimana kalo ia ga mengalami kehidupan ini semaksimal mungkin?”. kira-kira gitu deh. makanya, dia sih mending melakukan sesuatu tanpa takut trus menghadapi resikonya, daripada menyesal karena belum-belum udah takut melakukan sesuatu. dan, sesuatu yang nyaman banget, dia malah ga terlalu suka. misalnya, waktu dia menemukan kota rahasia, Spectre, yang kayak surga banget, dia malah memilih pergi n melanjutkan perjalanan. padahal sebelumnya tuh ga ada yang meninggalkan spectre. “aku ga mau berakhir di sini,” gitu kata edward.

nah, aku penasaran nih, gimana dengan kalian? apa yang kalian takutkan? apa yang paling kalian

sesalkan?

kalo semisal ni, kita udah tahu gimana kita mati, bagaimana kita menjalani kehidupan ini? apakah tenang-tenang aja dan ga ambisius, toh kita akan mati? apakah kita jadi haus untuk mengalami semaksimal mungkin dalam kehidupan ini bahkan cenderung nekad dan ga pikir panjang, karena waktu kita di dunia ini terbatas? atau, gimana? jawab ya teman2 …. ^_^

nb: poin kedua di post berikutnya aja, beda topik … 😛

Big_fish_08
Bigfish6
Fish-thumb
Tn2_big_fish_1

Read and post comments |
Send to a friend

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

One thought

  1. Kata guru SD-ku. Bekerjalah yang giat seakan-akan kau akan hidup abadi. Dan beribadahlah dengan rajin seakan-akan kau akan mati besok pagi.Barangkali maksudnya agar ada keseimbangan antara kerja dan ibadah. Bagaimana pendapat teman Izzah, teman Hano, teman Desi ya ?

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s