tahun baru! ( ´ ▽ ` )ノ

hari yang menyenangkan. di rumah, ibuku sedang masak nasi briyani. aneh ya? imlek kok makanannya india ^^; yah, soalnya aku pengen makan itu dan belum kesampaian. padahal pengen banget lho gara2 nonton acara di tv … (hehehehehe payah!).

baru beberapa hari yang lalu aku bilang ibuku soal nasi briyani ini. cuma satu kalimat singkat kok, yang kuucapkan sambil lalu, “pengen makan nasi briyani tapi ga kesampean.” gitu doank. eh ternyata, ibuku nanggapi serius.

lho? kamu suka nasi briyani to?” tanya ibuku (biasa kupanggil Mambo).

pengen nyoba … gara2 liat di tv. tapi, katanya cuma ada di malaysia? pas aku ma izzah makan di rumah makan asia, ada menu itu, tapi haaaabis,” aku jadi curhat colongan gitu.

walahhh, kalo cuma nasi briyani sih aku bisa,” Mambo bilang begitu seperti peri gigi yang datang dengan tongkat ajaibnya untuk mengabulkan permintaan cinderella yang telanjur pupus harapan.

aku masih melongo liat ibuku yang sedang tersenyum-senyum simpul. sepertinya ada rahasia yang belum kutahu *curiga mode: on.*

kamu tu belum tahu to kalo aku ini keturunan india?”, tanya ibuku.

haah! yang bener? bukannya selama ini tu itu cuma ejek2an buat Mambo? emangnya beneran????”

emang sih, keluargaku suka bilang ma ibuku “india, india” tapi kukira itu cuma karena hidungnya yang seperti hidung orang india. kukira mereka semua tu cuma ngejek bentuk hidung itu aja. tapi, betapa keterlaluannya aku, asal-usul ibuku aja ga tahu! sok modern n kosmopolit banget seeeh!!! (emang kosmopolit tu artinya apa ya? ga ngerti nih, ^^;).

nenek buyutku tu pedagang india. dulu di bojonegoro,” ibuku santai memberikan penjelasan.

aku jadi ingat kejadian waktu main ke rumah izzah di ngawi. waktu ngobrol ma ortunya, kubilang ibuku juga dari jawa timur, walau lahir di magelang dan besar di yogya. mereka nanya, jawa timurnya mana? dan aku cuma memutar-mutar bola mataku dengan pasrah sambil sedikit menggumam, “… mana ya?” ouuuccchhh! malu…

masaaak sih? jadi ….?!”

lho, kamu ga liat po mukaku? wis cetho iki irung india. yo wis, suk takmasake nek kowe gelem mangan.” (terjemah: jelas-jelas ini hidung india. ya udah, besok kubikinin asal kamu mau makan.)

sedikit pertanyaan masih melayang2 di benakku. benarkah … atau ibuku cuma bercanda? rasanya aku melanglang ke india. yang kubayangin cuma indah2nya doank sih, misalnya aroma rempah2, teh susu, muka orang2nya, cewek2 dan pakaian sari yang berwarna-warni (ngejreng!), tari2an diiringi suara gemerincing gelang, tabla, sitar … eh, mak plop tahu2 bayanganku sampe ke ular kobra lengkap dengan pawangnya, juga mbah2 kerempeng di atas kasur paku. aku bertanya-tanya, leluhur ibuku tu kayak apa?

tidak banyak yang aku tahu tentang india. dan, sepertinya, semua yang kubayangkan cuma stereotip2 dangkal. duluuu banget, pas masih kecil, kukira india tu tempat tinggalnya wayang. kukira tokoh2 wayang tu ada n bener2 masih hidup. kalo denger india sepertinya kuidentikkan dengan hindu. kukira smua orang india tu harus hindu, dengan segala pernak-perniknya, ritual peribadatan dan spiritnya. juga, lengkap dengan kasta2 dan reinkarnasi. ternyata, enggak gitu ya. bahkan hindu di india dengan hindu di bali, atau hindu kaharingan di kalimantan, beda2 semua. tapi yang aku tahu, orang bisa jadi hindu tu hanya lewat keturunan. jadi, kamu terlahir hindu atau tidak (lengkap dengan hindu kasta apa). cuma itu.
kalo info ini salah, tolong benerin ya? siapa tauuu kan?

tapi … bener ga sih … nenek buyut itu …?

hm, keraguan persis semacam ini pernah kualami. kenanganku kembali pada masa2 aku mulai ga percaya bapakku cina. ga ada orang yang percaya aku cina, karena mataku ga bisa dibilang sipit. walau, ga bisa dibilang ga sipit juga sih. bingung ga? dari dulu aku selalu bertanya2 soal “identitas”-ku ini. bener ga sih? kalo bapakku yang ngomong, aku percaya. karena, dia tu kalo ngomong serius, ga bercanda. dan, aku liat kakek buyutku (kakeknya bapakku) emang fisiknya mencerminkan ciri-ciri orang cina gitu deh. kecil, putih banget, sipit, rambut lurus. tapi, apakah dengan begitu aku juga bisa dibilang cina? paling yang nurun ke aku cuma rambul lurusnya thok. hmmm, ga cuma lurus, tapi lurus dan tipis. tipis dan halus, hehehehehehhehehe.

oh ya, satu lagi: nama, yang kalo diterjemahin artinya “damai di pagi hari”, (dengan nama keluarga yang dirahasiakan). yah, cuma itu.

ga taulah, aku sering sedih kalo inget bahwa nasib seseorang, yang dibawa sejak lahir … dan … ga bisa diubah (cmiimw), bisa menjadi alasan bagi orang2 lain untuk memperlakukannya secara berbeda. diskriminasi, istilah kerennya. apalagi, orang “cina” di indonesia, wah, panjang deh ceritanya. banyak banget faktor2 yang bikin ribet. serba ga jelas. beberapa tahun belakangan aku bisa mulai curhat2 ga penting, hal2 yang selama ini aku cuekin aja sampe bikin diriku mati rasa, misalnya soal ini. maksudku bukan cuma ngebelain kaum tertentu, tapi ngingetin ke diriku sendiri  maupun orang lain bahwa dari prasangka2 (bahkan untuk soal2 remeh), bisa timbul tindakan-tindakan yang “nggak banget”. tau kan maksudku? kuharap aku ga perlu menuliskan semua yang pernah terjadi di sini. ada yang bilang bahwa “peristiwa2 nggak banget” semacam itu wajar, di seluruh dunia juga terjadi. so, biasa ajalah, ga usah dibesar2kan. menurutku, tetep aja, nggak banget. enak banget ya dia bilang “wajar”, “biasa aja”. mau terjadi di seluruh jagat raya kek, tetep aja, peristiwa2 itu ga perlu terjadi dan ga seharusnya terjadi. kalo bisa  ga terjadi, lalu kenapa harus terjadi? kalo udah bicara nyawa, harta segunung pun ga ada artinya.

sebenarnya muara dari semua ini adalah pertanyaanku yang masih tersimpan: siapa aku ini? akar muakar dan asal muasal? apa leluhur itu? apa kampung halaman itu?

...

ada sebuah kerinduan, karena aku ga mengalami hal2 itu secara gamblang. beruntung sekali lho orang yang tahu secara pasti, jelas, tentang leluhur dan kampung halaman mereka. tentang asal. kalian boleh bilang bahwa di titik ini aku sangat konservatif. udah jaman serba “glombal” kok masih memikirkan asal dll. akulturasi donk. berpikiran terbuka donk. yah, tapi itu tadi. ada sebuah kerinduan, dan pertanyaan. bagi orang yang tidak jelas “darah dan tanah” -nya seperti aku, mengetahui itu semua adalah sebuah kemewahan. memang kita semua makhluk sang pencipta. darinya kita berasal dan berpulang. kalo begitu, kita semua hanya sama2 manusia. tidak perlu ada “darah dan tanah” yang membeda2kan. tapi, yang aku bicarakan adalah hal-hal yang membentuk ikatan2 kolektif di antara manusia (pergaulan, kesamaan budaya, dll), yang, mau kita hindari kayak apapun, hal itu tetap jadi faktor yang menentukan, terutama di negara kayak indonesia ini.

yah, tapi sembari menyimpan kerinduanku dalam hati, aku akan menikmati cerita2, kisah2 yang menyapaku seperti semburat matahari pagi. kebetulan, kemarin aku membawa pulang buku magic seeds-nya v.s. naipaul untuk dievaluasi. hmmm, sepertinya, nanti, saat aku membacanya, rasa nasi briyani masih melekat di lidah, dengan berbagai sentimentalitas yang baru kudapat, sehingga cerita berbau india tersebut bakal terasa lezaaaatttt banget. dan, kesimpulan akhirnya: terima! beli rights-nya n terbitin! semoga deh.

sepertinya pembicaraan kali ini udah terlalu “tua” banget. zaman sekarang, lebih enak mengidentifikasi diri dengan asrama2 di hogwarts, kayak “aku ravenclaw lho” atau “aku slytherin” … sepertinya lebih enak didenger deh. atau, lebih baik kita terbang2 aja, jadi anaknya langit dan bumi.

ya udah ya, mo pulang nih. ada jeruk, banyak rejeki… hehehe.
akhir kata, met tahun baru! 2559! smoga kejayaan dan kemakmuran slalu melimpah, di tahun ini dan seterusnya!

Read and post comments |
Send to a friend

Advertisements

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s