sepeda

kemarin, kami menemani ibuku berbelanja deterjen, sabun pel, dan lain-lain. ibuku memilih tempat belanja grosir serba ada agar murah. secara mengejutkan, ayahku mendekati tempat empat sepeda listrik dipajang dan menunjukkannya kepadaku, sambil bertanya: "mau nad, sepeda listrik?"

harga sepeda listrik itu terpampang pada kertas yang digantungkan di setangnya. 4 jutaan. hmm … aku menggeleng pelan, bilang, "ga usah …."

sepeda listrik adalah sepeda yang bisa di-charge. maksudnya sih, supaya ketika jalan menurun, aku bisa pakai kayuh, dan ketika jalan menanjak dan berat, aku tinggal menghidupkan tenaga listriknya. entah sudah berapa kali bapakku bertanya bahkan mengajakku ke toko sepeda untuk melihat-lihat sepeda listrik. terakhir, kalau tak salah sudah beberapa tahun yang lalu. dan, ternyata, kemarin, pertanyaan itu masih terlontar. entah mengapa, aku selalu merasa sedih mendengar pertanyaan itu. mungkin kalian menganggap aku goblok, tapi sungguh, tanpa dibuat-buat, aku otomatis merasa sedih setiap mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut bapakku. mulai dari keseriusan nada bicaranya, sorot matanya yang seperti sedih dan bertanya (bahkan sedikit memohon dan berharap-harap cemas), dan mungkin ditambah lagi dengan setumpuk kelelahan yang sudah tak ia hiraukan.

bapakku sudah tua meski masih merasa muda. ia harus memakai kacamata plus untuk membaca, dan saat tidak memakainya kamu bisa melihat mata bapakku basah berkaca-kaca, khas orang tua. meski ia juga belum terlalu tua juga sih. ia belum setua orang-orang yang dianggap "seharusnya sudah memiliki cucu".

dari sorot matanya itu, sorot mata yang seribu kata pun tak akan mampu mengekspresikan apa yang berlaku di sana, ya … aku langsung sedih, tapi yang lebih dominan adalah aku goncang, aku ingin gemetar dan terjatuh karena lututku lemas dan mati rasa …. aku menyaksikan hasrat seorang ayah untuk melihat anaknya keliling-keliling secara mandiri, melihat dunia …. aku melihat beban seorang ayah yang memanggul tanggung jawab terhadap semua anggota keluarganya, beban yang terkadang membuat ia tertuntut sendiri tanpa ada yang menuntutnya. aku melihat ketulusan seorang ayah yang ingin menyenangkan anaknya secara sederhana (hwaaaa sudahlah sudahlah sampai di sini segumpal air menggelayut di mataku ….. T_T). aku membayangkan apa yang lebih membahagiakan seorang ayah selain saat-saat ia membahagiakan anaknya, dan seperti apa rasanya baginya saat melihat anaknya melonjak dan secara spontan ingin memeluknya erat-erat … tapi karena tidak terbiasa, alih-alih memeluk, sang anak justru hanya berjalan pelan sok jaim sambil menundukkan kepala sok santun dan berucap, "terima kasih, pah." meski tanpa jabat tangan atau kontak fisik apapun, sang ayah akan tahu betapa senang anaknya mendapat sesuatu darinya. aku tak bisa membayangkan bara seperti apa yang bergejolak tanpa kendali di dalam ulu hatinya, mengetahui bahwa diam-diam anaknya memujanya habis-habisan. prestasi apa yang lebih tinggi bagi seorang ayah selain itu … dan, betapa tak terlukiskan perasaan seorang ayah ketika dapat berperan sebagai "a y a h".

aku sendiri tak mengerti, mengapa dari dulu aku menolak. mungkin aku memang anak paling kurang ajar sedunia, tak tahu adat menghargai orangtua sendiri. tapi, menurutku, salah satu pertimbangan adalah, dalam satu rumah hanya aku yang naik sepeda, dan aku tidak bepergian setiap hari. jadi, sepertinya sepeda itu hanya menuh2in serta menjadi pengganjal di garasi, membuat kendaraan lain repot untuk lewat. apalagi, aku kan tidak akan selamanya di sini. jadi, sayang sekali bukan, jika sepeda listrik itu teronggok berdebu, rusak-rusak tak dirawat sampai akhirnya tidak bisa dipakai lagi. sepertinya aku selalu merasa bersalah tidak bisa memanfaatkan apa yang diberikan bapakku kepadaku, entah apa yang salah dengan diriku ini. makanya, refleksku selalu mengedepankan rasa bersalah itu saat bapakku menawarkan sepeda listrik.

memang, aku tak pernah meminta motor, apalagi mobil, dan bapakku juga tak pernah menawariku. bahkan, aku masih merasa cukup dengan sepeda federal yang biasa-biasa saja. pernah sih, aku bermotor ria saat kkn. tapi, itu cuma di kampung aja, ga sampe di jalan raya, dan ternyata naik motor membuat pantatku pegel sekali. cuma duduk di situ, ga ada olahraganya, ga terlalu ada tenaganya (halah sok2an), ga enjoy gitu dech. tubuhku kerempeng dan ringkih, aku rasa sangat cocok dengan sepeda yang juga enteng dan gesit. lagipula, aku sangat suka menikmati perjalanan sambil berolahraga, meski terkadang basah keringat yang menempel di baju bisa jadi "motif baru" yang cukup mengganggu. apalagi jika bercak itu ada di bawah ketiak, hwaa banjir seperti itu cukup merepotkan. makanya aku selalu memilih baju yang tidak akan menimbulkan dampak-dampak semacam itu.

entahlah, aku sudah cukup bahagia dengan sepedaku yang lama. aku sudah terlalu akrab sampai-sampai susah  berubah, meski mungkin perubahan itu demi sebuah kemajuan. dan, aku juga punya cerita-cerita bersama sepedaku itu (btw dulu omku – namanya om yuno – pernah memberi nama panggilan untuk sepedaku, tapi aku lupa hehehe payah ya πŸ˜› ).

itu adalah kuitansi pembayaran sepedaku, sepeda seken, dulu beli di pasar sepeda bekas tahun 2005 …. namaku ditulis "ngadiyah" karena sang penjual dengernya gitu hehehe … harganya ga sampe jut-jutan khan …. πŸ˜‰

terkait dengan pembelian sepeda itu, sebenarnya ceritanya cukup mengharukan bagiku. mungkin bagimu biasa-biasa aja. tapi, cerita tentang ini pernah membuatku menangis di kantor saat chatting dengan seseorang. ya, aku menangis hebat hanya karena menceritakan bapakku yang membelikan sepeda bekas ini buatku. untung saat itu rekan seruanganku (alias mas mukhlis marketing) sedang ke luar. eh, ternyata saat itu pula aku dapat kunjungan di kantor. izzah datang dan mendapatiku bersimbah air mata …. (inget ga zah?)

ceritanya dapat dimulai dengan konteks ini: aku adalah anak yang tidak terbiasa minta-minta pada orangtua. memang, pada masaku, didikannya begitu dech kayaknya (tapi adik2ku tidak begitu hehe). aku punya sepeda hitam sejak smp, dan saat kami pindah rumah ke jalan damai (jalan kaliurang juga tapi lebih ke selatan daripada tempat tinggal kami yang dulu), aku sudah kuliah semester 2. karena aku beranggapan bahwa jarak rumah baru dengan kampus cukup dekat, aku mulai memutuskan untuk mengajak sepedaku berjalan-jalan menyambangi kampus. lama-lama, tempat-tempat lain juga, entah tempat baru ataupun lama. orang-orang sering seperti terlalu heran atau mungkin gumun melihatku naik sepeda. "wah padahal jauh lhoch … ", "kayak gitu kok dibilang dekat …," dll, itu kalimat-kalimat yang sudah biasa mampir di telingaku. hmmm, mereka mungkin tidak tahu bahwa bepergian naik angkutan umum itu sungguh tidak bisa menjamin/memperkirakan jam/waktu tempuh dengan tepat. bahkan, terkadang menunggu angkot lewat saja bisa satu jam sendiri. dan, karena itu, jika ingin sampai tepat waktu, sebisa mungkin satu sampai setengah jam sebelumnya aku sudah mengadang angkot, perjalanan dekat sekalipun. karena, lewat dari itu, sudah dipastikan aku akan telat. belum lagi kalo tempat yang aku tuju tidak bisa dicapai dengan sekali jalan, harus nyambung-nyambung bersambung dari satu jurusan ke jurusan lain, dari satu angkot ke angkot lain (atau bis bahkan becak). nah lho. naik sepeda itu enak sekali. tapi mungkin mereka menganggap aku cari susah karena pola pikir mereka sudah terpatok pada kepemilikan kendaraan pribadi alias motor atau mobil.

berkenaan dengan sepeda itu, awal-awal pindah rumah kan aku masih pake sepeda hitam sejak smp yang sebenarnya udah terlalu kecil untuk ukuran badan mahasiswi. ternyata bapakku memperhatikan itu. tapi, sebagai anak yang tidak biasa meminta-minta pada orangtuanya, ketika bapakku menawarkan untuk membelikan sepeda, aku hanya bilang, "paling basa-basi". ya karena bapakku sering lupa kalo bilang mau membelikan/memberikan sesuatu gitu. (wohoo betapa pahitnya aku saat itu). ternyata setelah berapa waktu, aku lupa berapa bulan, bapakku benar2 mengantarku ke pasar sepeda bekas (GAPPSTA) itu, bersama ibuku dan adik bungsuku, naik mobil kijang, mobil keluarga hehehe … aku disuruh duduk di depan, samping bapakku. ibuku dan adikku duduk di kursi belakang. lalu aku bilang, "tumben." bapakku menyahut, "gara2 kamu bilang 'basa-basi' itu aku mikirin sepeda terus." ya, kami membeli sepeda seken, sepeda terbaik di mataku, meski bukan yang tercanggih atau termahal, tapi akhirnya aku punya sepeda yang layak untuk ukuran tubuh mahasiswa. plus, helm dengan warna senada (matching euy hehehe …). tak terlupakan deh betapa senangnya aku,, dan betapa aku sangat bahagia karena ……bapakku ingat aku …….

meski sepeda itu cukup aku gadang2 dan aku hargai sedemikian tinggi, sering aku ajak menyusuri yogya dll, tak urung ada beberapa pengalaman bersama sepeda itu yang nyaris membuatku celaka. yang paling dramatis tentu saja saat kami (aku dan sepedaku) mau berangkat, keluar pagar rumah. waktu itu, ibuku tumben-tumbenan seperti ingin melepas kepergianku dari dekat pagar gitu, entah mungkin sambil tersenyum-senyum atau melambai-lambaikan tangan. tau2 begitu aku keluar pagar ada mobil melaju dari samping nyaris menabrakku. huuu sebenarnya aku gemetar, deg2an dag dig dug jedueerrr, tapi aku sok cool dan kalem karena ibuku sepertinya lebih syok melihat kejadian itu. ya aku berusaha dikit2 menenangkan ibuku gitu, weleh weleh …. aku malah bilang "udah ga pa pa" sambil ancang-ancang mau berangkat lagi. tapi, aku tak tega … karena ibuku menyuruh aku masuk dan membatalkan semua rencana hari itu. aku disuruh duduk dan dibuatkan segelas besar teh manis hangat. lalu ibuku mengekspresikan sedemikian rupa … ngomong panjang lebar dengan bahasa tubuh yang demikian hidup tentang kejadian barusan, bahwa dia "baru saja hampir kehilangan anaknya." whuuuhhhh, tarik nafas deh aku.

peristiwa kedua terjadi bulan agustus 2005, hari terakhir registrasi kuliah. anak2 sosiologi 2003 sepakat untuk melakukan pembayaran secara kolektif. ini adalah salah satu strategi kami untuk menolak membayar biaya operasional pendidikan alias bop yang besarnya rp500ribu. aku mendukung banget. ya gitu deh,,, intinya saat teman2 berangkat bersama-sama ke loket registrasi, kelihatannya udah banyak orang dan aku ga perlu ikut berombong-rombong ke sana, makanya aku memilih pulang. padahal waktu itu jam 2 siang, matahari sedang terik-teriknya di atas kepala. sebenarnya aku pengen makan, aku udah bilang ma teman2 perutku dah laper banget pengen makan di rumah.

aku memakai helm sepedaku dan mengayun pedal menuju jl. kaliurang. di tengah perjalanan, saat melewati teman2ku yang berangkat bersama2 ke loket registrasi tadi, aku masih sempat mengacungkan tinju ke udara kepada teman2ku dan meneriakkan sedikit yel2 dukungan dan penyemangat "perjuangan" (ahai, betapa menjijikkannya aku ya … benar2 busuk :-P). entah mengapa, perjalanan ke utara terasa menanjak dan berat melebihi biasanya. padahal gigi sepedaku sudah aku setel seringan mungkin, ada di posisi 2 di ban depan dan 2 di ban belakang. mungkin, bannya agak gembos. biasanya, aku kuat menempuh perjalanan 3-4 km-an itu dengan kecepatan 10-15 km/jam (pak kelik yang pernah mengukurnya).

tiba2, di depan toko merah jalan kaliurang (sebelum ring road), pandanganku terasa kabur. aku berhenti, parkir di sana. guebleknya, aku membeli es teh dan menghabiskannya dalam sekali minum. ketahuan sekali kalo aku ini anak ips (hehe), sampai-sampai hal sesederhana itu saja aku tidak mengerti. aku pikir, saat lelah, kita bisa mengobatinya dengan meminum es yang segar. padahal, justru ketika tubuh dalam keadaan panas itulah, kita tidak boleh minum sesuatu yang dingin (apalagi es!) karena itu akan menurunkan suhu tubuh secara mendadak. karena kecerobohanku itu, pandangan yang tadinya kabur jadi lebih parah. begitu aku berdiri seusai minum es teh yang bahkan tidak sampai separo gelas, pandanganku hilang. hilang, bener2 hilang jadi satu bidang putih … secara refleks tiba2 aku jongkok di situ. aku bingung, atau lebih tepatnya "blank", ga bisa berpikir apa yang harus aku lakukan. jadi, aku memejamkan mata dan pandanganku menjadi hitam sepenuhnya.

tanpa sadar tanganku memijit-mijit kepala dan aku memberanikan diri untuk membuka mata.

sayup-sayup kudengar mbak penjual teh dan penjual vcd bersahut2an bicara, mengatakan hal2 semacam, "duduk di sini, mbak," dll (yah yang berhasil kudengar hanya itu ….). tapi, aku bahkan tidak kuat untuk berdiri. aku butuh waktu untuk jongkok agak lebih lama, walaupun posisiku sangat tidak 'pas' sebenarnya.

akhirnya aku menguatkan diri untuk berjalan, sempoyongan, walau kepala terasa beraaaaaaaaaaaaaaaaaatttttttttttt sekali, seperti mau pecah. aku hanya kuat berjalan 10 langkah dan berhenti di tempat reparasi kunci (jadi, di depan toko merah itu ada yang jual es teh, vcd, reparasi kunci, juga majalah). aku berpegangan di situ, di bilik reparasi kunci itu. benar2 posisi yang tidak berbentuk. ketika pak tukang kunci berdiri, beranjak dari duduknya dan menyambut seseorang yang datang mau bikin kunci, tanpa peduli segera saja aku duduk di kursi plastik tempat pak tukang kunci tadi. aku masih sempat mendengar kata2 'duplikat' ketika aku menyadari suara napasku yang, ternyata, sejak tadi, begitu memburu, berat, seperti mendengus2. aku merasa jijik sendiri mendengarnya, seolah-olah aku ini seperti orang sekarat yang tinggal satu inci lagi menuju kematian….

***

(sik tadi aku pipis dulu, lanjut yoook) …

bahkan sempat terbayang olehku, wujud diriku yang jangan-jangan sudah bertransformasi menjadi bapak-bapak gembrot yang napasnya mendengus-dengus berat. aku mau muntah. aku mencoba muntah. tidak ada yang keluar dari pencernaanku. hanya suaraku yang berusaha muntah itu saja yang terdengar sangar. sebenarnya aku merasa tidak enak pada pak tukang kunci, siapa tahu ia merasa terganggu n orang2 yang tadinya hendak menggunakan jasanya pada saat itu akan ngeri dan terbirit-birit mencari tukang kunci lain. tapi, aku tidak tau harus berbuat apa, bahkan aku tidak punya cukup tenaga untuk sekadar berbicara. pikiranku cuma satu: ke wartel di seberang jalan (saat itu aku belum punya ponsel). aku sudah tidak mungkin melanjutkan perjalanan naik sepeda. aku harus telepon ibuku.

aku berjalan beberapa langkah ke selatan, mendekat ke wartel itu. ketika akan menyeberang, aku menoleh ke kanan, menyaksikan mobil2, motor2, serta keadaan jalan raya yang penuh sesak tapi seperti bergoyang2 mengajak joget. tiba2 mobil2 dan motor2 itu hilang, berganti dengan bidang putih. aku mengerjap-ngerjapkan mata dan mobil2 serta motor2 itu berhamburan lagi. jalanan masih ramai … tapi sekejap kemudian, semua hilang lagi menjadi bidang putih. walaupun aku berusaha memaksa diri dan menguat2kan tubuh ini untuk menyeberang, kejadian itu terus berulang. aku jadi ketakutan, lalu jongkok, belum beranjak sedikitpun dari tempat aku berdiri pertama kali untuk menyeberang. aku takut, bingung, tidak bisa berpikir, dan aku hanya memejamkan mataku kuat-kuat. aku bahkan tidak terpikir untuk menyebut asma-Nya. satu tangan menahan kepala, satu tangan memegang aspal, menahan tubuh yang jongkok. aku sudah tidak peduli apa kata orang, sampai seorang tukang parkir berseragam "toko merah" datang menghampiri.

kupingku tidak terlalu dengar apa yang dikatakannya. hanya sepotong-sepotong, itupun tidak jelas. salah satu potongan kata2 itu adalah "ban truk". hwaaa serem sekali, pikirku. ada apa nih ban truk ikut disebut2? o-ow, ternyata aku ada di dekat truk besar, tepatnya di depan bannya. hiiii … tanpa sadar aku segera berdiri dan bapak itu bilang, "saya antar, dik. rumahnya di mana?" hwaaa terharu sekali rasanya. tenagaku hanya cukup untuk menjawab "wartel".

bapak itu berbicara (ya, dugaanmu benar: aku tak dengar dengan jelas), tapi sepertinya dia sudah mengerti bahwa bukan berarti aku tinggal di wartel, tapi aku mau menyeberang ke wartel. ketika menyeberang, sesampai aku di tengah jalan, meski pandanganku on-off, aku masih punya bapak itu melindungiku dari sebelah kanan. aku ikuti saja dia, berpatokan pada pundaknya. tapi begitu sampai di setengah jalan, tiba2 mobil2 dan motor2 berjalan menujuku dari sebelah kiri (ya iyalaaahhhhh). tak ada lagi perlindungan. benar2 tubuhku sendiri yang berhadapan dengan kendaraan2 itu. pandanganku muncul menghilang, tapi dengan mengucap "bismillah", huu aku tidak peduli dengan semua ketakutan itu. aku pikir, "dikit lagi nad …" tinggal separo penyeberangan ini …

maka, aku beranikan diri untuk terus melangkah meski merayap terseret2 seperti siput. mataku kuarahkan ke bawah, tanpa menoleh kanan kiri (daripada takut, tapi itu kan malah justru bahayaa :-P). untungnya, aku selamat.

tak ada kendaraan yang menabrakku, aku  sampai di wartel itu dan langsung duduk di kursi tunggu. Pak tukang parkirlah yang menelepon dan bertanya berapa nomer telepon yang harus dia hubungi. aku sempat menyebut nomer rumah dengan lemas, untungnya dia menangkap omonganku dan langsung mengerti. aku sudah telanjur teler. ibu penunggu wartel sempat bertanya, aku sudah makan belum. sebelum sempat kujawab, ibu itu menawarkan makan dan langsung masuk ke dalam. tak berapa lama, ia muncul lagi dan setengah memaksaku untuk meminum teh hangat darinya. wah wah, teh selalu memegang peran penting ternyata. sambil menyesap teh hangat itu, mataku yang blawur seperti sempat melihat kata2 keluar dari pak tukang parkir. "hampir pingsan," begitu katanya. hwaaa, hampir pingsan tu seperti itu to? seumur hidup aku belum pernah merasakan pingsan, bahkan sampai sekarang, makanya aku ga tau hampir pingsan itu gimana. tapi, paling tidak bagi pak tukang parkir, itulah pengalamanku "hampir" pingsan. semoga aku tak perlu mengalami yang namanya "pingsan" meski aku bertemu "andika pratama" sekalipun. habis, pingsan tuh ngerepotin orang lain sih, wong "hampir" pingsan aja udah begitu ngerepotin orang lain ….

akhirnya, aku menunggu di wartel itu sambil menjawab sekenanya pertanyaan2 dari ibu penjaga wartel. sampai mama datang dengan rubod, adikku, tapi mereka malah masuk ke toko sebelah, tempat jual helm. pak tukang parkir langsung mengejar mereka, mungkin nalarnya jalan melihat ada dua orang yang seperti mencari2 seseorang, bisa jadi dua orang itu mencariku. ternyata benar. tidak ada pelukan ataupun air mata meski aku sangat lega karena mereka menjemputku. adikku mengambil sepedaku di toko merah, ibuku menghampiriku, aku menghabiskan tehku, sepiring nasi dengan sayur lodeh dan tempe dari ibu penjaga wartel tak sempat kusentuh. kami berpamitan pulang kemudian berterima kasih pada ibu penjaga wartel dan pak tukang parkir. tuhan … berkatilah mereka semua yang suka menolong …. kata ibu penjaga wartel, "saya menerapkan pada diri sendiri. coba kalau saya di kota lain dan mengalami ini … susah kalo tidak tolong-menolong."

peristiwa ketiga, sebenarnya karena aku ditipu hujan. ya, bulan-bulan belakangan ini hujan sering jinak-jinak merpati (lhoch apa hubungannya ya?). turun sedikit, reda, turun sedikit, reda lagi. sebagai pengendara sepeda yang tidak membawa mantel (payah tenan …) aku bosan menepi untuk menghindari hujan ketika berulang-ulang kejadiannya adalah: bahkan sebelum sempat mencari posisi yang wuenak pun, hujan sudah reda duluan. gimana, ini jadi hujan enggak sih sebenarnya? untungnya aku sedang dalam perjalanan pulang dan tidak terburu-buru. coba kalau aku sedang ditunggu di mana gitu, wah kacau sudah …. setelah sekian kali ditipu hujan pada hari itu, apalagi insting per-awan-an ku sedang tidak jalan, aku nekat mengayuh terus meski rintik2 hujan mulai turun lagi. ternyata, memang hujan kali itu sengaja ingin mengerjaiku. kali itu, bukannya reda, ia justru bertambah deras dan tidak berhenti-berhenti sepanjang perjalananku. otomatis aku basah kuyup sebasah-basahnya. semua pakaianku melengket di tubuh. yach, tapi mau gimana lagi? sudah terlanjur. di antara kalian, siapa yang udah pernah bersepeda di tengah hujan? enaknya, badan sejuk tidak berkeringat. sepertinya tenaga yang kukeluarkan jadi lebih sedikit. ga enaknya, karena jalan kaliurang itu sering banjir2 gitu (saluran pembuangan air ga terlalu jalan), gara2 arah aku nyepeda tu ke utara alias ke atas, air hujan tuh kayak sungai yang mengalir berlawanan arah dengan arah sepedaku. aku seperti bersepeda di sungai … dan meski aku ngayuh terus, tapi, karena efek aliran/arus air ke bawah itu, (kesannya aja keren … melawan arus gitu … πŸ˜› ) rasanya sepedaku koq ga maju-maju …….. malah kecipak air membentuk ombak2 kecil di kakiku. benar2 aneh, aku diketawain teman2ku (supri dan sabrima), saat menceritakan itu.

last but not least, peristiwa terakhir baru2 aja terjadi. aku sedang dalam pengaruh obat, antara lain methylprednisolone, librofed, kalmoxilin, transbroncho (cuman batuk aja ke dokter bok. maklum sedang butuh stamina tuk nyelesaiin sesuatu). konyol sebenarnya, aku bersepeda ke taman bacaan dekat rumah, tau-tau aja oleng. ga ada angin ga ada hujan, aku ambruk ke kiri, ketimpa sepeda pula. dari kejauhan ada bapak2 lari2 dan bertanya, "ga pa pa kan mbak? ati2." itulah, mungkin benar bahwa seharusnya orang yang sedang berada di bawah pengaruh obat2an tertentu tidak boleh berkendara, apalagi orang yang jarang minum obat kayak aku (jadinya kan obat tu terasa ngefek banget karena aku belum kebal obat, begitcu). seharusnya aku beristirahat di rumah, tapi gimana donk, kan batas pengembalian buku yang aku pinjam tuh hari itu. akhirnya, lagi2, sampai di taman bacaan aku disuguhi teh hangat saat mbak penjaga taman bacaan melihatku lecet2 dan berdarah. aku mengembalikan buku, membersihkan luka-lukaku, malah sempat numpang tidur sebentar di sana untuk menenangkan diri.

begitulah pengalaman-pengalaman bersama sepedaku. sepedaku ga ada boncengannya, ga ada keranjangnya, so pengalaman-pengalaman yang terjadi sangat personal. paling enggak, sepedaku ga rewel, ga harus banyak diservis, seringkali aku dengar dari teman2 pengendara motor, motor mereka sering menyusahkan gitu, harus ke bengkel lagi bengkel lagi. (hm,,, paragraf ini maksudnya apa … :-P)

panjang ya postingku hari ini. semoga tidak lagi aku harus berurusan dengan teh hangat pada sisa hari ini.

Read and post comments |
Send to a friend

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

6 thoughts

  1. nadi….padahal aku sudah tak mau menangis lagi hari ini…ceritamu membuat mataku tambah bengkak lagi Y.Yaku jadi inget telpon bapakku beberapa hari yang lalu, cara bapak ngomong kayak ngomong sama anak umur 8 tahun…dan setelah itu aku mbrebes mili…(ketahuan deh hobine nangis)…maybe, kita akan selalu jadi gadis kecil bagi mereka…daddy..we love ya….

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s