kaum kucing

aku mo cerita soal kucing aja…

jadi gini, kucing pertama kami namanya rebo. buyutku yang ngasih nama itu, ga tau kenapa. biru muda warna  bola matanya. putih polos bulu yang menyelimuti tubuhnya, cuma mukanya (melingkari mata n mulutnya) warnanya item. begitu juga kuping, ujung ekor ujung kakinya. dia jadi seperti pake sepatu.

waktu pindah ke jalan damai ini, dia diajak. tapi, tau2 dia pulang sendiri ke rumah kami yang dulu (di km 13,8). sekarang kami ga tau nasibnya gimana. mungkin dia punya pacar di sana.

trus kucing kedua diambil dari magelang, tempatnya tanteku yang ngajar di smu taruna nusantara. waktu itu dia masih kecil n bandel. warna bulunya putih belang2 jingga. dia jadi besar trus dihamili ma kucing tetangga.

setelah melahirkan terus selama beberapa ronde, sekarang dia udah jadi nenek. trus dibuang soalnya lama2 nyebelin. nyebelinnya gara2 dia punya kebiasaan baru, suka buang air sembarangan.

waktu dia melahirkan pertama kali, ada 4 anak. dua dibuang, dua lagi dipelihara. yang dipelihara itu satu cowok satu cewek.

kalo ga salah adik bungsuku manggil si kucing magelang itu 'bambang irawan', nama tokoh wayang. tapi tentu aja nama itu ga pas karena ternyata dia hamil –> berarti dia cewek donk hehehehe. ketika dia melahirkan kedua kali, anaknya 3. 2 dibuang lagi, trus satu dipelihara, cewek. kucing yang terakhir ini dihamili sama kakaknya sendiri (yang cowok tadi itu lho). tapi anaknya mati semua. mungkin karena waktu hamil n melahirkan itu dia n suaminya masih terlalu muda.

trus kucing cowok satu2nya tadi jadi ayah lagi. setelah menghamili adiknya dia menghamili saudara kembarnya. yang ini, anak2nya selamat sampai sekarang. ada 2 kucing kecil, jadi total kucing si rumah ada 5: si kembar, adiknya, n 2 anak si kembar.

anehnya setelah punya anak, si kucing cowok tadi jarang pulang ke rumah. seharian keluyuran ga tau ke mana. dini hari baru dia manjat rumah dari belakang, trus mengeong-ngeong minta dibukain pintu depan. habis dibukain pintu, dia pergi lagi. jadi, dia mampir rumah tu cuma sekedar lewat aja. ga sampe 5 menit tiap harinya.

si adik yang anaknya mati, yang berbulu abu2 belang2 kehitaman, sepertinya rindu ma anak2nya (ga tau dink, alam kejiwaan kucing kok aku sok tau). habisnya dia selalu minta main ma kucing2 kecil. sayangnya ga diijinin ma
induk kucing2 kecil itu. mereka sering berantem. mungkin si induk pingin ngelindungin anak2nya. sesekali doang dia ngasih kesempatan sama si adik (ngga setiap saat ngajak berantem). kesepakatannya, si adik cuma boleh ngeliatin dari kejauhan. walau begitu, si adik masih sering curi2 kesempatan juga sih buat main2 ma kucing2 kecil itu. tapi kelihatannya si induk ga rela dan mengawasi secara ketat. kalo terlalu dekat, dia bakal ngajak berantem.

ya gitu deh tentang kucing2 di rumah. seandainya kami punya kamera mungkin bisa kutunjukkan gambar mereka di sini…
bagi2 cerita kalian juga ya….

Read and post comments |
Send to a friend

Advertisements

Author: nadya

on-going tensions between ready-made values and uncharted territory

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s