jj slauerhoff

untuk sementara
berbagi saja, kusimpan saja
satu nukilan dari pengantar buku kumpulan puisi "Kubur Terhormat bagi Pelaut" (Pustaka Jaya, 1977) halaman 9-10.
Pengantar oleh Hartojo Andangdjaja, puisi oleh JJ Slauerhoff.

"
…Lebih menarik lagi, masih sehubungan dengan tema sosial ini, ialah sajaknya yang berjudul "Para pekerja paksa" ("De Dwangarbeiders"), termuat dalam bagian VII dari "Al Dwalend", V.G.II. Dalam sajak itu, kita diperkenalkan dengan kuli-kuli yang bekerja berat di pelabuhan, mengangkut barang-barang dari kapal ke darat. Di saat yang sama, tak jauh dari tempat itu, agak ke atas, terlihat para penyair yang sedang duduk dengan enaknya di sebuah rumah minum yang sejuk. Kita akan menduga, bahwa Slauerhoff dengan ini hendak mempertentangkan dua lingkungan kehidupan, yang seolah kaum marxis dikenal dengan istilah kelas pekerja bagi kuli-kuli itu – dan kelas borjuis bagi para penyair. Tetapi tidak. Dugaan kita dibikin kecelik oleh bait-bait selanjutnya, di mana dikatakan, bahwa baik kuli-kuli yang bekerja berat itu, maupun para penyair,  yang duduk-duduk dengan enaknya, adalah sama: keduanya pekerja paksa. Yang satu mengangkut beban dari kapal ke darat, yang lain mengangkut puisi dari sunyi ke bahasa. Demikianlah kita baca dalam bait ke IV:

Dan dilihat benar, dari jauh, dari semesta jagat,
Keduanya melakukan kerja yang sama:
Kuli-kuli menyeret beban dari kapal ke darat
Para penyair menyeret beban dari sunyi ke bunyi bahasa.

Bahwa kerja penyair malahan lebih berat lagi daripada kuli itu, dapat kita baca dalam bait-bait terakhir:

Dalam irama mereka berusaha meringankan
Beban yang begitu berat, tak tergerakkan:
Akan jatuh kuli, yang diam menyambut beban,
Akan gila penyair, yang diam memendam perkataan.

Kuli-kuli membanting dan melempar,
Diam dan makan terbebas sebentar:
Siksa penyair tak pernah berhenti
Dan tanpa istirah disandangnya kutukan ini.

Dari saat terkutuk yang menimpanya,
Ia pun kena rasuk, lupa segala,
Sunyi melingkung dirinya, kata demi kata terjaga,
Minta irama, dan terus ia bawa, ia bawa, hingga matinya

"

Read and post comments

|

Send to a friend

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s