Puasa Sehari Penuh

Ramadhan #2 (+kemarinnya ^^;)

Ayat of the Day

Sungguh, mereka yang beriman
Dan mereka penganut agama Yahudi,
Orang Nasrani dan orang Shabiin,
Siapa saja yang beriman kepada
Allah dan hari kemudian,
Serta melakukan kebaikan,
Bagi mereka ada pahala pada
Tuhannya
Tiada mereka perlu dikuatirkan
dan tiada mereka berdukacita
(Al Baqarah [2]: 62)

~~~

Pertama-tama, selamat ‘tuk adik bungsuku, Fadel, yang berhasil berpuasa sehari penuh kemarin. Siiiipp! Kata dia, “Ini pertama kali lho aku puasa sampe maghrib…” Iya, tahun lalu memang dia baru sanggup puasa setengah hari. Eit, tapi di balik rasa senangnya, dia juga bilang, “Wah sebulan ntar aku tinggal tulang thok.” hehehehehe

Selain itu, kemarin Izzah main ke rumah. Kami ngobrol-ngobrol seperti biasa, diawali dengan perdebatan sengit yang tak bisa didamaikan tentang kepercayaan terhadap kalimat “Genius is 1% inspiration and 99% perspiration” (Thomas Alfa Edison). Aku sih percaya dengan kalimat itu, Izzah tidak percaya. Ia bilang, “Aku gak percaya kalo persentasenya segitu. Bakat itu juga perlu. Mosok bakat cuma satu persen. dst.” Jadi yang dipermasalahkan adalah persentasenya.

Ternyata, kalo aku pikir-pikir sekarang, tanggapanku kemarin tu nggak pas. Aku menanggapi hal yang tidak pas. (mungkin karena kemarin tu aku sambil ngetik kali ya? ga konsen ^^;). Baru sekarang aku nyadar bahwa, dalam kalimat itu, yang 1% bukan  ‘bakat’. Jadi, bukan tentang bakat 1% dan kerja keras 99%, tapi INSPIRASI 1%, kerja keras 99% (perspiration: keringat). Kesalahanku adalah terlalu terpaku/tergiring pada perdebatan tentang persen-persenan, tentang “1%” bakat (yang, tentu saja, itu kan abstrak, ga bisa dihitung beneran!), padahal (hoi!) dalam kalimat tersebut yang 1% itu bukan bakat! Pemahaman dasarnya aja udah salah. Wah, fatal ^^;> Konseptualisasi/definisi operasional aja ga beres, kok udah bertengkar soal penghitungan. Apa yang diukur aja salah, kok ribut soal angka/hasilnya. Haaah……

Menurutku sih, kita dapat inspirasi, ilham, ide, kalo ga kita proses dengan mengeringatkan diri, (maksudnya ngupaya, gak harus mengeluarkan cairan keringat dalam arti sebenarnya kan? ntar yang di negeri bersalju protes lagih, hmmm) ya silakan ngalamun saja. Mau? Nah, walaupun inspirasi itu dianggap sedahsyat apapun (besar), tapi kerja kerasnya tetap jauh lebih besar lagi dan sangat ngoyo (berat). Oleh karena itu, kuanggap tetap aja dalam komposisinya jauh lebih besar kerja kerasnya. 99% bolehlah. Lagian, namanya juga kalimat penyemangat (-_-)zz… e?

Walau bagaimanapun, soal kepercayaan itu ga bisa dipaksakan, dan ga bisa diganggu gugat. Makanya, Izzah ga percaya ya silakan saja. Namanya juga kepercayaan dia. Tapi, kalo ada yang percaya trus dipermasalahkan, hmmm, menurutku itu ga tepat deh. Kepercayaan kan boleh berbeda. Ini yang bikin aku menanggapi. Harapannya sih saling menghargai. Ketika pembahasan melulu mengerucut pada persentase (menurutku hal ini semakin melenceng dari harapanku berdialog itu), aku bermaksud menyudahi. “Makanya, namanya kepercayaan. Kalo udah soal kepercayaan ga bisa diganggu gugat,” ujarku. Eh, malah dipermasalahkan lagi. Kali ini soal kata yang aku pakai. “Bisa,” kata Izzah, “kalo kepercayaan itu masih bisa diganggu gugat. Kalo keyakinan, nah itu baru nggak bisa diganggu gugat.” Hoaahhhh, Cape deeeehhh (itu kataku dalam hati). Tentu saja aku tidak setuju, tapi masak harus menanggapi lagi? Kapan selesainya? (*´ο`*)=3 (“sigh”). Biar kusimpan saja sendiri… Santai \(^∀^)メ(^∀^)ノ (companies/mates/friends-nakama).

Setelah itu, kami banyak bicara hal lain kok. Seru-seru juga. Izzah sudah mencanangkan musuh baru, dll. Soal ini, tanyakan sendiri ke dia ya? Perjalanan hidup kami belum berakhir…. p(^^)q Oya, Izzah juga bawa oleh-oleh lampu meja dari kerang yang baguuuuuuusssssssssss banget. Makasih ya!
m(._.)m Thanks!

Saat ini, aku menunggu cerita Hano tentang pendadaran ( ^ _ ^)∠☆. Gimana ya rasanya? Penasaran.

Selain itu, ingin rasanya berbagi di sini sekeping bacaan. Maklum, lagi ga menyempatkan diri untuk menulis sendiri tentang ini nih (sebetulnya kan kita kembangin gitu lho, bukannya dicatat ulang di sini) biarin deh. Berbagi, berbagi.

[dari buku “Dalam Cahaya Al-Qur’an Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik”, Syu’bah Asa, Gramedia 2000]
Pengantar, oleh Kuntowijoyo:

“…Dakwah Islam amat marak di era Orde Baru. Di sekolah, di kantor, di pasar, dan di hotel shalat dan pengajian diselenggarakan. Pengajian juga populer di kalangan artis, pengusaha, intelektual, dan para pejabat. Tentu saja itu patut disyukuri. Tetapi, dalam “Islam yang Total” tafsir ini mengatakan bahwa di kalangan “atas” itu pengajian yang populer ialah yang bertopik pribadi, bukan yang disertai tinjauan sosial atau kritik sosial. Di sini agama menjadi semacam psychotherapy saja, jauh dari esensi agama.
…bahwa gaya keagamaan bangsa Indonesia itu serba simbolik, dan bukan substantif. Itu reduksi fungsi agama. Mungkin gaya beragama semacam itu bisa dibenarkan dalam suasana masyarakat yang serba ada, serba melimpah-ruah.
Akan tetapi, untuk Indonesia masa kini -juga sebelum dan sesudah krisis nanti- gaya beragama secara pribadi (yang disebut sebagai privatisasi agama dalam kepustakaan antropologi) sungguh keluar dari konteks. Konteks kita masa kini adalah kesenjangan, ketidakadilan, KKN, dan penyakit-penyakit sosial lainnya. Kita memerlukan agama yang menjangkau masalah-masalah publik; karenanya agama simbolis semacam itu tidak memadai. Umat Islam harus pandai menggabungkan yang pribadi dan yang publik, yang simbolis dan yang substantif.

Hari ini, sekian dulu ya. Selamat berpuasa! Sampai jumpa di kesempatan lain (^
_ ^)/~~ bye!

Read and post comments

|

Send to a friend

Advertisements

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s